
"Mana banjirnya..mana banjirnya mbak ?" tanya Supir taksi itu masih belum sepenuhnya sadar,Semua pelanggan menatap ke arahnya sambil tertawa
"Gak ada banjir pak, habisnya bapak saya bangunin gak bangun-bangun sih, ya saya kerjain saja ha..ha..,"
"Mbak ini bikin jantung saya mau copot aja, gimana sudah dapat uangnya ?" tanya pak Supir itu
"Tenang pak, semuanya beres kalau sama Inces mah," ujarnnya pede
"Mana ?, saya mau pulang nih, sudah sore," ujar Supir Taksi itu, Inces memberikan uang seratus ribuan delapan lembar ke tangan Supir taksi itu, Supir taksi itu sampai ternganga, dia awalnya mengira Inces tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu hanya dalam setengah hari saja.
"Kenapa benggong pak, kurang ya," ujar Inces lalu memberikan lagi tiga lembar seratus ribuan ke tangan Supir taksi itu
"Mbak dari mana mbak bisa dapat uang sebanyak ini hanya dalam setengah hari saja ?" tanya Supir taksi itu heran.
"Saya ngerampok Bank..." ujarnya cuek
"Apa...?
"Ya kali pak saya ngerampok Bank, ya narik lah Pak, gak lihat nih saya sudah bau acem gini," ujar Inces, Supir taksi itu mengelus-ngelus dadanya yang tadi sempat Shock mendengar ucapan Inces itu.
"Ya sudah pak, mana tas saya, saya mau cari tempat menginap, dulu" ujar Inces, supir taksi itu memberikan tas beserta ponselnya Inces ke tangannya lalu pergi dari sana.
Sedangkan Inces duduk sebentar di Cafe tersebut, karena perutnya sudah lapar akhirnya dia memesan makanan buat dia makan.
"Gara-gara preman tadi gue capek banget, jadi laper kan," ujarnya lalu mengecek Ponselnya dan betapa kagetnya dia saat dia melihat banyak pangilan masuk dari Nindy sahabatnya.
Dia kemudian menelpon balik Nindy untuk menanyakan ada perlu apa dia menelponnya.
Drrrt...drrttt
"Ya ampun Ces..gue telponin lo sampai gue bertanduk gak lo angkat-angkat, kemana aja sih Lo ?"Teriak Nindy sampai Inces menjauhkan Ponselnya dari telinganya.
"Bisa gak sih lo gak teriak-teriak gitu, gue gak budek kali," ujar Inces
"Gue tau lo gak budek Inces sayang, tapi gue khawatir sama lo, tadi gue kerumah lo tapi mak lampir itu bilang lo sudah di usir dari rumah sama Bokap lo, apa itu benar Ces ?"
"Lo ngomong udah kayak jalan tol aja Ndy, mulus bener, lagian lo kenapa cepat pulang dari honey moon lo, bukannya lo seharusnya seminggu lagi di sana ya ?"
"Lo jawab gue Ces, jangan mengalihkan pembicaraan," Inces hanya diam saja
__ADS_1
"Gue tau lo dalam masalah, Perasaan gue sudah gak enak dari tadi pagi, dan gue pun lagi dapet, gue berpikir percuma gue lama-lama di London, jadi gue putusin buat pulang aja ke sini," ujar nya
"Lo dimana sekarang," ujar Nindy
"Gue lagi di Cafe X ," jawabnya lemah
"Lo tunggu di sana, gue jemput lo sekarang," ujar Nindy lalu memutuskan sambungan telponnya.
Tak lama makanannya pun datang, Inces segera melahap makanan itu dengan cepat lalu kembali memesannya lagi sampai pelayan itu di buat melongo melihatnya.
Inces sudah menghabiskan lima piring makanannya itu, dia menepuk-nepuk perutnya tanda dia sudah kenyang.
Tak lama kemudian Nindy datang bersama suaminya dan kaget melihat di depan Inces ada lima piring kosong tergeletak di sana.
"Ces..lo yang ngehabisin semua ini ?"tanya Nindy
"Menurut lo ?"
