Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 67 : Fakta tentang kematian


__ADS_3

Keputusan Ammar soal pembongkaran makam sudah bulat. Ia bahkan meminta Sam dan badan forensik menyelidiki adakah yang aneh dari jasad Irene tersebut. Terutama soal tahi lalat yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Apa...?" Sam terkejut saat Ammar memintanya menyelidiki jasad Irene.


Ammar menumpuk kakinya, lalu menyeruput kopi yang di sediakan Sandra. Ya ia tengah mendatangi kantor Detektif.


"Tapi kenapa? Bukankah Anda dan Nara sudah melihat jasad itu memang Irene. Jika karena alasan pembunuhan yang terjadi baru-baru ini, maka ini tidak masuk akal." kilahnya, Sam mencoba memancing, apakah benar Ammar tak terlibat dengan kejadian pembunuhan baru-baru ini.


"Bukankah Kau mencurigai ku sebagai pelakunya? Dan Kau mencurigai kematian Irene sama seperti ku." sahut Ammar dengan wajah dinginnya.


"Baiklah..." Sam menyanggupi permintaan Ammar. Ia akan segera menghubungi tim forensik untuk menggeledah jasad Irene.


Tak butuh waktu lama, tiga jam kemudian proses pembongkaran makam pun di lakukan. Ammar dan Sam tak melepaskan pandangan mereka sedetikpun dari peti yang baru terkubur beberapa pekan lalu itu. Setelah di bersihkan, peti di bawa ke ambulance dan mereka langsung menuju rumah sakit untuk melanjutkan penyelidikan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Sam sedikit khawatir, siapa yang tidak terguncang melihat jasad istrinya di ganggu seperti itu. Walaupun itu kewenangan Ammar sendiri, tetap saja Sam bisa merasakan risau dan gundah yang membalut.


Ammar hanya mengangguk kecil, ini ia lakukan demi kebaikan nya dan Nara. Jika benar Irene memalsukan kematiannya, maka pembunuhan yang terjadi baru-baru ini memang ulah Irene. Dan itu artinya Nara dan bayinya akan dalam bahaya.


...~~~...


Malam datang, Nara dengan rasa risau sedari tadi menunggu kepulangan Ammar. Ia bahkan menyimpulkan praduga yang mungkin terjadi bila benar Irene masih hidup.


"Kau belum tidur..?" tanya Ammar begitu memasuki kamar. Penampilannya tampak sangat lusuh dan lelah, raut wajahnya pun tampak kusut.


"Bagaimana hasilnya?" Nara duduk di atas ranjang, menatap Ammar penuh kecemasan.


Ammar menarik nafas panjang, ia duduk di tepi ranjang yang sama dengan Nara. Sejenak matanya terpejam, seolah ia menyesali perbuatannya hari ini.


"Itu memang Irene..." suaranya terdengar bergetar. Melihat wajah Irene setelah beberapa pekan terkubur, membuat hatinya terasa hancur. Namun begitu, ada kelegaan tersendiri.


"Kau pasti berharap dia masih hidup kan?" Nara mencoba menghibur dan memahami perasaan Ammar.


Terus terang saja, bukan itu harapannya. Ia sudah menerima takdir bahwa Irene telah tiada. Ia melakukan pembongkaran makam hanya untuk memastikan. Jika Irene masih hidup, maka ia takkan bisa melindungi Nara dari kedua tangan Irene yang kejam.

__ADS_1


"Aku lega..," jawab Ammar pelan.


"Lalu siapa yang melakukan pembunuhan itu?" tanya Nara penasaran.


"Entahlah.. Yang pasti itu ancaman untuk Kita." Ammar memandangi perut Nara penuh penghayatan. Ia bisa melihat perut Nara yang sudah mulai membesar itu. Menggemaskan.


"Bolehkah Aku menyentuhnya..." lirih Ammar. Jika di pikir pikir selama kehamilan Nara ia tak pernah berinteraksi langsung dengan sang bayi.


"Aku tidak mau di sentuh oleh mu." ketus Nara menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Aku mau menyentuh anak ku, bukan bermaksud menyentuhmu."


"Tetap saja Kau akan menyentuh perutku."


Ammar meringis kesal, susah sekali meluluhkan makhluk kecil itu. Padahal ia hanya ingin merasakan rasanya berinteraksi dengan bayi di dalam kandungan.


