
"Ups sorry..."Ucap Inces lalu melepaskan pelukannya.
"Gak apa-apa kok mbak, aku rela kok kalau di peluk-peluk sama mbak ,"
"Yeay...itu sih mau lo, udah ah gue mau masak lagi buat kita,"
"Mau masak apa Mbak ?
"Tumis kangkung enak kali ya,"
"Loh bukannya tadi mbak kepengen makan Mie super pedas ya ?
"Udah kenyang lihat pak Bos makan tadi, sekarang gue pengen makan tumis kangkung, bahan-bahannya ada kan ?
"Ada mbak, semuanya ada di kulkas,"
Inces segera mengambil bahan-bahannya dan tak butuh waktu lama akhirnya masakannya pun sudah jadi.
"Tara...tumis kangkung ala Sun sudah jadi, saatnya makan," ujarnya lalu segera melahap makanannya itu, Udin yang melihatnya sampai menelan salivanya
"Kok sepertinya cara makan mbak Sun sama ya seperti pak Bos, apa mereka memang sudah sangat lapar sehingga cara makannya seperti itu," guman Udin
"Ud Lo ngomong sesuatu, apa lo mau ?
"Gak kok Mbak aku masih kenyang, Buat mbak Saja. Ayo di lanjutkan lagi makannya, aku permisi dulu ya mbak mau ke bawah sebentar," Inces hanya menberi kode dengan tangannya saja karena mulutnya sudah di penuhi dengan kangkung.
Setelah selesai makan Inces mencuci semua piring-piring kotor yang berserakan di dalam dapur itu, lalu kemudian membersihkan pantry itu sehingga jadi mengkilap.
"Saatnya bobo cantik ," ucapnya lalu duduk sambil merebahkan kepalanya di atas meja dan tak butuh waktu lama dia tertidur dengan pulas dengan posisi seperti itu.
Arvan dan Ferdi hendak pergi, mereka akan pergi bertemu dengan klien di luar, saat mereka melewati pantry Arvan melihat kalau Inces sedang tertidur dalam posisi duduk dengan kepalanya menumpu di atas meja, dia menghentikan langkahnya sehingga membuat Ferdi bingung.
__ADS_1
"Ada apa Ar, kenapa lo berhenti ?" Arvan tidak menjawabnya matanya terus fokus ke arah Inces.
Ferdi melihat arah pandangan mata Arvan.
"Lo ngapain sih mandangin dia, jangan bilang kalau lo suka sama dia ," Arvan menatap tajam ke arah Ferdi sehingga membuat Ferdi terdiam.
Arvan melangkah memasuki Pantry kemudian mengendong Inces lalu membawanya ke ruangannya dan membaringkannya di Sofa, Ferdi semakin binggung melihat apa yang di lakukan bosnya itu,dia tidak pernah melihat Arvan memperlakukan seorang gadis seperti itu selain kepada Almarhumah Zera kekasihnya dulu.
Ferdi tidak berani bertanya lagi karena cukup satu kali saja Arvan menatapnya seperti tadi, Dia tau persis sifat Arvan yang tidak mau apa yang di lakukannya di komentari oleh siapapun.
Arvan menatap wajah Inces yang tertidur lelap itu, tak tau kenapa dia merasa semakin nyaman berada di dekat gadis itu.
Aneh..apa yang terjadi sama gue ya,kenapa gue merasa senang melihat wajahnya itu, ingin sekali gue selalu melihat senyumnya seperti tadi,, Batin Arvan
"Ar...ayo kita berangkat, klien sudah menunggu kita dari tadi loh," ajak Ferdi, Arvan menoleh sekali lagi ke arah Inces lalu keluar dari ruangan itu dan pergi bersama Ferdi.
Di Mobil Arvan tampak seperti memikirkan sesuatu sehingga mengundang pertanyaan dari Ferdi.
"Ar lo kenapa sih, dari tadi gue perhatiin lo seperti sedang memikirkan sesuatu ?"
"Belum Ar, mereka bilang kalau Princes masih belum masuk kuliah,"
"Apa terjadi sesuatu padanya ya Fer, Sepertinya gue harus menyuruh tim khusus buat mencarinya," ujar Arvan
"Apa itu gak berlebihan Ar, selama ini lo tidak pernah mengerahkan mereka hanya karena masalah sesederhana ini," ujar Ferdi
"Maksud lo apa Fer, lo pikir keberadaan calon anak gue dan ibunya itu masalah sepele hah," ucap Arvan meninggi
"Sorry Ar gue gak bermaksud begitu, gue hanya mengingatkan lo kalau tim khusus itu di buat oleh alm Nyokap lo khusus untuk melindungi perusahaan dari serangan-serangan tak terduga hackers dari perusahaan yang tak suka ataupun yang ingin bermain-main dengan perusahaan kita," jelas Ferdi
"Tapi gue gak tau harus gimana lagi Fer, gue gak bakal maafin gue sendiri kalau terjadi sesuatu sama princes dan calon anak gue ," ujar Arvan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Lah dia malah nangis, perasaan akhir-akhir ini Arvan sangat sering mengeluarkan air matanya deh, heran gue,,Batin Ferdi
"Sudah hapus air mata lo itu, nanti gue akan minta tolong sama tim khusus buat melacak keberadaan Princes," ujar Ferdi
"Serius lo Fer, makasih ya Fer Lo memang sahabat terbaik gue," ujar Arvan yang tau Tim khusus itu selain alm mamanya, mereka hanya mendengarkan perintah dari Ferdi kalau sudah menyangkut urusan pribadi bukan berkenaan dengan masalah perusahaan, bahkan perintah Arvan sendiri pun tidak akan di lakukan tanpa arahan dari Ferdi, tidak di herankan lagi pengaruh Ferdi di perusahaan Arkana Corp itu karena Ferdi sudah mengabdi di sana bahkan sebelum Arvan mewarisi perusahaan itu.
Di sebuah Mansion di tepi kolam renang seorang Gadis cantik yang tak lain adalah Kayla sedang mengamuk dan mendorong beberapa pria berbadan besar ke dalam kolam renang tersebut.
"Dasar Bodoh...menemukan seorang gadis miskin seperti dia saja kalian gak mampu, pengawal urus mereka semua," ujar Kayla
"Ampun bos, kami akan mencarinya lagi, kami janji akan membawa dia kehadapan bos dalam keadaan hidup atau mati,"Ujar mereka
"Oke gue akan kasih kalian satu kesempatan lagi, kalau kalian gagal lagi gue sendiri yang akan menghabisi kalian," Para preman-preman itu bergidik mendengar ancaman dari bosnya itu. Mereka akhirnya pergi dari sana.
Seorang body guard membisikkan sesuatu ke telinga kayla sehingga membuat wajah Kayla memerah menahan marah.
Plaakkk...
Kayla menampar body guard tersebut lalu memecahkan gelas di tangannya.
Aaaaaa....
"Gue gak bisa biarin ini, cepat cari perempuan itu jangan sampai Arvan menemukannya," teriak Kayla, Para body Guardnya segera pergi, mereka tidak mau terkena amukan Bosnya itu.
*Sepertinya gue harus meminta bantuan papa, Gue gak mau Arvan jadi milik orang lain, gue sangat mencintainya, Apapun caranya akan gue lakuin asalkan gue bisa menikah dengan Arvan,, batin Kayla
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like..
Coment...
__ADS_1
Vote...
Makasih🙏🙏🙏*