
Ammar ikut terkejut karena Nara membanting pintu amat kencang. Entah apa yang ada di pikiran Nara saat itu.
"Hei.., Aku ingin bicara padamu."
"Bicara saja dari sana, Aku bisa mendengarmu." seru Nara, ia menahan gagang pintu erat-erat takut di buka paksa oleh Ammar.
"Ini mengenai pelanggaran kontrak, Aku memikirkannya..." Belum selesai Ammar bicara, Nara kembali membuka pintu, namun tak di biarkan terbuka lebar.
"Kau setuju menyerahkan saham mu?" tanya Nara.
"Aku memberikan penawaran untukmu."
"ch.. sudah ku duga, Kau pasti membelot!" tukas Nara menatap sinis.
"Jika Aku menyerahkan semua saham ku, maka Aku tidak memiliki apapun lagi."
"Siapa yang peduli," sewot Nara. Masa bodoh mau Ammar bangkrut, jadi pengangguran atau jadi gembel sekalipun.
Ammar tersenyum tipis, senyum yang benar-benar ada di sudut bibir. Wajah dinginnya membuat senyum itu seakan menyimpan banyak arti.
"Kontrak pernikahan Kita masih tersisa 7 bulan. Aku tidak bisa menjamin untuk menahan diri selama itu, dan jika Aku melanggar lagi Kau tidak bisa meminta kompensasi apapun karena seluruh harta ku sudah Kau ambil."
"Apa..? Jadi Kau berniat melakukan itu lagi padaku?" Nara membelalak, ia bahkan sudah sedia dengan alat kejut listrik baru yang lebih besar di tangan kirinya.
"Kalau.., Aku mengatakan ini untuk berjaga-jaga, siapa tau Aku mabuk lagi seperti malam itu."
"Kau mau membodohi Ku kan? Aku tidak perduli, Kau harus menepati peraturan mu! Setelah Kau menyerahkan saham mu, Aku akan langsung menceraikan mu!"
"Kau lupa? Tidak ada yang boleh keluar dari pernikahan ini sebelum satu tahun."
"Benarkah..?" Wajah galak Nara langsung berubah penuh tanya, memang di kontrak di jelaskan seperti itu. Jadi sekarang dia tak bisa mendapatkan keuntungan apapun atas hilangnya harga dirinya?
__ADS_1
"Aku menawarkan segini.." Ammar memajang selembar kertas bertuliskan angka Lima milliar.
Nara terdiam, tak bisa di pungkiri ia sungguh ingin mengantongi uang sebanyak itu. Itu harga yang cukup tinggi. Tapi menukar kesuciannya dengan uang segitu apakah sepadan?
"Kau pikir Aku wanita murahan?" ketus Nara mengalihkan wajahnya.
"Ku rasa segini sudah cukup mahal. Di luar sana bahkan banyak gadis yang menukarkan tubuh mereka dengan rayuan dan janji palsu."
Nara menaikturunkan tatapan sinis nya pada Ammar. "Jadi maskudmu Aku sama tak berharga seperti mereka?!"
"Tentu saja Kau berbeda, Kau ada di dalam ikatan pernikahan sekarang. Jadi Kau masih wanita berharga. Wanita paling mahal.." bisik Ammar, ia bahkan mengguncangkan kertas bertuliskan nominal itu di depan wajah Nara.
"Jika Kau melakukan itu lagi, Aku takkan segan-segan membunuh mu!" tegas Nara merebut kertas itu dari Ammar.
Ammar sampai meneguk ludah, tak di sangka Nara punya tatapan yang tak kalah menyeramkan dari Irene. "itu.. belum Ku tanda tangani."
Nara mengembalikan kertas itu, lalu Ammar menandatangi nya agar bisa di cairkan. Kini masalah mereka selesai. Baik Ammar maupun Nara berharap kesalahan itu tak terulang lagi.
"Sebaiknya jika sedang mabuk Kau menjauh dari hadapan Ku!" ujar Nara memperingati.
"ch.. Pembohong! Lalu kenapa Kau melakukan itu?" seloroh Nara merutuk.
"Karena Kau terlihat cantik malam itu...." ucap Ammar, tatapan nya amat lekat menumpu pada wajah Nara.
