
"Apa..."
"Lo jangan ngada-ngada Dan, Sun itu belum menikah ,"
"Gue gak tau apa diagnosa gue benar atau salah, lo bisa memastikannya dengan memeriksakannya ke dokter kandungan nanti, dan satu lagi Ar, Apa lo gak curiga sama dia, jangan-jangan..." ujar Dante
"Jangan-jangan apa Dan ?
"Jangan-jangan dia adalah Gadis yang lo cari selama ini,"
"Jangan bercanda Lo Dan, mana mungkin sih Sun itu Princess, gue ingat betul wajahnya, bukan seperti dia ," ujar Arvan gak percaya
"Siapa tau kan, dia menyamar gitu,"
"Lo ada benarnya juga Dan, gue akan mencari tau identitas Sun yang sebenarnya," ujar Arvan
"Gue pergi dulu ya Ar, biarkan dia beristirahat, jangan sampai dia terlalu lelah, ini gue kasih vitamin buat dia, usahakan nanti setelah dia sadar dia meminumnya ," ujar Dante Arvan masih sibuk dengan pikirannya.
"Ar..gue pergi dulu ya," ujar Dante sekali lagi, tapi Arvan masih saja tidak menoleh, Dante hanya mengeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi dari sana.
Setelah kepergian Dante, Arvan berjalan menuju ke kamarnya dimana Sun terbaring pingsan itu, Arvan mulai melepaskan kacamata Sun.
Deg...Jantung Arvan berdetak kencang ketika kacamata itu sudah lepas dari wajah Sun, Arvan kemudian mulai membelai wajah Sun, tapi saat tangannya menyentuh tompel di wajah Sun dia merasakan ada yang aneh dengan tompelnya itu.
Arvan mulai menatap lekat ke arah tompel tersebut.
"Aneh..ini sepertinya palsu," ujar Ar, kemudian tangannya mengarah ke arah tompel tersebut lalu mulai melepasnya.
"Princes...!Arvan Kaget melihat gadis di depannya itu adalah wanita yang selama ini di carinya, Dia sangat bahagia saat tau kalau Sun itu adalah Princes, sontak Arvan memeluknya dan mengecup kening wanita yang selama ini sudah membuatnya menderita karena menahan rindu itu.
"Tapi kenapa dia menyamar ya, kenapa princes tidak langsung saja memberitahukan padaku kalau dia itu wanita yang menolongku malam itu, ini ada yang tidak beres," guman Arvan
Arvan menempelkan kembali tompel itu di wajah Inces dan memakaikan kacamatanya lagi.Arvan berencana mencari tau kenapa Inces melakukan itu.
"Sebaiknya aku merahasiakannya dulu kalau aku sudah mengetahui kalau dia itu Princes, aku ingin dia sendiri yng mengungkapnya padaku, Dan mulai sekarang aku harus terus berada di sisinya, tapi gimana caranya ya," guman Arvan
Belum juga Arvan menemukan ide agar Inces selalu di sisinya, Tangan Inces mulai bergerak-gerak tandanya dia mulai sadar.
__ADS_1
"Uugghhh.. "Lenguhnya ketika matanya sudah membuka sempurna
"Aku dimana ?" tanya Inces
"Sun kamu sudah sadar ?" tanya Arvan yang pura-pura baru masuk ke sana.
"Saya di mana Pak Bos ?" tanya Inces
"Kamu di kamar saya," jawab Arvan
"Apa...!Apa yang pak Bos lakukan pada saya ?" tanya Inces lalu menyilangkan tangannya di dadanya
"Memangnya kamu pikir saya ngapain kamu, asal kamu tau kalau saya gak berselera dengan tubuh kamu yang kayak triplek itu ," ujar Arvan
"Bohong banget ," guman Inces
"Apa kamu bilang ?"
"Gak kok pak Bos,aku gak ngomong apa-apa tadi suwer deh ," ucapnya cengengesan
"Apa...!
"Kenapa kamu kaget begitu ?"
