
Setelah Ammar naik ke kamarnya, Nara membuka ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang di kirim oleh Sam.
[Kau akan baik-baik saja tinggal dengannya?]
[Nara kau harus selalu waspada. Kau sadar yang tinggal bersama mu Pria berbahaya bukan? Jika sesuatu terjadi segera beritahu aku.]
[Atau jika Kau membutuhkan, Aku akan menyuruh orang mengawasi mu. Hanya karena Kita tak mendapatkan bukti Ammar tak pernah melakukan pembunuhan, bukan berarti Kita boleh lengah. Apalagi ada Ayah mu sekarang, Aku takut dia akan menggunakan Ayahmu untuk membuatmu patuh padanya.]
Nara tertegun saat membaca pesan terakhir Sam. Kenapa tak terpikirkan olehnya? Ia malah mengira Ammar mengizinkan Ayahnya tinggal di sana untuk urusan rumah tangga mereka yang sedang di ujung tanduk. Ia tak memikirkan mungkin saja ada alasan lain kenapa Ammar meminta Ayahnya tinggal di sana.
[Ku rasa Aku membutuhkan pistol untuk berjaga-jaga.]
Balas Nara, ia tak ingin jatuh ke dalam perangkap Ammar untuk yang kedua kalinya.
[Aku akan mengirimnya besok.] Balas Sam secepat kilat. Sedari tadi ia memang memandangi layar ponselnya dengan perasaan cemas.
[Tidak usah, Aku yang akan datang ke sana.😘] Nara tak menyadari bahwa ia mengirimkan emoji kiss. Ia berniat mengirim emoji tersenyum tadi.
Dan karena Sam memantau lekat layar ponselnya, pesan itu pun langsung terbaca. Langsung tertera dua centang biru di layar ponsel Nara. Ia pun terkejut saat menyadari hal itu.
"No!" pekiknya sambil menutup mulut. Kesalahan itu membuatnya seperti istri yang sedang berselingkuh. Percuma menghapus pesan yang sudah terbaca itu.
Sementara di seberang sana, Sam tengah mematung sambil menatap layar ponselnya. "Dia salah kirim kan?" gumamnya. Tak lama kemudian satu bait pesan masuk.
[Maaf aku salah menekan tombol.🙏]
"Kan.. apa ku bilang." lirih Sam mengulum senyum di ujung bibirnya. Kepala nya mengangguk santai, namun kedua kakinya tak bisa diam di bawah selimut. Perasaannya begitu mendorong untuk tertawa, namun entah apa yang pantas di tertawa kan.
...~~~~...
Hari ini akhir pekan yang sangat langka untuk Ammar. Sewaktu bersama Irene, ia akan menghabiskan waktu menyusun rencana, menyelidiki, bahkan membereskan sesuatu yang menegangkan. Kini ia duduk di tepi kolam renang sambil termenung.
"Pagi yang sejuk..." sapa Pak Arul sembari membawa dua cangkir teh herbal. Ia meletakkan cangkir itu di meja.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu begitu?" Pak Arul penasaran dengan wajah menantunya yang terlihat banyak beban.
"Aku hanya memikirkan pekerjaan." sahut Ammar.
"Kau pasti sangat sibuk karena Kau memimpin perusahaan besar."
"Haruskah Kita jalan-jalan?" usul Ammar, ia berencana menyuruh Ayah mertua untuk membujuk Nara. Karena kalau ia yang mengajak, Nara pasti tidak mau.
"Kalian mau jalan-jalan?" celetuk Nara menghampiri, ia hendak berpamitan pada Ammar untuk keluar menemui Sam.
"Kau mau kemana?" Ammar langsung duduk tegak melihat istrinya berpakaian rapi.
"Aku mau keluar..."
"Ayo ku antar, Ayah.. Kita lain kali saja ya jalan-jalannya." Ammar lantas meninggalkan Pak Arul di sana. Padahal Pak Arul sudah memikirkan tempat yang mungkin bagus di kunjungi.
"aiss.. Pengantin baru itu tak mau lepas satu sama lain." tawa Pak Arul tersemat, ia bahagia melihat Ammar yang tampak sangat perduli pada Nara.
...~...