"Kau tidak berniat mengenalkan ku padanya? Kau harus mulai sejak dini, di dalam kandungan. Jika tidak mungkin saja dia tak mengenali suara Papa nya saat lahir nanti."


"Aku yakin dia punya pendengaran yang bagus hingga bisa mendengar suaramu dari sana." pukas Nara cepat. Ia takkan termakan oleh hasutan pria hidung belang itu.


"Iya memang. Tapi nanti saat dia sudah lahir. Sekarang dia masih di perutku, jadi ini hak ku sepenuhnya."


"aisshhh.. Kau picik sekali." umpatnya melempar tatapan kesal.


"Pergilah.. Aku mau tidur." Nara mengibaskan selimutnya agar Ammar beranjak dari sana.


Ammar berdiri dengan wajah pasrah. Entah sampai kapan ia bisa menahan diri untuk memperlakukan Nara selayaknya orang asing.


...~~...


Di kantornya, Trio Detektif sedang melamun sambil berpikir keras. Ammar menceritakan alasan kuat ia ingin memastikan kematian Irene, yakni tahi lalat. Namun saat di selidiki kemarin, tahi lalat itu ternyata hanya titik hitam yang tak sengaja di buat oleh perias mayat.


"Eyeliner... Itu bukan tahi lalat melainkan Eyeliner." gumam Sandra, mereka seperti habis di prank oleh seseorang yang memegang kendali atas situasi ini.

__ADS_1


"Bukankah itu riasan untuk mata? Kenapa bisa sampai ke lengan? Apa menurutmu itu benar-benar tidak sengaja?" Bantah Sam tak kalah frustasi.


"Lalu untuk apa dia sengaja melakukan itu pada mayat? apa kau pikir perias mayat menganggap setiap mayat itu seni yang bisa di coret sembarangan? Itu murni ketidaksengajaan." tukas Galih menebas keraguan Sandra dan Sam.


"Sebaiknya kita tutup saja kasus ini. Fokus saja mencaritahu siapa yang meniru perbuatan Irene tersebut. Aku khawatir dia akan memakan banyak korban sama seperti Irene." Ucap sam melempar tumpukan berkas ke sebuah kotak penyimpanan.


...-...


...-...


Pukul 02:30...


Alarm di ponsel Ammar berbunyi, sensor keamanan yang ia pasang di pagar bagian belakang menangkap seseorang yang mencoba masuk ke pekarangan rumah.


Ammar segera menelpon petugas keamanan yang berjaga di pagar depan, ia memerintahkan petugas untuk bergerak secara diam-diam agar orang yang menerobos masuk itu bisa tertangkap. Berbekal pistol ia pun turun untuk memeriksa.


Karena tak mau membuat Nara terbangun, ia pun melangkah pelan-pelan untuk keluar dari kamar. Ia berjinjit agar tak menimbulkan suara yang dapat menganggu tidur Nara.


Sesampainya di luar rumah, Ammar memerintahkan dua orang petugas untuk memeriksa arah selatan dan utara, sementara ia ke arah barat.


Suasana tampak gelap, ia sengaja tidak menyalakan lampu. Sambil terus memeriksa rekaman kamera di layar ponsel, Ammar berjaga-jaga dengan pistol di tangan kanannya.


"Periksa pintu yang ada di taman samping.." titah Ammar melalui ear monitor.


Tiba-tiba alarm di ponsel Ammar berbunyi kembali, menandakan orang baru saja menerobos pagar lagi. Namun Ammar tak melihat siapapun melompati pagar.


"Tetap fokus mencari, dia sedang berusaha mengalihkan perhatian Kita." Ammar kembali masuk ke dalam rumah dan memeriksa roof top.


Sesampainya di roof top, Ammar memeriksa semua sudut. Siapa kiranya orang yang dengan cekatan menerobos rumah itu? Pasti orang itu sangat profesional hingga Ammar bahkan tak bisa memantau pergerakannya lewat rekaman CCTV. Suasana yang amat gelap itu membuat Ammar harus membuka lebar telinga nya untuk menangkap langkah kaki seseorang.


KLAKK...


Tanpa di duga, ujung pistol sudah menempel di tengkuk Ammar lengkap dengan peluru yang siap menembak. Ammar pun mematung di tempat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2