Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 36


__ADS_3

Inces mengerutkan keningnya tanda dia tidak mengerti perkataan Arvan.


"Aku maunya kamu panggil sayang ke Aku," ujar Arvan manja


"Maaf Ar, aku belum terbiasa memanggil kamu seperti itu, "


"Karena belum terbiasa lah kamu harus mencoba memanggil aku dengan sebutan itu, aku akan sangat bahagia jika kamu memanggil aku begitu," ujarArvan


"Baik lah, sa..yang ,"


"Iya sayang," wajah Inces merona.


Arvan menarik kursi buat Inces, Inces tersanjung dengan perlakuan Arvan tersebut.


Kenapa gak dari dulu aja aku memberitahukan padanya keberadaanku kalau tau begini indahnya cinta Arvan padaku,, Batin Inces


Mereka pun menikmati Cadle light Dinner di bawah sinar rembulan yang indah malam itu.


🌹🌹🌹


Pagi sudah tiba, di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar banyak wartawan sedang menunggu penghuni rumah keluar. Nindy yang mendengar suara keributan di luar rumahnya menjadi binggung.


"Mas...mas Tristan bangun dong, coba kamu lihat ada apa di luar riuh sekali," suruhnya


"Ada apa sih sayang, palingan Ibu-ibu lagi belanja sayur, sudah tidur saja lagi, apa kamu gak capek semalaman kita bertempur," ucap Tristan melanjutkan tidurnya.


Nindy tidak bisa tidur lagi karena semakin banyak saja suara orang-orang di luar rumahnya.


"Masak sih penjual sayur, perasaan bukan di jalanan deh, tapi di luar rumah ini," guman Nindy, Dia pun beranjak menuju Ke arah Pintu.


Tristan yang meraba Istrinya tidak ada di tempatnya, langsung bangun dan mencari-cari di mana istrinya.


"Sayang...kamu di mana ?" Tristan beranjak dari tidurnya dan bergegas menyusul Istrinya.


Saat Nindy hendak membuka pintu rumahnya, tangan Tristan mencegahnya karena dia melihat ada keanehan dengan orang-orang yang ada di luar rumahnya itu.


"Loh kenapa sayang ?" tanya Nindy binggung


"Sebentar.." ucap Tristan lalu melihat dari jendela dan terlihat di luar rumahnya itu banyak sekali pria dan wanita yang di tanganbya terdapat kamera yang dia yakin itu adalah wartawan.


Nindy kaget melihatnya, dia langsung menarik tangan Tristan menjauhi Pintu dan mengajaknya kembali ke kamar.

__ADS_1


"Kenapa banyak sekali wartawan di luar ?" Tristan heran, apa yang mereka cari di rumah mereka


"Ini semua pasti karena Vidio itu," ujar Nindy


"Vidio apa ?" Tristan memang belum mengetahui tentang Vidio Viral Inces dan Arvan itu.


Nindy mengambil ponselnya dan membuka Aplikasi Yusuf dan memperlihatkan vidio tersebut pada Tristan.


"Pantesan saja banyak wartawan di sini, ini kan Arvan Sujono pengusaha muda yang sukses itu, memangnya dia siapanya Inces sih, kok ngaku-ngaku sebagai pacarnya, yang kita tau Inces kan gak punya pacar," Tristan menatap lekat ke arah Nindy mengharap penjelasan dari Istrinya itu.


"Sebenarnya Arvan itu adalah Ayah dari bayi yang di kandung Inces," ujar Nindy pelan


"Apa...jadi dia pria brengsek itu ," ucap Tristan marah


"Itu bukan salah Dia Sayang, Inces yang suka rela membantunya saat dia di jebak oleh seseorang," jelas Nindy


"Tapi aku gak bisa terima, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu,"


"Iya aku tau, tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, inces akan mengurusnya sendiri sebaiknya kita gak usah ikut campur dalam masalah ini," ujar Nindy, Tristan juga masih tidak terima, tapi benar juga apa yang di katakan istrinya itu.


"Aku telpon Inces dulu, semoga saja dia tidak kenapa-napa," Nindy men Deal nomornya Inces, Inces yang masih terlelap itu tidak terusik dengan suara ponselnya.


Arvan sudah siap dengan setelan Baju kantornya, hari ini dia berencana pergi kekantor dan juga menyuruh asistenya Doni untuk mempersiapkan sebuah pesta pernikahan secepatnya.


