Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 59 : Rantai dendam


__ADS_3

Di sebuah Apartemen mewah, Noah menyekap Ammar setelah sebelumnya menabrak mobil Ammar menggunakan truk. Ia merasa tidak adil atas keputusan Pengadilan yang membebaskan Ammar dari tuduhan tangan kanan Irene. Sementara Papa nya tewas mengenaskan di tangan wanita psikopat itu. Noah tau bahwa memang kematian Papa nya sudah terencana dengan rapi oleh pasangan gila itu.


Di tambah Ammar yang tak memberikan kesaksian bahwa dia memang selama ini membantu Irene, menunjukkan bahwa Ammar benar-benar ingin sembunyi setelah apa yang telah ia perbuat dengan istri gila nya itu.


"Aku akan menyusun kematian yang tak kalah indah untukmu.." ujar Noah setelah ia menutup telepon dengan Nara. Senyum picik juga tersemat di ujung bibir persis seperti senyum mendiang Papanya yang haus akan kekuasaan.


Ammar melemparkan tatapan bengis, di balik lumuran darah yang menutupi wajahnya. Sorot tajam masih tampak menyeruak mengalahkan pekatnya darah.


"Bunuh Aku! Bunuh saja Aku! Tapi jangan libatkan Nara. Dia tidak ada kaitannya dengan mu!"


"Tentu saja ada, dia kan istri mu. Wajar jika suami istri berbagi penderitaan kan?"


Setelah semua yang di perbuat Ammar, dengan mudahnya sekarang ia ingin hidup dengan damai bersama Nara? Tentu saja Noah tak bisa membiarkan itu terjadi. Mata di balas mata, nyawa pun harus di bayar dengan nyawa.


Semua orang tamak akan berpikir demikian tanpa menyadari akar dari permasalahan ini mereka sendiri yang menimbulkan. Seandainya Damar tidak serakah dan membunuh Orang tua Ammar juga Irene, maka Damar takkan tewas mengenaskan. Jika saja Irene merelakan kematian orang tuanya, maka ia takkan haus akan pembalasan yang menumpahkan banyak darah. Jika Noah bisa menerima kesalahan yang di buat orang tuanya, maka ia takkan haus akan rasa berbakti yang salah arah. Dan jika saja Ammar tak terlalu mencintai Irene dengan kegilaannya, maka ia akan bisa mencegah seorang gadis baik-baik ikut dalam rantai dendam yang membawa kesengsaraan ini.


Semua tentang rasa yang terlalu besar, dendam, cinta dan pengakuan. Semua tak terkendali hingga banyak orang tak terlibat ikut merasakan alur gila ini.


ting.. tung.. ting.. tung..


Bel berbunyi, Noah segera memeriksa dan ternyata Nara sudah sampai di sana. Noah melihat ke belakang Nara untuk memastikan bahwa dia datang sendirian.


"Kau tidak membawa seseorang kan?" tanya Noah sembari menodongkan pistol ke arah Nara.


Nara menggeleng pelan, bibirnya terkatup rapat melihat telunjuk Noah menempel pada pelatuk. Entah tindakan bodoh macam apa yang ia lakukan kali ini.


Noah menyuruh Nara masuk, ia mengikuti dari belakang sambil mengarahkan pistol.

__ADS_1


"Kau memang bodoh... Kenapa Kau kesini hah?" rintih Ammar mendongak, setengah kesadarannya sudah hampir melayang karena banyak kehilangan darah.


Ia tak menyangka Nara benar-benar kesana dengan wajah datar. Jika dia wanita waras bukankah seharusnya membiarkan Ammar mati saja?


Nara tak menjawab pertanyaan suaminya itu, hatinya terasa perih dan sesak melihat pria itu berlumuran darah, tak berdaya dan di ikat di sebuah kursi. Mungkin itu rasa sedih yang di salurkan janinnya. Tidak mungkin itu murni kesedihan Nara. Apa yang di perbuat Ammar bahkan tak sebanding dengan situasi ini, bukankah seharusnya Nara merasa puas melihat orang yang menghancurkan hidupnya kini tak berdaya.


"Kau bisa menarik pelatuk kan?" Noah memberikan satu pistol lagi pada Nara. Dengan tangan bergetar Nara menerima pistol itu. Ia sudah mulai menebak kemana arah permainan ini.


"Tembak dia..!" Titah Noah sambil menodongkan pistol ke kepala Nara dari belakang.


