
Irene melempar cincin di jari manisnya kepada Ammar. Ia rasa percuma mengenakan cincin itu, cincin yang seharusnya di pakai juga oleh Ammar. Ia malah melingkarkan cincin lain di jari Suaminya, kini semua seolah perlahan berbalik menggerogoti pikiran dan hatinya. Perlahan ia mulai merasakan kecemburuan atas sedikit perhatian Ammar untuk Nara.
"Kau kenapa lagi Irene?" Ammar merespon dengan wajah ketus.
"Kenapa Kau memberikan punggung mu padanya? Kau bisa memberikan jas mu saja kan?" raut wajah Irene mengatakan ia sangat cemburu.
Ammar menekuk tangan di dada, wajahnya di angkat hingga dagunya menampakkan jelas wajah arogan. "Di matanya Kau saudariku, coba pikirkan lagi apa pantas Kita yang berstatus saudara malah bersikap mesra seperti itu?"
"Kau menyadari itu mesra? Lalu kenapa Kau tidak berpikir apakah pantas bersikap mesra dengan wanita lain di depan istrimu?!" Kemarahan Irene tak terbendung lagi. Matanya berkaca-kaca, sorot tajam yang ia lolong kan seperti hendak mencabik mangsa nya.
"Kau menyuruhku berpikir? Lalu kemana pikiranmu saat Kau tiba-tiba menyuruhku menikah lagi? Kau merencanakan itu sesuka hatimu tanpa memikirkan perasaan ku Irene. Apa Aku tidak penting bagimu? Kau tidak memikirkan perasaanku dan hanya sibuk mencari cara untuk balas dendam!"
"Aku melakukan ini untuk orang tua Kita Ammar." potong Irene, mengapa Ammar malah menganggap kalau ia memikirkan dirinya sendiri?
"Kau melakukan itu untuk kepuasan mu sendiri Irene! Kau terjebak pada masalalu, Kau tidak bisa menerima takdir. Kau membabi buta kepada semua yang bersangkutan dan membunuh mereka semua. Aku berusaha memahami mu, Aku berusaha menyadarkan mu, Aku mau mengubahmu menjadi lebih baik karena Aku mencintaimu. Tapi kenapa Kau selalu bertindak sendiri dan selalu marah padaku hanya karena kesalahan kecil yang Ku perbuat?" Ammar sudah di titik paling puncak, ia tak bisa lagi menahan amarahnya.
Irene tak lagi menjawab, bibirnya bergetar saat Ammar menyebut semua perbuatannya. Ia hanya mengutarakan isi hati betapa ia tak ingin Ammar sampai membagi cintanya. Tapi kenapa Ammar malah mengulik semua kesalahannya.
"Aku membencimu Ammar..!" ucapnya, mata merah dan buliran bening mengalir pipi. Ia meninggalkan Ammar di sana.
Ammar tak bergeming, ia juga tak berniat menahan Irene. Memang begitulah sikapnya. Saat mereka bertengkar Irene akan selalu meninggalkan Ammar dan akan kembali membawa hal gila lainnya.
Nara yang sedang berada di dapur sedari tadi mendengar suara bertengkar. Ia diam dan mengamati, kemudian kembali sunyi. Lalu ia mendapati mobil Irene melaju kencang meninggalkan rumah.
"Apa yang sedang terjadi?" gumam Nara penasaran. Apa yang membuat Irene dan Ammar bertengkar begitu hebat tadi?
Sementara di kamar Irene, Ammar masih mematung. Ia memandangi cincin yang di lempar Irene tadi. Lalu mengamati juga cincin yang ia pakai, yakni cincin pernikahannya dengan Nara.
__ADS_1
"Ini semua salah mu..." ucap Ammar sambil membelalakkan mata pada cincin Irene. Ia mengangkat cincin itu di depan matanya. Karena tangannya kurang erat memegang, cincin itu jatuh ke lantai dan menggelinding ke bawah pintu.
Cincin itu bergoyang saat menabrak pintu kemudian tergeletak dengan sedikit gesekan yang membuatnya keluar menyelinap dari celah bawah pintu.
"aiss.. Kenapa Kau sama seperti pemilik mu?" gumam Ammar kesal, ia pun keluar untuk mengambil cincin itu.
