
Sembari menunggu pertarungan sengit yang sedang berlangsung. Nara menyempatkan diri membuka internet untuk melihat cara memakai senjata laras panjang.
Sementara di luar, pengawal nya sudah menumbangkan Delapan orang. Masih tersisa 6 orang lagi. Namun tenaganya sudah hampir habis, di tambah wajah dan tubuhnya babak belur penuh luka. Meski begitu ia tetap melawan orang-orang berbadan besar itu.
Melihat kesempatan selamat sangat tipis, Nara pun membulatkan tekad. Ini hanya masalah waktu, cepat atau lambat orang-orang itu pasti akan mencelakai dirinya.
Dan benar saja, saat dua orang menghajar habis pengawalnya. Empat orang lainnya menumpahkan bahan bakar mengelilingi mobil Nara.
"Astaga.. Apa yang akan mereka lakukan?" Nara tercengang, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Ia pun memutuskan keluar dari mobil. Ini akan lebih baik dari pada ia mati terbakar di dalam mobil itu.
PLAKK!!
Nara memukulkan senjata panjang itu ke kepala orang yang hendak menyerangnya. Dengan sigap ia membuka masker orang tersebut. Dan betapa terkejutnya ia saat mengenali orang itu. Dia adalah salah satu pengawal yang bekerja di rumah lama Ammar.
"Kau..?" lirih Nara tak percaya. Itu berarti musuh Ammar adalah orang terdekatnya.
"Kau terkejut Nyonya muda..?" Ujar seorang wanita yang baru turun dari mobil.
Nara menoleh ke arah suara tersebut. Ia terbelalak melihat penampilan wanita itu, "Bu Lila??" Pakaiannya yang nyentrik. Serta perhiasan mewah yang berkilauan. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang biasa ia lihat sebelumnya.
"Bagaimana penampilan ku? Sangat berkelas bukan?" imbuhnya seraya mengibarkan kipas berwarna merah terang.
Nara masih tercengang. Inikah dalang asli dari semua kehancuran yang ia lihat? Jika di pikir-pikir, Bu Lila adalah satu-satunya orang yang mengenal baik Ammar dan Irene. Mereka berdua berada di dalam pengawasan Bu Lila selama puluhan tahun.
"Anda yang merencakan ini semua? Pembunuhan yang terjadi kemarin, Anda juga yang melakukannya? Memojokkan Ammar atas tuduhan itu, dan memonopoli kematian Irene. Anda juga yang melakukannya?"
Ternyata ada manusia yang lebih iblis dari pada Ammar dan Irene. Dan alasan kenapa Irene memiliki sifat psikopat, padahal dia dari keluarga baik-baik sepertinya sudah jelas sekarang. Ada ratu iblis yang bergerak di belakang mereka.
__ADS_1
Bu Lila membelai wajah Nara dengan ujung kipasnya. "Kau pasti sangat penasaran dengan ini semua. Aku akan memberitahumu, anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan."
"Harta? Kau pasti melakukan itu agar bisa menguasai seluruh kekayaan Ammar kan?" ketus Nata membelalak. Ia sudah tau, apalagi memangnya? Orang waras mana yang tak tergiur oleh harta warisan anak sebatang kara itu?
"hahahahah... Kau sangat pandai ternyata, tapi kenapa Kau tidak memahami ini dari awal? Kau malah merusak semuanya!" Pekik Bu Lila putus asa.
Cinta di antara Ammar dan Irene pun ia yang mengaturnya dari awal. Ia sengaja mencuci otak dua anak sebatang kara itu untuk saling mencintai, saling menyayangi, dan akhirnya menikah atas dasar cinta yang sengaja di rakit. Ia tau akan sulit bagi Ammar untuk memiliki penerus, karena status Irene merupakan saudarinya. Dengan begitu tak perlu ada keluarga lain yang masuk, dan menghalangi rencananya.
Jebakan itu sengaja di buat agar Ammar tak menikahi gadis lain. Sudah pasti Ammar tak bisa mempublikasikan pernikahannya dengan Irene. Namun sayang ia baru mengetahui bahwa untuk menerima warisan, Ammar harus berstatus menikah. Rencana pun harus di ubah sedemikian rupa. Lagi-lagi ia menghasut Irene untuk mencarikan Ammar seorang istri yang bisa di publikasikan statusnya. Untuk menerima warisan yang jumlahnya tak main-main itu.
