Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bunos chapter 2


__ADS_3

"Ini teh nya Tuan,"


Pengasuh Daneen itu meletakkan secangkir teh ke meja Ammar.


"Kau belum pulang?" tanya Ammar sedikit risih, padahal ini sudah jam pulang si pengasuh tersebut.


"Aku akan pulang setelah selesai mencuci semua botol susu Daneen." sahut wanita itu seraya tersenyum genit. Kali ini ia bahkan sengaja menanggalkan satu kancing bagian atas bajunya, agar dadanya bisa terlihat oleh Ammar.


"Kalau begitu lakukan, untuk apa Kau masih di sini?" ketus Ammar melempar tatapan jengah. Ia sangat tidak nyaman berlama-lama dengan wanita itu.


Sudah beberapa kali Ammar meminta pihak agensi untuk mengganti pengasuh itu dengan orang lain. Namun hanya wanita itu yang sanggup bekerja kapanpun Ammar membutuhkannya untuk menjaga Daneen.


Seraya mensterilkan semua botol susu Daneen, wanita itu bergumam dengan wajah nakalnya. "lihat saja nanti, lambat laun Kau akan jatuh ke pelukan ku pria angkuh."


Sejak awal ia memang sangat terobsesi dengan Ammar. Ia mengetahui Ammar adalah seorang duda kaya, yang di tinggalkan istrinya. Sebab itu ia pelan-pelan menggoda Ammar dengan taktik murahan. Sepertinya ia kebanyakan menonton film, dimana majikan akan jatuh cinta kepada pembantunya setelah sering berjumpa.


Ammar menyeruput sedikit teh nya, kemudian masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Semua lelahnya seketika hilang saat ia melihat Daneen tengah tertidur pulas. Wajah Daneen sangat mirip dengan Nara, alisnya, bibirnya, bahkan ia juga memiliki lesung pipi di sebelah kanan.


"Wajahmu persis seperti mama nak, membuat papa tak bisa melupakan wajah itu bahkan untuk sedetik."


...~~~...


Pagi sekali, Nara mendapatkan notif dari pesan Email. Itu pesan pemberitahuan dari Universitas tempatnya mendaftar kemarin. Betapa bahagianya ia saat melihat dirinya berhasil diterima sebagai mahasiswa baru di sana.


"Sepertinya cuma Aku yang sudah punya anak di antara mahasiswa baru lainnya."


Tentu saja ia merasa pesimis, hanya ia yang memiliki status sebagai janda. Andai saja dulu ia bisa langsung mengambil jurusan kedokteran.


Kemudian tiba-tiba Sam menelpon.


"hallo," sahut Nara tak bersemangat seperti biasanya.


[Nara, Aku mendapatkan tiket konser grup band kesukaan mu. Tiket VIP, Kau mau pergi?] Sam sangat antusias karena ia butuh perjuangan panjang untuk mendapatkan tiket itu.


"Dimana..?" tanya Nara, entahlah bahkan mendengar berita itu pun Nara tak bersemangat.


[Di Bali, ini konser pertama mereka setelah 3 tahun hiatus. Kau harus melihatnya Nara.]


"Baiklah, sepertinya seru. Kapan kita berangkat?"


[Besok pagi.]


"Apa..?! hei Kau sudah gila? Kenapa baru mengabariku sekarang? Tidak cukup untukku bersiap sekarang."


[hehe, Aku juga baru mendapatkan tiket ini tadi. Temanku yang menjualnya, karena ia tak jadi datang.]


"hiss.. Kau ini, ya sudah ku tutup dulu."


Nara langsung bangkit menuju lemari pakaiannya. Ia mengemas semua yang bisa di pakai selama di sana.


...~~...


Bali pukul 15:00....


Pesawat yang di tumpangi Sam dan Nara mendarat tepat waktu. Konser akan di mulai pukul 19:00 nanti. Jadi mereka masih punya waktu untuk beristirahat sejenak.


Sam pun langsung membawa Nara kesebuah resort yang sudah ia pesan kemarin. Mereka memesan kamar berhadapan agar Nara tidak bingung nantinya.