Nara terdiam mematung, menatapi pistol di telapak tangannya.


"Tembak dia, atau Aku akan menembak mu.." Noah mengulangi ucapannya. Ia tak menyangka Nara sangat bodoh hingga mau datang ke sana.


Sorot teduh mata Nara memandangi wajah Ammar yang tampak pasrah. Didapati nya Ammar mengangguk pelan dengan sisa tenaga yang ada seolah mengisyaratkan ia siap mati di tangan Nara.


Nara meneguk ludah susah payah, pilihan ada di tangannya. Membunuh atau terbunuh. Ia memberanikan diri mengangkat pistolnya ke arah Ammar, butuh waktu untuk menenangkan kedua tangannya yang bergetar. Ia menempelkan jari pada pelatuk, lalu memejamkan mata dan berdoa semoga Tuhan mengampuni dosa nya kali ini.


"ch... Cepat lah. Aku tidak sabar..!" Belum selesai Noah dengan ucapannya. Nara sudah lebih dulu berbalik mendorong lengan nya ke atas lalu menembakkan beberapa peluru tepat di bagian pangkal lengan. Peluru dari pistol Noah pun meledak dan menghujam ke arah lampu gantung yang ada di ruangan itu.


Beberapa lampu kristal pecah dan pencahayaan berkurang. Di saat itu pula Pasukan yang di bawa oleh Sam dan Galih menerobos masuk dan langsung mengepung Noah.


"Saudara Noah Adiguna, Anda kami tahan atas penculikan dan percobaan pembunuhan. Anda berhak tetap diam dan didampingi pengacara." Galih memasangkan borgol di lengan Noah, lalu beberapa petugas Polisi membawanya ke atas tandu untuk di berikan pertolongan pertama.


Di bantu oleh Sam, Nara melepaskan ikatan di tubuh Ammar sambil menangis. Sungguh ia tak ingin menangis karena situasinya memang tak pantas ditangisi. Tapi entah karena hormon atau apa air matanya sungguh tak bisa berhenti.


"Kenapa Kau menangis..?" Ammar mengusap pipi Nara dengan ibu jarinya yang berlumuran darah.

__ADS_1


"Entahlah.. Padahal Aku sangat bahagia." isak Nara berusaha menahan air mata.


"Ku kira Kau bersedih karena Aku tidak jadi mati." ucap Ammar mencoba menenangkan.


"Tadinya Aku berpikir Kau sangat bodoh karena datang ke sini. Kau bisa saja terluka karena tak kunjung menembak ku tadi." imbuhnya, ingin sekali ia memeluk istrinya itu. Serta memuji betapa berani dan pintar karena Nara berhasil menyelamatkan nyawanya.


"Kalau pun Aku menembak mu, tak ada jaminan dia tidak menembak ku juga kan? Aku melakukan ini demi diriku juga."


"mm.. Terimakasih karena telah melakukan yang terbaik untuk dirimu, dan Aku."


"Pak Ammar.. Bukankah Anda butuh penanganan medis sekarang? Mari ikut Saya ke ambulance." potong Sam memecah suami istri yang saling melempar tatapan penuh makna itu.


"Aku baik-baik saja." sahut Ammar tanpa menoleh.


"Kau kehilangan banyak darah Ammar. Ikutlah dengannya," ujar Nara.


"Kau kan perawat, tidak bisakah Kau yang mengobati ku?"


"Kau kehilangan banyak darah, ada luka di kepala mu dan mungkin saja ada luka dalam atau luka serius lainnya. Kita tidak akan tau kalau tidak di tangani ke rumah sakit." Nara mengomeli Ammar yang bertingkah berbelit-belit itu. Tidakkah dia tau bahwa kehilangan darah bisa berakibat fatal untuk nyawanya?


"Baiklah..." Ammar berjalan melewati beberapa petugas yang sudah menyiapkan tandu untuknya.


"Ammar..! Kau tidak naik ke sini?" Panggil Nara heran, masih saja Pria itu kuat berjalan.


"Aku bisa jalan sendiri." ketusnya tanpa menoleh. Nara pun langsung berlari mengikutinya, takut kalau-kalau tiba-tiba Ammar pingsan di lorong.


"aiss... Keras kepala sekali dia.." rutuk Nara mengikuti langkah Ammar. Sementara petugas yang sudah membawakan tandu hanya saling menatap heran.

__ADS_1


...*************...


__ADS_2