Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 50


__ADS_3

" Bilang apa lo Fer ? " Ujar Arvan yang kembali Lagi karena ketinggalan sesuatu di kamar Inces.


"Gak kok Ar..lo salah dengar tadi,"


"Gue belum budeg ya, sepertinya gue akan kabulin keinginan lo itu," ucap Arvan


"Jangan Dong Ar, gue sangat suka kerja sama lo kok, gak seperti yang lo dengar tadi," ucap Ferdi


"Emang gue dengar apa ?" ucap Arvan lalu pergi dari sana sambil tertawa, Ferdi mengerutkan keningnya.


"Sialan Lo Ar, lo bikin gue jantungan saja, hampir saja gue nangis darah gara-gara ulah lo," ucap Ferdi


Sarapan sudah siap, Arvan mulai menyuapi Inces kerena Istrinya itu menginginkannya seperti itu.


"iih kak Inces kayak anak kecil deh harus di suapin," ucap Amaira


"Kamu mau juga Maira ," tanya Arvan


"Mau dong kak ganteng," ucap Maira


"Maira jangan genit-genit sama kak Arvan," ujar Inces


"Kenapa kak, toh kak Arvan bukan siapa-siapanya kak Inces kan,"


"Eh siapa bilang, kak Arvan itu suami kak inces tau," ucap Arvan


"Apa...yach gak jadi dong Maira punya cowok tampan kayak kak Arvan," ucap Maira kecewa


"Apaan sih Maira, masih kecil sudah mikirin cowok, kamu sekolah dulu yang bener, kalau sudah besar baru boleh," ucap Inces


"Maira kan gak sekolah kak," ucap Maira masih melanjutkan makannya


"Nanti di Jakarta kamu akan kakak sekolahkan biar kamu pintar," ujar Inces


"Beneran kak ?" tanya Maira dengan mata berbinarnya, Inces mengangguk.


"Yeay..Akhirnya Maira bisa sekolah lagi, makasih ya Kak...!" ucap Maira lalu memeluk Inces.


"Maira jangan kuat-kuat meluk kak Inces nya, nanti dedek di perut kak Inces gak bisa nafas," ujar Arvan


"Eh iya.. Maira lupa," ucap Maira lalu melepaskan pelukannya.


Setelah sarapan mereka duduk-duduk di teras sambil menunggu Jemputan Supirnya Arvan


Tak lama terlihat sebuah mobil mewah yang besar mengarah ke arah rumah Inces, para warga berbondong-bondong mengikuti mobil itu karena mereka belum pernah melihat mobil semewah itu masuk ke Kampung mereka.

__ADS_1


Mobil itu berhenti tepat di depan Rumah Inces, supirnya pun turun dari mobil itu.


"Maaf Pak Arvan, saya sedikit telat karena mulai dari gerbang kampung ini semua orang mengikuti mobil ini sehingga saya tidak bisa melajukan mobilnya cepat-cepat karena takut menabrak orang.


"Gak apa-apa pak, kami juga baru siap sarapan kok, bapak sudah sarapan ?" tanya Arvan


"Kebetulan tadi saya sudah sarapan Pak Arvan,"


"Ooo ya sudah, ayo kita berangkat sayang," ajak Arvan


"Waaah..kita naik mobil ini kak," tanya Maira


"Iya sayang, kamu suka ? " tanya Inces


"Suka banget kak, Maira belum pernah naik mobil bagus seperti ini, mimpi aja gak pernah kak," ucap Maira, Inces memeluk Maira lalu mencium pucuk kepalanya.


"Waaah ternyata Nak Bono ini orang kaya ya, mobilnya bagus banget," ucap Ibu-ibu tetangga mereka, Arvan hanya tersenyum mendengarnya


"Permisi bu, kami mau pulang dulu ya," ucap Arvan membukakan pintu buat istrinya dan juga buat Amaira.


"Beruntung sekali ya Nak Inces mendapat suami seperti nak Bono, udah orangnya tampan, kaya lagi," ucap Ibu-ibu itu


Sementara Maira sudah berada di dalam mobil itu, dia sangat senang naik mobil mewah itu.


