Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 64 : Membuat sup buah


__ADS_3

Ammar dan Nara tiba di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Menurut hitungan Dokter sebelumnya, usia kandungan Nara sudah memasuki 14 minggu. Namun karena sebelumnya mereka hanya melakukan pemeriksaan singkat. Maka kali ini mereka ke salah satu rumah sakit yang di kenal memiliki Dokter kandungan yang bagus.


"Selamat datang Bapak Ammar dan Ibu Nara." Sambut sang Dokter sambil membaca rekam medis milik Nara.


Ammar dan Nara membalas sapaan Dokter itu. "Selamat siang Dokter Bastian.." ucap Nara.


"Kau mengenalnya?" bisik Ammar. Ia merasa kurang nyaman karena Dokter yang di pilih Nara ternyata seorang Pria. Mana masih muda lagi.


"Tidak.." sahut Nara. Ia duduk di kursi dan langsung menyerahkan buku catatan kehamilan yang di dapatkan dari Dokter sebelumnya.


Dokter itu membaca dengan seksama, semuanya bagus. Ia pun langsung menyuruh perawatnya untuk membantu Nara naik ke ranjang untuk di USG.


"Perkembangannya bagus, hanya saja denyut jantungnya masih kurang stabil. Air ketuban dan letak plasentanya juga bagus. Ibu nya pasti sering cemas ya? di kurangi ya Ibu.."


Nara menatap Ammar yang tak berkedip sama sekali saat melihat ke layar monitor. Bagaimana bisa ia tidak cemas sepanjang hari, sedangkan sumber kecemasan nya adalah Bapak si bayi.


"Kenapa kepalanya lebih besar Dokter?" tanya Ammar mengamati.


"Sampai dia berusia 8 bulan, maka kepalanya akan lebih besar dari tubuhnya. Dan itu normal. Bapak jangan khawatir, dan sebaiknya bantu istri Anda untuk mengurangi rasa cemas nya yang berlebihan."


Sesi USG pun selesai, kini Nara dan Ammar kembali duduk ke depan meja Dokter.


"Selain keluhan psikis, apa ada keluhan fisik lainnya?" tanya Dokter itu sambil menulis sesuatu.


"e... Saya sering merasakan nyeri di bagian p4yudara dan kadang tegang otot di bagian pinggang." jawab Nara gugup karena Ammar sedari dari melihat ke arahnya.


"Sudah pernah melakukan yoga ringan? Atau pemijatan p4yudara? Itu lumayan ampuh menghilangkan nyeri. Melakukannya dengan suami juga bisa menimbulkan rasa rileks yang mempengaruhi perkembangan janin."


"hah..?" Nara dan Ammar sama-sama mencebik.


"aaa.. kalian masih pengantin baru ya. Wajar kalau belum banyak pengetahuan. Kalau begitu Bapak berdiri kesini."


Dokter berjalan menuju ke arah patung karet polos berbentuk tubuh ibu hamil. Di ikuti oleh Ammar dengan wajah bingung.


"Bapak berdiri di belakang, lalu pijat ke arah kanan dan kiri kemudian dengan gerakan memutar perlahan. Namun hindari area ini agar tidak menimbulkan iritasi." Dokter menunjuk bagian tengah p4yudara dengan stetoskop nya.


Kemudian dengan arahan Dokter, Ammar mulai mempraktikkan pijatan halus pada patung tersebut. Namun bukankah sia-sia saja mempelajari ini? Bahkan menyentuh ujung rambut Nara ia tak pernah, mereka hanya pernah berpelukan dua kali itu pun saat Ammar hampir mati, dan saat kemarin di Mall.

__ADS_1


"Nah benar seperti itu, Anda terlihat sangat mahir melakukannya." goda Sang Dokter, kemudian Ammar balik duduk ke kursinya.


"Ini edukasi Ammar, jangan berpikiran mesum!" rutuknya dalam hati.


Sementara Nara, kedua tangannya berkeringat melihat edukasi Dokter barusan. "Tidak bisakah dengan meminum anti nyeri Dokter?"


"Karena ini nyeri bawaan hamil, Kami tidak menyarankan antibiotik karena di takutkan akan berdampak buruk apabila di konsumsi dalam jangka panjang. Kecuali nyerinya menyebabkan lemas atau sakit yang tak tertahankan. Baru Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


"Praktekkan saja yang tadi setidaknya 10 menit setiap hari. Atau bisa sambil mandi, jangan takut karena itu pijatan lembut. Pasti takkan menimbulkan rasa sakit. Apalagi suami Anda mahir melakukannya tadi..." lagi-lagi Dokter itu tertawa. Ia memang di kenal sebagai Dokter paling humble dengan pembawaan nya yang santai. Ia bahkan di gemari para pasangan muda karena edukasinya sangat mudah di mengerti dan menyenangkan.


