
Ammar berdiri dan merubah raut wajahnya seceria mungkin. "Begini Ayah, Nara bilang ia menginginkan suasana berbeda. Outdoor..." bisik nya pada Ayah mertua. Ia tau Pak Arul pasti akan sangat memahami nya sebagai sesama Pria.
"haisss.. tetap saja tidak seharusnya Kau menuruti keinginannya. Kalian punya kamar yang cukup luas, untuk apa ke atas sini. Cepat bawa masuk istrimu sebelum dia masuk angin." gerutu Pak Arul meninggalkan mereka.
Setelah Ayahnya pergi, Nara menghembuskan nafas lega. Ia sudah ketakutan karena pistol yang sedang ia sembunyikan. Segera ia masuk menyusul langkah sang Ayah. Ia melewati Ammar sambil melemparkan tatapan bengis.
Sementara Ammar hanya tersenyum tipis. Sayang sekali Ayahnya Nara muncul di saat-saat menegangkan. "Padahal sedikit lagi berhasil." gumamnya berdecit halus.
"Apa yang ku lakukan!" ia memukul bibirnya sendiri karena telah mengeluarkan suara seperti tikus.
...~~~...
Keesokan paginya....
Ammar kembali ke rumah lamanya, dua orang suruhannya sudah menanti kedatangannya. Mereka berhasil menangkap penyusup yang menerobos rumah tadi malam.
"Dimana dia?" tanya Ammar dengan wajah murka. Kedua rahangnya mengeras, ia benar-benar tak akan mengampuni orang yang telah mengusik kehidupannya dengan Nara.
Dua orang suruhan itu mengantarkan Ammar ke ruangan bawah tanah. Mereka menyekap penyusup itu sejak tadi malam. Pria berusia 30 tahunan itu tampak duduk tak berdaya dengan badan di ikat pada sebuah tiang.
Ammar menunduk, lalu mencabut Lakban hitam yang menutup mulut pria itu dengan amat kasar. "Siapa Kau?!"
"Aku..?" sahut Pria itu, ia malah tertawa kecil dengan raut wajah bengis.
Ammar semakin jengah, ia mencengkram kuat leher pria itu tanpa ampun. "Kau yang mengintai saat di Mall bukan? Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?"
"Kau akan menerima hukuman atas perbuatan mu..!" kecam pria itu terbata, orang yang menyuruhnya pasti akan sangat murka bila Ammar melakukan sesuatu padanya.
Ia mulai merasakan sesak karena Ammar mencekiknya dengan amat kuat.
"Kau lah yang harus menerima hukuman karena telah mengusikku." ucap Ammar pelan, ia melepaskan cengkraman nya kemudian menjauh dari pria itu.
Ammar yakin orang tersebut hanyalah pesuruh, sebab ia sama sekali tak pernah melihatnya. Ini seperti pembalasan dendam, maka sudah pasti ada seseorang yang menyuruh pria itu membuntuti, bahkan menyusup ke rumahnya.
__ADS_1
"Bawa dia ke kolam renang." titah Ammar meninggalkan ruang bawah tanah itu.
Sesuai instruksi majikannya, dua orang suruhan itu pun menyeret pria tersebut secara paksa. Mereka memasangkan pemberat di kedua pergelangan kaki, tak lupa mereka mengikat tangan pria itu agar tak bisa menyelamatkan diri.
Tanpa aba-aba, pria yang sudah tampak lemas tak berdaya itu di lempar ke dalam kolam renang sedalam lima meter. Pria itu berusaha naik ke permukaan, berusaha sebisa mungkin mengambil udara. Namun sayang pemberat di kakinya membuat ia tak bisa naik ke permukaan.
"Selesaikan sisanya, Aku akan mencari siapa yang menjadikan orang ini sebagai boneka."
Ammar langsung pergi dari sana. Lagi, rumah besar itu menjadi saksi hilangnya nyawa seseorang.
...~~...
Nara dan ketiga Detektif itu kembali bertemu, namun kali ini mereka tak di kantor. Melainkan di sebuah cafe.
Sam membawakan berkas yang merangkum beberapa bukti di TKP pembunuhan kemarin. Pembunuhan dengan tiga tusukan pisau. Ia hanya berjaga-jaga siapa tau Nara pernah melihat hal serupa yang mungkin mengacu di sekitar Ammar.
"Peti mati bahkan sudah di bongkar, itu benar-benar Irene. Lalu siapa pelakunya kali ini?" tanya Nara penasaran, tak bisa di pungkiri ia mulai berpikiran negatif.
