
Di Kantor..
Tok..tok..
"Masuk." sahut Ammar, ia tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Irene masuk ke ruangan Ammar. Ruangan kecil yang seharusnya bukan milik mereka. di ruangan itu Ammar dan Irene membuat rencana untuk mengambil kembali Perusahaan. Dari dulu mereka diam saja, namun lama-kelamaan gelagat picik dan serakah Damar membuat mereka khawatir.
"Pelantikan mu sebentar lagi, pengacara kita sudah memutuskan hak waris Perusahaan jatuh ke tanganmu sepenuhnya."
"Bagus lah, Kau bisa menyingkirkan orang itu setelah Aku duduk di kursi Papa."
Irene mendekat, lalu duduk di atas meja Ammar. "Tak perlu tergesa-gesa, Kita cari tahu siapa saja yang terlibat dengan kematian orang tua Kita."
"Kau benar, jangan lupa temukan pemilik korek api itu. Aku yakin dia yang sengaja membakar gedung pertemuan."
Hanya itu satu-satunya petunjuk yang tertinggal, korek Api berbahan stainless dengan Tiga berlian di depan. Mereka menyimpan itu hingga saat ini, Polisi atau pun Detektif. Mereka tak percaya lagi, itu sebabnya mereka mengambil langkah sendiri.
"Apa Kau tidak memberitahu hal yang tidak kusukai kepada tikus itu?" rutuk Ammar geram. Irene seperti lalai dengan permintaan Ammar.
Irene terheran, siapa yang di maksud tikus oleh Ammar?
"Nara..? Kenapa?"
"Suruh saja dia di kamarnya, Aku tidak suka dia terus berkeliaran di rumah seperti tikus. Menjijikan!"
"hhhh.. Ammar, cobalah terbiasa dengan itu. Dia juga manusia, mana mungkin Aku mengurungnya di kamar sepanjang waktu?" Irene terkekeh pelan, sangat susah bila semua menuruti kehendak Ammar.
"Kalau begitu jangan beri dia tempat tinggal di rumah. Kau bisa menyimpannya di apartemen atau di selokan kalau perlu."
"Dia istrimu, bagaimana kalau publik tau pernikahan kalian hanya pura-pura?"
"Kenapa Kau tidak memberitahuku sebelumnya kalau gadis bodoh itu yang akan ku nikahi? Apa tidak ada orang lain?"
"Baiklah, Aku akan coba berbicara dengannya nanti." hanya itu yang bisa Irene ucapkan agar Ammar tidak semakin jengah.
"Pergilah.." ketus Ammar mengusir.
Irene hanya tersenyum, lalu bangkit dan meninggalkan ruangan Ammar. Walaupun sifat Ammar selalu ketus dan menjengkelkan, Irene tetap menyayanginya.
Dulu Ammar merupakan sosok yang hangat, ceria serta mudah bergaul dengan siapa saja. Sejak kematian orang tuanya, ia jadi pendiam, ketus dan bahkan jarang berbaur. Irene sebenarnya juga merasakan kepedihan atas tragedi itu, namun jika ia turut bersikap tertutup seperti Ammar. Sampai kapan pun mereka akan terus di manfaatkan. Itu sebabnya ia mengambil jalan pintas agar hak dan posisi mereka kembali.
__ADS_1
...~...
Di rumahnya, Bu Mina tengah memperhatikan seekor kucing yang sedang makan. Kucing itu sangat kurus, wajahnya bahkan penuh dengan penyakit kulit yang membuat bulunya rontok.
"Karena kau, warung ku jadi sepi pengunjung. mereka merasa jijik setiap kali melihatmu berkeliaran di sini!" tangan Bu Mina mencengkram kuat leher kucing kurus itu.
"Bu Mina? sedang apa?" tanya Nara tiba-tiba.
Mina sontak melepaskan cengkraman nya, hingga membuat kucing kurus itu berlari ketakutan.
"ah.. Nara, Aku sedang memberikan sepotong ikan untuk kucing itu. tapi dia sepertinya terkejut saat melihatmu dan berlari hahaha..."
"Kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Mina, ia menyembunyikan tangannya di balik punggung.
"Aku ingin mengambil sesuatu di rumah." sahut Nara.
Setelah saling menyapa, Nara masuk ke rumah Neneknya. Ia sungguh sangat merindukan hari-hari yang di habiskan di rumah tua itu.
"hh.. lucu sekali, sekarang Aku merasa merindukan Nenek. Apa Nenek tidak berniat memarahiku lagi?" ujarnya lirih, ia menitikkan air mata saat mengamati mesin jahit yang tertutup kain.
