Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 38 : Mall X2


__ADS_3

Nara menggigit bibirnya, akankah Ammar berpikir bahwa dia mulai berkhianat karena membawa senjata seperti itu diam-diam?


"b...bukan!" sahutnya tegas, namun matanya beralih dari wajah Ammar.


Ammar menarik senyum tipis di sudut bibirnya, "Jangan bohong, Aku mengingatnya dengan jelas Kau berusaha menyerang ku dengan ini malam itu."


"Menyerang..? Itu di sebut membela diri, bukan penyerangan!"


"Jadi Kau mengakui ini milik mu?" potong Ammar. Ia tau wanita polos itu sangat payah dalam berbohong.


Nara mendengus halus, bodoh sekali dirinya malah mengatakan hal seperti itu. Ia mengemas alat medisnya dengan wajah kesal.


"Kau butuh sesuatu yang lebih besar?"


"Apa?" Nara terheran.


"Kau pasti membawa ini untuk berjaga, tapi ini terlalu kecil. Aku punya yang lebih besar jika Kau mau..."


zzzzrttt...!!!


Nara mengeluarkan alat yang di maksud dari sakunya sambil menodong ke arah Ammar.


"Seperti ini maksud mu?"


Ammar melepaskan nafasnya setelah beberapa detik membeku. "Dari mana Kau mendapatkan barang-barang ini?!"


"Kau bertanya? Bukankah Kau selalu tau apa yang ku lakukan?" Nara menutup kasar kotak peralatannya kemudian berbalik meninggalkan Ammar.


"aaissh..! Dia mengejutkan ku.." gumam Ammar menghela nafas berat.


...~~...


Seperti biasa rumah sudah sepi, Ammar dan Irene pasti sudah berangkat ke kantor. Nara seorang diri melamun di depan cermin sambil memandangi cek bernilai 5 miliar.


"Kesucian ku di tukar dengan selembar kertas.." lirihnya masih tak percaya.


"Tapi ini bukan sembarang kertas kan.. Haruskah Aku membeli mobil, rumah, perhiasan, berbelanja.. Sepertinya begitu. Ayo Nara, nikmati hidupmu selagi Kau punya uang." Ia bersiap penuh semangat, tidak ada gunanya juga ia terus meratapi nasib sambil memandangi kertas itu setiap hari. Setidaknya ia bisa merasakan kemewahan walau lewat cara yang mengerikan.


Nara mencairkan seluruh uangnya, lalu memasukkan ke dalam rekening pribadi. Kini ia tengah menuju Mall X2 untuk membeli barang-barang mewah yang selama ini ia impikan. Targetnya adalah menyisakan 3 miliar untuk tabungan, agar saat kontrak pernikahannya berakhir ia tidak hidup sebagai gelandangan. Uang segitu cukup untuk membeli rumah sederhana dan memulai usaha bukan?

__ADS_1


Tempat pertama yang ia kunjungi adalah toko perhiasan. Matanya berbinar saat melihat deretan kalung yang berkilauan. Ia mencoba beberapa, kemudian membeli cincin dan gelang dengan model senada.


Setelah puas dengan perhiasan, ia menuju bagian Tas dan sepatu. Semua yang terpajang adalah brand ternama.


"Aku akan menjual ini kalau besok kembali miskin hahahahah..." gumamnya sembari berkaca.


Setelah memenuhi Dua kantong, ia pun ke bagian pakaian. Di sana ia paling lama berputar-putar, mencoba dan berputar lagi.


...-...


...-...


Di kantor Irene kembali bertemu dengan Damar. Mereka duduk bersebelahan saat rapat dewan direksi sedang berlangsung.


"Kau begitu semangat membawa tuduhan palsu itu padaku, apa Kau sangat ingin Aku meninggalkan perusahaan?" bisik Damar tertawa licik.


"Kau sendiri bahkan tak bisa menyangkal tuduhan itu.." Irene menyindir alibi Damar yang terlalu di buat-buat.


"Kalian tidak bisa apa-apa tanpa ku. Kenapa sangat ingin menyingkirkan ku?" oceh Damar lagi, ia menyombongkan diri kali ini. Ia ingin Irene tau bahwa tanpanya perusahaan pasti sudah lama tumbang.


"Hari ini Ammar akan menandatangi kontrak bernilai Miliaran. Pernahkah Kau melakukan itu selama menjabat di sini?" Irene langsung mematahkan senyum sombong Damar.


