Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 54 : Hidup baru, lembaran lama.


__ADS_3

Baru saja keluar dari rumah sakit, Ammar harus di hadapkan dengan hal yang tidak menyenangkan dari perusahaan. Yakni turunnya aktivitas penjualan dan beberapa investor yang menarik dana semenjak berita tentang Mereka mencuat.


Rating perusahaan pun menurun drastis akibat banyak perusahaan Star Up yang menolak memakai perangkat lunak berlabel kan GT grup.


Mau tak mau Ammar harus membanting strategi. Ia yang selama ini hanya bisa diam dan menyerahkan semuanya pada Irene akan mengambil langkah sendiri.


...~~~~...


Sejak kejadian itu, Nara menginap di salah satu hotel. Sementara Ammar pulang ke rumahnya. Hari ini ia membawakan beberapa contoh rumah, apartemen serta penthouse untuk di pilih sebagai tempat tinggal baru mereka. Ya, ia bersedia keluar dari rumah itu untuk menyanggupi syarat pertama dari Nara.


Walau berat rasanya meninggalkan rumah dengan berjuta kenangan itu. Kenangan indah,pahit bahkan kelam. Ia harus keluar dari sana dan mencoba menginjakkan kaki ke tempat yang berbeda.


"Pilihlah, mana yang paling Kau suka." Ammar memberikan laptopnya pada Nara.


Satu persatu contoh Nara teliti, namun ada yang janggal di pikirannya. "Ini semua milikmu?"


"hmm.." Ammar mengangguk. "Kau ingin yang baru?" ia akan sangat bersedia jika Nara meminta seperti itu.


"Begini... Kenapa Kau menawarkan rumah-rumah mahal ini. Kau bisa membelikan ku satu saja yang kecil..." Nara tampak sungkan, sejujurnya ia juga bisa membeli sendiri rumah sederhana menggunakan sisa uang yang waktu itu di berikan Ammar sebagai kompensasi. Tapi Ammar memohon agar Nara mau menerima segala pemberiannya selama mereka masih bersama.


"Aku tidak akan nyaman tinggal di rumah kecil."


"Apa..?" Nara terkejut, ternyata Ammar tak memahami maksud perkataannya kemarin.


"Kau tidak berpikir kita akan tinggal bersama kan?" tambahnya dengan alis berkerut.


"Bukannya Kau bilang.., tunggu, maksudmu kita tinggal terpisah? Kau di rumah mu, dan Aku tetap di rumah itu begitu?"


Nara mengangguk, ia heran dengan pikiran Ammar yang mengira mereka akan tinggal satu rumah. Sungguh pikiran Ammar sangat sempit.


"Tidak bisa, bercerai sekarang ataupun nanti tidak ada bedanya kalau begini. Untuk apa kita melanjutkan hubungan jika harus pisah rumah?" Nada bicara Ammar terdengar santai dan dingin, namun hatinya sangat kacau balau. Entahlah, ia selalu saja gagal mengekspresikan emosinya dengan baik.

__ADS_1


"Memangnya bisa bercerai kalau sedang hamil?" Ia tak tau tentang itu. Dan ia langsung membuka ponselnya untuk mencaritahu.


Ammar langsung merebut ponsel dari tangan Nara. "Tentu saja bisa, tapi sebagai suami dan Ayah dari anakmu Aku punya kewajiban untuk melindungi mu, menjagamu, dan mencukupi semua kebutuhan mu. Lalu bagaimana Aku bisa memastikan Kau baik-baik saja kalau kita tinggal terpisah?"


"Aku bisa menjaga diriku sendiri." tukas Nara, satu-satunya hal yang paling mengancam kehidupannya justru Ammar.


"Kau itu terlalu naif Nara, terlalu polos dan sedikit bodoh. Kau sangat mudah ditipu dan dimanfaatkan. Bagaimana Kau bisa menjaga dirimu? Kau bahkan pernah di jebak kedalam penjara."


"Kalian yang menjebak ku!" pangkas Nara sewot. Ia memang bodoh, namun bukankah Ammar sendiri lebih bodoh karena berani-beraninya mempermainkan kehidupan orang.


"Irene... Kau di jebak olehnya. Aku bahkan tidak tau dia akan menikahkan ku dengan mu." Ya, dari awal Ammar memang hanya mengikuti apa yang di katakan Irene.


"ch..! Kau bahkan lebih bodoh." umpat Nara melempar raut wajah sinis.


