Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 28 : Usaha yang salah


__ADS_3

Karena Nara malah termenung, Ammar tak ada pilihan lain. Ia menyeret tangan Nara dan membawanya menuju mobil. Memang benar kata Nara, Ammar hanya bisa memerintah, dan memaksa. Ia tak kenal sabar, tak kenal bujuk rayu, dan tak mengenal kata tunggu.


"Lepas.. Aku bisa jalan sendiri." Nara berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Ammar. Sungguh jantung nya sangat tidak aman, kacau sekali.


"Kau sangat lelet. Aku bisa terlambat."


"Aku bisa meminta supir mengantarkan ku, atau naik taksi."


Ammar membukakan pintu depan, lalu mendorong Nara duduk di sana. "Mulai sekarang usahakan Kau selalu berada di dekat ku, dan Kalaupun Kau sedang jauh jangan lepaskan gelang itu." tunjuk nya pada gelang di lengan Nara. Ia bisa melacak posisinya dengan itu.


"hh... Biar Kau bisa leluasa membunuhku kapan saja?" gumam Nara sambil memasang sabuk pengaman.


"Apa?"


"b..bukan apa-apa hehehe..." Nara meringis lebar, plaster yang ia pasang barusan sampai terasa ketarik.


"aisssh! jaga ucapan mu Nara. Itu hanya dugaan Sam saja, kenapa Kau malah meyakini kalau Ammar seorang pembunuh." batinnya menggerutu.


Walaupun ia juga tak yakin dengan kecurigaan Sam. Ia sudah menyiapkan diri dengan menyimpan nomor Sam ke panggilan cepat untuk berjaga-jaga. Tak hanya itu, Sam bahkan memberikan alat kejut listrik berukuran kecil pada Nara agar ia bisa melindungi diri.


Kemarin bahkan Sam menawarkan pistol padanya, namun ia tak berani memakai senjata itu. Akhirnya ia hanya mengambil alat kejut listrik saja.


Sesampainya di pemakaman, Nara langsung turun dari mobil. Ia pikir Ammar akan pergi setelah mengantarnya, apalagi tadi dia bilang akan terlambat. Tapi kenapa malah Ammar ikut turun?


"Anda tidak pergi?" tanya Nara heran.


"Di sini sepi... Aku akan menunggumu."


Nara menyipitkan matanya, nama nya kuburan ya sepi. "Bukannya Anda harus ke kantor?"


"Setelah ini Kau mau kemana?" Ammar malah balik bertanya.


"Ke kantor polisi..." Jawab Nara terus berjalan membelakangi Ammar.

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Aku akan di periksa sekali lagi, sebagai saksi."


"Memang nya apa yang Kau lakukan?"


Mereka terus bertanya jawab, Ammar berjalan satu meter di belakang Nara sambil memeriksa sekitar. Benar-benar sepi dan hening.


"Entahlah.. Aku tidak melakukan apapun, Kalian yang membuatku jadi korban pelecehan itu. Maafkan anak mu Ibu, Aku harus memberi kesaksian palsu karena mereka!" rutuk Nara, yang tentu saja di dengar oleh Ammar.


Ammar menahan lengan Nara, seketika langkahnya pun terhenti dan ia langsung menoleh pada Ammar.


"Pelanggaran!" ketus Nara menepis, Ammar selalu saja melanggar perjanjian kontrak mereka.


"Pelecehan apa maksudmu?" tanya Ammar tak mengerti.


Nara membuang nafasnya berat, memutar bola mata dengan wajah jengah. "Kalian menjerat Pak Damar dengan tuduhan pelecehan padaku, Kalian membuatnya menanggung perbuatan Direktur mesum itu dan..."


Tunggu, apakah Ammar tidak tau? Apa jangan-jangan itu rencana rahasia yang di buat Irene, lalu dia malah memberitahu Ammar. Tapi Irene kan tidak bilang kalau harus merahasiakan ini dari Ammar. Jadi ia berpikiran Ammar juga bekerja sama dalam kasus ini.


Tadinya ia kesana berniat menceritakan semua masalah. Mencurahkan isi hati yang sudah lelah dan tak sanggup menghadapi kehidupan penuh masalah ini. Tapi semua nya gagal sekarang, bagaimana bisa ia curhat dengan Sang Ibu di saat si sumber masalah malah mengantarnya kesana.


...~~...


