Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bonus Chapter


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


Selama hampir seratus hari, Nara tak pernah sekalipun tak memikirkan dimana Ammar dan anaknya. Terpuruk, itu pasti. Wanita mana yang tak merasakan sakit, di saat ia tak bisa melihat wajah orang-orang yang di cintai nya.


Ayah, suami dan anaknya, semua pergi dalam waktu yang sama. Sampai hari ini bahkan satu inci pun luka di lubuk hati belum tertutup, lalu bagaimana bisa ia melanjutkan hidup?


drrrtt...


Ponselnya berdering, Nara mengangkat panggilan dari Sandra itu.


"Ada apa..?" sahutnya datar, ia tengah mengisi formulir untuk masuk ke universitas Kesehatan. Ia tak punya tujuan lain sekarang, berdiam diri di rumah sambil memikirkan semuanya pun takkan berguna. Jadi ia berpikir untuk melanjutkan pendidikannya, dan mengejar gelar Dokter yang ia impikan.


"Bisa Kau matikan CCTV di rumah mu? Sebentar saja." pinta Sandra, terdengar tak masuk akal.


"Untuk apa? Kau jangan menakut-nakuti Aku Sandra." tepis Nara heran, Ammar sudah tak ada lagi di sana. Apa masih ada orang yang dendam dan menyusup ke rumah itu?


"Aku sedang memeriksa, ada sesuatu yang aneh. Apa Kau memantau CCTV lewat perangkat lain? Seperti ponsel atau Laptop cadangan?"


"Hei, kenapa kau tiba-tiba membicarakan ini?" Nara berdiri, ia memandangi setiap sudut yang ada kamera CCTV.


"Aku.. sedang meretas CCTV area itu untuk sebuah kasus. Lalu tak sengaja Aku melihat ada dua perangkat yang memantau sistem keamanan rumah mu." ucap Sandra berbohong, alasan tak masuk akal itu pun di percaya oleh Nara.


Sebenarnya Sam lah yang menyuruh Sandra meretas CCTV di rumah Nara. Ia hanya ingin tau, apakah mungkin Ammar mengawasi Nara dari kamera CCTV. Jika mungkin, itu berarti Ammar masih ada di sekitar Nara.


"Matikan dulu seluruh CCTV nya, Kita akan tau rumah mu di bajak atau tidak setelah itu." pinta Sandra dari dalam telepon.


Nara pun menuruti, ia pergi ke ruangan kontrol untuk mematikan semuanya. Lalu ia mengintip keluar jendela, hanya ada dua orang penjaga yang tengah duduk sembari mengobrol. Suasana tampak tenang, itu artinya ia tak perlu risau.


"Sudah ku matikan, bagaimana? Apa CCTV rumah ini aman?" tanya Nara penasaran.


Sandra terdiam sejenak, karena perangkat kedua yang terdeteksi sebelumnya ikut mati. Ia juga tak bisa melacak perangkat itu karena memakai sistem keamanan sekunder. Yang mana bila ia salah meretas sandi sebanyak dua kali, maka ia akan kehilangan jejak perangkat itu, dan virus yang ada di perangkat tersebut malah akan memusnahkan semua data komputernya.


Setidaknya membutuhkan 5 kali percobaan untuk bisa meretas perangkat misterius tersebut. Tapi Sandra kali ini tak bisa bergerak, ini pertama kali ia menemukan perangkat lunak yang amat ganas.

__ADS_1


"Aman, Aku hanya salah menduga. Hidupkan lagi."


"Baiklah, terimakasih sudah memberitahuku." balas Nara kemudian menutup teleponnya.


Di kantornya, Sandra dan Sam saling melempar tatapan datar.


"Itu pasti ulah Ammar." gumam Sam, sempat merasa jengkel karena Ammar pergi begitu saja, tak memberi kabar pada Nara yang sangat merindukan buah hatinya. Sementara dia, seenaknya memantau Nara.


"Kau yakin? Untuk apa Ammar melakukan itu? Bukankah dia sudah melepaskan Nara sepenuhnya?"


"Entahlah, ini hanya dugaan ku saja. Siapa lagi yang akan menciptakan perangkat lunak seperti Boomerang begitu?"


...~~~...


Hari ini tiba saatnya Nara mengikuti tes masuk Universitas kesehatan. Universitas nomor satu itu tampak sangat ramai oleh para mahasiswa yang mengejar gelar S2.