"Apa Kau tidak pernah mendengar Ammar mempunyai musuh lain?" Sam menyipitkan matanya.
Namun yang membuat Nara sendiri ragu, polisi saja tidak bisa menemukan bukti bahwa Ammar ikut terlibat. Lalu bagaimana mereka bisa menyelidiki ini lebih dalam lagi?
"Bagaimana sifatnya? apa dia menunjukkan sesuatu yang aneh sejak kematian Irene?"
"mmm.., entah lah. Dia memang dingin dan pendiam sejak dulu. Namun ada beberapa momen yang membuat wajahnya lebih ceria."
Nara tersenyum saat membayangkan perhatian Ammar, terasa samar. Namun sangat jelas bahwa perlindungan Ammar untuknya benar-benar sepenuh hati.
"ooo... Kau tersenyum Nara, bagaimana? Sudah mulai ada bibit-bibit cinta?" goda Sandra ikut tersenyum. Ia tau akhirnya akan ada rasa di antara mereka. Walaupun masih transparan.
"hh.. tidak akan, siapa yang bisa membuka hati untuk pria gila seperti itu?" balas Nara protes. Ia masih cukup waras untuk bisa menilai bahwa Ammar tak pantas di dampingi olehnya.
"Kau mungkin menutup hatimu rapat-rapat, tapi kalau ternyata dia mendobrak bagaimana? memangnya Kau bisa menahan jika dia sudah bertindak." tambah Sandra sambil mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
"Kenapa Kau malah membahas hal konyol? Kita kesini untuk urusan penting. Bukan untuk membahas perasaan." potong Sam bernada ketus. Masih saja Sandra sok menerawang perasaan Nara, padahal perasaan kakaknya sendiri tak ia hiraukan.
Sandra seolah memantik api cemburu yang perlahan mulai berkobar di benak Sam. Tak pantas memang mencemburui istri orang, namun dia bisa apa? Perasaan itu datang dengan sendirinya.
"Bukankah seharusnya Kita menyelidiki semua pelayan di rumah lama Ammar? Beberapa dari mereka sudah sangat lama bergabung dengan Ammar. Bisa saja salah satu di antara mereka mengetahui sesuatu kan?" imbuh Galih yang sedari tadi diam memutar otak.
"Benar, Bu Lila. Dia yang membawa Ammar dan Irene keluar negeri. Dia pula yang menjadi saksi pernikahan Ammar dan Irene. Menurutku dia tau sesuatu..." Sam pun membenarkan usulan Galih.
"Bu Lila..?" Nara tertegun, beberapa hari yang lalu ia melihat Bu Lila menelpon seseorang dengan gelagat mencurigakan. Apa mungkin Bu Lila memang mengetahui sesuatu?
...~~...
Nara pulang tepat bersamaan dengan Ammar. Habis lah dia kali ini karena keluar tanpa izin lagi.
"Dari mana?" tanya Ammar ketika turun dari mobil.
Nara yang hendak membuka pintu pun langsung berbalik. Ia tersenyum lebar, membuat lesung pipinya jelas terlihat.
"Kau sudah pulang?" Nara berlagak menyambut kedatangan Ammar dengan senyumnya. Berharap Ammar takkan memarahinya kali ini.
"Kau melepaskan gelang mu, mematikan ponsel mu. Apa Kau mengunjungi tempat yang tempo hari tidak jadi Kau datangi? Dimana itu? Apakah Sam? Atau orang lain?" Ammar memberondong Nara dengan berbagai pertanyaan. Ia sangat tau bahwa berbelanja kemarin hanyalah rencana yang diplesetkan oleh Nara.
"Kalau memang Sam kenapa?" tegas Nara berusaha santai. Padahal jantung nya ketar-ketir.
Ammar tersenyum jengah, sorot matanya menodong Nara. Seakan ia ingin melubangi wajah istrinya itu dengan tatapannya.
"Sudah ku duga, bisa ku lihat dari garis wajahmu yang berseri. Sepertinya Kau sangat senang setiap kali bertemu dengannya."
Nara mendengus kesal, wajahnya yang berseri sontak menjadi masam. Memangnya kenapa kalau ia bertemu dengan Sam? Lagi pula di luar kesepakatan mereka untuk melahirkan anak, mereka tetap berhak untuk melanjutkan kehidupan pribadi mereka.
"Memangnya kenapa kalau Aku menemui Sam? Kau cemburu?"
"Iya." sahut Ammar menekan suaranya. Membuat Nara seketika merubah arah tatapannya.
__ADS_1
...*************...