
Nindy mengambil sebuah kotak kecil lalu memberikan kepada Tristan.
"Ini sayang buat kamu, maaf cuma bisa ngasih ini," ucap Nindy
"Apa ini sayang, apa aku boleh buka sekarang ," Nindy mengangguk.
Tristan pun membuka kado dari istrinya itu. Ternyata Nindy memberikannya sebuah jam tangan tapi setelah mengambil jam itu ada sebuah benda lagi masih berada di dalam kotak jam itu.
Tristan segera mengambilnya dan mengerutkan keningnya, Nindy hanya tersenyum. Tristan memperhatikan benda itu dengan seksama lalu sebuah senyum kebahagiaan terbit di bibirnya.
"Sayang..kamu hamil ?" tanya Tristan dengan senyum sumbringah nya.
Nindy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia, Tristan langsung memeluk Nindy dan mengecup keningnya.
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia. Ini adalah kado terindah selama hidupku, aku mencintaimu sayang," Tristan terus saja mencium pucuk kepala Nindy.
Nindy sangat bahagia, awalnya dia menyangka akan kehilangan Tristan akan tetapi semua bayangannya tentang itu tersingkirkan dengan kenyataan yang sangat membahagiakan hatinya itu.
"Eheeemm..." dehem Liora, Mereka kaget lalu menatap ke arah Liora dan Pram yang dari tadi senyam-senyum melihat mereka.
"Sudah kali mesra-mesraannya, ayo kita rayakan Birtday nya kak Tristan " ucap Liora
"Mereka semua pun tertawa dan akhirnya pesta di mulai.
Sementara Inces dan Arvan Baru saja sampai di sebih Mansion yang sangat megah. Inces sampai ternganga melihat keindahan Mansion itu.
Mobil Arvan berhenti tepat di depan pintu masuk ke Mansion, dia segera keluar dan membukakan pintu mobil buat Inces.
"Eh pak Bos aku bisa sendiri," ucap Inces, tapi dia terlambat karena Arvan sudah membukakan pintu mobil itu untuknya. Inces merasa sangat tersanjung dengan perlakuan Arvan yang seperti itu.
"Terima kasih pak Bos,"
"Sudah seharusnya aku melakukan itu padamu," ucap Arvan
"Maksud pak Bos ?"
"Eh gak kok, ayo kita masuk..Selamat datang di Rumahku," ukar Arvan lalu mengandeng tangan Inces dan membawanya masuk ke sana.
__ADS_1
Inces merasa kalau Arvan menyembunyikan sesuatu darinya, dari sikapnya yang berubah padanya itu dia merasakan kalau Arvan bukan menganggapnya sebagai Sun.
Kenapa Arvan semakin bersikap manis terhadap aku ya, apa dia mulai menyukai Sun, atau ada hal lain yang dia rahasiakan dari aku atau mungkin jangan-jangan dia sudahengetahui kalau aku adalah Inces, tapi masak sih dia gak terus terang saja kalau dia sudah mengetahui identitas ku yang sebenarnya,, Batin Inces.
Saat sampai di dalam mansion , sudah ada beberapa orang pelayan yang menunggu mereka di ruang tamu.
"Mbak Rita tolong antar nona Sun ke kamar yang ada di sebelah kamarku , dan layani dia dengan baik," suruh Arvan
"Baik Tuan ," ujar Rita yang sepertinya adalah kepala pelayan yang ada di sana.
"Sun kamu ikut mbak Rita ke kamar, agar kamu bisa membersihkan tubuh mu, nanti kalau sudah selesai kamu temui saya di taman belakang," suruh Arvan lagi, Inces pun mengangguk.
"Ayo Nona ikut saya," ajak Rita ramah.
"Baik mbak,"
Inces mengikuti langkah Rita menuju ke sebuah kamar yang ada di lantai tiga. Di sana hanya ada dua kamar yang berhadapan.
Rita membuka salah satu dari kamar tersebut dan Inces mulai ternganga melihat isi di dalam kamar itu.
