
"Sudah kamu jangan menangis lagi ya, ayo duduk dulu ," ujar Arvan melembut, Dia masih menatap lekat ke arah wajah Inces , Arvan seakan merasa begitu Familiar dengan wajah itu tapi dia lupa di mana pernah melihatnya, Inces memalingkan wajahnya, dia tidak sanggup menatap mata Arvan, ingin rasanya dia memeluk pria di hadapannya itu.
"Ar..lo jangan mudah percaya sama dia, gue aja tadi di bohongin sama dia," ujar Ferdi
"Pak Ferdi ini gimana, tadi pak Ferdi janji kalau pak Ferdi akan membantu saya buat kerja di sini tapi pak Ferdi malah giniin saya hu..hu.." ujar Inces
"Benar Fer ?" tanya Arvan
"Tapi Ar, dia duluan nipu gue makanya gue janji begitu," ujar Ferdi
"Tuh kan pak Ferdi tega deh sama saya," ujar Inces masih terisak.
"Fer lo ambilkan minuman buat dia," suruh Arvan
"Tapi Ar..." Arvan mengode agar Ferdi keluar dari ruangan itu.
"Saya sepertinya mengenal kamu, tapi dimana ya saya pernah melihat kamu ?" ucap Arvan
Mati gue..apa dia mengenali gue ya, Gue sudah merubah penampilan sejelek mungkin gini, masak sih dia masih mengenali gue juga, Batin Inces
"Mungkin mirip kali pak," ujar Inces membenarkan kacamatanya.
"Iya..mungkin mirip kali ya," ujar Arvan
"Oh ya tadi kamu bilang mau melamar kerja di sini, emangnya kamu bisa apa," tanya Arvan
"Saya bisa segalanya pak, bisa ngepel, nyapu pokonya semua yang berhubungan dengan bersih-bersih saya bisa pak, oh ya satu lagi saya juga bisa masak," jelas inceas panjang lebar yang membuat Arvan tersenyum
"Jadi maksud kamu , kamu ke sini buat melamar jadi OG ?"
"Betul itu pak," ucap Inces semangat
"Tapi sepertinya tukang bersih- bersih di sini sudah banyak, gimana kalau kamu masak saja, kebetulan saya dalam beberapa hari ini gak doyan makan, coba kamu masakin buat saya satu jenis makanan, kalau masakan kamu saya suka, kamu saya terima jadi koki pribadi saya, gimana ?"
"Boleh pak, terus saya masak di mana ?
"Nanti Ferdi akan ngantar kamu ke pantry,"
"Oh ya pak, saya boleh minta sesuatu gak pak ?"
"Apa ?
__ADS_1
"Boleh gak saya tidur sebentar saja di sini pak, saya kalau mau masak itu harus dapat Wangsit dulu dari mimpi saya," ujar Inces asal, padahal dia sangat lelah dari tadi asik berlari karena di kejar-kejar security, sebelum dia masuk ke ruangan Arvan dia sempat membuat keributan di salah satu ruangan yang dia gak tau itu ruangan siapa.
"Memang harus seperti itu ya," tanya Arvan heran
"Iya pak, kalau bapak mau makanan saya sesuai selera bapak ya harus seperti itu," ujar Inces
"Oke Boleh ," Saat Arvan melihat ke arah gadis itu ternyata dia sudah tertidur pulas sehingga Arvan hanya bisa geleng-geleng kepala di buatnya.
"Dasar gadis aneh, kok bisa ya hari ini gue ketemu gadis seperti dia, tapi lumayan lah bisa jadi penghibur di saat gue suntuk," ujar Arvan sambil tersenyum melihat ke arah Inces
Ferdi masuk dengan membawa gelas berisi air putih di tangannya, dia kaget melihat Gadis culun itu sudah terlelap di sofa dalam ruangan itu.
