Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 11


__ADS_3

"Gue gak setuju Ces ," ucap Nindy di saat Inces mengutarakan niatnya mau bekerja di Perusahaan besar itu sebagai OG.


"Ndy please...ini demi kebaikan gue, gue harus ngelakuin ini agar gue tau kebenarannya," ujar Inces


"Tapi Ces, lo itu lagi hamil, lo gak boleh terlalu lelah, itu bisa membuat kandungan lo bermasalah," ujar Nindy khawatir dengan keadaan Inces


"Gue kuat kok Ndy, lagian di sana kan ada Ayahnya," ujar Inces


"Apa..., Jadi lo mau kerja di sana karena Ayah anak lo kerja di sana juga," tanya Nindy gak percaya, Inces mengangguk.


Seandainya lo tau kalau dia yang punya Perusahaan itu lo pasti lebih kaget lagi Ndy,,Batin Inces


"Sudah beberapa hari gue rasanya ingin dekat-dekat sama Ayah si cabang bayi, gue gak bisa menahan perasaan ini Ndy," ujar Inces meneteskan air matanya, Nindy segera merengkuh Inces kedalam pelukannya


"Ya sudah..tapi lo harus Janji lo jangan terlalu lelah ya," ujar Nindy akhirnya dia mengalah juga dengan kemauan sahabatnya itu.


"Lo tenang saja Ndy, gue akan menjaga kandungan gue kok," ucap Inces kembali tersenyum, Nindy jadi bingung terhadap tingkah sahabatnya itu, sesaat dia menangis tapi saat itu juga dia bisa tersenyum seperti itu.


Dengan penuh semangat Inces turun dari taksinya, penampilannya sekarang berubah drastis, dia memakai kacamata dengan rambut di ikat dua dan tompel di pipi kanannya. Di saat dia menyeberang jalan dia tak melihat kalau ada mobil yang berbelok juga ke Perusahaan itu.


Aaaaaa...


Mobil itu berhenti tepat di depan Inces sehingga inces kaget dan terduduk di jalan itu. Pintu mobil itu terbuka, dari dalam mobil turun seorang pemuda tampan dan menawan berjalan ke arahnya.


"Hei...kamu gak apa-apa," tanya Ferdi


Loh ini kan cowok yang beli rujak satu juta dari gue waktu itu, ternyata dia kerja di sini juga,, Batin Inces


"Aduh...kaki aku," Ringis Inces memulai Aktingnya


"Mana sakitnya ?" taya Ferdi


"Kaki ku pak...sepertinya kakiku keseleo deh pak," ujar Inces


"Kamu mau saya bawa ke rumah sakit ?"


Inces mengelengkan kepalanya sambil mengurut-ngurut kakinya


" Kamu mau kemana biar saya antar," ujar Ferdi


"Huaa..." tangis Inces pecah


"Loh kok malah nangis sih ?" tanya Ferdi binggung


"Saya rencananya mau ngelamar kerja di Perusahaan ini sebagai OG pak, tapi bapak hampir saja menabrak saya," ucap Inces sambil menangis

__ADS_1


"Maafkan saya, saya gak melihat tadi kalau kamu sedang menyeberang," ucap Ferdi merasa bersalah


Mmm bagus deh kalau dia merasa bersalah, gue akan mamfaatin rasa bersalahnya itu,, Batin Inces


"Saya gak butuh permintaan maaf bapak kalau begini kan saya gak akan bisa dapat kerja di sana, padahal saya sangat ingin bekerja di sana pak, walaupun hanya sebagai OG huaaa..," ujar Inces masih berakting nangis


"Sudah dong nangisnya, orang-orang pada liatin kita tuh, saya gak mau mereka menyangka kalau saya ngapa-ngapain kamu," ujar Ferdi ketika melihat orang-orang yang lewat melihat ke arah mereka.


"Huaaa..."


"Ya sudah, saya janji akan bantu kamu mendapatkan pekerjaan itu," ucap Ferdi


"Serius," Seketika tangis Inces terhenti, Ferdi makin binggung di buatnya


"Kalau begitu ayo," Inces bangun lalu berjalan menuju pintu masuk, Ferdi melongo melihat Inces yang sudah segar bugar tidak seperti tadi lagi.


