Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 41


__ADS_3

Inces mulai bejalan pelan karena merasa keram di perutnya, banyaknya belanjaannya itu membuat Inces merasa lelah.


Inces kaget saat sebuah suara menegurnya dari belakang.


"Mbak gak apa-apa ?" tanya seorang gadis kecil berumur 10 tahun yang sedang duduk di Trotoar jalan. dia adalah seorang pedagang asongan yang sering mangkal di sana.


"Kalau mbak lelah, mending istirahat dulu," ujarnya, Inces pun mengikuti apa yang di katakan oleh gadis kecil itu karena memang dia sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan lagi.


Terlihat gadis kecil itu memberikan sebotol minuman kepada Inces, dia mengambilnya dan merongoh saku untuk membayarnya.


"Gak usah Mbak, saya ikhlas kok..hitung-hitung sedekah," ucapnya yang membuat Inces tersenyum. Inces bangga kepada gadis kecil itu, dia saja yang sudah dewasa belum tentu kepikiran untuk bersedekah seperti yang gadis kecil itu lakukan mengingat keadaannya yang juga miskin.


"Terima kasih ya dek, nama kamu siapa, kamu tinggal di mana, apa kamu gak sekolah ?" tanya Inces beruntun sehingga membuatnya binggung


" Namaku Amaira kak, Aku tinggal di belakang sini kak, aku sudah lama putus sekolah semenjak orang tuaku meninggal," ujarnya dengan lugasnya, sepertinya dia itu pintar.


"Jadi kamu tinggal sendiri di sini ?"


"Iya kak, aku ngasong agar bisa makan kak ," ujarnya masih dengan nada yang sama.


Inces trenyuh mendengarnya, anak sekecil ini sudah mengalami nasib yang sangat menyedihkan seperti itu. Tak terasa Air mata jatuh di pipinya


"Loh kok kakak nangis sih ?"


"Gak kok dek, kakak hanya kelilipan tadi," ujar Inces


"Sini kak aku tiup biar sembuh kelilipannya," ujarnya


"Gak usah dek, kakak sudah sembuh kok,"


"Kamu mau gak ikut tinggal sama kakak, soalnya kakak juga tinggal sendiri ,"


"Emangnya orang tua kakak kemana, apa sudah meninggal juga ?


"Ibu kakak sudah meninggal dan ayah kakak tinggal jauh dari sini, kamu ikut kakak saja, kebetulan kakak ada buka warung kecil-kecilan di depan rumah, nanti kamu bisa bantu-bantu kakak di sana," ujar Inces


"Boleh tuh kak, jadi saya bisa makan enak dong tiap harinya ," ujarnya senang


Aku membelai kepala gadis kecil itu, aku senang melihat senyum tulusnya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita pulang ke rumah kakak," ajak Inces


"Tapi aku gak bawa pakaian kak, aku hanya punya dua baju saja di rumah he..he.." ucapnya cengengesan, Inces tersenyum mendengarnya.


"Kita beli di sana aja yuk beberapa pakaian buat kamu ?" ajak Inces


"Beneran kak," Inces mengangguk


"Yeay..beli baju baru...makasih ya kak ," Inces tertawa melihatnya bersorak girang seperti itu, ada rasa bahagia di hatinya ketika melihat Amaira bahagia.


Inces pun pergi ke sebuah toko pakaian yang berada tak jauh dari sana bersama Amaira, dia suruh Maira memilih-milih pakaian buatnya, dia terlihat sangat antusias dengan senyum tak lepas dari bibir mungilnya.


"Kak sudah," ujarnya menampakkan dua setel pakaian di tangannya


"Loh kok cuma dua sih Dek, ayo di pilih lagi,"


"Gak usah kak, ini aja cukup, nanti kalau warung kakak banyak pelanggannya baru kita beli lagi," ujar Amaira


Betapa dewasanya kamu dek, kalau orang lain sudah memamfaatkan kesempatan ini untuk membeli baju sepuasnya,, Batin Inces


"Ya sudah, nanti kakak janji kalau dagangan kakak laris kita belanja lagi ya," ujar Inces lalu membayar semuanya dan mereka akhirnya pun pulang ke rumah.


