Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 79 : Kecurigaan Ayah


__ADS_3

#masih kelanjutan episode kemarin ya guyss..😘


Kancing kemeja Nara telah lepas sebagian, membuat bra berwarna merah muda terlihat jelas.


Degup jantungnya benar-benar hampir meledak, ia tak tau harus bagaimana agar Ammar berhenti, sebelum tindakannya lebih jauh lagi. Namun sedari tadi ia tak di beri kesempatan oleh Ammar untuk membuka mulut. Kini bahkan satu tangan Ammar sudah menyusup meremas lembut miliknya.


drrrttt.... drrrttt....


drrrttt... drrrttt....


Ponsel Nara terus berdering, membuat Ammar terpaksa menghentikan aktivitasnya. Saat melihat yang menelpon adalah Sam, wajahnya langsung bertambah agresif.


Sementara Nara jadi mematung, ia ingat barusan Sam menyatakan perasaan. Apa secepat ini Sam menginginkan jawaban? Di sisi lain ia masih syok atas apa yang di lakukan Ammar. Apa ini bisa di bilang pelecehan? tapi tadi ia tak melarang Ammar, bahkan malah memberinya ruang untuk melanjutkan aksi panas itu.


Karena Nara tak kunjung bergerak, Ammar pun meraih ponsel yang terus berdering itu lalu mengangkatnya.


"Jawablah.." titah Ammar, ia menekan tombol loud speaker lalu meletakkan ponsel itu di atas meja.


Karena takut Ammar mendengar, Nara mematikan tombol loud speaker, namun Ammar kembali menghidupkannya.


[Hallo Nara, hallo...?]


"i...iya, ada.. apa Sam?" jawab Nara gugup, bukan lagi karena takut Sam membahas soal perasaan nya, melainkan karena Ammar melanjutkan aktivitasnya, ia menyesapi leher Nara tanpa memperdulikan sambungan telepon itu. Sementara Nara berusaha menghindar dan mendorong tubuh Ammar.


[Ayah mu datang ke sini, dia bilang ingin bertemu dengan orang yang membunuh Nenek mu.]


"Apa...?!"


Bukan hanya Nara, Ammar pun terkejut sampai gairahnya menyusut seketika. Ia dan Nara saling menatap dengan mata terbelalak.


"Hei, jangan katakan apapun pada nya, Aku akan segera kesana!" jawab Ammar gelagapan,


[hah..? Iya.. Oke.] sahut Sam dari seberang telepon. Ia terkejut karena tiba-tiba suara Ammar yang muncul.

__ADS_1


...~~~...


Sampailah Ammar dan Nara di kantor Detektif. Nara langsung mendekati Ayahnya dan bertanya "Ayah...? Bukannya Ayah bilang mau membersihkan rumah Nenek?"


"Ayah baru ingat seorang tetangga pernah bercerita, bahwa Nenek mu di bunuh, dan Kau di jebak atas tindakan itu. Tadi mereka juga membahas bahwa pelakunya sudah tertangkap, itu sebabnya Ayah ke sini. Ayah ingin tau siapa iblis yang membunuh Nenek mu dan menjebak mu! Dia Detektif yang menangani kasus itu kan?"


Pak Arul terlihat sangat marah, selama ini ia terlalu bahagia karena di pertemukan oleh Nara. Sampai ia melupakan fakta bahwa Ibu kandungnya meninggal secara tidak wajar.


Sam memotong pembicaraan itu, melihat dari wajah Ammar dan Nara yang tegang, ia sepertinya tau ini masih harus di rahasiakan.


"Begini Pak, Polisi menyelidiki kasus ini secara rahasia. Hanya beberapa bagian saja yang di sebarkan ke masyarakat, demi kenyamanan bersama. Jadi tidak sembarang orang bisa memeriksa kasus ini..."


"Aku anak dari korban yang terbunuh, dia bahkan menjebak putriku! Apa Aku tidak boleh menemui iblis itu?!" Pak Arul menggebrak meja hingga membuat Nara dan Sam terkejut.


Berbeda dengan Ammar yang duduk diam dengan wajah datarnya. Sementara Nara menarik pelan ujung baju Ammar, ia berisyarat harus bagaimana kali ini? Ia tak ingin Ayahnya mengetahui semuanya sekarang. Waktunya belum tepat.


"Ammar, bantu Ayah bicara dengan Detektif ini." ucap Pak Arul meminta. Ia berharap menantunya itu bisa membantu.


Lagi pula berita tidak mengungkapkan nama asli Irene, jadi ia bisa meyakinkan Ayah mertuanya.


