
Jam sudah menunjukkan pukul 11:35 tapi Tidak ada tanda-tanda kalau Inces akan bangun.
"Aduuh gimana ini, kalau Mbak sun gak bangun-bangun juga bakalan kena marah nih sama pak Bos, gue gak ikut-ikutan deh, lebih baik gue pergi saja dari sini dari pada kena amukan pak Bos ," ucapnya kemudian pergi dari sana
Sementara di dalam ruangannya Arvan sudah sangat lapar, dia memegang perutnya sambil sesekali melihat ke arah pintu masuk.
"Kemana Sun ya, kok jam segini belum membawakan makanan buat gue," ucapnya
"Apa gue saja ya yang ke pantry ya , tapi gak deh, nanti malah gue di kirain suka lagi sama masakan dia, biar gue tunggu saja sebentar lagi," gumannya
Netranya terus melihat ke arah pintu tapi sudah lima belas menit dia menunggu Inces belum juga datang ke sana.
"Ini gak bisa di biarin, kalau gue terus menunggu bisa-bisa mati kelaparan gue di sini, gue susul saja dia ke Pantry," ucap Arvan lalu beranjak menuju pantry.
Sampai di sana dia melihat Inces sedang menaruh salad buah ke atas nampan yang sudah siap untuk di bawakan ke ruangannya.
Namun kedatangan Arvan mengagetkannya.
"Eh pak Bos, ngagetin aja sih, pak Bos ngapain ke Pantry, ini saya sudah siap mau nganterin makanan ini ke ruangan Pak Bos ," ujar Inces
Kok dia tau ya kalau gue lagi kepengen makan yang seger-seger, ada yang gak beres nih, apa dia bisa membaca pikiran gue ya,, Batin Arvan
"Gak usah di bawa keruangan saya, biar saya makan di sini saja," ujar Arvan kemudian mengambil sendok lalu memakan Salad buah itu
"Mmmm kamu pintar sekali masaknya ya, dari mana kamu belajar semua ini?" tanya Arvan
"Dari pengalaman hidup pak," Arvan mengerutkan keningnnya
"Bapak pasti binggung kan, saya itu pernah kerja di sebuah restoran sebagai pelayan, jadi saya sesekali melihat Chef-Chef di sana memasak jadi saya tiru saja cara memasak mereka ," Ujar Inces bohong
"Ini sih sudah seperti masakan seorang Chef profesional loh, kamu memang punya bakat dalam bidang ini, apa kamu gak berencana untuk membuka restorant sendiri Sun, sayang loh bakatmu ini kalau tidak di salurkan," tanya Arvan
"Ha..ha..ha..Pak bos ini bisa aja bercandanya, gimana saya mau buka retorant, buat makan sehari-hari saja saya harus kerja dulu, mana mungkin orang seperti saya bisa sukses seperti yang lain," ujar Inces
"Kamu jangan patah semangat Sun, saya yakin suatu saat kamu juga bisa sukses seperti yang lainnya," ujar Arvan
"Amiiiin...saya juga berharap begitu pak Bos," ujar Inces, Arvan kemudian melanjutkan makannya, terlihat Inces menelan salivanya ketika melihat Arvan menyuapkan salad itu ke dalam mulutnya.
Arvan tidak sengaja melihatnya, dia menghentikan makannya lalu menatap ke arah Inces.
"Kamu mau ?" tanya Arvan
__ADS_1
"Emang boleh ?"
"Kamu ambil piring sana, ayo kita makan bareng," ujar Arvan
"Pak bos bercanda saja deh, mana mungkin karyawan rendahan seperti saya makan satu meja dengan Bos nya, pak Bos becanda nih.." ucap Inces
"Sun saya gak bercanda loh, emang kamu ada melihat kalau tampang saya lagi bercanda," ujar Arvan
"Beneran nih pak Bos ?" Arvan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
Aduuuh ...senyumnya itu membuat aku ingin menerkamnya, gimana bisa aku berpikir kalau orang sebaik dia bisa tega ingin melenyapkan aku,, Batin Inces
"Sun...loh kok benggong, ayo cepat ambil piringnya ," suruh Arvan
"Iya Pak Bos ," Inces kemudian kembali ke dapur untuk mengambil piringnya, Arvan mengambilkan Salad buah itu lalu menaruh kepiring Inces.