Nara terpaku pada tatapan Ammar yang sangat dalam. Temaram cahaya dari balik kamar Nara menambah kesan legam seolah semakin membawa Nara tenggelam di sana.
"Kalian sedang apa?" kedatangan Irene melerai keheningan. Ia meremas tali tas nya, kenapa Ammar memberikan tatapan seperti itu pada Nara.
"Kau sudah pulang?" Ammar balik bertanya, ia menjauh dari Nara perlahan.
Mata Irene berpindah kepada Nara yang masih tertunduk. Ingin sekali ia mengatakan untuk berhenti menggoda suaminya. Namun ini semua adalah ulah nya, dia sendiri yang melibatkan Nara dalam pernikahan ini.
__ADS_1
...~~~~...
Di sebuah gedung yang tampak gelap, Damar dan Putra sulung nya tengah membahas hasil persidangan. Mereka tak boleh terlalu senang hanya karena berhasil memenangkan sidang. Irene bukanlah lawan yang mudah untuk di tumbangkan.
"Papa harus melakukan sesuatu sebelum mereka memecat Kita." ucap Noah yang tak lain adalah putra sulung Damar.
"Kalau masalah itu Kau tidak usah khawatir. Bagaimanapun Kita pemegang saham prioritas di sana. Mereka tidak akan bisa memecat Kita tanpa alasan." Sahut Damar santai, ia sedang berpikir kira-kira hal apalagi yang di incar Irene kali ini.
"Berapa lama lagi Kita harus melakukan perang di balik layar seperti ini Pa?"
"Tidak perduli Kita menyerang di balik layar atau bukan, yang penting hasilnya sama. Kita hanya perlu mengungkap kan wujud asli iblis itu." Damar tersenyum sinis.
Damar sangat tau bahwa Irene lah wanita Psikopat yang melakukan pembunuhan berantai itu. Ia mulai menyelidiki saat pembawa berita yang tak lain selingkuhannya itu tewas terbunuh. Namun Irene benar-benar tak meninggalkan jejak di setiap perbuatannya.
Di sisi lain ini juga bisa menjadi bumerang untuk Damar sendiri. Jika kasus pembunuhan itu terungkap, Irene pasti akan menjelaskan motifnya. Yakni dendam, karena Damar lah orang tua nya tewas. Bertahun-tahun ia menyusun rencana untuk mengungkapkan siapa Irene sebenarnya, namun ia tak pernah berhasil.
...~~~...
Setelah selesai membersihkan diri, Irene memasuki kamar Ammar lewat pintu rahasia yang ada di ruang pakaian Ammar. Ia mengenakan gaun seksi berwarna merah terang dan transparan. Ia menuju Ammar yang tengah berganti pakaian, lalu memeluknya dari belakang dengan amat mesra.
"Aku merindukan mu..." bisik Irene, ia meniup tengkuk Ammar perlahan.
Ammar yang masih bertelanjang dada berbalik, ia membalas pelukan Irene tak kalah hangat. "Aku juga merindukan mu sayang..."
Tiba-tiba Irene menjadi kesal karena teringat bukan hanya dia yang sudah merasakan tubuh Ammar. Ia melepas pelukannya sambil mengerucutkan bibir.
"Kenapa sayang...?" lirih Ammar, ia menanggalkan lapisan jubah transparan yang menutupi tubuh Irene.
Irene menepis tangan Ammar. "Kau pasti terus membayangkan gadis itu nanti." kesalnya, ia berbalik hendak pergi. Namun Ammar menahannya dengan pelukan.
"Jika malam itu Aku sadar bukan Kau, pasti Aku tidak akan melakukannya. Sepanjang waktu, apapun yang Ku lakukan hanya Kau yang ada di pikiran ku.." Ia balas mengecup tengkuk Irene.
__ADS_1
Irene tersenyum, ia tau posisi nya takkan mungkin tergeser begitu saja. Apalagi disandingkan dengan seorang gadis bodoh itu. Perbedaan di antara mereka cukup jauh, jadi seharusnya Irene tak perlu khawatir. Yang paling penting 20 tahun sudah ia dan Ammar saling mencintai, apa yang bisa mengalahkan kuatnya cinta mereka.
...**************...