Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 68 : Pisau dalam genggaman


__ADS_3

Ammar mematung di tempat, ujung pistol yang di tekan ke tengkuknya membuat Ammar harus berpikir ulang untuk bergerak.


Dengan pengalaman yang mumpuni, Ammar menunduk dan dengan cepat mengunci lutut orang itu dengan kakinya.


AAAAAA...! Pekik orang tersebut dengan suara melengking.


Menyadari ada yang salah, Ammar pun langsung membalikkan badannya ke belakang orang itu hingga tubuhnya yang terjatuh lebih dulu ke lantai dan orang itu jatuh tepat di atas tubuh Ammar.


"Ammar?" ucap orang yang menodongkan pistol tersebut yang tak lain adalah Nara. Walaupun gelap ia bisa merasakan orang yang ia todong barusan adalah suaminya. Ia jatuh terlentang menimpa tubuh Ammar.


Lantas Ammar menjentikkan jarinya, lampu pun hidup menerangi roof top itu. "Kau..?" Ammar segera membantu Nara duduk.


"Apa yang Kau lakukan di sini? Dari mana Kau mendapat kan pistol itu?" tanya Ammar seraya memegangi kedua bahu Nara yang menimpa dadanya.


Nara berusaha duduk, ia merapikan rambutnya yang berantakan. "Aku... melihat mu berlari ke sini, ku pikir kau seorang penyusup."


"Kau memang tak bisa berwaspada. Bagaimana kalau ternyata itu penyusup sungguhan?" Ammar tak habis pikir dengan kecerobohan Nara. Tindakannya barusan bisa saja membahayakan dirinya dan bayi mereka.


"Kau sendiri, apa yang Kau lakukan di sini dengan pistol itu?"


"Ada seseorang yang menyusup." Ammar membenarkan posisi duduknya. Pinggangnya terasa nyeri karena terbentur lantai, di tambah Nara menindihnya tadi.


Nara melebarkan matanya, "Benar-benar ada yang menyusup?"


"hmm.." sahut Ammar berusaha mengatur nafas.


"Kau baik-baik saja? Perutmu tidak apa-apa kan?" imbuhnya sambil meringis nyeri, untung saja ia cepat membalikkan keadaan tadi. Jika tidak maka sudah pasti Nara dan bayinya kenapa-kenapa.

__ADS_1


"mm.. berkatmu Aku baik-baik saja."


"Kau yakin? Perutmu tidak sakit atau semacamnya?"


Nara menghela nafas panjang, "Yakin.. Dia sangat kuat seperti Papanya jadi jangan khawatir." ia meluruskan lututnya, ternyata fisiknya sudah tidak sekuat dulu. Ia merasa lututnya bergetar karena menaiki dua tangga untuk sampai ke atas sana.


"Apa katamu?" Ammar malah salah fokus dengan jawaban Nara barusan.


"Anak ini sangat kuat..." Nara mengulangi ucapannya sambil melipat dahi. Ia heran dengan ekpresi wajah Ammar yang tiba-tiba berbinar.


"Seperti...?" tanya Ammar lagi.


"Kau." jawab Nara lirih, masih ia memasang raut wajah bingung.


"Kau bilang seperti Papa nya tadi, Kau sadar mengatakan itu kan?" Itu berarti dirinya sudah mempunyai tempat yang pantas. Bukan sebagai penipu, atau pembunuh lagi, melainkan sebagai Papa dari anak nya.


Nara mengangguk pelan, "tentu saja... ku rasa dia memang kuat seperti mu."


"Tau kah Kau, betapa bahagianya Aku mendengar sebutan itu."


"hh... memangnya apa yang spesial. Tanpa ku sebutkan pun memang fakta ini anak mu." seloroh Nara.


Ammar mengulum senyum di ujung bibirnya, matanya berbinar. Namun senyum tipis itu tampak getir. "Aku sangat senang mendengarnya, tapi Aku akan lebih senang lagi jika Kau menyebutnya anak kita."


Lagi-lagi Nara menghembuskan nafas berat nan panjang. "Terkadang Aku bingung, manusia seperti apa Kau sebenarnya. Terkadang Kau lembut, perhatian, tapi terkadang Kau sangat menakutkan. Ku pikir Kau tidak punya perasaan, namun melihat sisi lain sifat mu terutama pada anak ini membuatku kembali bingung. Orang seperti apa yang sebenarnya ku nikahi."