"Loh kok dia tidur sih Ar ?" tanya Ferdi
"Jangan berisik lo, nanti dia gak dapat wangsit masakan buat gue, udah lo keluar sana," suruh Arvan
"Ini gimana ?" tanya Ferdi mengangkat gelas di tangannya
"Lo minum aja sendiri beres kan," ujar Arvan mengode agar Ferdi keluar dari sana
"Binggung gue, kenapa Arvan jadi aneh juga seperti cewek itu ya dan tumben dia ngijinin orang lain berada satu ruangan dengan dia, benar-benar aneh ," ucap Ferdi sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara Inces mulai bangun karena merasa lapar, dia ingin sekali memakan mie Instan yang sangat pedas.
"Eh..gue di mana yak ?" tanya Inces
"Kamu di kantor saya," ujar Arvan sambil bangkit lalu berjalan ke arah Inces
"Apa kamu sudah dapat wangsit masakan apa yang akan kamu masak buat makan siang saya ?" tanya Arvan, Inces gugup, dia baru menyadari kalau dia masih berada di kantor ayah calon Debay nya tersebut.
"Kebetulan saya sudah sangat lapar nih, ayo cepat kamu masakin buat saya ," suruh Arvan
"Ferdi lo keruangan gue sekarang," Arvan melakukan pangilan intercom sama Ferdi
Tak lama kemudian Ferdi sudah berada di sana, Dia binggung melihat Arvan malah ngobrol sama gadis culun itu
"Ada apa Ar ?" tanya Ferdi
"Fer..lo antar Dia , siapa nama kamu ?
"Saya Putri Sunny Arvanista Alferdiano sudrajat pak , tapi teman-teman saya biasa memanggil saya Sun," ujar Inces ngasal
__ADS_1
"Wiihh panjang bener namanya, aneh lagi," ujar Ferdi
"Itu dia masalahnya pak, karena nama saya aneh kehidupan saya ikutan jadi aneh juga," ujar inces sambil cengengesan
"Tapi gue suka nama panggilan lo, Sun..bukankah itu artinya cium ya," ujar Ferdi
"Ha..ha..pak Ferdi ini bisa aja bercandanya, Sun itu kalau dalam bahasa inggris itu artinya matahari, jadi saya ingin menjadi seperti matahari yang menyinari kehidupan orang lain walaupun dia sendiri terbakar," ujar Inces
Deg...
Dada Arvan bergemuruh ketika mendengar ucapan inces tersebut
Sepertinya gadis ini menyindir gue deh, tapi apa iya ya, mungkin perasaan gue kali ya,, Batin Arvan
"Sudah ngobrolnya, Fer lo ajak Dia ke Pantry buat masakin gue makanan," ujar Arvan
"Serius lo Ar ?, gue udah ajak lo ke bermacam Restorant tapi lo gak doyan, apa masakan dia akan menjadi selera lo ?"
"Kita lihat saja nanti, tapi kalau masakan dia gak sesuai selera gue, lo pastiin dia gak berada di sini lagi," ujar Arvan melirik ke arah Inces, Inces hanya tersenyum
Gue akan berusaha walaupun dia gak suka masakan gue yang penting gue sudah menghabiskan waktu gue sehari bersamanya dan gue sedikit tau ternyata dia gak sejahat yang gue kira,, batin Inces
Ferdi mengantarkan Inces ke pantry, di dalam ruangan itu ada seorang pria muda kira-kira umurnya di bawah inces sedang makan siang di meja makan yang ada di sana.
"Ini pantrynya dan soal bahan masakannya bisa lo tanyain sama Udin," ujar Ferdi kemudian pergi dari sana, Inces menghampiri Udin.
"Hai..kenalin nama saya Sun, kamu udin ya," ujar Inces sambil menyodorkan tangannya ke arah Udin, Udin menyambut tangan Inces dengan senang.
"Mbak siapa, apa mbak OG baru di sini ?" tanya Udin
"Iya lebih tepatnya sih calon OG baru," ujar Inces
"Maksudnya ..?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like...
Coment...
Vote...
__ADS_1
Makasih🙏🙏🙏