Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 36 : Korban baru


__ADS_3

Hari ini Galih dan Sandra terbang ke Thailand. Mereka akan menemui mantan teknisi yang 20 tahun silam memperbaiki listrik di gedung pertemuan.


Pria bernama Tamrin itu kini berusia 60 tahun. Ia tinggal dengan anak bungsunya yang menikah dengan warga Thailand dan mereka menetap di sana.


"Silahkan masuk." Anak bungsu Tamrin menyambut Galih dan Sandra amat ramah.


Mereka berbincang sebentar, setelah 10 menit. Tamrin pun pulang bersama menantu laki-lakinya. Mereka baru selesai memancing di sebuah pemancingan.


"Saya ke sini untuk menanyakan kejadian 20 tahun silam Pak. Tentu saja kalau Bapak tidak keberatan." Pinta Galih, hanya Pria itu satu-satunya orang yang bisa membebaskan Ayahnya dari jebakan Damar.


Pak Tamrin pun menceritakan keseluruhan dan direkam oleh Galih. Walaupun usianya sudah sepuh, Pak Tamrin masih ingat jelas setiap langkah yang ia ambil selama bekerja menjadi teknisi Listrik. Ia sangat profesional dan hati-hati selama 30 tahun bekerja. Tak pernah melakukan kesalahan, ataupun kekeliruan.


Mendengar cerita bahwa Ayah nya Sandra di penjara, Tamrin merasa prihatin. Apalagi tuduhannya karena ceroboh hingga menewaskan beberapa orang.


"Jika mereka berpikir itu kesalahan arus listrik yang tak seimbang, maka seharusnya meraka menuntut ku." ucapnya tegas dengan suara gemetar.


"Jadi kemungkinan apa yang bisa menyebabkan ledakan itu Pak?" tanya Sandra.


"Ada satu alat yang memang berbahaya, seperti ini..." ia menunjuk foto lama yang di dalamnya ada sebuah kotak berukuran setengah meter.


"Ini di sebut induk dari aliran listrik, namun tidak akan meledak jika seseorang tidak menyalakan api ke sana." sambung Pak Tamrin lagi.


Sam dan Galih terus bertanya mengenai detail kecil apa saja yang memungkinkan. Seandainya pada saat kejadian itu ada CCTV, pasti tidak akan serumit ini.


...~~~~...


Di sebuah ruangan gelap, Irene mengurung seorang Pria berusia 40 tahun. Ia mengikat nya di sebuah kursi dengan mulut tertutup kain. Di bawahnya juga terdapat plastik bening terbentang menutupi seluruh lantai ruangan.

__ADS_1


"Selamat malam..." Sapa Irene tersenyum lebar pada Pria yang baru sadar itu. Ia menarik jari telunjuknya pada mata pisau, memastikan apakah mata pisau itu cukup tajam.


"mmm...!! mmm!!" Pria itu memberontak, namun ia tak bisa apa-apa.


Irene membuka penutup mulut pria itu lalu bertanya, "Kau mau bersaksi ke pengadilan tentang perbuatan Damar, atau aku akan mengakhiri hidupmu sekarang!"


"Bunuh saja aku kalau kau mau!" tukasnya membelalak.


Dulu saat usia nya 20 tahun, ia bekerja di gedung pertemuan itu sebagai Staff keamanan. Ia di perintahkan membuka ruang kontrol listrik oleh Damar, sebagai uang tutup mulut ia diberikan jumlah uang yang sangat besar. Uang itu sudah habis untuk biaya hidupnya, ia berhasil membiayai keluarganya dengan uang itu. Jika ia membuka mulut, maka keluarganya yang akan jadi sasaran Damar.


"Baiklah..." Irene menggenggam erat tangkai pisaunya. Kemudian menusuk perlahan di bagian perut si Pria. Darah bercucuran seketika, Pria itu merintih kesakitan setengah mati. Wajahnya menahan sakit luar biasa, namun Irene tak memperdulikan itu. Ia tampak senang melihat pria itu berada dalam ambang kematian.