"Gila lo Ces, sejak kapan nafsu makan lo meningkat, gue gak pernah lihat lo maruk kek Gini," ujar Nindy tak percaya
"Sudah jangan bawel, lo bayar sana," ujar Inces
"Lo pelit amat sih Ndy, kan laki lo orang kaya masak makanan segini saja lo gak sanggup bayar sih,"
"Gak apa-apa kok sayang, biar aku bayarin aja makanannya," ujar Tristan Suaminya Nindy
"Makasih ya Tristan sayang, lo memang baik deh gak seperti istri lo itu ..peliiit..," melirik ke arah Nindy,Tristan tersenyum sedangkan Nindy memelototkan matanya ke arah Inces.
"Wleeekkk," Inces memeletkan lidahnya ke arah Nindy, tapi kemudian dia memegang perutnya.
Uweek...uweeek...
Inces segera berlari menuju ke toilet Cafe tersebut Di ikuti oleh Nindy. Inces memuntahkan semua isi perutnya sedangkan Nindy mengelus-ngelus punggung Inces.
"Ces lo kenapa ?" Inces masih saja memuntahkan isi perutnya ke dalam Closet di toilet itu sehingga membuat tubuhnya lemah,Nindy segera memanggil Tristan untuk mengangkat Inces lalu membawanya ke rumah sakit.
Sementara Di kamarnya perut Arvan kembali bergejolak, dia memuntahkan semua isi perutnya sehingga para pelayan di sana mendengarnya lalu segera menghubungi Dante Dokter pribadi tuannya itu.
Tak lama kemudian Dante sudah sampai di Mansion Arvan, Dia bergegas memasuki kamarnya Arvan dan memberikan kepadanya obat pereda mual yang sempat di bawanya tadi.
__ADS_1
"Gak ada cara lain Ar, lo harus segera menemukan gadis itu, gue kasian sama lo sampai lemah kek gini, biasanya gejala itu akan hilang kalau lo dekat-dekat dengan Ibu yang mengandung bayi lo itu," ujar Dante
Ponsel Arvan bergetar tanda ada yang menelpon, Arvan melihat kalau Ferdi yang menelponnya kemudian langsung mengangkatnya.
"Hallo Fer, ada apa ? tanya Arvan lemah, Ferdi mengerutkan keningnya
"Ar..lo kenapa ?Lo muntah lagi ?" tanya Ferdi
"Iya...ada apa lo nelpon gue ?" tanya Arvan
"Gue sudah menemukannya Van, namanya Princes Prayoga, dia mahasiswi di Universitas X ," ujar Ferdi
"Segera jemput dia dan bawa kemari, gue akan segera menikahinya," ujar Arvan
"Tapi Ar .." Ferdi tidak melanjutkan ucapannya, dia takut kalau Arvan akan ngamuk.
"Tapi kenapa Fer ?"tanya Arvan makin penasaran
"Gue sudah ke rumahnya, dan kata tetangganya dia sudah di usir oleh orang tuanya," ucap Ferdi
"Apa....!
"Berani sekali mereka melakukan itu kepada ibu dari anakku, Lo Urus mereka dan gue gak mau tau siapapun yang bertindak kejam sama gadis itu lo harus bikin mereka menderita," ucap Arvan meninggi
"Baik Ar , mungkin hanya satu lagi kesempatan kita untuk menemukannya, besok gue akan ke Kampusnya, semoga dia ada di sana," ucap Ferdi memutuakan sambungan telponnya.
"Semoga Ferdi cepat menemukannya," guman Arvan meneteskan air matanya. Dante sangat kaget melihat air mata Arvan menetes di pipinya, dia tidak pernah melihat Arvan menangis walaupun di saat orang tuanya tiada,tapi saat ini dia menangis hanya demi seorang gadis.
Mmm mungkin ini efek kehamilan simpatik itu sehingga membuat Arvan perasaannya naik turun,, Batin Dante
"Ar..kalau begitu gue pergi dulu, masih banyak pasien di rumah sakit yang menunggu gue," ujar Dante, Arvan hanya memberi kode saja kepada Dante agar pergi dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like ya...
Coment juga..
Vote..Makasih🙏🙏🙏
__ADS_1