Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 77 : Hormon


__ADS_3

Keesokan paginya...


Nara terbangun lebih dulu dengan lengan Ammar sebagai bantalnya. Ia lupa, entah bagaimana akhirnya ia tertidur semalam. Alih-alih menyingkirkan lengan Ammar dari tubuhnya, ia malah terpaku pada wajah Pria itu. Terlihat amat tenang tak seperti biasanya, ketus dan tak bisa di tebak.


Di saat yang bersamaan, Ammar membuka matanya perlahan. Suatu pemandangan yang indah, dimana ia bisa melihat wajah Nara ketika terbangun dari tidurnya.


"Aku cukup tampan kan?" seloroh Ammar menggoda, Nara langsung membuyarkan tatapan dalamnya.


Baru saja ia takjub melihat wajah kalem Ammar, eh sudah di buat geli oleh kata-kata narsis itu. "Kau cukup narsis ternyata.." balas Nara, ia langsung duduk dan menyingkirkan lengan Ammar.


"Kenapa Kau tidur di sini?" ketusnya.


Ammar bersedekap sembari menguap lebar, ia masih berbaring di sana. "Kau yang menarik tanganku dan menjadikannya bantal semalaman." bohong Ammar tersenyum kecil.


Nara langsung memejamkan matanya, berusaha mengingat apakah benar ia berprilaku seperti itu semalam?


"Jangan bohong Ammar. Aku tidak akan bertindak seperti itu. Kau pikir Aku bisa dengan mudah Kau bodohi?"


"Bersiaplah, hari ini Kita ada janji temu dengan Dokter kandungan." Ammar mengusap kepala Nara seperti majikan yang memanjakan kucingnya. Kemudian ia beranjak, tanpa perduli Nara sedang bersungut kesal.


...~~~...


Di Rumah sakit....


Masih dengan Dokter Bastian, Nara menyebutkan semua keluhannya akhir-akhir ini. Ia merasa sering kram, pinggang nya semakin terasa sakit terutama saat hendak tidur.


Di sebelahnya, Ammar terus menatap Nara penuh rasa kasihan. Ia tak menyangka, sebanyak itu keluhan yang di rasakan Nara. Pantas saja ia terguncang semalam, pasti semua rasa sakit itu membuatnya jadi lebih sensitif.


"Kemungkinan otot di tubuh Anda kaku, apa Anda habis bepergian? Atau melakukan hal yang melelahkan?" Pak Dokter memeriksa hasil rekam medis bulan lalu. Terdapat banyak lonjakan yang cukup signifikan terkait keluhan yang di rasakan Nara.


"Kedua nya, Kami baru saja pulang dari Singapura beberapa hari lalu. Apa itu yang membuatnya kelelahan?" potong Ammar sigap.


"Pasti, tapi sebagian besar berasal dari faktor pikiran. Apa Ibu ada menangis semalam?"

__ADS_1


Nara dan Ammar mengangguk pelan.


"Lebih di jaga lagi ya emosinya, janin bisa merasakan emosi yang di alami sang Ibu. Maka dari itu penting untuk tetap menjaga pikiran, perasaan, khususnya Bapak sebagai suami memiliki peran besar untuk menjaga emosi Sang Ibu."


"Jenis kelaminnya apa Dokter?" tanya Nara, ia seperti mengesampingkan penuturan Dokter barusan. Bukan karena ia tak perduli dengan bayinya, tapi karena percuma melibatkan Ammar untuk menjaga emosinya.


Dokter memindahkan alat USG ke bagian lain perut Nara, guna memperjelas alat kelamin janin. "Anak kalian Laki-laki, hormon ini juga yang menyebabkan nyeri pinggang meningkat."


Nara terpaku pada layar monitor, tampak kaki sang bayi yang bergerak halus. Bayi tampan itu benar-benar hidup di rahimnya, ia masih tak menyangka.


Sementara Ammar, ia bahagia sekali mendengar itu. Anak laki-laki yang kelak akan menjadi pelindung Ibu nya, menjadi penerusnya. Ia mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya dalam hati.


...-...


...-...


Dari rumah sakit, Ammar dan Nara mampir sebentar ke restaurant. Namun ia sedikit kehilangan semangat karena melihat Nara murung sepanjang perjalanan.


Nara tak menjawab, ia menghela nafas panjang kemudian melepaskan juga sabuk pengamannya. Ia masih sangat kesal karena tidak jadi ke Disneyland, dan bertambah kesal karena Ammar tak mengingat janji nya.


Tanpa melihat Ammar, Nara membuka pintu mobil. Namun lengannya di tahan oleh Ammar hingga ia tidak jadi turun.