Irene menarik perlahan pisaunya. Kemudian menusukkan lagi di bagian bawah, berjarak beberapa centi dari tusukan pertama. Darah menyembur mengenai wajahnya, memercik juga ke lantai yang sudah ia beri alas plastik. Pria itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan amat mengenaskan. Namun Irene tak berhenti, ia masih mencabut lalu menusukkan lagi di bagian bawah. Itu lah ciri khasnya, ia selalu menyukai tusukan terakhir dimana korban sudah tidak lagi berdaya. Bagian itu yang paling membuatnya merasa puas.


"hahahaha..." Tawa Irene menggema, ia menarik pisaunya sambil terus tertawa.


Kemudian Ammar datang tergesa-gesa, ia ingin mencegah perbuatan Irene namun terlambat. Pria itu sudah tewas berlumuran darah.


Irene menoleh, Ammar selalu saja bisa menemukannya.


"Maaf, Aku membuatmu repot lagi kali ini."


"Bukankah Kau berjanji tak akan melakukan ini lagi?" Ammar menatap nanar wajah istrinya itu. Wanita yang sudah Delapan tahun ia nikahi tak berubah sama sekali.


"Jika dia menerima tawaranku, pasti Aku akan membiarkannya hidup." Irene sama sekali tak menyesal.


"Berhenti bersikap gila Irene..! Berapa banyak lagi nyawa yang akan Kau habisi?" Ammar merasa sangat lelah dengan semua itu, sampai kapan mereka harus terus membunuh manusia dengan keji?

__ADS_1


"Kau marah pada Ku..?" Lirih Irene, raut wajahnya seketika berubah sedih.


Ammar mendekat, menyeka lembut pipi Irene yang terkena percikan darah. "Aku hanya ingin Kau berhenti. Resiko atas apa yang telah Kau lakukan mungkin saja akan membuat Kita terpisah, Aku tidak mau berpisah dengan mu Kau tau itu kan?"


"Berhentilah mengejar sekongkolan nya, tidak bisakah Kau hanya fokus pada Damar saja?" Lanjut Ammar, ia menatap teduh wajah Irene yang tertunduk.


Membunuh orang-orang itu membuat Ammar berpikir berapa banyak keluarga yang bersedih karena kehilangan orang yang mereka sayangi. Namun Irene tak memikirkan itu, ia hanya haus akan darah orang-orang yang terlibat dengan pembunuhan orang tuanya.


"Aku ingin berhenti, tapi dada Ku sesak setiap kali membayangkan betapa sakit orang tua Kita saat meregang nyawa di dalam kobaran api. Sementara pelakunya masih bisa bernafas dengan tenang sampai sekarang. Aku tidak bisa mengabaikan itu Ammar.." Irene merebahkan wajahnya di dada Ammar, menangis sesenggukan.


Ammar melepaskan dirinya dari Irene, ia sungguh tidak nyaman dengan kejadian ini. Ia harus membersihkan tempat itu sebelum polisi menemukan mereka. Entah sampai kapan Ia akan terus membersihkan tempat seperti itu.


"Tetap saja itu bukan alasan yang tepat untuk mu membunuh semua orang. Kau harus melepaskan ingatan itu Irene. Aku selalu mengkhawatirkan perbuatan mu, dampak nya akan sangat besar pada hubungan Kita."


...~~~...


Di tempat lain, Sam menemui Nara di sebuah Cafe. Ia membawa laptop yang di dalamnya terdapat dokumen pernikahan resmi Ammar dan Irene. Ia berencana memberitahu Nara malam ini.


"Sam...!" Panggil Nara menggebrak meja. Sudah hampir habis minumannya, namun Sam tak kunjung membuka mulut.


"hm..?" Sahut Sam bingung, apa yang akan terjadi pada Nara jika dia memberitahukan itu?


"Bukankah ada yang ingin Kau sampaikan? Sudah hampir 30 menit Kita di sini."


Syok, Nara pasti jelas akan sangat syok jika mengetahui itu. Sam kembali mengurungkan niatnya, ia harus tau dulu apa sebenarnya motif Ammar menikahi Nara dalam ikatan kontrak. Juga pembunuh Neneknya Nara, Sam mulai menduga Irene dan Ammar sengaja menjebak Nara dalam tuduhan Pembunuhan berantai.


"Kau tau cara menggunakan pistol?" Sam mengeluarkan sebuah pistol dengan Enam peluru.

__ADS_1


"h..hah..?" Nara mencebik heran.


...*****************...


__ADS_2