Saat membuka pintu, ia melihat Nara yang sedang berdiri di ruang tengah sambil memperhatikan arah luar. Ia masih penasaran kenapa Irene pergi malam-malam begini.
"Apa yang Kau lihat?" Ammar sudah tiba di bawah dan ia tiba-tiba mengambil kopi yang ada di tangan Nara. Tidak baik terlalu banyak mengonsumsi kafein untuk ibu hamil.
"Astaga Ammar! Kau mengejutkan ku." Nara mengelus dada. Ammar selalu muncul tiba-tiba seperti hantu.
"Kau melihat apa ke sana?" tanya Ammar lagi.
"Irene.. Kemana dia pergi malam-malam begini? Apa kalian bertengkar?" Nara memberanikan diri untuk bertanya. Dari pada ia penasaran dan tidak bisa tidur nanti.
"ch... Kalau begitu kenapa Kau mengambil kopi ku? Kau selalu mencampuri apa yang ku lakukan." Nara mendongak melemparkan tatapan jengah nya.
"Mulai sekarang jangan minum kopi."
"Apa..? Kau benar-benar tidak masuk akal." Nara merebut kembali gelasnya, lalu menenggak habis kopi itu sampai tak bersisa.
"hei.. Nara!" terlambat, Ammar tak bisa mengalahkan kecepatan kerongkongan Nara.
"Apa..!" tukasnya, ia membelalakkan mata pada Ammar. Kemudian beranjak menuju kamarnya.
Ammar tak bisa berkata-kata, ia tak tau makhluk jenis apa Nara itu. Menghabiskan segelas kopi dalam sekali tengguk? Apakah tenggorokannya seperti kuda Nil?
__ADS_1
...~~~...
Di tengah lapangan bermain, Irene duduk sambil memandangi langit yang gemerlap oleh bintang. Ia menghirup dalam angin sejuk yang menyapa malam itu.
Tak jauh darinya, ada sepasang suami istri yang tengah bermain dengan anak mereka. Usia nya mungkin sekitar 4 tahun. Sangat menggemaskan.
Setelah menikah, ia dan Ammar sama-sama sepakat untuk menunda momongan sementara. Kini sudah 8 tahun berlalu, ia sangat menginginkan seorang anak. Namun Ammar mengatakan belum saatnya.
Ia tersenyum saat melihat kebahagiaan keluarga kecil itu. Membayangkan betapa sempurna hidupnya nanti setelah berhasil mempunyai anak dan membesarkannya dengan penuh cinta.
Irene terus memperhatikan keluarga kecil itu. Saat sang ibu tengah mengantarkan anaknya membeli balon, Irene mendapati Suami wanita itu diam-diam melakukan panggilan video dengan seorang gadis. Tampak mesra, bahkan si Pria mencium layar ponselnya sebelum akhirnya menutup panggilan. Lalu istrinya datang dan si pria langsung menyembunyikan ponselnya.
Angan bahagia Irene seketika sirna. Ia meradang saat membayangkan betapa sakit hati sang istri saat mengetahui suaminya main gila dengan wanita lain.
Tak lama kemudian si pria bilang akan ke toilet sebentar. Irene pun mengikutinya, ia meraba ke dalam tasnya untuk memastikan apa kah pisaunya ada di sana.
Beberapa menit menunggu, akhirnya si pria keluar. Irene langsung menghadangnya dengan senyum manis menggoda.
"Aku sedang mencari teman bermain, apa Kau bersedia menemaniku malam ini?" Ia mengedipkan matanya. Kemudian membelai lembut bahu pria itu dengan kuku lentiknya.
Pria itu menengguk ludah saat melihat kaki Irene yang begitu mulus. Siapa yang bisa menahan diri saat pemandangan bening terpampang di depan mata.
"Hotel Mutiara, datanglah ke kamar 1003. Aku menunggu mu di sana." bisik Irene kemudian meninggalkan Pria itu. Ia akan segera menuju hotel dan menunggu pria itu.
Jika ia pria baik-baik, maka ia tidak akan mendatanginya. Tapi jika ternyata dia datang, maka Irene akan menyambutnya dengan senang hati.
...*************...
__ADS_1