Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 24


__ADS_3

"Oh ya Pak Ferdi, nanti kalau ada Toko kue tolong berhenti ya," ujar Inces


"Mau ngapain ?"


"Mau boker..ya mau beli kue lah, Aneh deh pertanyaannya ," ucap Inces yang membuat Ferdi tertawa


"Lo kalau di lihat-lihat lucu juga ya Sun,"


"Baru tau, awas loh lo jangan sampai jatuh cinta sama gue, gue sudah ada yang punya,"


"Ish pede gila lo, mau di sambar geledek pun gue gak bakalan suka sama cewek model lo," ujar Ferdi


"Gue juga tau, emang lo aja ,"


Tiba-tiba Ferdi menghentikan mobilnnya.


"Loh kenapa berhenti ?" tanya Inces


"Katanya mau beli kue, tuh toko kuenya ,"


"Eh iya, Gue lupa he..he..," Inces kemudian turun dari mobil dan masuk ke sana, tak lama kemudian Inces keluar dari sana dengan membawa Box berisi kue dan kembali ke mobilnya Ferdi.


"Beli apa lo ?


"Ya beli kue lah, masih aja nanya,"


"Maksud gue kue buat apa, kan gak ada yang ulang tahun ,"


"Hari ini ulang tahun kucing gue, emangnya mesti ada yang ulang tahun ya beli kue ginian aja, ini kue buat pak Bos tau," ujar Inces


"Yakin lo pak Bos mau makan Ginian,"


"Jangan panggil nama gue Sun kalau sampai pak Bos gak mau makan kue ini,"


"Lebay lo,"


"Biarin.."


Ferdi dan Inces selalu terlihat gak pernah akur, ada saja yang di perdebatkan oleh mereka berdua.


Tak terasa saking asiknya berdebat dengan Ferdi Inces tak sadar kalau Mobil Ferdi sudah berhenti di parkiran Kantor Arkana Corp.


"Ayo turun .."


"Eh sudah sampai ya, Bukain dong pintunya ,"


"Ogah..bukain saja sendiri," ujar Ferdi..


"Pak Ferdi..bukain dong, gue gak bisa buka nih, kan tangan gue lagi pegang kue," ujar Inces


Ferdi masih saja tak mengubrisnya, dia terus saja berjalan.

__ADS_1


"Kalau dia gak mau buka pintunya gue gak akan turun, biarin saja dia kena marah sama pak Bos karena gak berhasil bawa gue ke sana," ucapnya


"Gue hitung sampai tiga pasti dia kembali berbalik Satu...dua..ti.." Belum sampai tiga hitungan Ferdi sudah berbalik dengan wajah kesalnya dan berjalan kembali menuju mobil itu.


"Yeay..bener kan apa kata gue ," ujar Inces, Ferdi membukakan pintu mobil buat Inces


"Sudah, seneng lo sekarang ?" ucap Ferdi kesal


"Seneng banget, kapan lagi gue di perlakukan seperti ini sama asistennya Bos, gue jadi berasa kayak Bos juga," ujar Inces sambil tertawa.


"Kalau gue gak ingat sama Si Arvan , gak mungkin gue sampai ngelakuin ini sama dia ," guman Ferdi makin kesal dengan tingkah menyebalkan Inces.


Inces tidak memperdulikan kekesalan Ferdi, dia terus melangkah menuju ke Ruangan Arvan.


Tok..tok..


Inces mengetuk pintu ruangan Arvan, saat pintu itu terbuka Terlihat pemuda yang tampan dengan seragam putihnya yang tak lain adalah Dante berdiri di depan pintu itu tersenyum ke arahnya.


Kenapa ada Dokter di sini, apa pak Bos sakitnya sangat parah ya sehingga harus memanggil Dokter ke sini,, Batin Inces


"Maaf Dokter..apa saya boleh masuk ?" tanya Inces


"Kamu yang namanya Sun ya ?"