"wah.. tempat ini mewah sekali." Nara takjub akan desain resort itu, terkesan klasik namun tetap mewah.


Nara merebahkan diri di atas kasur besar itu. Andai saja ia pergi bersama Ammar dan anaknya, pasti akan lebih menyenangkan.


...-...


...-...


Sore menjelang, Nara dan Sam berjalan keluar resort menuju stadion yang berada tak jauh dari sana. Melewati pantai dan pusat wisata, cukup ramai dan berisik.


"Mau es kelapa?" tanya Sam, ia bingung karena Nara hanya diam saja.


"Tidak, kalau Kau mau beli saja, Aku masih kenyang."

__ADS_1


"Kau merindukan anakmu..?" tanya Sam mulai memberanikan diri, ia berharap Nara menumpahkan seluruh kesedihan padanya, ia akan selalu siap untuk itu.


Nara mengangguk pelan, di tengah keramaian sekalipun, ia merasakan kekosongan yang tak berujung. Separuh nafasnya seperti di bawa pergi oleh Daneen, sementara separuh nyawanya seperti ikut terbawa oleh raga Ammar yang kini entah dimana. Ia benar-benar hampa dan sepi, perih pun tak terobati dengan semua hal indah yang datang padanya akhir-akhir ini.


"Seandainya Kau bertemu dengannya, apa yang akan Kau lakukan?" Sam menatap lembut wajah lesu Nara, ia memang sangat ingin mendapatkan hati wanita itu. Tapi bagaimana bisa? sementara hatinya ikut terbawa oleh Ammar.


Tak terasa buliran bening menggenang di kelopak mata Nara. Ia terus tertunduk sembari menatapi pasir yang ia lewati.


"Dulu Aku memang sangat mengharapkan ini Sam. Melanjutkan hidup tanpa anakku. Karena Aku tak mengharapkannya, sejak ia ada di dalam kandungan. Aku bahkan menkhayal, andai saja Ammar dan anakku menghilang dari dunia ini. Pasti kehidupanku akan baik-baik saja. Aku akan bahagia. Tapi ternyata Aku salah, hidupku kosong tanpa mereka. Entah kapan mereka mulai mencuri hati dan pikiranku, Aku tak menyadari itu semua sampai Aku benar-benar kehilangan mereka."


"Terkadang kita harus kehilangan untuk tau betapa berarti yang sudah kita miliki." lirih Sam ikut berkaca-kaca, batinnya juga terasa pedih melihat Nara sangat terpuruk.


Sam menggandeng tangan Nara, karena ia tau penglihatan seseorang pasti akan samar saat ia menangis.


Mereka sudah tepat di depan pintu masuk stadion. Namun Sam melewatinya, ia menuntun Nara kesuatu tempat. Tempat yang mungkin akan membuat hatinya sedikit terluka.


"Sam..? Kita mau kemana?" Nara mengusap air matanya.


"Konsernya masih satu jam lagi, Aku ingin membawamu kesuatu tempat."


"Kau mau mengajakku melihat sunset?" tanya Nara lagi, ia terus mengikuti langkah jenjang Sam tanpa tau tujuannya.


"Sunset di sini sangat indah, Kau pasti sangat suka." sahut Sam dengan senyum lembutnya.


Setelah 10 menit berjalan kaki, mereka sampai di sebuah gedung. Nara semakin bertanya-tanya, bukankah biasanya orang melihat sunset dari pinggir laut?


"Sam..? Kau mau melihat sunset dari roof top?"


"Iya, akan lebih jelas jika kita melihatnya dari tempat yang tinggi." Sam menggenggam erat tangan Nara, dan membawanya masuk ke dalam lift.


Tak lama kemudian sampailah mereka di lantai 32. Sam berhenti saat sampai di depan pintu. Hanya ada dua pintu di lantai luas itu. Membuat Nara semakin bingung.


"Nara.., Kau tau Aku menyukaimu kan?"


"i.. iya.. maaf karena belum bisa.."


"Kau takkan pernah bisa menyukaiku Nara, seberapa keras pun aku berjuang, cinta mu akan tetap miliknya."


Sam menekan bell dua kali, tak lama pintu pun terbuka.


Ammar pun sama terkejutnya, apakah itu benar-benar Nara?


