Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 65 : Sesuatu yang janggal


__ADS_3

Setelah sup nya jadi, mereka makan bersama di meja makan. Nara dengan lahapnya mengunyah berbagai jenis buah yang terasa sangat segar itu. Manis dan asam bersatu dalam satu mangkuk yang sangat nikmat.


Sementara Ammar dan Pak Arul malah tersenyum, mereka bukan menikmati sup buahnya. Melainkan menikmati pemandangan yang menggemaskan.


Pak Arul tersentuh, ia masih tak menyangka bisa bertemu lagi dengan putrinya setelah sekian tahun. Putri yang dulu selalu bermanja-manja dan selalu bermain di pangkuannya. Kini ia sudah dewasa dan akan segera menjadi seorang ibu.


"Kalian tidak makan?" ucap Nara membuyarkan pikiran dua lelaki itu.


Dua pasang mata yang sedari tadi memperhatikannya pun langsung beralih ke mangkuk sup.


...~~...


Selama dua hari bekerja keras, akhirnya Sandra berhasil meretas sistem keamanan CCTV rumah sakit. Dan ia mendapati memang benar ada penghapusan waktu selama lima jam. Entah dengan tujuan apa pihak rumah sakit melakukan itu.


"Tau kah Kau hari apa tanggal 5 November ini?" tanya Sam kepada Sandra dan Galih.


"Hari sabtu.." sahut Sandra.


"Hari kematian Irene...." ucap Sam menatap lekat layar komputer.


Sandra dan Galih langsung terhenyak, mereka bertiga berpikir keras. Apa yang membuat rekaman itu hilang selama 5 jam, dan untuk apa tujuannya.


"Selamat siang..." ucap Nara yang baru saja tiba. Ia diam-diam datang ke sana karena ingin mengambil pistol yang kemarin di tawarkan oleh Sam.


Sam langsung menutup layar komputernya, dan menyambut Nara. "Kau yakin tidak di ikuti suami mu?"


"Dia sedang di kantor, cepat berikan pistolnya." pinta Nara segera, takut saja kalau Ammar tiba-tiba muncul di sana.


Setelah menyerahkan pistol, Nara dan ketiga Detektif itu mengobrol sebentar. Mereka membicarakan rencana Nara kedepan nya. Hingga tiba saat kalimat yang di rasa Sam pantas untuk memulai obrolan ini.


"Saat Irene di makamkan, apa Kau melihat wajahnya?"

__ADS_1


"Hanya saat proses pemindahan ke dalam peti, kenapa?" jawab Nara ragu, ia bingung kenapa Sam menanyakan itu.


"Kalian mau bilang kalau kematiannya di palsukan?" tambahnya asal bicara, ia berniat membuat candaan. Namun ketiga Detektif itu malah serius menanggapi.


"hei.., Bagaimana kalau benar dia memalsukan kematiannya?" ujar Sam berpikir dalam, dari awal semua ini terasa janggal baginya.


"aissh..! Tidak mungkin, Nara bilang dia melihat mayatnya. Benar kan Nara?" Sandra menampik pemikiran sang Kakak. Mana ada orang yang sudah mati hidup lagi.


"Kau benar-benar melihatnya? Bagaimana wajahnya? Apa itu benar-benar Irene?" imbuh Galih, setengah pendapatnya setuju pada pemikiran Sam. Namun setengah lagi masih berlogika.


"Aku benar-benar melihatnya, wajahnya pucat dan memilki luka tembak di baju serta lehernya. Aku benar-benar melihatnya terbujur kaku di dalam peti saat terakhir kali hendak di makam kan." Nara meyakinkan Sam, saat Ammar membuka peti untuk yang terakhir kali. Ia benar-benar melihat Irene terbujur kaku di sana.


Sam diam sejenak, mungkin saja ini hanya kecurigaannya. Ia tak mau membahas soal CCTV itu dengan Nara untuk sekarang. Karena ia khawatir Nara cemas dan malah membawa pengaruh buruk untuk janinnya.


...~~~~...


Nara diam-diam naik ke kamar Ammar untuk memeriksa. Karena perkataan para Detektif tadi sungguh mengusik pikirannya. Ia ingin memastikan tidak ada yang di sembunyikan oleh Ammar.


"Luas juga..." gumam Nara kagum, walaupun itu kamar loteng, nuansa nya cukup indah dan luas. Nara mulai menggeledah lemari serta dinding-dinding siapa tau ada ruangan rahasia seperti di rumah lama mereka.