" Heh Lo nipu gue ya," Teriak Ferdi, Langkah Inces terhenti mendengar ucapan Ferdi, dia kemudian berbalik dan kembali melangkah ke arah Ferdi


"Janji yang sudah di ucapkan tidak boleh di ingkari, Yach kalau kamu merasa bukan lelaki sejati sih boleh mengingkarinya,atau jangan-jangan kamu bukan lelaki sejati ya," ucap Inces melihat ke arah bawah pinggang Ferdi sambil tersenyum


Ferdi bergidik karena ulah Inces itu, dia akhirnya masuk kembali ke dalam mobilnya lalu memarkirkannya di parkiran khusus Direksi.


Saat Inces hendak masuk ke gedung itu security yang berjaga di depan pintu menghadangnya.


"Ya mau masuk lah pak," ujar Inces


"Mau apa kamu masuk, sepertinya kamu salah tempat, di sini gak menerima gembel seperti kamu," ujar Security itu sambil tertawa


"Bapak tau gak saya ke sini sama siapa ?" tanya Inces, security itu mengernyitkan keningnya


"Bapak lihat pria yang sedang berjalan menuju ke mari itu, saya datang bersamanya ," ucap Inces menunjuk ke arah Ferdi


"Ha..ha..mana mungkin Pak Ferdi bawa-bawa manekin seperti kamu," ujar Security itu gak percaya


"Kalau bapak gak percaya lihat nih ya," ujar inces sambil melambaikan tangannya ke arah Ferdi, Ferdi pun reflek membalas lambaiannya.


"Tu lihat kan," ujar Inces, Security itu di buat melongo karenanya.


"Gimana pak, apa saya boleh masuk ?" tanya Inces


"Silahkan neng," ucap Security itu gemetar.


"Nah gitu dong dari tadi," ujar Inces segera masuk ke dalam gedung itu.


"Pagi pak Ferdi, mbaknya sudah masuk dari tadi loh pak," ujar security itu, Ferdi mengernyitkan keningnya, dia merasa heran dengan ucapan security itu namun dia terus melangkahkan kakinya memasuki gedung itu.

__ADS_1


Ferdi segera menuju ke Ruangannya tapi ketika dia melewati ruangan Arvan sebuah teriakan mengagetkannya.


"Aaaaa...siapa lo ?"


Gubrak...


Ferdi membuka pintu ruangan Arvan dengan kasar karena terburu-buru.


"Ar lo kenapa ?" tanya Ferdi yang kaget mendengar teriakan Arvan


"Siapa yang mengizinkan monster itu masuk ke sini hah," ujar Arvan sambil menunjuk ke arah Sofa, Ferdi kaget melihat gadis yang di temuinya tadi dengan santainya duduk di sofa dalam ruangan itu.


"Lo lagi...ngapain lo di sini ?" ucap Ferdi berjalan menuju ke arah Inces


"Sembunyi ," ujar Inces


"Emangnya lo main petak umpet apa, kenapa sembunyi di sini sih," ujar Ferdi


"Lo kenal sama dia Fer ?" tanya Arvan


"Enggak...Iya..," jawab Ferdi dan Inces barengan, Arvan mengernyitkan keningnya


"Lo tau gak ini adalah ruangan Bos, ayo keluar dari sini," Bisik Ferdi menarik tangan Inces


"Wah kebetulan dong, pak saya mau melamar kerja di sini," Inces menepis tangan Ferdi lalu menuju ke arah Arvan


"Jauh..jauh lo dari gue, Ferdi...lo usir dia dari Perusahaan ini, gue gak mau tau gue gak mau lihat wajah dia lagi di sini," ujar Arvan saat Inces mendekat ke arahnya.


"Huaa..." tangis Inces pecah, entah mengapa kali ini Inces menangisnya beneran, kata-kata Arvan itu sangat menyakiti hatinya.


"Pak..maafkan saya, saya hanya gadis miskin yang mencari pekerjaan demi menghidupi keluarga saya pak, saya gak tau lagi harus kemana, saya pernah melihat bapak Di TV, bapak itu orangnya sangat baik, jadi saya memberanikan diri untuk ke sini pak," ucap Inces


Tak tau mengapa hati Arvan tersentuh dengan ucapan Inces itu, dia meraih tubuh mungil itu lalu mendudukkannya di Sofa.


"Sudah kamu jangan menangis lagi ya, ayo duduk dulu," ucap Arvan melembut ,dia masih menatap lekat ke arah wajah Inces , Arvan seakan merasa begitu Familiar dengan wajah itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like...


Coment...


Vote...


Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2