"Apa yang kalian lakukan di sini?" ketus Ammar menutupi rasa haru di batinnya.


"Sam, Kau membawaku kesini bukan untuk konser itu kan?" lirih Nara, ia takut, rasa rindu yang terlalu besar membuatnya takut untuk menatap wajah Ammar.


Sam melepaskan genggaman tangannya pada Nara, dengan senyum lembut, ia telah meyakinkan bahwa ia rela melepaskan perasaannya untuk Nara.


"Ammar, Kau tidak bisa bersembunyi dari seorang Detektif." Sam tersenyum tipis, kemudian beranjak dari sana. Ini memang tujuannya, mempertemukan kembali dua insan yang tak menyadari bahwa mereka saling mencintai. Melihat Nara hidup bahagia, baginya itu juga cinta.


Ammar dan Nara masih sama-sama terdiam, berjuta kata seperti tertahan, hanya tatapan rindu yang beradu.


"Kenapa Kau meninggalkan ku Ammar..? Kenapa..?" tangis Nara pecah, sesak yang selama ini mengerubungi dadanya telah membuncah.


Ammar langsung memeluk erat tubuh Nara. Ia menitikkan air mata haru, rindu yang menyiksa nya selama ini sungguh sangat menganggu. Ia mendekap erat tubuh wanita itu untuk melepaskan semuanya.


"Aku ingin kau hidup bahagia Nara, Aku sudah berjanji bukan?" bisiknya seraya mengecup pelan bahu Nara.


"Bagaimana Aku bisa bahagia di saat orang yang ku cintai malah pergi meninggalkan ku? Kau kejam sekali Ammar... kenapa Kau tidak bertanya dulu padaku? Kenapa Kau menceraikan ku di saat aku baru menyadari Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Ammar.. sangat mencintaimu.." Isak tangis meluapkan segala isi hatinya. tak perduli kemeja Ammar basah oleh air matanya, ia hanya ingin waktu berhenti saat ini, agar ia bisa merebahkan diri selamanya di pelukan Ammar.


"Maafkan Aku Nara... maafkan Aku." Ammar tak melepaskan kecupannya pada dahi Nara. Sungguh, ia sangat bahagia hingga seluruh tubuhnya seperti melayang terbawa rasa haru.


"Mau kah Kau menikah lagi denganku?" bisik Ammar, ia memejamkan mata dan menempelkan pucuk hidungnya pada hidung Nara.


Nara mengangguk, "Aku ingin menjadi istrimu lagi Ammar. Jadilah suamiku, sekarang, esok, dan seribu tahun yang akan datang."


"I Love you sayang...."


Ammar mencIum bibir Nara dengan lembut. Nara pun membalasnya, ia membalas dengan penuh rasa cinta. Kehangatan yang selama ini ia rindukan, akhirnya kembali menyelimuti raganya.


"Pak, Daneen menangis....." Pengasuh Daneen langsung berbalik saat menyadari majikannya tengah bercumbu mesra.


Menyadari itu, Nara langsung menepuk bahu Ammar untuk berhenti. Namun Ammar malah terhanyut dan tak menghiraukan itu.

__ADS_1


"Ammar, siapa dia?" tanya Nara, wajah yang barusan menggebu akan cinta, seketika berubah menjadi cemburu.


Ammar tersenyum melihat ekpresi Nara, lucu sekali. Baru kali ini ia melihat wajah Nara sangat kesal seperti itu.


"Dia yang menjaga anak kita."


"Kenapa Kau memilih seorang wanita muda? Kau pasti bersenang senang selama ini kan?" sungut Nara dengan bibir manyun. Baru saja ia merasakan di buai cinta, eh malah di buat sewot.


"Tidak sayang.., sungguh. Dia hanya menjaga Daneen selama Aku bekerja." ucap Ammar tersenyum kecil, ia memegangi bahu Nara untuk melihat wajah wanita yang tengah cemburu itu.


"Masuklah, Daneen sangat merindukanmu."


Ammar menggandeng Nara ke dalam, lalu ia berhenti saat di depan si pengasuh.


