
"Oke kalau itu yang lo mau Dan, kalian berdua duduk di sofa sambil berdampingan."Suruh Arvan
"Buat apa ?" tanya Dante
"Lakuin saja jangan banyak nanya ," ujar Arvan
Terlihat Inces sedang menulis sesuatu di secarik kertas lalu memberikannya kepada Dante satu lembar dan Rita satu lembar.
"Apa ini Ces ?" tanya Dante
"Jangan di buka dulu, nanti kalau sudah ada aba-aba dari gue baru kalian buka dan membacanya." ujar Inge
Mereka merencanakan apa sih sebenarnya, semoga bukan hal yang aneh,, Batin Dante
" Kalian sudah siap ?" tanya Inces, mereka berdua mengangguk.
"Kalian dengar Intruksi dari gue dan jangan sekali-kali melenceng dari Intruksi gue ini, dengar dengan baik karena gue tidak akan mengulang untuk kedua kalinya, Pak Dokter dengar kan ?" ujar Inge
"Iya..iya..," jawab Dante
"Pertama-tama Pak Dokter yang buka kertasnya lalu membacanya setelah itu Rita yang membukanya kemudian membacanya juga, mengerti ?"
"Iya.." jawab Rita dan Dante.
"Oke siap..kamera..Rolling..Action...," ucap Inge seolah-olah sedang merekam adegan Film. sedangkan Arvan yang menjadi Juru kameranya.
Perlahan Dante membuka kertasnya dan dia kaget melihat tulisan yang ada di sana, namun senyum terbit di bibirnya dan membuang Kertas itu lalu memegang tangan Rita.
"Rita..pujaan Hati Aa' maukan kamu menjadi istri Aa' Dante dan menjadi ibu dari anak-anak Aa' nantinya," ujar Dante terlepas dari Skripsi yang di Buat Inces. Rita kaget mendengarnya lalu dia membuka kertas itu dan lebih kaget lagi.
"Gak mau ?" ujar Rita yang membuat Dante lemas, dia pikir Inces dan Arvan sudah merencanakan untuk membuat Dia dan Rita bersatu ternyata apa yang ada di pikirannya itu sangat berbeda dengan kenyataannya.
"Cut..." ucap Inces sambil bertepuk tangan karena adegan yang mereka rencanakan berjalan dengan semestinya.
"Loh kok gitu sih Ces, bukannya Happy Ending, ini sih nyesek banget hati gue," ujar Dante
__ADS_1
"Itu memang rencananya, begitulah sesaknya kita saat tau makanan kita kalian embat tanpa permisi," ujar Inces
"Kalian bukannya mau menyatukan kita malah membuat jarak di antara kita, gimana sih ?" ujar Dante lagi.
"Usaha sendiri dong, kalau dengan drama yang kita bikin kalian bisa bersatu enak banget hidup lo, hidup itu butuh perjuangan Bro," ujar Arvan.
"Ayo sayang kita makan di luar saja," ajak Arvan kemudian.
"Rita udah lo masuk kamar sana, jangan tergoda mulut manisnya si Dante," suruh Arvan.
"Baik Tuan," ucap Rita lalu berjalan menuju kamarnya.
"Gue gimana Dong ?" ujar Dante
"Lo pulang aja, lagian ini sudah malam gak baik kalau lo bertamu tanpa ada orang di rumah nanti bisa di sangkain maling lo," ujar Arvan
"Iya..iya..gue pulang, tapi gue heran deh kenapa kalian begitu kompak mempermainkan gue, padahal gue tadi udah ngarep banget Rita jawab iya karena pernyataan tadi memang datangnya dari lubuk hati gue yang paling dalam," ujar Dante
"Tenang saja Dan, si Rita itu sepertinya juga punya perasaan kok sama lo, lo gak lihat Tadi tatapan matanya saat dia menjawab tidak, dia begitu kecewa karena tulisan di sana tidak bukan iya," ujar Arvan
"Itu kan kalau kamu sayang, Aku tau Rita sayang, dia sudah bekerja di rumah ini selama sepuluh tahun lamanya, mungkin dia merasa minder sama si Dante karena dia hanya seorang Kepala pelayan saja," ujar Arvan
"Tuh pak Dokter , sepertinya lo harus belajar merangkai kata untuk meyakinkan Rita kalau dia memang berarti buat lo ," ujar Inces.