Tentu saja Ammar mahir melakukannya, Delapan tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat. Ibarat mahasiswi yang berhasil menyabet gelar S2. Tidak salah dia ahli dalam bidang itu.


...~~...


Malam harinya, di dapur Pak Arul sedang memotong buah-buahan untuk di buat sup buah. Tadi sore Nara bilang dia sangat ingin meminum sup buah persis seperti yang dulu sering di buatkan Ayahnya.


"Ayah sedang apa?" tanya Ammar canggung, namun berusaha bersikap hangat. Ia berniat memperjuangkan hati sang Ayah mertua sampai akhir.


"Istrimu meminta ku membuatkan sup buah. Kau sudah selesai mandi?"


"Bisa tolong kupas dan potong melon nya?"


"Baiklah..." Ammar mengambil pisau, lalu mengeksekusi melon dengan sangat lihai. Selain melukis, hobi tersembunyi Ammar lainnya memang di dapur.


Tak berselang lama Nara pun keluar dari kamar, ia baru selesai merapikan ulang isi kamar Ammar agar sesuai dengan seleranya.


"Belum selesai?" Nara bergabung ke dapur dan melihat Ayahnya mengerok semangka menggunakan sendok bulat.


"Sebentar lagi nak, tolong cuci strawberry nya." pinta Ayah, agar pekerjaan lebih cepat selesai ia membagi tugas.


"Baiklah..." Nara mengambil mangkuk berisi strawberry kemudian mencelupkannya ke dalam wadah berisi air sabun. Bukan sabun untuk buah, melainkan sabun cuci piring.


"Hei.. kenapa di masukkan ke sana?" ucap Ammar membelalak.


"Kenapa air nya berbusa? Kau memakai sabun?" Ayahnya Nara juga langsung terkejut.


"Iya.. biar lebih bersih." sahutnya santai.

__ADS_1


"Itu sabun untuk piring Nara, baunya akan tertinggal kalau Kau memakai itu." Pak Arul langsung mengeluarkan air sabun lalu membilas strawberry nya.


"Bukannya sama saja?"


"aiss.. kenapa Kau tidak tau hal kecil seperti ini. Lihat suami mu, dia pandai memasak dan memahami dapur."


Hidung Ammar kembang kempis mendapatkan pujian dari Ayah mertua, itu artinya ia berhasil meraih simpati. Sementara Nara hanya menatap sinis Ayahnya, entah kenapa ia malah seperti menantu di sana.


"yaa.. dia memang lihai menggunakan pisau." lirih Nara dan terdengar oleh Ammar, sontak Ammar menatap tajam wajah Nara. Apa maksudnya? Apa dia berusaha membongkar hal itu?


"Belajarlah dari suami mu.." ujar Ayah sambil memotong strawberry yang merah merekah. Sudah di cuci ulang tentunya.


Nara hanya melengos kesal karena Ayahnya selalu memuji Ammar. Tidak tau saja dia tingkah asli Ammar seperti apa.


"Hei.. di bilangin Orang tua kok begitu.." ucap Pak Arul.


"Salah Ayah pergi lama sekali, Aku jadi selalu sibuk sekolah dan mencari uang hingga tak sempat belajar memasak."


"mmm.. melon nya manis sekali." Ammar sengaja mencela Ayah dan anak yang tengah berdebat itu.


"Benarkah, seumur hidup Aku belum pernah memakan melon manis. Coba aku cicipi.." Selama ini ia hanya pernah memakan melon yang rasanya persis seperti kulit semangka. Pak Arul pun membuka mulutnya agar Ammar menyuapkan potongan melon itu. Tangannya sedang lengket karena habis memegang keju.


Ammar pun tanpa ragu menyuapkan sepotong, lalu Nara yang penasaran juga meminta sepotong melon untuk di cicipi.


"Aku juga mau.."


Ammar pun mengambilkan sepotong dan menyodorkan ke mulut Nara. Nara malah terdiam, ia tak menyangka Ammar merespon dengan suapan pula.


Mereka sama-sama diam untuk sesaat, Ammar pun terkejut dengan reflek itu. Nara menatap seolah melontarkan perkataan 'apa maksudmu?'


Sementara Ammar, bola mata nya bergerak kesana-kemari karena gugup. "Cobalah.."


Ragu-ragu Nara menggigit potongan melon itu, ia berusaha sebisa mungkin agar tak menyentuh jari Ammar dengan bibir nya.


Namun sia-sia saja, walau bibir Nara tak menyentuh jari Ammar, tatapannya sudah lebih dulu menyentuh hati Ammar. Tatapan yang selalu mengutarakan kebencian, entah mengapa tatapan itu tetap terlihat indah.


...************...

__ADS_1


__ADS_2