"Sepertinya sih gitu pak, dari tadi saya belum melihatnya, apa saya perlu membangunkannya Pak ?"


"Tidak usah Rita, siapkan saja makanan buatnya, setelah ini biar saya yang antar ke kamarnya," ujar Arvan melanjutkan sarapannya.


Bahagia sekali nona Princes, belum menikah saja Pak Arvan sudah perhatiannya seperti itu, kapan aku bisa mendapatkan pria seperti dia ya ,, Batin Rita kemudian dia mengerjakan apa yang di suruh majikannya itu.


Rita sadar diri kalau dirinya tidak mungkin mendapatkan pasangan yang seperti Arvan, dia hanyalah seorang kepala pelayan, palingan jodohnya kalau gak Supir ya Body Guard atau Security , begitu pikirnya


Arvan sudah selesai sarapan, dia bergegas membawakan sarapan buat Inces, dia tidak mau Calon istri dan Anaknya itu kelaparan.


Perlahan Arvan membuka pintu kamar Inces, dia tersenyum melihat Inces masih terlelap, tapi suara ponsel masih saja berbunyi.


Arvan menaruh makanannya di nakas lalu mengambil ponsel Inces dan mengangkatnya.


"Ya Ampun Ces...kenapa telpon gue gak di angkat-angkat sih, lo dimana ?, lo jangan pulang dulu ke rumah ya, di rumah banyak wartawan, lo sudah makan belom, ingat jangan telat makan , nanti calon Debay nya kelaparan loh, Ces..kok gak jawab sih ?" Nindy mengoceh panjang lebar, Arvan tersenyum karena selama ini ternyata ada orang baik yang selalu menjaga Inces.


"Ces...lo masih di situ kan ?

__ADS_1


"Maaf Princes nya masih tidur, nanti pesan anda akan saya sampaikan padanya, tut...tut..." tiba-tiba saja sambungan telponnya terputus


Di seberang sana Nindy memegang dadanya yang bergemuruh, dia kaget mendengar suara di seberang telponnya.


"Sayang ada apa, inces baik-baik saja kan," tanya Tristan yang melihat Wajah Istrinya kaget.


"Dia baik-baik saja," ucapnya lemah


"Kalau Inces baik kenapa wajah kamu begitu ?"


"Aku yang gak baik-baik saja sayang, kamu tau siapa yang menjawab telponnya tadi ?"


"Dia itu Arvan Sujono, udah aku ngomongnya panjang lebar lagi, aduuh aku malu banget nih ," ucapnya menangkup wajahnya sendiri.


"Kok bisa dia yang jawab telpon Inces sih, memangnya apa yang dia katakan ?


"Dia bilang, inces lagi tidur, nanti dia sampaikan pesan aku padanya,"


"Apa...jadi mereka tidur sekamar ?" ucap Tristan dengan wajah merahnya.


"Aku gak tau sih sayang, tapi yang pasti tadi dia bilang begitu,"


"Kurang ajar, aku harus menemuinya," ucap Tristan


"Gimana caranya kita bisa keluar dari sini, sedangkan banyak wartawan di luar rumah.


Tapi tiba-tiba di luar Rumah ada keributan, Tristan melihat dari jendela kamarnya ada beberapa orang berseragan hitam yang mengusir wartawan-wartawan itu sehingga Wartawan itu semuanya pergi dari sana.


Tok..tok...


Suara pintu di ketuk, Tristan bergegas menuju ke arah pintu dan mulai membukanya.


"Kalian siapa ya ?"


"Kami utusan dari pak Arvan untuk menjemput kalian, dan kalian sementara waktu akan tinggal di Mansionnya," ujar Salah satu dari mereka


"Loh kenapa kami harus ikut kalian, kami bisa tinggal di rumah kami sendiri,"


"Ini untuk keselamatan kalian, Pak Arvan tidak mau kalau kalian celaka hanya karena vidio itu, sebaiknya kalian ikut kita," ujar Pria tadi, Arvan berpikir sejenak, ini kesempatan dia untuk.menemui Arvan dan memberi pelajaran padanya.


"Baiklah..saya akan memanggil istri saya dulu," Tristan masuk kembali ke kamarnya dan memanggil istrinya, kemudian mereka pun ikut dengan para body guard itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2