"Pak Bos saya bisa sendiri," ujar Inces sambil mengambil sendok yang ada di tangan Arvan tapi tanpa sengaja tangan Inces menyentuh tangan Arvan.
Degg...
Jantung keduanya kembali berpacu sehingga Inces melepaskan tangan Arvan.
Suasana canggung menyelimuti keduanya, Sampai sebuah suara dari pintu mengagetkan mereka.
"Ar..lo lagi makan ya ?" tanya Ferdi yang berdiri di ambang pintu pantry itu
"Emang ada apa Fer ?
"Siang ini ada rapat dadakan, semua investor mengajukan Protes soal Hotel kita yang berada di Surabaya ,"ujar Ferdi
"Kapan mereka akan datang ?"
"Tepatnya sih sebentar lagi," ujar Ferdi
Arvan beranjak dari duduknya lalu membenarkan pakaiannya.
"Fer lo siapin segala sesuatu yang di butuhkan, dan kamu Sun, nanti tolong bawakan minuman buat semuanya ya ke Ruangan Meeting," suruh Arvan
"Baik pak Bos," ucap Inces, Arvan pun langsung menuju ruangannya.
Tak lama kemudian Ferdi datang dan memberitahukan kalau para Investor sudah menunggu Arvan di ruangan meeting, mereka pun akhirnya segera menuju ke sana.
__ADS_1
Inces yang hendak membawakan minuman buat mereka seketika menghetikan langkahnya tepat di depan pintu masuk ke sana, dia mendengarkan semua pembahasan mereka, saat Arvan sudah semakin terpojok barulah dia masuk ke sana membawakan minuman tersebut dan menyajikannya kepada semuanya.
Saat dia menaruh minuman ke depan bapak-bapak yang berkepala botak itu dia sengaja menyenggol minumannya sehingga menumpahkannya ke Jas yang di pakai bapak-bapak tersebut.
"Apa yang kamu lakukan hah...Kamu tau gak berapa harga jas saya ini ?," bentaknya
"Maaf pak, saya tidak sengaja, maafkan saya pak ," ujar Inces sambil memngelap-ngelap baju bapak-bapak itu dengan wajah memelas
Bapak-bapak itu menepis tangan Inces lalu beranjak dari sana.
"Maafkan dia pak Robert, dia memang sedikit ceroboh , nanti saya akan ganti Jas Anda" ujar Arvan
"Tidak usah pak Arvan, Pak Arvan fikirkan saja tawaran saya sekali lagi,saya akan menunggu jawaban anda, saya yakin anda akan mengambil keputusan yang bijak untuk menyelamatkan perusahaan Anda," ujar Robert
"Ayo semuanya kita pergi dari sini," ajak Robert yang masih membersihkan bekas minuman tadi.
Arvan terlihat menjambak rambutnya frustasi, dia terduduk di kursinya.
"Ar...gimana ini, Perusahaan kita terancam bangkrut. sepertinya lo harus fikirkan tawaran dari Pak Robert itu ," ujar Ferdi
"Gak mungkin Fer, gue gak mau ngelakuin itu, gue gak mencintainya Fer," ucap Arvan, Inces hanya menjadi pendengar setia saja sambil membersihkan lantai yang ketumoahan minuman tadi.
"Lo tau kan kita gak punya pilihan lain Ar ,"
"Iya gue tau Fer, sekali gak mau tetap gue gak mau mengorbankan hidup gue hanya demi menyelamatkan perusahaan,"
"Lo jangan Egois Ar, coba lo fikirin nasib seluruh karyawan apabila perusahaan ini sampai gulung tikar,"
"Fer lo tau kan, gue lagi menunggu orang-orang kita menemukan Princes, gue gak mau anak gue terlantar Fer ," ucap Arvan yang membuat jantung Inces berdetak kencang.
*Ternyata selama ini dia sudah tau kalau gue mengandung anaknya,, Batin Inces.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Like...
Coment...
Vote...
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1