Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 56 : Tangis haru


__ADS_3

Dengan uang pas-pasan, Arul nekat naik Metromini kembali ke Ibu Kota. Setelah lebih dari satu jam perjalanan, ia pun sampai di depan dua gedung kembar yang tinggi menjulang. Label GT grub terpampang jelas di depan gedung itu.


Sambil tercengang takjub, Arul melangkah memasuki area gedung. Saat hendak memasuki pintu kaca, Dua orang pengawal menghentikannya.


"Maaf Pak, ada perlu apa?" tanya salah satu pengawal. Melihat penampilan Arul yang tak mengenakan tanda pengenal, membuat dua pengawal itu yakin bahwa Pak Arul bukan bagian dari GT grub.


"Saya mau mencari suami anak Saya. Katanya dia kerja di sini.."


"Nama nya?" Dua pengawal itu melempar tatapan tajam, penampilan lusuh Arul sungguh tak meyakinkan.


"Ammar, dia suami anak Saya yang bernama Nara. Bisa tolong suruh dia menemui Saya?"


Dua pengawal itu merasa ada yang tidak beres, bagaimana bisa ia mengaku sebagai orang tua dari istri Pimpinan mereka. Sementara mereka tau bahwa istri Pimpinan adalah anak sebatang kara.


"Bapak tau siapa yang Bapak sebutkan barusan?" tanya mereka sangat curiga.


"Tau, menantu Saya kan?"


"Dia Pimpinan di sini Pak, pemilik gedung ini. Jadi tolong pergi sebelum Bapak kami usir dengan cara kasar."


Siapa yang tak curiga, mengaku-ngaku sebagai orang tua Nara yang jelas-jelas sudah meninggal. Kalau memang dia orang tua Nara, harusnya dia tau kan apa dan siapa Ammar sebenarnya


Arul bersikeras ingin menemui Ammar. Ini tujuan terakhirnya. Kemana lagi ia harus mencari putrinya kalau ia tak bisa bertemu dengan Ammar.


Karena Arul tak mau pergi, kedua pengawal itu pun menyeret paksa keluar dari sana. Mereka sudah curiga sejak awal bajwa Arul adalah orang gila yang biasa keliaran di jalanan.


"Ada apa ini..?" ketus Ammar yang hendak berangkat menemui klien. Ia risih melihat kegaduhan yang terjadi di sana.


"Maaf Pak. Pria ini mengaku bahwa dia Ayah kandung Nyonya."


"ch.. Yang benar saja. usir dia..!" Titah Ammar dengan angkuh nya. Memangnya orang yang sudah mati bisa bangkit kembali?


"Saya benar-benar Ayah nya Nara, Kau akan kena karma jika memperlakukan mertua mu seperti ini..!" Teriak Arul, ia tak tau lagi harus bagaimana.


Ammar berbalik, menatap Pria yang memang mertuanya itu dengan amat jengah. "Anda butuh uang berapa?"


"Pertemukan Aku dengan putri ku Nara.. Tolong, Aku bahkan tidak tau lagi harus mencarinya kemana." Arul mengatupkan tangan, memohon sangat kepada Ammar untuk mempercayainya.

__ADS_1


"Dengar Pak, kedua orang tua Nara itu sudah meninggal. Lebih baik Anda pergi sebelum Saya panggil polisi."


Bukti, Ammar tentu membutuhkan bukti. Arul memikirkan cara bagaimana membuat Ammar percaya.


"Dia punya lesung pipi kan?"


Ammar tak bergeming, siapapun tau kalau Nara mempunyai lesung pipi.


"Dan.. Dia punya tanda lahir berwarna cokelat, seukuran ini di punggungnya." Arul mengacungkan ujung ibu jarinya. Kalau tidak berubah, pasti tanda lahir itu seukuran itu sekarang.


Wajah angkuh Ammar langsung berpikir keras, ia berusaha mengingat punggung Nara. "ahh.. sial, Aku malah teringat malam itu." batinnya.


Ya, memang ada tanda lahir di punggung Nara. Tapi Ammar tak mau percaya begitu saja. Ia mencoba menelpon Nara untuk memastikan. Namun berkali-kali Ammar menelpon Nara tak kunjung mengangkat.


"Tunggu lah disini, Aku akan menjemput istriku. Kalian..! awasi orang ini." Titah Ammar pada para pengawalnya.


Sementara itu Nara yang tengah makan bersama dengan Sam family terlihat sangat menikmati suasana. Sampai-sampai ia tak mendengar suara ponsel yang memanggil manggil dari dalam tas.


Galih, Sandra, Sam dan Pak Jasman saling bertukar cerita. Dari mulai cerita menegangkan yang menggemparkan kemarin, hingga cerita menyedihkan tentang keluarga Nara. Mereka tampak menikmati suasana layaknya keluarga.