"Kau punya bukti soal itu?" pungkas Damar tersenyum licik. "Jika tak punya bukti, berhentilah mengucapkan omong kosong!" lanjutnya membuat Irene bertambah jengah.


"Kita lihat saja nanti..." rutuk Irene kesal.


Di waktu yang sama, Ammar bersama sekertaris nya tengah menunggu kedatangan orang besar yang akan bekerjasama dengan mereka. Orang itu yang akan membuat kesepakatan bernilai miliaran dengan perusahaan GT grup.


Ia menunggu Orang penting itu di sebuah restaurant mewah. Karena letaknya dekat dengan bandara, jadi mereka bisa makan sambil beristirahat sejenak. Restaurant tersebut ternyata bersebrangan dengan Mall X2, dimana Nara tengah berbelanja sekarang.


Telepon Ammar berdering, ia mengerutkan alis saat melihat Nara yang menelpon. Tidak biasanya Nara menelpon lebih dulu.


"Ada apa?" ketus Ammar saat telepon tersambung.


[Pemilik ponsel ini pingsan di toilet Mall Pak, dan Saya melihat nomor Anda di panggilan terakhir. Apa Anda walinya?] Wanita dari dalam telepon itu terdengar panik. Ia sudah menelpon ambulance dan mereka bilang akan ke sana dalam waktu 10 menit. Jadi ia berusaha membantu sebisanya.


"Ya. Saya suami nya, bisa beritahu alamat Mall nya sekarang?"


[Mall X2, jalan......]

__ADS_1


Ammar bertanya kepada sekretaris nya, "Dimana Mall X2?"


Sekertaris menoleh dan menunjuk gedung tinggi di seberang jalan, terdapat tulisan besar X2 di sana.


"Saya ada di dekat sini, bagaimana keadaan nya? Apa dia masih bernafas?" Ammar bangkit dan bergegas.


[Masih, tapi dia sama sekali tak sadarkan diri.]


"Saya akan tiba dalam waktu 2 menit, tolong pastikan Istri Saya tetap bernafas." Ammar menutup teleponnya.


"Pak, kolega Kita akan sampai lima menit lagi..!" Teriak Pak sekertaris. Jika pertemuan ini tidak lancar maka kontrak bernilai miliaran bisa batal.


"Urus saja sebisa mu.." Ammar tak perduli lagi. Otaknya sudah penuh dengan kekhawatiran terhadap Nara. Jika Nara sampai kenapa kenapa maka ia akan merasa sangat bersalah.


Sudah terlalu jauh ia merusak kehidupan Nara. Jika keselamatan pun tak bisa ia jamin, maka ia pantas di sebut manusia sampah yang paling hina karena gagal melindungi gadis malang itu.


Ammar berlari menuju mobilnya, dan memutar mobil dengan kecepatan gila. Ia masih harus berpitar menyebrangi jalan. Dan itu di lakukan secepat kilat, tak perduli pedal gas sudah hampir kandas.


Di rumah sakit.....


Ammar menunggu di luar ruangan. Ia bahkan mondar mandir sedari tadi. Wajahnya tampak resah. Tak terpikirkan lagi olehnya Kolega berharga yang ia tinggalkan.


"Pak Ammar.. Masuk lah." Panggil Dokter yang menangani. Ia ingin menyampaikan keadaan Nara yang sampai sekarang belum sadar juga.


"Bagaimana keadaannya Dokter?"


"Dia baik-baik saja, hanya kelelahan. Duduklah Saya ingin menunjukkan sesuatu."


Ammar menuruti perkataan Dokter, ia duduk di kursi sebelah kanan ranjang.


Dokter menempelkan alat ke perut Nara, menekannya perlahan hingga tampak tampilan yang sangat aneh dan asing bagi Ammar.


"Berapa usia pernikahan kalian..?" tanya Dokter berbasa-basi.


"Tiga bulan.." sahut Ammar bingung.


"Nah ini dia.. Usia nya memasuki 7 minggu. Detak jantungnya samar-samar terdengar, Anda bisa mendengarnya kan?" Dokter memperbesar volume di layar monitor yang menampilkan grafik detak jantung janin.


"Tidak mungkin..." Ammar hampir menampar dirinya agar tersadar. Ini sangat terasa seperti mimpi. Kedua lutut dan tangannya bahkan bergetar saat ia memperhatikan gumpalan kecil yang berdenyut halus di layar tersebut.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2