Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 49 : Bukan Cinta


__ADS_3

Ammar terdiam, ia mengerti tindakan Nara adalah cara dia mengekspresikan betapa hancur kehidupannya. Dengan hela nafas berat, Ammar menahan diri dan berusaha bersikap lebih lembut untuk Nara.


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Ammar, ia mengimbangi tatapan jengah Nara seteduh mungkin.


Nara tak menjawab, ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah luar. Wajahnya tampak pucat, mata sayu serta sembab. Jujur saja ia sangat lapar, karena dari semalam tak ada sepotong nasi pun masuk ke mulutnya. Tapi entah kenapa rasa sesak dan menghimpit di dada seolah mengesampingkan rasa lapar. Ia hanya merasakan hampa dan sakit yang amat sangat. Tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


Setelah berpikir panjang semalaman, Ammar akhirnya memberanikan diri. "Aku akan mengatur jadwal aborsi jika Kau tidak menginginkan anak itu." ia tertunduk, walau di ujung hatinya tersimpan keinginan yang amat besar untuk memiliki seorang anak. Ia tetap tidak boleh egois. Apalagi sampai mengorbankan hidup dan masa depan seseorang yang jelas-jelas tidak menginginkan itu.


"Kenapa..? Bukankah Kau sengaja melakukan ini untuk menghancurkan hidup ku?" tukasnya menatap lekat wajah Ammar. Ia tak mengerti kenapa Ammar menawarkan hal gila itu.


"Karena Aku tidak ingin Kau lebih menderita."


"Kenapa baru sekarang? Kau seharusnya berpikiran begitu sebelum membunuh Nenek ku!" Air mata Nara mengalir kembali, entah kenapa ia selalu menangis. Padahal ingin sekali ia memaki Ammar dengan lantang. Namun tangisnya terus saja datang.


Ammar kembali mengangkat pandangannya, menatap wanita di hadapannya itu penuh perasaan.


"Bertemu denganmu seperti sebuah keberuntungan besar untukku. Tapi sekarang Aku sadar hanya Aku yang beruntung. Seandainya Kau tidak bertemu denganku, pasti hidupmu sangat indah sekarang. Bekerja, pulang ke rumah dan makan malam sambil bertengkar dengan Nenek mu..." ia tersenyum saat membayangkan betapa jahat perbuatannya pada Nara yang tidak bersalah.


"Kau keberuntungan untukku, tapi sayangnya Aku malapetaka bagi mu. Maafkan Aku, dan Aku berjanji akan membiarkan mu hidup bebas saat Irene berhasil ku tangani. Mari kita lakukan aborsi agar Kau bisa menjalani hidup mu dengan baik."


Ia tak tega, Nara bahkan tidak mau makan apapun karena sangat frustasi. Itu akan menganggu kesehatannya, ia tak mau merusak mental dan kesehatan Nara lebih dalam lagi. Biarlah ia di cap sebagai Ayah yang tak bertanggung jawab, asal Nara bisa bahagia kembali.


Mendengar penuturan itu Nara tak bergeming, ia berpikir sejenak apakah aborsi langkah yang tepat? Ia bahkan tak pernah tega melihat seekor semut yang mati mengenaskan, apakah ia sanggup membunuh darah dagingnya sendiri. Tapi jika ia mempertahankan janin itu, maka sama ia tetap berkubang di antara Ammar dan Irene.


Ammar mengenggam ujung tangan Nara, ia mencoba menyampaikan bahwa bukan bermaksud untuk membunuh anak tak berdosa.


"Kau pasti menganggap ku benar-benar tak punya perasaan. Jujur saja Aku menginginkan anak itu. Namun Aku tak bisa lagi memaksamu masuk kedalam penderitaan bersama ku."

__ADS_1


"Atur jadwalnya segera.., pilih rumah sakit terbaik agar keselamatan ku terjamin." Lagi-lagi Nara menitikkan air mata, ia menampik semua perasaan sedih. Karena dia memang berhak atas kehidupannya sendiri.


"Baiklah.." sahut Ammar menyetujui. Kedua matanya juga berkaca-kaca. Beribu maaf terselip di batinnya. Karena perbuatannya, kini ia harus menghancurkan kehidupan sang anak yang bahkan belum lahir ke dunia.


...~~~~...


Irene merebahkan diri di kamar Ammar. Ia habis melakukan jumpa pers. Karena pengakuannya di sosial media, para wartawan pun akhirnya meminta klarifikasi mengenai Nara yang melarikan diri. Dan tentu saja Irene memberi pengakuan palsu agar publik kembali memojokkan Nara dengan tuduhan pembunuhan.


