
Karena kelelahan dan dehidrasi, Nara berhenti sejenak. Masih setengah perjalanan lagi agar ia bisa keluar dari ruangan itu. Namun kakinya sungguh tak sanggup lagi berlari, seluruh tubuhnya lemas gemetaran.
"Nara...!" Pekik Sam berlari menghampiri, di belakangnya juga ada Sam dan Galih yang tak kalah khawatirnya. Beruntung mereka sampai tepat waktu. Sementara Ammar mungkin sedang panik di villa nya karena melihat Nara menghilang.
"Tolong... Aku..." rintih Nara ngos-ngosan. Sepertinya kali ini Tuhan mendengar doanya.
"Kau tidak apa apa? Dimana Irene?" tanya Sam memeriksa seluruh kondisi Nara.
Di saat yang bersamaan Irene datang dengan tangan bersimbah darah. Ia masih terlihat ingin menghabisi Nara walau nyawanya sendiri hampir melayang.
"Berhenti di sana..!" Sam menodongkan senjatanya, Irene juga mengangkat pistolnya. Ia berhenti di tempat berjarak 20 meter dari posisi Sam.
"Irene...!" Pekik Ammar sambil berlari, ia baru saja sampai dan menyaksikan keadaan sudah sangat kacau.
"Berhenti di sana, atau Aku akan menembak mu!" Titah Irene, emosi nya tak terbendung lagi saat mengingat apa yang telah di lakukan Ammar terhadap pernikahan mereka.
Ammar menghentikan larinya, ia berdiri tepat di depan Nara. "Kalian, bawa Nara keluar. Aku akan mengurusnya." ujar Ammar pada ketiga Detektif itu.
"Jangan ada yang bergerak! Atau Aku akan menembak kalian semua!" teriak Irene. Sandra yang sudah merangkul Nara pun mengurungkan niatnya.
"Irene... Letakkan senjata mu, Kita bicarakan ini baik-baik." bujuk Ammar.
Irene tak mendengarkan, "Suruh Nara berdiri di sebelah mu..!"
"Irene..?" Panggil Ammar lagi, namun Irene benar-benar sudah dikuasai amarah.
Sementara di belakang Ammar, Sandra mulai tak sabar. "Kita tembak saja dia.." bisik nya pada Galih.
"Jangan, kalau bisa kita selesaikan ini tanpa ada pertumpahan darah." sahut Galih, ia berlindung di balik tubuh Sandra. Sementara Sam siap siaga di sebelah Nara.
"Suruh Nara berdiri di sebelah mu.. Atau Kau akan ku lenyap kan Ammar!" teriaknya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Silahkan, kalau Kau mau membunuhku. Tapi jangan Nara..."
"Kenapa..? Setelah menikmatinya Kau mulai menyimpan perasaan..?" Air mata Irene menitik, rasanya sangat sakit. Bagaimana bisa Ammar mengingkari janji pernikahan mereka. Yang lebih menyakitkan bahkan Nara kini mengandung anak nya.
Ammar terdiam, tak bisa di pungkiri ia sangat merasa bersalah pada Irene. Wanita yang sudah lama mendampinginya itu kini harus merasakan pahitnya pengkhianatan. Mereka telah berjanji untuk saling setia, tapi apa yang telah ia lakukan sekarang? Ia malah menyakiti Irene sangat dalam.
Irene menodongkan senjatanya kepada Sandra. "Maju lah Nara, kalau tidak Aku akan membunuhnya!"
Sandra terdiam, mengorbankan nyawa demi Nara? Tentu saja sulit. Tapi ia juga tak mau Nara berada di dalam bahaya.
Karena tak ingin melibatkan Sandra, Nara pun maju tanpa ragu. Ia berdiri tepat di sebelah Ammar.
"Kenapa Kau sangat ingin membunuhku?" tanya Nara menatap sayu wanita iblis itu.
"Karena Kau menghancurkan rencana ku!" Irene benar-benar hampir menarik pelatuknya. Saat ia menekan jarinya, maka peluru akan benar-benar melesat.
"Irene hentikan..!" Tukas Ammar.
Relung hati Ammar tersentuh saat melihat betapa sedihnya Irene. Tapi mau bagaimana, semua tak bisa dikendalikan. Perasaan maupun perlakuannya kepada Nara benar-benar berubah. Entah sejak kapan ia masuk ke jerat cinta yang singkat itu.