"Udah yok sayang kita keluar," ajak Inces lalu mengandeng Arvan kemudian menuju ke mobilnya. Sedangkan Dante masih saja memikirkan perkataan Inces tadi.
"Ada benarnya juga ucapan Arvan dan inces tadi, dari tadi Rita selalu saja menjaga jarak dari gue walaupun sudah jelas-jelas gue mengaku kalau gue menyukainya namun tetap saja dia tidak menanggapinya." guman Dante.
"Lebih baik gue pergi dulu aja dari sini, kapan-kapan kalau lagi Free seperti ini gue akan kemari lagi," ucapnya lalu pergi dari sana.
Sementara Arvan rencananya mau membawa Inces ke Restorant mahal yang belum pernah Inces datangi bersamanya , Namun Inces menolaknya, dia pingin sekali ke Cafe nya Nindy dan Arvan pun mengabulkannya.
Arvan memarkirkan mobilnya di Parkiran Cafe itu, terdengar suara nyanyian seorang Wanita menggema di sana.
"Mas kamu masuk aja dulu ya, aku akan masuk dari belakang untuk memberi kejutan buat Nindy," ujar Inces.
__ADS_1
"Iya..Aku masuk duluan ya ," ujar Arvan lalu langsung masuk ke sana dan duduk di tempat biasa.
Inces berjalan perlahan Ke Ruangannya Nindy, sambil mindik-mindik perlahan Inces membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuknya.
"Ya Ampun Nindy...Tristan..apa yang kalian lakuin di sini hah ?" kaget Inces melihat dua Insan yang saling bertatapan itu dengan keadaan yang acakadul.
"He..he..he..,Inces..ayo sini ikut gabung," ajak Nindy yang terlihat memencet Layar Hp di depannya.
"Yach...kalah lagi kan," ujar Tristan, Nindy mencoret wajah Tristan dengan pena warna merah sehingga wajahnya seperti ada bercak darahnya.
"Ayo Ces ikut gabung, seru loh," ajak Nindy
"Gak ah, lagian gue mau nyanyi buat suami gue di depan, Ndy baju manggung gue yang dulu masih ada kan ?" tanya Inces
"Iya Ces, masih gue simpan di tempat yang aman, sebentar gue ambilin dulu," ujar Nindy mulai beranjak dari duduknya lalu pergi ke ruangan sebelahnya yang seperti toko baju aja di sana.
"Tara..ini Gaun buat lo, cantik dan elegant dan seperti biasa Asesorisnya ini Topeng Cinta lo ," ujar Nindy memberikan setelan baju itu kepada Inces.Inces pergi menuju kamar Ganti dan memakai baju yang di berikan oleh Nindy tadi.
Akan tetapi lima menit kemudian Inces kembali keruangan di mana Nindy dan Tristan asik memainkan Game nya.
"Loh kok belom di pakai sih bajunya ?" tanya Nindy
"Ndy..sepertinya gaun ini menciut deh," ujar Inces.
"Bhua...ha..ha.., ada-ada saja lo Ces, mana ada Baju yang menciut yang ada perut lo tuh yang membesar." ujar Nindy
"Iya..ya..kenapa gue gak nyadar kalau Perut gue tambah buncit ya," ujar Inces
"Sudah jangan sedih, gue ada gaun tang agak longgaran, mungkin bisa lo pakai," ujar Nindy lalu mengajak Inces ke ruangan sebelah untuk memilihnya sendiri.
"Waah Ndy kapan lo beli gaun ini, kok banyak banget," tanya Inces
"Kemarin, buat jaga-jaga kalau-kalau gue juga buncit seperti lo he..he.." ujar Nindy
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Cush...Mampir ke DENDAM SANG PEWARIS yuk...😊😊😊