Terbayang olehnya saat Nenek masih hidup, Nenek menghabiskan waktunya dengan duduk di depan mesin jahit itu sepanjang hari.
Ia merenung menatap langit-langit, kini dirinya hanya seorang pengangguran. Sebatang kara dan tak punya semangat untuk hidup, satu-satunya yang harus ia dapatkan hanyalah kebenaran.
... ~~~~...
"Nara..." panggil Irene, ia baru saja pulang dari kantor dan hendak mengajak Nara makan malam bersama.
Beberapa kali ia mengetuk pintu kamar Nara, namun tak ada jawaban. Perlahan ia menurunkan tuas pintu yang tak terkunci, dan saat melihat kamar itu kosong Irene langsung panik.
"Kemana dia?"
"Nara.. Nara...!" panggilnya lantang, namun tak ada jawaban.
"Bisakah Kau mengecilkan suaramu?" jengah Ammar, ia juga baru sampai di rumah.
"Nara tidak ada di kamarnya!" tekan Irene, ia berpikir Nara melarikan diri dari sana.
"Mungkin dia tersesat di rumah ini," Ammar tak perduli.
"Kau melakukan sesuatu padanya?" tatapan Irene menghunus tajam wajah Ammar.
__ADS_1
"Aku hanya bilang jangan muncul di hadapanku."
"Ammar, tidak bisakah Kamu sedikit menjaga sikapmu? Kalau dia pergi rencana yang kita susun bisa hancur! Pelantikan Mu tinggal besok. Bagaimana cara Kita merubah semuanya?"
"Kalau dia pergi dari sini berarti dia menggali kuburannya sendiri." Ammar beranjak dari sana, namun lengannya ditahan oleh Irene.
"Kau pikir semudah itu memalsukan barang bukti? Bagaimana cara nya menyusun ulang rencana ini dalam satu malam?"
"Kalau begitu tenang lah, dia tidak akan berani menghianati Kita." Ammar menggenggam ujung tangan Irene. Ia tau Irene bersusah payah dengan semua ini.
"Kalian sudah pulang?" ucap Nara memotong, ia memberi salam sembari menutup mulutnya.
Irene langsung merubah raut wajahnya, "Nara, dari mana saja Kau? Bukankah sudah Ku bilang beritahu Aku kalau mau keluar rumah?"
"Aku menyerahkan surat pengunduran diri, setelah itu berkunjung sebentar ke rumah Nenek. Tapi malah ketiduran.. Maaf." jelasnya, masih saja ia menelungkup kan tangan menutupi mulutnya.
Irene menghela nafas berat, ia menyibakkan rambut kebelakang sambil sedikit meremasnya. Kepalanya hampir pecah jika harus membayangkan menyusun ulang rencananya.
"Jangan mengulanginya!" timpal Ammar ketus.
Nara hanya mengangguk pelan, namun dalam hatinya mengumpat Ammar habis-habisan. Tadi siang bukannya dia yang bilang jangan pernah muncul di hadapannya, lalu kenapa dia terlihat sangat marah saat ia tak ada di rumah.
"Kenapa Kau menutup mulutmu? Kau menyembunyikan sesuatu?" Irene mengamati gelagat Nara yang aneh itu.
"ah.. dia bilang tidak suka melihat lesung pipiku, jadi Aku menutupinya." ujar Nara gugup, tatapan Irene dan Ammar sangat mengerikan saat itu.
"Bersihkan dirimu, mari kita makan malam bersama." ajak Irene.
"Dengan dia?" tunjuk Nara pada Ammar yang berjalan menuju lift.
Irene mengangguk "hmm.. Besok Ammar akan di lantik menjadi Pimpinan GT grup, Kita harus menyusun alur agar terlihat seperti keluarga sungguhan. Kau dan Ammar akan berlatih nanti."
"Aku? Bukankah Aku hanya perlu menjadi pendampingnya? Kenapa membutuhkan latihan juga?" Nara tak siap dengan itu, apalagi seluruh orang penting akan hadir esok.
"Nara, saat Presiden memberikan kata sambutan, Ibu Negara juga harus menyapa. Kau sama seperti itu, menyambut dan memperkenalkan diri kepada rakyatmu."
Nara semakin bingung, ia bahkan tidak pernah menyimak dan menyaksikan pergantian Presiden. "Kenapa baru memberitahuku sekarang? Aku tidak bisa bersiap secepat ini."
"Karena Ammar tidak suka berlama-lama dengan mu, Kau tau itu kan?" Irene meninggalkan Nara di sana dengan tatapan sinis bercampur tawa di ujung bibir, entah Irene marah atau berusaha mengancamnya. Senyuman dan ancaman, kedua nya terasa sama bagi Nara.
...************...
__ADS_1