Nara berdiri sebentar di depan gerbang Universitas tersebut. Ia menarik nafas dalam, menyambut alur baru yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Ia tak pernah terpikir akan bisa menginjakkan kaki di Universitas itu setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Ammar.


...~~~...


Di lain tempat, tangisan bayi terdengar menggema memenuhi sebuah Penthouse mewah. Ia adalah Daneen, bayi berusia tiga bulan yang tak lain adalah anak Nara dan Ammar.


"cup..cup.. sayang, iya ini susu nya sudah jadi." ujar seorang wanita, ia setengah berlari menghampiri bayi mungil itu.


Wanita itu memberikan botol susu kepada Daneen, namun ia seperti menolak, ia memalingkan wajahnya dari botol susu tersebut sembari menangis kesal. Kedua tangan mungilnya bahkan meremas kuat ujung kaus kaki.


"Sayang.., kenapa hmm? mau di gendong ya? sini..sini..." wanita itu sigap menggendong Daneen, lalu membawanya ke balkon untuk mencari udara segar.


Tak lama kemudian Ammar pulang, seketika tangisan Daneen berhenti, ia bahkan langsung tersenyum saat mendengar derap langkah Papanya.


"Dia menangis lagi...?" tanya Ammar menghampiri. Ia langsung mengambil Daneen dari wanita tersebut.


"hmm, sepertinya dia tidak suka denganku." ucap wanita itu tersenyum, memang ia dan Daneen tak memiliki ikatan, jadi wajar saja jika mungkin bayi itu kurang nyaman dengannya.

__ADS_1


"Kau boleh pulang, besok datang lah lebih awal karena Aku ada urusan penting."


"Baiklah, selamat sore." wanita itu menundukkan kepala, seraya menyelipkan helaian rambutnya ke ujung telinga.


Ia adalah seorang wanita dari agensi penyalur Baby sitter. Ia yang menjaga Daneen selama tiga bulan ini.


Setelah wanita itu pergi, Ammar duduk di kursi yang ada di balkon tersebut. Ia memberikan susu kepada Daneen seraya memandanginya.


"Maafkan papa nak, kau pasti merindukan mama mu kan?" lirihnya menatap sayu.


Setelah kenyang, Daneen pun tertidur. Ammar membawanya ke kamar dan menidurkannya di atas kasur. Setelah itu, ia pun berbaring di sebelah Daneen, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Ammar memasukkan beberapa password, kemudian suatu perangkat lunak terbuka. Langsung tampak di layar ponselnya seluruh sudut rumah yang di tinggali Nara.


"Sepertinya kau baik-baik saja," ujarnya menitikkan air mata. Ia tak melihat Nara di rumah itu, ia pun mengira Nara pasti sedang melakukan ujian masuk Universitas.


Bukan tanpa alasan ia memantau Nara selama ini. Sekarang Nara benar-benar sebatang kara, ia juga tak bisa melanggar janji untuk melepaskan Nara. Ia tak selalu bisa di samping Nara, ia hanya tak mau sesuatu yang berbahaya terjadi saat Nara sedang di rumah.


Kalau misal sesuatu terjadi di luar rumah, maka pasti Nara akan mudah meminta tolong, ataupun pasti ada orang lain yang akan menolong.


Bagaimana pun juga, Nara pernah menjadi bagian dari hidupnya. Ia hanya takut masih ada orang-orang yang menyimpan dendam padanya, lalu melampiaskan itu pada Nara.


"Aku merindukan mu Nara..," bisiknya sembari mengecup pipi mungil Daneen yang tengah tertidur pulas.


"Ku harap Kau segera menemukan kebahagiaan mu, agar Aku tak terus merasa bersalah."


Ia membelai lembut tangan Daneen dengan ibu jarinya. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk membahagiakan dua orang itu sekaligus, baik Nara ataupun Daneen, ia merasa sama-sama telah menghancurkan hidup mereka berdua.


Jika ia memaksa Nara tinggal dengannya demi Daneen, itu bukanlah suatu hal yang di inginkan Nara.


Nara hanya bisa bahagia tanpa dirinya, maka ia rela membahagiakan Daneen dengan cara apapun tanpa harus melibatkan Nara.


...**************...

__ADS_1


__ADS_2