"aissh..! berhentilah membicarakan dia." risih Ammar. Ia tak ingin nama Irene menyapa telinganya lagi. Pikirannya seperti langsung berantakan jika mengingat nama Irene. Sedih, rindu dan duka masih belum hilang sepenuhnya.


"Kau yang memulai." seloroh Nara menimpali.


"Aku juga tidak tenang jika dekat denganmu." gumam Nara pelan. Tak di sangka Ammar sungguh punya rasa tidak tau diri yang begitu tebal.


...~~~~...


Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah rumah dua lantai yang cukup asri. Desainnya yang simpel dan elegan menimbulkan kesan yang amat menenangkan. Cukup luas, namun tak seluas rumah lama Ammar.


Ammar menyeret beberapa koper milik Nara. Sementara Nara langsung melihat dapur. Ia sudah membayangkan akan menyimpan segala jenis camilan di dalam kabinet.


"Nyaman sekali.." lirih Nara terkagum. Dapur yang di desain klasik itu berhadapan langsung dengan taman.


"Kau tidur di kamar yang mana?" Ammar menghampiri ke dapur. Dan langsung tersenyum saat mendapati Nara tengah mengusap-usap lemari kabinet yang ia impikan.


Bertahun-tahun hidup dengan wanita yang sangat menyukai pisau dan darah membuatnya kagum saat melihat Nara sangat menyukai sesuatu yang menurutnya tak biasa.

__ADS_1


"Terserah..." sahut Nara acuh, ia membuka satu persatu lemari itu dan memeriksa susunan rak di dalamnya. Ia juga memeriksa kabinet di atas kompor.


"ih... Kok susah?" gumamnya, pintu kabinet itu sedikit macet karena masih ada segel karet di celah pintunya. Maklum masih baru. Tapi Nara tak mengerti itu, ia pikir karet berwarna hitam yang tersisip di antara pengunci adalah variasi.


Melihat sang istri kesulitan, Ammar pun berinisiatif mendekat. Ia berdiri tepat di belakang Nara dan mencabut segel karet yang tak mungkin sampai di gapai oleh Nara. Karena tinggi wanita itu sangat minimalis.


"Masih ada pengamannya.." ucap Ammar setelah mencabut karet berwarna hitam.


Nara mematung di sana, ia bisa merasakan dengan jelas aroma dan suhu tubuh Ammar. Tubuh kekar itu menutupi nya, seperti ada kasur besar yang berdiri persis di belakangnya.


"Kau memanfaatkan keadaan?" celetuk Nara seraya berbalik, ia menatap Ammar dengan mata menyipit.


Ammar sendiri tak sadar kalau sikapnya barusan sangat ambigu. Tak ayal ia juga terkejut dan langsung mundur beberapa langkah.


"Aku..? Kau yang memanfaatkan instingku." balas Ammar tak terima. Ia sungguh tak berniat demikian.


"insting apanya, jelas sekali Kau berusaha mencuri kesempatan. Itu sebabnya Aku tak ingin satu rumah denganmu." gumam Nara sambil melenggang meninggalkan Ammar di sana.


Ammar mendengus kesal karena merasa terfitnah. Apalagi mendengar gumam Nara yang merutuki nya barusan. Membuatnya ingin sekali mengangkat wanita pendek itu ke atas kulkas agar ia tersangkut disana.


...~~~...


Di kantor, Noah tengah mengemasi peralatannya. Ia resmi di pecat dari pemegang saham prioritas dan di keluarkan oleh Ammar. Ia benar-benar tak ingin melihat wajah Direktur licik itu lagi.


Dengan wajah kesal, Noah menyusun semua perkakasnya kedalam sebuah kotak. Ia merasa tidak adil karena harus menerima akibat dari perbuatan Papanya. Ya walaupun selama ini ia selalu menyetujui dan mendukung perbuatan sang Ayah, tapi bukankah ini berlebihan?


Sementara Ammar yang juga membantu Irene tak menerima hukuman apapun. Polisi bahkan melepaskannya karena tidak ada bukti bahwa Ammar membereskan semua tindakan Irene. Bukankah seharusnya mereka sama-sama menerima hukuman? Kenapa hanya dia yang harus menanggung malu dan di sisihkan? Kenapa Ammar bisa melanjutkan hidupnya dengan layak sementara dia tidak?


"HAHHHH....!" Kesalnya putus asa. Ia membanting papan nama berbahan kaca itu ke lantai. Jabatan itu kini hilang sia-sia setelah semua ketekunan yang ia jalani dengan susah payah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2