Sore menjelang, Ammar dari tadi menunggu Irene pulang dari perjalanan bisnis di luar kota. Ia akan bertanya apa yang di maksud Nara tadi, apakah Irene benar-benar nekat memalsukan tuduhan demi membalas dendam pada Damar.


Irene sampai di kantor, ia langsung membuka pesan dari Ammar. Ia bilang ingin bicara empat mata dengan Irene.


Dari lantai satu, Irene langsung masuk lift menuju ruangan Ammar. Senyum nya merekah dengan garis pipi tajam membingkai, pertanda perjalanan bisnis nya barusan sangat lancar.


Tanpa mengetuk Irene langsung memasuki ruangan Ammar. "Ada apa Ammar? Kau merindukanku hahahahah.."


Ammar membalas wajah riang Irene dengan tatapan dingin. "Kau membuat tuduhan palsu untuk Damar?" ucapnya tanpa basa-basi.

__ADS_1


Senyum merekah Irene berubah menjadi sinis, memang benar keputusannya merahasiakan itu dari Ammar. Jika dia menuruti Ammar maka sampai kapanpun mereka tidak akan bisa menghukum Damar.


"Kau sudah tau? Bagaimana rencana ku, hebat kan?"


"Apa penggelapan dana saja tidak cukup? Kenapa harus menuduhnya atas pelecehan?" tampak wajah Ammar sangat marah, namun ia berusaha menahannya. Ia masih ingin membicarakan ini baik-baik dengan Irene.


"Damar tidak sebodoh itu, bertahun-tahun dia bisa menghindari tuduhan penggelapan dana. Dia memanipulasi semua bukti.."


"Benar.." potong Ammar, ia hening sejenak.


"Dia tidak sebodoh yang Kau pikirkan Irene. Bagaimana bisa Kau memanipulasi kejadian itu? Dia pasti tak akan diam saja, dan jika dia berhasil membuktikan dia tidak bersalah Nara bisa penjara. Karena dia memberi kesaksian palsu."


"Lalu kenapa? Lagipula pada akhirnya gadis itu akan mendekam di penjara menggantikan Ku."


"Lalu bagaimana dengan mu? Kau pikir Damar akan percaya jika Nara yang manipulasi itu? Tidakkah Kau memikirkan itu?" Kedua bola mata Ammar benar-benar terlihat murka.


"Tentu saja Aku memikirkannya Ammar, bahkan siang dan malam Aku memikirkan cara bagaimana agar Damar cepat menerima hukuman. Aku memikirkan semua nya, demi Kita, demi kematian orang tua Kita."


"Benarkah Kau melakukannya untuk Kita? Lalu kenapa selama ini Kau selalu bergerak semaumu, Kau seharusnya berpikir resiko apa saja yang bisa terjadi jika melakukan ini semua!"


Ammar menaikkan suaranya, benar-benar muak dengan Irene yang selalu bergerak sesuka hatinya. Dimana kata Kita itu? Dia hanya melakukan apa yang menurutnya benar tanpa berdiskusi dengan Ammar.


"Aku memikirkannya Ammar! Semua resiko yang akan datang, Aku memilih Nara untuk itu."


"Damar pasti akan mengusut ini semua, dan jika dia berhasil. Bukan Nara yang akan di penjara, melainkan Kita."


"Kau tidak percaya padaku? Aku selalu bisa menyelesaikan semua masalah Kita." tekan Irene, ia balik menatap tajam wajah Ammar.


"Menyelesaikan? Kau hanya pandai membunuh Irene..! Dan Aku yang menyelesaikan sisa nya."


"Impian Kita untuk melanjutkan hidup berdua, memajukan perusahaan dan berdiri di atas kaki Kita sendiri, semua bisa hancur karena kelakuanmu!" tambah Ammar, ia seperti sedang mengeluarkan unek-unek nya terhadap Irene. Padahal sebelumnya ia tak pernah membahas hal itu.


Irene tak menjawab lagi, kali ini ia merasakan sakit yang amat dalam atas perkataan Ammar barusan. Apa yang selama ini dilakukan adalah untuk membalas kematian orang tua mereka, untuk merebut kembali hak mereka. Dulu Ammar hanya diam, menuruti saja semua perkataannya. Namun sekarang Ammar berubah, ia mencela semua yang telah di perjuangkan oleh Irene.

__ADS_1


...************...


__ADS_2