"Benar, kami merasa bersalah karena tidak bisa menghukum Psikopat itu. Padahal dia sudah melayangkan banyak nyawa." imbuh Sam meyakinkan. Raut wajahnya penuh dengan dendam, karena ia tak bisa menghukum para iblis itu.


Mendengar perkataan Sam, Nara langsung melihat ke arah suaminya. Seorang Pria yang telah menghilangkan banyak nyawa, apa Ammar juga termasuk manusia Psikopat?


"Mana berkas aslinya! Aku perlu tau latar belakang Psikopat gila itu. Setidaknya dia punya keluarga yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!" Pak Arul tetap kukuh ingin mengetahui, di balik sikap nya yang penyayang, dia memiliki sifat pendendam.


"Ayah, yang bersalah itu pelakunya, bukan keluarganya. Untuk apa Ayah meminta pertanggungjawaban orang yang tak terlibat? Jika seandainya Ayah melakukan kesalahan, lalu seseorang menuntut ku atas perbuatan Ayah, apakah Ayah bisa menerima itu?" tutur Nara cemas, berharap Ayahnya mau mendengar perkataannya.


Pak Arul terdiam, wajahnya yang terbakar emosi perlahan kembali tenang. Yang di katakan Nara ada benarnya, lagi pula si pelaku sudah tewas.


"Kau yakin tidak menemukan kaki tangannya? Apa dia benar-benar berbuat keji sendirian?"


Sam tak berkutik mendapat pertanyaan itu, bola matanya berpindah ke arah Ammar dan Nara secara bergantian. "Tidak ada bukti demikian Pak."

__ADS_1


...~~~...


Pulang dari kantor Detektif, Ayah Nara hanya diam saja. Ia masuk ke kamarnya tanpa memberi ucapan hangat pada Nara. Ia sedang sangat hancur, perasaannya risau tak menentu. Terlebih saat mengingat Nara sempat di penjara, ia benar-benar merasa amat bersalah karena gagal melindungi Nara saat itu. Ia tak ada di saat-saat paling sulit untuk Nara.


Sementara itu di kamarnya, Ammar tengah termenung. Ia memainkan rubik dengan amat cepat, sambil memikirkan hal yang telah ia lakukan. Sesaat ia tersadar, bahwa dirinya hanyalah seorang Pembunuh yang tak pantas hidup dengan layak.


"Ammar..." Seru Nara memanggil dari kamar bawah. Ammar pun turun dan menemui istrinya.


"Kenapa..?" ia memandang Nara dengan wajah kusut. Banyak sekali beban yang ada di pikirannya sekarang.


"Kau baik-baik saja..?" tanya Nara menghindari kontak mata, ia masih ingat momen panas yang mereka lewati tadi siang.


Ammar menghela nafas panjang, ia duduk di ranjang Nara dan meletakkan rubik yang sudah selesai ia susun.


"Bagaimana jika Ayahmu tau kalau Aku terlibat dengan kematian Nenek mu?"


Nara duduk di sebelahnya, "Ayah pasti sangat terkejut, sama seperti Aku saat mengetahui itu pertama kali. Jantungku sesak, seperti hampir mati."


"Menurutmu bagaimana perasaannya kalau ia mengetahui semuanya? Putrinya di jebak dan menikah dengan seorang pembunuh, lalu ia memiliki cucu yang mana mengalir deras darah seorang pembunuh."


"Kenapa Kau risau? Kita akan berpisah setelah anak ini lahir, jadi sebaiknya Ayah tak mengetahui itu selamanya. Kita akan hidup masing-masing, jadi ku rasa Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu."


Benar, Ammar melupakan hal itu. Bahwa mereka akan segera terpisah. "Tapi, jika Ayahmu mengetahui itu, apakah dia akan menerima anak kita sebagai cucu nya?"


"Entahlah..., Aku juga ragu, apakah bisa menutupi hal ini dengan baik selamanya."


"Bagaimana kalau Kita jujur saja?" Ucap Ammar yakin.


Ia memegang rubik nya, lalu menyusun satu langkah terakhir hingga warna nya sempurna. Tentu ia sudah memikirkan hal ini matang-matang.


"Aku sudah mengira resiko nya, pasti dia akan menyuruh kita berpisah. Itu sesuai dengan rencana mu jadi Kau tak perlu memikirkan alasan untuk kita bercerai. Dan jika dia mau menghukum ku, Aku akan menerimanya apapun itu. Sekalipun dia menyuruhku mengakhiri hidup, Aku akan melakukannya."


...**********...

__ADS_1


__ADS_2