"Ini tidak mudah juga bagi ku Irene... Setiap hari, setiap detik Aku mencari cara untuk bisa mencintaimu lagi sepenuhnya. Tapi sangat sulit, Aku berusaha mengingat semua kenangan Kita. Bagaimana awal perasaan ku tumbuh, hal apa yang membuat ku mencintaimu, dan bagaimana akhirnya Kita saling mencintai. Aku mencoba menahan diri, melupakan perasaan ku pada nya dan mencoba kembali padamu. Tapi Aku selalu gagal... Aku malah semakin menyimpan perasaan untuknya dan malah membuang jauh perasaanku untuk mu." tuturnya dengan wajah sendu, itulah isi hatinya selama ini. Tatapannya penuh harap, ia ingin Irene mempertimbangkan semuanya.
"Lalu kenapa Kau selalu menolak saat Aku bilang menginginkan seorang anak? Kau beralasan ingin menghabiskan waktu berdua dengan ku saja. Tapi apa sekarang?! Apa karena Aku seorang pembunuh? ch.. tentu saja, Kau pasti menginginkan keturunan dari gadis baik-baik."
Ingin menghabiskan waktu hanya berdua? Tentu saja itu hanya alasan untuk Ammar menunda momongan. Bagaimana bisa ia memikirkan untuk memiliki anak sementara Irene sendiri telah membunuh Tiga orang anak tak berdosa. Bahkan sekarang tanpa ragu Irene menodongkan pistol kearahnya.
"Awalnya itu di luar kesadaran ku Irene. Semua ini berawal dari kesalahan Ku."
"Sungguh..? Kalau begitu perlu kah ku bantu memperbaiki kesalahan mu?" Irene mengarahkan pistolnya kearah Nara sambil melangkah mendekat.
"Jangan coba-coba mengusiknya Irene..!" cegah Ammar, Irene pun menghentikan langkahnya. Kini celananya bahkan berlumuran darah akibat tembakan yang di buat Nara tadi.
__ADS_1
"Ingat lah Ammar, Aku bisa melakukan apapun untuk merebut mu kembali. Walaupun harus mengirim gadis itu ke neraka!"
DAARRRR.....!! Irene benar-benar menembakkan peluru kearah perut Nara.
Namun Ammar dengan cepat memeluk Nara hingga peluru itu mendarat tepat di punggungnya.
Nara mematung dengan mata terbuka lebar, ia sangat syok saat tubuh Ammar tersentak akibat tembakan yang dihujamkan Irene.
"Ammar...." lirihnya, darah mengucur deras dari punggung Ammar. Ia dapat merasakan eratnya dekapan Ammar yang berusaha melindunginya.
Sandra pun langsung mengangkat senjatanya hendak menembak Irene. Namun belum sempat ia menarik pelatuk. Damar sudah lebih dulu menembak Irene dari arah belakang. Ia melepaskan peluru tiga kali berturut-turut hingga Irene langsung terjatuh ke lantai.
Dengan sisa tenaga yang ada, Irene berusaha membalas tembakan Damar berkali-kali, hingga akhirnya Damar terkulai dengan wajah dan tubuh bersimbah darah.
Di saat itu pula Ammar terhuyung dan merebahkan kepalanya di bahu Nara. "Ammar...?" Nara menepuk-nepuk punggung Pria itu agar tetap tersadar. Entah apa yang membuat hatinya terasa sangat hancur melihat Ammar bersimbah darah.
Di bantu Sam, ia meletakkan Ammar di lantai. Nara menarik lengan baju nya hingga robek lalu menempelkan itu pada punggung Ammar. Ia berusaha menghentikan pendarahan Ammar.
"Pergi lah Nara... Selamatkan dirimu." rintih Ammar sangat pelan. Ia tak tau kalau Irene sudah terbaring tak berdaya di sana.
Nara tak mendengarkan, ia menangis sambil berusaha menutupi luka Ammar dengan kedua tangannya.
"Cepat telpon Ambulance..." pintanya pada Sandra.
"Nara... Berkas untuk aborsi ada di mobilku.." Ammar berusaha tersadar untuk menyampaikan itu, kemudian ia memejamkan matanya sambil mengenggam lengan Nara.
Dalam remang pandangan, dengan kondisi sekarat. Irene memperhatikan Ammar yang terbaring di lantai, kini mereka sama-sama terbaring tak berdaya setelah bertahun-tahun berdiri tegak sebagai penguasa. Irene menitikkan air mata, ia berharap Ammar akan tetap menjadi miliknya dan di pertemukan lagi di kehidupan selanjutnya sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai dalam damai.
Perlahan bayangan Ammar mulai memudar dalam pandangannya. Irene menghembuskan nafas berat perlahan. Hanya ada Ammar di hatinya bahkan sampai tubuhnya tak berdaya bersimbah darah.
...*****************...
__ADS_1