"Kau mau menemui Sam?" Ammar menebak, sebab saat di tanya Nara hanya menjawab 'jalan saja'
"Bukan.. Kenapa Kau berpikiran kesana?" seloroh Nara berkilah.
"Jadi Kau mau kemana? Memangnya Kau punya tujuan penting selain Sam, Sam dan Sam.." ketus Ammar, tak dapat di pungkiri ia merasa cemburu karena Nara tampak dekat dengan Pria itu. Nara selalu bisa tersenyum pada Sam, sementara padanya, sifat Nara cuek, kaku dan penuh dendam.
"Aku mau membeli baju." ketus Nara, tiba-tiba saja ide itu muncul di kepalanya.
"Baju..?" Ammar mengulangi dengan tatapan tak percaya. Ia tau Nara bukanlah wanita yang gemar berbelanja.
"Berat badanku sedikit bertambah, juga perut ku sudah sedikit membesar sekarang. Semua baju ku mulai terasa sesak dan kurang nyaman di pakai." keluh nya bak anak kecil yang menuntut untuk di belikan baju baru.
Ammar diam sejenak, ia memperhatikan perut Nara yang memang sudah sedikit membesar. Pipinya pun terlihat lebih berisi karena berat badannya bertambah.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang dari awal? Kau membuat ku berpikiran negatif." sahutnya.
"Besok jadwal kontrol mu kan?" tanya Ammar memastikan.
"hmm.." Nara mengangguk pelan, sejak dari rumah tadi ia merasa agak mual karena Ammar membawa mobilnya sangat pelan.
"Bisa lebih cepat tidak? Aku pusing kalau berjalan pelan seperti ini."
"Kalau lebih pelan Aku bisa." balas Ammar tak mengindahkan titah sang istri.
...~...
Setelah Satu jam perjalanan, sampai lah mereka di salah satu Mall. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu 30 menit saja, malah jadi 60 menit karena Ammar. Padahal jalanan sedang tidak macet.
Seperti anak kecil yang lepas dari tuntunan orang tua, Nara langsung menuju ke bagian pakaian dan melihat-lihat beberapa daster.
"Selamat pagi Ibu. Mau cari baju apa?" sambut sang pramuniaga berbusana rapi itu.
"Aku mencari baju tidur." sahut Nara tersenyum ramah. Sementara Ammar berdiri tepat di belakangnya.
"Kami punya koleksi terbaru yang cocok untuk Ibu." si pramuniaga mengambilkan satu set lingerie berwarna merah muda. Seksi dan menggoda.
"Nah.. ini cocok untuk dinas malam.." ia memampang satu set baju seksi itu ke depan wajah Nara dan Ammar.
Ammar langsung menelan ludah dengan wajah gugup. Ia bahkan mengusap tengkuknya yang terasa merinding akibat membayangkan Nara memakai baju itu.
"hahah.. Bukan ini.. Aku mencari baju tidur yang longgar dan nyaman. Untuk ibu hamil.. Aku sedang hamil." Nara mendorong tangan pramuniaga itu agar menyingkirkan baju dinas tersebut.
"ohh.. begitu, mau yang daster atau yang bisa di pakai bepergian? Formal atau santai? Kami punya semua Ibu tenang saja..." sahut pramuniaga itu mengambilkan beberapa contoh yang di inginkan Nara.
Sementara Nara memilih, Ammar melihat-lihat ke bagian baju bayi. Ia merasa tak sabar bertemu dengan anaknya saat melihat setelan dan sepatu yang mungil nan lucu.
Saat asik melihat-lihat, dari pantulan kaca Ammar mendapati seseorang menggunakan topi hitam mengintai ke arah Nara. Orang itu memakai masker dan topi hitam yang bahkan tak menunjukkan warna kulit wajahnya.
__ADS_1
Ammar langsung berjalan cepat untuk menangkap penguntit itu. Namun sayang orang itu menyadari Ammar menuju ke arahnya. Ia pun langsung berjalan amat cepat meninggalkan toko tersebut. Ammar tak memberinya jeda, ia terus mempercepat langkahnya dan mengikuti orang itu. Saat sampai di kerumunan orang tersebut menghilang, ia pun tersadar mungkin saja ini pancingan agar ia menjauh dari Nara. Ia langsung berbalik dan kembali ke toko sambil berlari.
...**************...