Dan ia menemukan gadis yang tepat, yakni Nara. Hanya tinggal bersama seorang Nenek tua, dan hubungan mereka tidak harmonis. Maka membunuh Nenek adalah umpan yang bisa mewujudkan rencana nya. Yakni merebut warisan, dan membersihkan tangan Irene dari perbuatan keji.
Bu Lila pun menekankan, bahwa Ammar tak boleh menyentuh Nara dengan dalih, itu akan menyakiti Irene. Namun tak di sangka hal itu malah di langgar oleh Ammar hingga membuat Nara hamil. Semuanya menjadi berantakan. Sia-sia selama delapan tahun ia mencuci otak Ammar dan Irene agar tak memiliki anak.
Pada akhirnya, Bu Lila harus menunjukkan diri karena semua sudah sangat berantakan. Kehausannya akan seluruh harta Ammar terancam sirna karena anak yang ada di dalam perut Nara. Terlebih semenjak Ammar dan Nara pindah ke rumah baru. Sifat Ammar jadi berubah dan susah untuk di kendalikan.
Nara berusaha memasang peluru laras panjang itu, namun ia malah lupa bagaimana caranya. Seharusnya ia menonton tutorial itu lebih cermat tadi.
Bu Lila tak mengindahkan perkataan Nara. Bagaimanapun caranya, ia akan membuat Ammar kembali menjadi bonekanya.
"Masukkan dia ke dalam mobil." ucap Bu Lila sembari menghidupkan korek api, apabila korek itu di jatuhkan. Maka kobaran api akan melahap mobil Nara dalam hitungan detik.
"aghh! sial..!" Nara meremas kuat senjata Laras panjang itu. Ia tak juga ingat bagaimana cara memasukkan pelurunya.
...-...
...-...
__ADS_1
Kembali pada Ammar, setelah baku hantam dengan orang suruhan Bu Lila. Ia berhasil mengikat satu orang dengan tali tambang, dan menggantungnya pada lampu kristal. Di bawah orang itu ia letakkan sebuah kursi, ia siap menendang kursi itu jika jawaban sudah di dapatkan.
"Kau akan hancur kali ini Ammar...!" ucap orang tersebut dengan suara serak, tali yang mengikat lehernya memang cukup kuat.
"Katakan siapa yang menyuruhmu!" Bentak Ammar. Ia sangat marah hingga tak terasa lebam yang di dapat dari hasil baku hantam tadi.
"Suruh dia menemui ku sekarang! Jika tau dia mempermainkan ku, seharusnya dari awal Ku bunuh kalian satu persatu!"
Di saat yang menegangkan itu, sebuah pesan video masuk ke ponsel Ammar. Video rekaman itu memperlihatkan bahwa Nara keluar dari hotel dan di buntuti.
"Kenapa dia tak menuruti perkataan ku!" geram Ammar, rahangnya mengeras. Ia bahkan menggenggam kuat ponsel nya hingga menampakkan otot yang menjalar kekar.
Sepertinya ia tak bisa mengetahui siapa dalangnya hari ini, karena ia harus menyelamatkan Nara lebih dulu.
"Percuma Aku menahan mu!"
Ammar menendang kursi yang menjadi pijakan orang tersebut. Orang itu pun bergeliat dan menggelayut kesana kemari. Kakinya kejang-kejang mengayun dengan lidah menjulur. Ammar benar-benar tak mentolerir siapa saja yang sudah berani mengusiknya.
...-...
...-...
Sementara itu Nara tengah melawan orang-orang yang menyeretnya. Ia mengerahkan seluruh tenaga, setidaknya sampai ia berhasil meraih tas selempangnya untuk mengambil suntik bius. Sedangkan Bu Lila, ia hanya tertawa sambil memainkan korek apinya.
"Lepaskan Aku..!!!" Pekiknya memberontak, namun apalah daya, tenaga nya tak sebanding dengan Dua orang bertubuh kekar itu.
...**************...
__ADS_1