"Iya.., Dokter apa pak Bos sakitnya parah ya ?" tanya Inces


"Sepertinya sih gitu ?" Kawab Dante


"Loh kok sepertinya sih Dok ?" tanya Inces binggung


Apa gue sangat jahat ya, kenapa juga gue gak jujur saja sama dia, kasihan dia jadi seperti ini karena merindukan gue,, Batin Inces


"Maaf Dokter, apa saya boleh menemuinya ?" tanya Inces


"Iya silahkan, karena kamu sudah di sini, saya permisi Dulu, kamu masuk saja ke sana ," ujar Dante sambil menunjuk ke arah sebuah pintu yang terbuka. Dia kemudian mengambil peralatan kerjanya dan pergi dari sana.


Inces perlahan melangkah menuju ke sebuah Ruangan yang tak lain adalah kamar Arvan.


"Loh kok ada kamar ya di sini, perasaan gue gak pernah melihat kamar ini sebelumnya ," ujar Inces


"Permisi pak Bos saya boleh masuk kan ?" tanya Inces, tak ada jawaban dari dalam sana. Inces tetap memberanikan diri untuk masuk ke sana.


Saat dia sudah berada di dalam kamar itu dia kaget karena Arvan langsung memeluknya dari belakang.


"Eh pak Bos, ngapain meluk-meluk saya," ucap Inces kaget sambil berontak


"Biarkan seperti ini sebentar Sun," ucap Arvan masih memeluk Inces dari belakang, Inces pun tidak berontak lagi, dia diam mematung.


Tiba-tiba Inces merasakan bahu kirinya basah, dia masih mematung.


Kenapa bahu gue basah ya, apa pak Bos menangis,, Batin Inces

__ADS_1


Arvan mulai melepaskan pelukannya, dia kemudian berjalan menuju ke Ranjangnya.


"Maaf.." satu kata terucap dari bibirnya


"Gak apa-apa pak Bos, oh ya..saya bawa kue buat pak Bos loh ," ucap Inces lalu berjalan menuju ke arah Arvan dengan senyumnya.


"Mana kuenya," ucap Arvan beesemangat, dia memang sudah sangat lapar.


"Ini pak Bos, sebentar ya saya ambil piringnya dulu," ujar Inces


"Gak usah Sun, sini biar saya makan kuenya," ujar Arvan lalu segera mengambil kue itu dan memakannya, Inces tersenyum.


Sepertinya selera kita sama Arvan, tadi aku kepingin makan kue itu dan ternyata kamu juga menginginkannya, apa ini karena kamu sayang,, Batin Inces sambil mengusap-ngusap perut ratanya.


Inces merasakan kepalanya sangat pusing, dan tiba-tiba Tubuhnya seperti melayang dan akhirnya tak sadarkan Diri.


Arvan sekilas melihat Inces memegang kepalanya dengan Sigap Arvan menangkap Inces yang hampir saja terjatuh ke lantai. Arvan membaringkan Inces ke atas ranjangnya kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Dante.


Dante yang baru saja sampai ke parkiran perusahaan segera mengangkatnya.


"Hallo Ar, ada apa lagi ?


"Lo dimana ?" tanya Arvan panik


"Gue masih di Parkiran kantor lo," ujar Dante sambil menaruh peralatannya di mobil


"Cepat balik ke ruangan gue, Sun Pingsan ," ucap Arvan lalu mematikan telponnya.


Dante bergegas mengambil kembali peralatan medisnya itu lalu segera kembali ke ruangan Arvan


Dante langsung memeriksa keadaan Inces, saat Dante memeriksanya terlihat wajah Dante seperti kaget.


"Gimana dia Dan ?" tanya Arvan


"Dia baik- baik saja kok Ar tapi.." ucapan Dante mengantung


"Tapi Apa Dan ?" tanya Arvan penasaran


"Gue gak bisa mastiin apa diagnosa gue benar atau salah," ujar Dante


"Maksud lo apa sih Dan, lo jangan ngomong berbelit-belit gitu, jangan bikin gue penasaran ," ujar Arvan


"Sebaiknya kita keluar dulu," ajak Dante, mereka pun keluar dari kamar itu


"Ayo cepat katakan Dan, apa penyakit yang di derita Sun ?"


"Sudah gue bilang kalau dia gak sakit Ar ,"


"Terus dia kenapa Sebenarnya ?


"Dia itu hamil ,"

__ADS_1


"Apa...!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2