"Mbak Rita apa mbak gak salah ngasih kamar ini buat saya ?" tanya Inces
"Apa Nona itu calon Istrinya tuan ?" tanya Rita
"Bukan..saya hanya karyawannya saja," ujar Inces
Apa Arvan memang sudah mengetahui kalau aku adalah orang yang dia cari selama ini , sebaiknya aku tanyakan langsung padanya agar semuanya jelas,, Batin Inces
"Mbak tolong antarkan saya ke tempat pak Arvan lagi ya, saya ingin bicara padanya," pinta Inces.
"Tapi Nona, tadi tuan menyuruh Nona mandi dulu baru bertemu dengannya lagi," ujar Rita
"Gak usah mbak, saya tidak pantas menempati kamar semewah ini, kan kata mbak kalau kamar ini di sediakan khusus buat calon istri pak Bos kan, jadi saya merasa gak enak kalau memakainya." ujar Inces
"Baiklah Nona, saya akan mengantar kembali nona ke tempat Tuan sekarang, Ayo ikut saya Nona ," Inces pun kembali mengikuti Rita menuju ke sebuah Ruangan yang di penuhi rak buku, sepertinya itu ruang kerjanya Arvan.
Tok..tok..
__ADS_1
"Masuk ..!
"Maaf Tuan, Nona ingin bertemu dengan tuan," ujar Rita, Arvan dengan cepat beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah Inces.
"Kenapa kamu belum Mandi ?" tanya Arvan
"Saya ingin bicara sama pak Bos," jawabnya, Arvan mengode agar Rita pergi dari sana.
"Ayo sini masuk," ajak Arvan, Inces mulai masuk ke ruangan itu dan Arvan pun menutup pintunya.
"Pak Bos saya mau tanya sesuatu pada pak Bos tapi tolong di jawab dengan jujur ya Pak Bos," ujar Inces
"Kamu mau tanya apa Sun ?" tanya Arvan lalu duduk di sebuah Sofa yang berada di dalam ruangan itu.
"Pak Bos sebenarnya maksud pak Bos ngaku-ngaku sebagai pacar saya apa sih, dan tadi apa maksudnya pak bos memberikan kamar khusus yang pak Bos sediakan buat calon istri pak Bos buat aku, aku jadi binggung," ujar Inces
"Kamu gak usah binggung Sun, sebenarnya aku melakukan semua itu agar kamu mau tinggal di rumah ku, dan kamu bisa selalu memasakkan makanan buat aku," ujar Arvan
"Tapi kenapa pak Bos memberikan kamar itu buat aku ?"
"Itu memang aku sediain buat kamu, karena aku sudah menemukanmu Princes," Arvan tidak tahan lagi merahasiakan kalau dia sudah mengetahui semuanya.
"Pak Bos..."
"Sejak kapan kamu tau kalau aku itu Princes?"
"Maaf, aku sudah merahasiakan ini padamu, aku tau kamu itu wanita yang selama ini aku cari saat kamu pingsan di kantor, Dante bilang kalau kamu sedang hamil dan sejak saat itu aku curiga sama kamu ,"
"Jadi kamu sudah lama mengetahuinya Arvan Sujono,"
"Iya Princes Prayoga, Aku merahasiakannya karena ingin mengetahui kenapa kamu sampai menyamar sebagai Sun dan bekerja di kantorku, padahal malam itu aku sudah katakan kalau aku akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi malam itu," ujar Arvan
"Tapi sekarang aku tidak bisa menahan lagi Princes, aku ingin segera menikahimu, aku tidak ingin kalau kamu melewati hari-hari sulit ini sendirian tanpa aku di sisi mu Princes," ujar Arvan yang membuat Inces meneteskan air matanya.
"Nona..nona...kenapa malah bengong sih, katanya mau bertemu dengan Tuan, ayo ikut saya," ujar Rita
Inces tersentak dari lamunanya, dia segera mneghapus air matanya lalu mengikuti Rita.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...