Buru-buru lah ia memasukkan kembali semua barang yang di periksa. Dan merapikan kasur yang tadi ia acak-acak. Setelah itu ia segera turun dengan nafas ngos-ngosan dan berkeringat. Tak lupa ia menutup kembali tangga yang menjadi jalan menuju kamar loteng itu. Kemudian ia segera duduk di atas kasurnya mengatur nafas, agar seolah tak terjadi apa-apa.


Saat memasuki kamar, Ammar langsung terfokus pada keadaan Nara yang sepertinya kelelahan. "Ada apa..?" tanya nya sembari menutup pintu kamar.


"Apa..?" Nara bertanya balik.


"Kau tersengal dan berkeringat, Kau baik-baik saja?"


Bola mata Nara berputar mencari jawaban, Ammar memang sangat jeli untuk hal kecil di sekitarnya.


"a..aku hanya merasa panas dan.."

__ADS_1


"Payud4r4 mu nyeri lagi?"


Nara membelalak mendengar Ammar dengan entengnya menyebut nama dua benjolan itu. "Tidak!" sahutnya cepat.


"Baguslah kalau Kau tidak apa-apa. Kalau Kau membutuhkan bantuan, panggil saja Aku." Ammar naik ke kamarnya. Lagi ia bersikap acuh pada Nara. Entah karena banyak pikiran, atau memang karena itu sifat aslinya. Nara merasa tidak nyaman saja dengan raut acuh suaminya itu. Biasanya walaupun kaku, tatapan Ammar tetap hangat saat melihat ke arahnya.


Setelah memasuki kamar atas, Ammar mengambil sebuah album lalu berbaring di atas kasur. Ia bahkan tidak melepaskan kaus kakinya.


Album berwarna hitam itu ia buka perlahan. Ada banyak foto kenangan di sana, saat dirinya dan Irene masih kecil. Sebagian lagi foto mereka setelah dewasa. Dengan serius Ammar memperhatikan lengan kanan Irene, dari kecil hingga dewasa Ammar tak pernah melihat tahi lalat di lengan kanan Irene. Bahkan selama mereka menikah pun Ammar memperhatikan betul setiap detail tubuh istri pertamanya itu.


Namun saat proses pemakaman kemarin, saat Ammar melihat tubuh Irene untuk yang terakhir kalinya. Ia melihat tahi lalat di lengan depan sebelah kanan, tepatnya di bawah lipatan siku. Tahi lalat itu kecil, namun memiliki warna yang cukup pekat.


"Sejak kapan Kau memiliki nya..?" tanya Ammar pada foto Irene. Ia merasa ada yang janggal.


...~~~...


Kembali kepada tiga Detektif yang menyelidiki rekaman CCTV. Mereka tak menemukan file video yang telah di hapus secara permanen itu.


"Apa jangan-jangan Irene memalsukan kematiannya?" seloroh Galih sambil melamun.


"Apa maksudmu..? Kau dengar sendiri kan Nara bilang ia melihat jasadnya?" tukas Sam membantah. Apa iya Irene yang di lihat Nara di dalam peti mati, jadi hidup kembali.


"Coba pikirkan lagi Sam. Pembunuhan yang terjadi beberapa hari lalu, persis seperti yang di lakukan Irene."


"Kau bilang Noah yang melakukannya." ucap Sam mendengus.


"Ya tadinya Aku berpikir begitu, mungkin Noah ingin membuat Ammar terpojok karena ia pernah terlibat dengan Irene. Tapi Kita tidak menemukan bukti kalau dia pelakunya kan? Seolah si pelaku sengaja menggiring, memang Noah pelakunya."


Setelah di pikir ulang pun, Galih mengenal betul seperti apa watak Noah. Meskipun ia picik, ia tak mungkin melakukan hal sekeji itu. Tadinya ia berpikir bahwa Noah mungkin saja mewarisi sifat Papa mereka yakni Damar. Namun setelah di periksa, Noah benar-benar hanya melakukan kejahatan pada Ammar kemarin. Alibi nya saat pembunuhan tersebut terjadi pun sudah di konfirmasi.


"Lalu jika benar dugaan mu, siapa yang terbaring di peti mati itu?" tanya Sam.

__ADS_1


"Menurutmu haruskah Kita memeriksa CCTV di rumah duka? Jasadnya tertahan dua hari di sana kan?"


...***************...


__ADS_2