Sampai di rumah sekilas Inces melihat kalau di warung depan rumahnya ada seseorang yang duduk dengan santainya di pojokan warung sambil memainkan Hand phone nya.


Dia melihat ternyata seorang Pria, tapi karena dia duduk membelakangi Inces, dia tidak nampak jelas wajah pria itu.


Deg...


jantung Inces berpacu ketika dia melihat pria itu dari samping.


"Arvan...!


Pria itu menoleh, Inces kaget karena orang yang dia sangka Arvan ternyata bukan, pria itu hanya mirip saja dengan Arvan


Tubuhnya, matanya dan hidungnya mirip sekali dengan Arvan tapi pria itu bergigi tonggos sehingga membuat Inces bergidik melihatnya.


"Eh mbak cantik...mbak manggil saya ya, tapi maaf nama saya bukan Arvan tapi Bono mbak cantik," ucap Pria itu sedikit genit.


"Ngapain lo di sini, gak tau apa warungnya belom buka," ujar Inces sewot, Dia tidak suka kalau Pria asing memanggilnya seperti itu

__ADS_1


"Eh belom buka ya, maaf mbak cantik, aku gak tau, abisnya aku baru di sini, tuh rumahku di situ," ujar Bono sambil menunjuk ke arah rumah di depan warung Inces


"Ooo jadi lo penghuni rumah itu," ucap Inces


"Kok penghuni sih mbak Cantik, aku berasa seperti setan aja.."


"Emang wajah lo kayak setan," ucap Inces kembali sewot, entah mengapa saat dia melihat Prua itu bawaannya pengen marah-marah aja.


"Wah terima kasih pujiannya ya, oh ya nama mbak cantik siapa ?


"Au ah gelap," ujar Inces lalu bergegas masuk ke rumah, sekilas Inces melihat Bono tertawa dan melanjutkan main hand phone nya.


"Siapa kak ?" tanya Amaira


"Gak tau tuh, orang gila kali, yuk kita masuk dek," ajak Inces, lalu mereka berdua masuk ke rumah.


"Tadi beneran orang gila kak ?, kok aku jadi ngeri ya kalau ada orang gila di sini," ujar Amaira


"Bukan Dek, Tadi itu tetangga baru kakak, kakak risih saja sama sikapnya itu," ujar Inces lalu mulai menata bahan makanan di kulkas.


"Oh ya dek, kamu mandi dulu gih, abis itu kamu ganti baju sama baju yang kita beli tadi ya, kakak akan masak makanan enak buat kamu,"


"Baik kak ," ucapnya lalu bergegas ke kamar mandi


"Apa kamu tau kamar mandinya di mana ?" tanya Inces heran melihat dia asal jalan saja


"Gak sih kak he..he.." ujarnya cengengesan


"Sebentar kakak ambil handuk dulu buat kamu," ujarku, setelah itu Inces mengantarnya ke kamar mandi yang berada di belakang rumahnya.


"Nanti kamu masuk sendiri saja ya dek, kakak mau masak dulu,"


"Iya kak.."


Inces bergegas ke dapur lalu memasak sarapan buat mereka berdua, tapi dia teringat sama tetangga resek tadi.


"Ah biar aku masakin saja dia sekalian, hitung-hitung sedekah," ujarnya menirukan kata-kata Amaira tadi.


Inces mulai berkutat dengan alat masaknya, tak lama makanannya pun jadi juga dan dia segera menyajikannya di atas meja. Dia menyisakan satu piring untuk di kasih kan buat tetangga reseknya itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nih miss N kasih satu bab lagi...vote dong..😁😁


__ADS_2