Nara menggeleng, "Mungkin dia sudah tenang bersama Ibu sekarang..."


"Benar, kita tidak boleh selamanya terpuruk akan kenangan pahit masalalu. Kita harus bangkit." Pak Jasman menyemangati.


"Kau bisa cerita dan minta bantuan pada Kami kapan saja. Anggap saja kita keluarga.." Sandra mengerlingkan matanya, ia dan Nara semakin akrab. Berbeda dengan Sam yang malah berkelahi terus setiap hari.


"Terimakasih... Aku senang karena seperti memiliki keluarga sekarang hehehe.." Nara membalas senyum hangat Sandra. Di balik rumah tangga hambar yang ia jalani sekarang, setidaknya ia mempunyai tempat untuk berbagi.


"Apa Aku bukan keluarga bagimu?" celetuk Ammar dari depan pintu. Ia kebingungan mencari Nara sedari tadi, untung saja ia langsung kepikiran memeriksa ke kantor Detektif ini.


"Ammar..? Kenapa Kau disini?" Nara berdiri menghampiri. Sementara Ammar, sorot matanya amat tajam seperti sedang menahan semburan amarah.


"aiisss.. lihat Pria itu, matanya sepeti pisau." gumam Galih dan Sandra menggunjing.


"Kenapa Kau tidak mengangkat telpon mu?" hardik Ammar pelan, ia ingin menjaga image di depan orang-orang itu.


"Aku..."

__ADS_1


"Cepat ikut Aku." titah Ammar.


"Kemana..? Aku belum selesai..."


"Ada orang gila yang mengaku sebagai Ayahmu. Dia bersikeras ingin menemui mu."


"HAH..??" Nara merinding seketika, apa iya Ayahnya bangkit dari lautan? Atau memang orang iseng saja.


Empat orang yang tengah menyantap makanan itu pun tak kalah terkejutnya. Baru saja mereka membicarakan itu. Kalau memang benar-benar itu Ayahnya Nara. Maka ini suatu keajaiban.


...-...


...-...


Ammar dan Nara sudah tiba di perusahaan. Nara yang penasaran serta antusias sampai lupa bahwa barang belanjaannya masih ada di dalam mobil Sam.


Mereka langsung menuju ke ruang tunggu, dimana pengawal menahan Pak Arul di sana. Para pegawai yang mereka lewati membungkukkan badan, dan ada yang langsung menuntun Ammar ke tempat dimana Pak Arul menunggu.


Beberapa meter sebelum sampai di ruangan, pintu dibuka kan oleh salah satu pengawal. Tampaklah oleh Nara wajah yang sangat tidak asing. Wajah yang selama ini selalu ia rindukan.


Kecepatan langkahnya menjadi pelan, apa ini benar-benar nyata? Wajah Pria renta itu tak berubah, sama seperti terakhir kali ia berpamitan hendak berlayar 15 tahun yang lalu. Guratan halus di wajah serta beberapa helai rambut yang memutih tak membuat Nara melupakan sosok Pria yang menyandang status Ayah tersebut..


"Ayah...." lirih Nara menitikkan air mata. Ammar langsung menoleh ke arah istrinya itu.


Pak Arul tak bergeming, ia mematung saat melihat sang putri yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.


Nara langsung memeluk Ayahnya sambil menangis tersedu-sedu. "Ini benar Ayah kan? Ayah kemana saja? Kenapa Ayah baru kembali..." ia menumpahkan isak tangis di pundak sang Ayah.


"Maafkan Ayah nak, maafkan Ayah karena meninggalkanmu terlalu lama. Putri Ayah baik-baik saja kan?" Pak Arul memegangi pipi Nara, ia tak percaya gadis kecilnya kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.


"Aku tidak baik-baik saja Ayah..." tangis Nara semakin pecah, ingin sekali ia menceritakan semua yang telah ia lewati. Semua hal yang membuat hidupnya hancur.


"Sekarang Ayah di sini nak, semua akan baik-baik saja. Ayah berjanji akan menebus semua hal yang belum sempat Ayah berikan padamu." Ia akan melindungi Nara dengan segenap jiwanya. Memberinya kasih sayang yang 15 tahun ini tak kesampaian. Ia tau pasti sangat berat untuk Nara hidup seorang diri selama 15 tahun.


Ammar yang menyaksikan pertemuan haru anak dan Ayah itu hanya terdiam di tempat. Tadi dia sempat bersikap angkuh hingga mengatakan akan mengusirnya. Apalagi saat ia bilang " Anda butuh uang berapa?" sumpah.. Ammar bingung harus bersikap bagaimana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2