"Mulai besok Kau berhenti bekerja. Aku akan memberimu bayaran empat kali lipat sebagai pesangon."


"t..tapi Pak.."


"Tidak ada tapi, istriku yang akan menjaga Daneen mulai sekarang."


Pengasuh itu menatap kesal ke arah Nara, wanita macam apa dia? datang tiba-tiba dan menghancurkan rencananya untuk memikat Ammar. Jika dia berniat kembali kenapa kemarin meninggalkan Ammar.


Sementara Nara menaikkan dagunya ke arah wanita itu. Ya, ia tengah menyombongkan diri bahwa Pria yang ada di sebelah nya itu adalah miliknya.


"Dimana anak kita Ammar?" tanya Nara. Tiba-tiba suara tangis Daneen terdengar dari dalam kamar. Ia seperti tau bahwa mamanya ada di sana.


Nara langsung melepaskan tangan Ammar, dan berlari ke arah kamar yang pintunya memang terbuka.


"Sayang... anak ibu, ya ampun.. ini ibu sayang," ia menggendong anaknya itu sambil menangis haru. Anak yang dulu ia kecam sejak di dalam kandungan. Sejak lahir ia bahkan belum pernah menggendongnya.


Tangis Daneen terhenti, bibirnya mencari susu ke arah samping, tangan mungilnya bergoyang menepuk dada Nara dengan halus.


"uuhh, sayang, kamu haus ya nak? Ayo kita minum sayang." tanpa ragu Nara membuka bajunya di hadapan Ammar. Membuat Ammar ikut merasa haus.


Daneen langsung menghisap ASI sang ibu untuk pertama kalinya setelah tiga bulan. Beruntung Nara selalu memompa ASI nya selama ini, walaupun ia sempat mengalami bengkak p4yudara beberapa kali.


Ammar duduk di samping Nara sambil meneguk ludah. Nara tak sadar bahwa tindakannnya itu meresahkan Ammar. Insting keibuannya reflek saja tadi karena melihat Daneen sangat kehausan.


"Nara, Aku..."


Begitu sadar, Nara langsung membelakangi Ammar. "Maaf, aku tidak bermaksud.."


"Kenapa kau berbalik hm..?" Ammar menarik bahu Nara agar menghadap lagi ke arahnya.


"Ammar, jangan menganggu. Aku baru belajar memberikan ASI untuk Daneen."


"Aku juga mau..." bisik Ammar, ia memeluk pinggang Nara dari belakang. Lalu menciumi tengkuknya.


"akhh.. Aku jadi punya saingan sekarang. Daneen, cepatlah besar, Papa belum puas bermain dengan Mama mu. eh, Kau menyebut dirimu Ibu tadi? Jadi mau manggil apa? Papa Mama? Atau Papa Ibu?"


"Aku lebih suka di panggil ibu, kalau Kau mau di panggil Papa tidak apa-apa. biar unik hahahah.." Nara menyandarkan kepalanya di dada Ammar.


"Haruskah Daneen segera punya adik? Agar dia punya teman bermain."


"Ammar? Luka ku bahkan belum sembuh sepenuhnya. Kau ini,.."


"Benarkah... Kalau hanya setor harian sudah bisa kan?"


"Belum, minimal dua tahun baru bisa." sahut Nara berbohong.


"Kau pikir aku tidak tau hmm?" Ammar menggigit kecil tengkuk Nara sambil mengeratkan pekulannya.


"Dia sangat mirip dengan mu kan?" bisik Ammar.


"mm.. tapi hidungnya persis seperti mu." Nara meraba hidung Daneen dengan ujung telunjuknya.


"I Love you Nara... terimakasih telah mengubah hidupku." bisiknya sambil merebahkan dagu di bahu Nara.


"I Love you..." balas Nara, mereka pun sama-sama memejamkan mata, di ikuti oleh Daneen yang kemudian ikut terpejam setelah kenyang dengan ASI nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih buat para bebeb tersayang yang mengikuti cerita ini dari awal sampai selesai 😘😘😘

__ADS_1


Jangan unfav, agar kalau otor buat judul baru, kalian bisa dapet notifikasinya. Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk kalian semua yang setia mengikuti cerita ini.


See you next time...❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2