Ia bangkit dan melihat-lihat sekeliling kamar itu. Rasanya sangat rindu tidur di sana berdua dengan Ammar. Ia pun membuka lemari Ammar dan melihat album pernikahan mereka.


Saat album di ambil, selembar amplop putih terjatuh ke lantai. Irene membaca tulisan di amplop tersebut.


"Rumah sakit Medistra? Apa Ammar sakit?" gumamnya sembari membuka amplop putih berukuran 30 centi itu.


"Apa ini..?" Irene terkejut saat mendapati foto hasil USG 4D. Lebih terkejut lagi saat ia membaca nama pasien yaitu Nara Clarissa.


Irene menggeratkan rahang nya. Ia meremas amplop itu sampai ***** di genggamannya. "Kau membodohi ku Ammar?!!"


Jadwal aborsi telah di tetapkan, tepatnya minggu depan. Dokter sengaja mengambil waktu selama itu dengan harapan Ammar berubah pikiran. Tapi jika ternyata keputusan Ammar tetap bulat, maka Dokter tak punya alasan lain untuk tidak melakukan itu.


Dari rumah sakit, Ammar mendatangi kantor Detektif. Ia akan menyusun rencana untuk menghentikan Irene. Ia berniat membongkar semuanya, tak masalah jika ia harus berakhir di jeruji besi nantinya. Ia hanya ingin menepati janji yang sudah ia ucapkan untuk Nara.


Saat memasuki ruangan Sam, bukannya di sambut layaknya klien. Sam malah memukul wajah Ammar dengan tinjunya. "Dimana Nara?!" hardiknya.


Ammar terkekeh jengah. "Kau sangat mengkhawatirkannya?" ujarnya sambil menyeka ujung bibir yang berdarah.


"Aku sudah tau semuanya, Kau dan Irene menipu Nara. Kalian pembunuh biad4b!"

__ADS_1


Sandra berusaha menahan amarah sang kakak. Ia mengerti sebarapa khawatir Sam terhadap Nara.


"Nara ada di tempat yang aman, Aku kesini mau menyerahkan diri." Ammar menyerahkan beberapa flashdisk didalam kantong plastik. Itu adalah rekaman CCTV dari berbagai lokasi yang mereka jadikan sebagai tempat pembunuhan.


Sam terdiam, semudah itu Ammar menyerah? Setelah bertahun-tahun mereka bersembunyi dari Hukum. Sekarang menyerahkan diri dengan tiba-tiba?


"Apalagi yang Kau rencanakan kali ini?" geram Sam mengeras rahang. Ia tak mempercayai perkataan Ammar mengenai keadaan Nara.


"Melepaskan Nara... " ucap Ammar yakin, matanya menggambarkan ketulusan, keputusasaan, dan ketakutan. Ia tulus ingin mengakhiri penderitaan Nara, di sisi lain ia juga merasa putus asa karena akan menghancurkan kerja keras Irene.


Di tengah suasana genting antara Sam dan Ammar. Tiba-tiba Galih berlari menghampiri mereka. "Nara menyalakan ponsel. Aku mendapatkan titik lokasinya!"


Sam melihat ke layar ponsel Galih, benar saja. Titik lokasi Nara berada di dalam hutan lindung yang kemarin hendak mereka selidiki.


Menyadari hal itu, Ammar langsung panik. "Kalian cepat kerumah Ku dan tangkap Irene lebih dulu! Nara dalam bahaya sekarang."


Tanpa mendengarkan jawaban Sam, Ammar langsung bergegas kembali ke mobilnya. Irene pasti akan menyusuri titik lokasi dari ponselnya Nara.


Sementara Sam dan Galih, mereka menuruti perkataan Ammar walau masih belum percaya sepenuhnya.


...~~...


Epilog....


Setelah mengetahui kehamilan Nara. Irene mengamuk sangat brutal di rumahnya. Ia tak percaya Ammar benar-benar mengkhianatinya. Disaat ia bekerja keras membuka topeng Damar, ia malah harus menerima kenyataan pahit bahwa Suaminya menghamili Nara yang berstatus istri kontrak. Yang lebih menyakitkan lagi, ia sendirilah yang membawa wanita itu kedalam hidup Ammar.


Ia membanting semua yang ada di kamar itu. Bantal dan guling di cabik cabik hingga menghamburkan bulu angsa yang selama ini menyaksikan hangatnya cinta mereka.

__ADS_1


"Kau menghianati ku Ammar... Kau penghianat..!" Teriaknya sambil menangis sesenggukan.


...***************...


__ADS_2