"Gak kok pak Bos, aku gak kaget kok. Terus apa yang di katakan sama Dokternya pak Bos itu ?" tanya Inces mulai khawatir.
"Dia bilang kalau kamu hanya kecapean, jadi kamu harus istirahat dan minum Vitamin ini," Arvan menyerahkan sebotol vitamin ke tangan Inces
"Dia gak ngomong apa-apa lagi gitu ?
"Gak..emangnya kenapa sih Sun, kamu sepertinya gugup gitu," tanya Arvan
"Gak kok pak Bos he..he..,"
Huuff ...syukurlah kalau Arvan belum mengetahui kalau gue lagi hamil, bisa di interogasi guenya kalau dia sampai tau,, batin Inces
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu di sini, saya mau kerja dulu," ucap Arvan kemudian dia keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Baek banget sih papa kamu sayang, mama jadi klepek-klepek deh sama dia," ucap Inces sambik mengusap-usap perutnya.
Sebuah senyuman terbit dari bibir Arvan ketika mendengar ucapan Inces itu, dia masih berada di balik pintu kamar itu.
Aku berjanji akan selalu menjaga kamu dan anak kita Princes,, Batin Arvan kemudian dia menuju ke meja kerjanya.
Sementara Nindy sedang berada di dalam kamar mandinya, dengan jantung berdebar-debar dia melihat ke arah benda kecil di tangannya itu.
"Aaaa...Alhandulillah, gue positif hamil, Tristan pasti senang kalau tau tentang ini, gue akan memberi kejutan padanya,"
Nindy bersiap-siap pergi ke Mall untuk membeli sebuah kado buat Tristan, dia berencana akan memberikan jam tangan beserta tespack yang akan di taruh di dalam kotak jam itu nantinya.
"Hari ini aku akan memberikan kado spesial ini buat Tristan,karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, pasti Tristan senang banget mengetahui semua ini," ujar Nindy
Nindy dengan semangat mulai melajukan mobilnya menuju ke Mall. Dia mulai membayangkan reaksi Tristan nanti saat mengetahui kalau dia hamil.
Tak lama kemudian dia sampai juga di Mall, Dia bergegas pergi ke toko Jam tangan mewah, setelah memilih-milih, Netranya melihat sebuah Jam tangan yang sangat mewah dan tentu saja dia menyukainya, dia hendak mengambil jam tangan itu, namun seorang gadis cantik sudah duluan mengambilnya.
Yach aku keduluan deh, tapi gak apa-apa, ini juga bagus, yang penting kan kejutan satunya lebih berharga dari jam ini,, Batinnya.
Nindy akhirnya mengambil sebuah jam tangan lain yang juga bagus menurutnya.
"Mas saya ambil yang ini ya," ujar Nindy kemudian dia membayarnya.
Karena perutnya sudah lapar Nindy berencana untuk makan dulu, dia masuk ke sebuah restoran yang ada di dalam Mall itu. Saat dia masuk ke sana dia melihat gadis yang tadi membeli Jam itu sedang duduk di sebuah meja sepertinya dia sedang menunggu seseorang karena dari tadi dia terus melihat ke arah pintu masuk.
Nindy mengambil tempat di pojokan, setelah memesan makanannya Nindy mengirimkan sebuah Chat buat Inces agar nanti dia pulang cepat karena mereka akan merayakan ulang tahun suaminya bersama di Rumahnya.
Tapi di saat dia sedang mengetik di ponselnya netranya melihat ke arah Pintu masuk dan dia kaget kalau Tristan masuk ke dalam Restorant itu, dan yang lebih mengagetkannya lagi kalau suaminya itu bukannya menghampirinya akan tetapi dia menghampiri gadis cantik itu.
Nindy langsung menutup wajahnya dengan buku menu yang ada di sana sambil mengintip kearah suami dan gadis itu.
Bagai di hantam batu besar, hati Nindy hancur ketika melihat Suaminya mengecup mesra pipi gadis itu.
Tes...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1