"Kau kenapa..? Apa Aku membuat kesalahan?"


"Tidak." Nara menepis tangan Ammar dengan lirikan kesal.


"Tidak mungkin, Aku yakin Kau pasti marah padaku. Tidak biasanya Kau seperti ini."


"Kenapa Aku marah padamu? Kau merasa melakukan sesuatu yang membuatku marah?" tukas Nara, ia balik bertanya. Padahal jika ia mengatakan langsung pasti Ammar mencari solusi untuk memperbaiki moodnya. Tapi ia tak ingin begitu, ia ingin Ammar memahami keinginannya. Mengingat janji nya.


"Kau marah karena Aku membunuh?" Hanya itu yang bisa di terka oleh Ammar. Soalnya semenjak kejadian menegangkan malam itu, Nara menjadi diam dan lebih ketus.


"Kau mau Aku menyerahkan diri? Aku tidak bisa melakukan itu Nara. Banyak hal yang harus di kulik jika Aku menyerahkan diri. Bahkan Kau dan Ayahmu juga akan di jadikan tersangka komplotan. Lagi pula dia menghancurkan ku lebih dulu...."

__ADS_1


"Aku tidak perduli Kau membunuh atau tidak." Ucap Nara memotong perkataan Ammar. Ia tak perduli Ammar membela diri dengan cara apapun, di matanya Ammar tak lebih dari Pria kejam yang bisa melakukan apapun.


Pernyataan itu, membuat Ammar salah tanggap. Ia menelan ludah yang tercekat dengan jantung berdebar. "Jadi... Kau menerima ku apa adanya?"


"Kau salah paham Ammar. Bagi ku Kau tetap seorang Psikopat!"


"Lalu apa? Apa maksud perkataan mu? Jika bukan karena itu kenapa Kau bersikap seperti ini?"


"Aku ingin ke Disneyland...! Kau berjanji Kita akan kesana sebelum pulang. Tapi Kau langsung memesan tiket karena dapat telepon penting dari kantor! Apa Aku tidak penting...hhhhuuuaaaa😭😭😭😭"


Padahal ia ingin berteriak untuk melampiaskan kekesalan nya. Tapi entah kenapa ia malah menangis bahkan sebelum perkataannya selesai.


"Apa...?"


Ammar tercengang, walau perkataan Nara tidak jelas ia bisa mencerna racauan istrinya itu. Ia tak menyangka berhari-hari Nara bersikap ketus karena ia melupakan janjinya.


"Tentu saja Kau penting untukku. Tapi keadaanmu kan tidak memungkinkan kemarin. Begini saja, kalau anak Kita sudah lahir. Aku akan membawamu berlibur ke tempat yang bagus. Atau kalau perlu Kita tinggal di negara yang paling Kau sukai..."


"Kita akan bercerai setelah itu." Potong Nara masih sesenggukan. Ia tak mau membayangkan hidup bersama Ammar lebih lama lagi. Tinggal dengan seorang pembunuh? Itu seperti mimpi yang paling buruk.


"Maaf...." lirih Ammar, ia menyadarkan dirinya sendiri bahwa belum ada yang berubah dari Nara. Baik itu sikap, maupun tujuannya.


"Bukannya Aku tidak mau mewujudkan keinginanmu. Tapi kondisi mu sekarang sedang rentan, Aku tidak mau Kau kenapa-kenapa." imbuhnya sembari mengusap lembut punggung tangan Nara, ia benar-benar hanya menyentuh Nara dengan ujung jarinya. Takut kalau Nara marah.


"Dari dulu Aku ingin sekali ke sana, dan kemarin Aku sudah menginjakkan kaki di sana. Tapi Aku melewatkannya begitu saja. Kau tau seberapa sedih Aku karena melewatkan kesempatan emas itu? Kau pasti tidak tau rasanya karena Kau sering bolak-balik ke luar Negeri."


Tangis Nara tak berhenti, ia mengusap buliran yang mengalir deras dari matanya. Dalam sekejap wajahnya menjadi sembab. Nafasnya pun jadi tersengal-sengal.


Sementara Ammar menahan bibirnya untuk tertawa. Baru kali ini ia melihat seorang wanita dewasa bertingkah seperti bayi. Sangat menggemaskan. Ia pun memberanikan diri memeluk tubuh istrinya itu, mengusap punggungnya perlahan sembari menepuk pelan.


"Aku mengerti perasaanmu... tenang ya.." Ammar mengecup bahu Nara yang masih menangis sesenggukan.


...******************...

__ADS_1


__ADS_2