"Loh Ar..gue gimana ?" tanya Ferdi


"Tuh " tunjuk Arvan ke arah sebuah motor yang terparkir di depan rumahnya.


"Lo serius ?" tanya Ferdi


"Atau lo mau jadi supir kita," ujar Arvan


"Gak deh, yang ada gue jadi obat nyamuk kalian, dan Maira jadi nyamuknya," ucap Ferdi


"Loh Om Ferdi kok bawa-bawa aku sih, kalau aku jadi nyamuknya Om Ferdi yang pertama kali yang aku gigit," ucap Maira kesal


"He..he..Bocah ini bisa marah juga ya..iiih serem..." ucap Ferdi masih menganggu Amaira.


"Udah Fer minggir sana kita mau jalan," suruh Arvan


"Iya..iya..bawel banget sih lo Ar, " ucap Ferdi


Pak Supir mulai melajukan mobilnya dan Ferdi pun menuju ke arah motor itu lalu juga pergi dari sana.


Inces sudah tertidur begitu juga dengan Amaira. Setelah menempuh 3 jam perjalanan akhirnya Mereka sampai juga di sebuah Mansion yang sangat besar di tepi pantai.

__ADS_1


Mobil sudah berhenti tepat di depan pintu Mansion tersebut. Arvan melihat ke arah istrinya dan tersenyum ketika melihat mulut Inces ternganga.


"Lucu sekali sih kamu sayang, kasihan kamu . Begitu berat semua yang kamu lalui tanpa aku di sisimu, mulai sekarang aku berjanji tidak akan membuatmu pergi lagi dariku dan akan selalu membahagiakan dirimu," ucap Arvan


Dia turun dari mobilnya kemudian dia mengendong Inces dan membawanya ke kamar mereka. Sedangkan Amaira di gendong oleh pak supir lalu di bawa ke kamar tamu.


Sesudah Arvan membaringkan Inces di atas King sidenya Arvan mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.


"Lakukan seperti apa yang saya perintahkan," suruh Arvan pada seseorang di seberang telponnya lalu memutuskan sambungan telponnya.


"Maafkan aku sayang, aku harus melakukan ini untuk membalasnya Semoga apa yang aku lakukan ini membuat Kayla jera," guman Arvan sambil membelai wajah Inces.


Karena merasakan belaian dari tangan Arvan, Inces jadi terbangun.


"Eh sudah sampai ya, kok kamu gak bangunin aku sih mas," ujar Inces


"Aku gak tega mengusik tidur kamu sayang, apalagi kamu tidurnya nyenyak banget," ucap Arvan


"Apa kamu yang membawa aku masuk mas ?" tanya Inces


"Iya dong siapa lagi, tapi aku mau upahnya," ujar Arvan


"Kamu kan punya banyak uang, kenapa kamu masih mau mendapat upah dari aku,"


"Aku gak mau uang sayang, tapi aku mau upah yang lain," ujar Arvan mulai menatap Inces lekat.


Inces tau apa maksud perkataan Arvan itu, tapi dia pura-pura tidak tau saja.


"Sayang.." panggil Arvan karena Inces tidak merespon ucapannya tadi.


"Iya Mas aku dengar kok," jawab Inces


"Jadi gimana ?"


"Aku sekarang sudah menjadi milikmu mas, kamu berhak atas semua yang ada di diriku ini, lakukan apa yang ingin kamu lakukan," ucap Inces malu-malu.


Karena mendapat lampu hijau dari Inces, Arvan segera membawa Inces kembali ke King Sidenya.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan sayang, kamu sudah siap ?" tanya Arvan, Inces mengangguk dan terjadilah pertempuran yang membuat Inces terbang di buatnya, terlihat senyum puas di bibir Arvan.


Setelah kegiatan itu berakhir, Arvan menoleh ke arah Inces dengan senyum manisnya.


"Ternyata setelah dua kali kita melakukannya dulu, aku masih kesusahan menekan kode pin nya sayang kamu begitu pandai merawatnya," ucap Arvan yang membuat wajah Inces merona.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2