Mereka sama-sama diam sejenak, Nara merasa sifat Ammar sungguh membingungkan. Sementara Ammar, ia sendiri pun tak tau. Orang seperti apa sebenarnya dirinya itu.

__ADS_1


"Kuas. Seringkali seseorang memuji hasil yang di gambarkan oleh kuas, mereka pun bertanya kuas jenis apa itu? Mereka ingin memilikinya dengan harapan bisa menggambarkan sesuatu yang indah dengan kuas itu. Namun mereka lupa, dua jenis kuas yang sama pasti akan menghasilkan gambar yang berbeda. Tergantung siapa yang menggambarnya, bukan tergantung kuasnya."


Nara menatap lekat wajah Ammar yang tengah melepaskan pandangan ke langit. Ia mengerti maksud perkataan Ammar.


"Kau akan bersikap tergantung siapa yang ada bersamamu? Lalu apa yang di lakukan Irene sehingga Kau berubah dan menghancurkan semuanya? Dia melakukan semua demi masa depan kalian berdua, tapi Kau mengkhianati nya."


Sebagai sesama wanita, Nara bisa merasakan rasa sakit yang mungkin membuat Irene berubah semakin gila. Kini pula ia menjadi istri dari Pria yang dengan mudahnya berpaling. Bukankah wajar jika ia risau akan sifat Ammar? Ia dengan mudahnya membuang orang yang telah melakukan segala cara untuk tetap bersamanya.


"Aku tidak mengkhianati nya, Aku hanya melepaskan diri. Irene itu ibarat sebuah pisau yang terjatuh dan Aku selalu berusaha menangkapnya. Dari awal Aku sudah tau bahwa Aku hanya akan terluka, namun Aku masih ingin menangkapnya sekali lagi walau Aku tau resikonya. Kemudian Aku tersadar, mempertahankan dirinya hanya akan membuat ku semakin terluka. Maka dari itu Aku merelakan kematiannya sebagai bentuk rasa cintaku, karena Aku tau pisau itu takkan pernah jatuh lagi. Dan Aku bisa mulai mengobati tanganku, dengan kehadiran mu."


Nara bisa merasakan berapa banyak luka yang di dapat Ammar. Namun ia tak berhak berbelas kasih mengingat luka itu timbul atas kemauannya sendiri. Penuturan Ammar barusan malah membuatnya berpikir Ammar hanyalah Pria bodoh yang rela mempertaruhkan segalanya demi cinta.


"Ternyata Kau tidak sepintar yang terlihat." umpatnya seraya membuang pandangan.


"Benar, Aku hanya seorang pria bodoh. Tidakkah Kau mau memanfaatkan kebodohan Pria ini?" Ammar memberanikan diri mengekspresikan perasaannya. Ia mendekatkan wajah pada Nara, sekali lagi saja. Ia ingin mengulang kembali bagian dari momen malam itu. Sebelum surat cerai resmi di tandatangani.


Namun tiba-tiba ia berhenti saat menyadari selongsong pistol menempel pada perutnya.


"Jangan coba-coba Ammar..!" tukas Nara dengan dua bola mata nya yang tajam.


Ammar tersenyum kecil, ia tak menanggapi peringatan yang di lontarkan Nara barusan. Ia menyusupkan tangannya ke pinggang Nara perlahan, seraya menatap dengan sejuta keinginan.


"Aku benar-benar mengisi pistol ini dengan peluru Ammar. Menjauh lah jika Kau masih ingin hidup." ia semakin menekan ujung pistolnya, namun Ammar tak menanggapi ancamannya sama sekali.


"Sedang apa kalian?" tanya Pak Arul tiba-tiba. Ia terbangun saat mendengar gemuruh langkah kaki. Ia berpikir mungkin ada maling atau penjahat yang berusaha melarikan diri ke roof top. Namun ia malah tercengang saat melihat putri dan menantunya sedang hendak bercumbu ria.


Ammar langsung menjauhkan wajahnya, Nara pula langsung menyembunyikan pistolnya di balik jubah piyama. Pipi Nara seketika merona padahal mereka tidak sedang melakukan apa-apa. Dan kalaupun iya, itu seharusnya bukan masalah.

__ADS_1


"Ayah paham kalian masih pengantin baru, tapi tolong ingat kondisi dan waktu. Kau sedang hamil Nara, tidak baik kena angin malam. Dan Kau Ammar, kenapa Kau mengajak istrimu ke atas sini hah?"


...*************...


__ADS_2