
"Bukannya lo tadi sudah menyuruh anak buah lo membunuh gue ya, memangnya lo punya kekuatan untuk menyingkirkan gue Kayla, lihat itu," ucap Thomas sambil menunjuk ke arah dua orang anak buahnya yang sudah di ikat dan di pegang oleh polisi.
Kayla semakin ketakutan melihat anak buahnya yang sudah di ringkus oleh Polisi.
"Kayla..Papa tidak menyangka kalau kamu bisa melakukan hal seperti itu, Papa awalnya mendukung kamu karena papa tau kamu sangat mencintai Arvan, tapi Papa tidak pernah mengajarkan kamu berbuat sadis seperti itu, Pak Polisi bawa dia pergi dari hadapan saya," ujar Robert memalingkan wajahnya dari Kayla
Maafin papa Kayla, kali ini papa tidak bisa menolong kamu,, batin Robert yang cari aman karena tidak mau di penjara juga.
"Pa..tolong Kayla pa, Arvan tolong aku Ar, kamu cinta kan sama aku Ar..Tolong Ar...," ucap Kayla yang sudah di pegang oleh dua polisi.
"Ha..ha..ha..pak lepasin aku dong aku kan mau menikah sama Arvan ha..ha..," Kayla mulai meracau
"Bapak iiih lepasin bapak polisi yang ganteng, aku mau nikah iiih..lepasin ha..ha..ha..," Kayla semakin menjadi-jadi.
"Lihat itu kasian sekali dia malah jadi gila seperti itu," ucap salah satu Undangan
"Kalau saya sih gak kasian sama wanita menjijikan seperti dia, itu memang pantas buatnya." jawab yang lain
"Iya..cantik-cantik kok jahat," ucap yang lainnya.
Robert tidak tahan melihat keadaan putrinya itu, dia pun segera pergi dari sana sedangkan Arvan menuju ke Ruang Ganti di sana sudah menunggu Inces, Ferdi dan Dante.
"Gila lo Bro, Si Kayla sampai gila seperti itu," ucap Dante
"Itu belum seberapa di banding apa yang telah Dia lakukan pada Istriku," Ucap Arvan sambil melapaskan Jas nya.
"Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti istri tercinta ku ," Tambahnya lalu mengecup kening Inces, Inces terharu mendengar ucapan Arvan
"Aww..." pekik Inces Yang membuat Arvan kaget.
"Kamu kenapa sayang, apa ada yang sakit ?"tanya nya
"Bukan bayi nya nendang-nendang mas," ucap Inces, Arvan tersenyum bahagia mendengarnya dia segera menaruh pipinya di perut Inces, sebuah tendangan lagi di rasakannya tepat di pipinya.
"Iya sayang, Bayi kita nendang pipi aku ," ucap Arvan bahagia lalu mencium perut Inces.
Ferdi dan Dante juga merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.
"Sekarang giliran aku yang menikah ," ucap Ferdi, Arvan dan Dante melihat ke arahnya.
"Emangnya tu Montir sudah setuju buat lo nikahin ?" tanya Arvan, Ferdi mengangguk.
"Sekarang tinggal Lo saja Dan, Katanya Dokter sejuta pesona, kok kalah sih sama kita-kita ha..ha..," ucap Arvan.
"Jangan ngeledek deh Ar, gara-gara kalian Mona jadi ngejauhin gue tau gak ," ujar Dante
__ADS_1
"Loh kok nyalahin kita sih, usaha lo aja yang gak maksimal," ucap Arvan.
"Iya..iya..Gue akan lebih gaspol lagi agar tidak kalah dari si kutu kupret ini," ujar Dante melirik ke Arah Ferdi.
"Enak saja lo bilang gue kutu kupret, lo tu Jones alias Jomblo ngenes," ucap Ferdi gak mau kalah.
"Sayang yuk kita pulang, di sini bising banget, lebih baik kita pulang saja aku sudah kangen nih nengokin dedek," ujar Arvan yang membuat Inces mencubit perutnya.
"Ngomong apa sih mas, malu tau sama mereka," ujar Inces merona.
"Bye semua gue mau nengokin dedek dulu, makanya kalian cepat nikah biar bisa nengokin dedek juga," ucap Arvan, Ferdi dan Dante menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan Arvan itu.
"Gila si Arvan, sejak kapan Dia menjadi pecicilan seperti itu ?" tanya Dante
"Baru tau lo kalau Arvan pecicilan, gue sudah bosen kali ngelihatnya," ucap Ferdi
"Memang ya kalau Cinta bisa merubah segalanya," ucap Dante
"Lo pasti juga akan merasakannya Bro, kita pulang yuk," ajak Ferdi
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
"Mas..kita gak usah pulang dulu ya, aku kepengen makan Ketoprak nih ," ucap Inces
"Loh memangnya di daerah sini ada orang yang jual Ketoprak ?
"Ya sudah kita cari saja Penjual Ketopraknya dulu sampai ketemu," ujar Arvan terus melajukan Mobilnya.
"Itu sepertinya penjual Ketoprak deh Mas ," ucap Inces
"Iya tuh, kita ke sana aja ya ," ucap Arvan lalu membelokan mobilnya
Tiba-tiba ada sebuah Mobil yang melaju sangat kencang, Arvan tidak sempat menghentikan mobilnya.
Braak...Bruukkk...
"Aaaaaaaaaa.........
Mobil yang di kendarai oleh Arvan terpental terguling-guling di jalan dan seketika Dunia menjadi gelap gulita.
Wie...wie...wie...
Suara mobil Ambulans Sayup-sayup terdengar di telinga Inces tapi kemudian dia kembali tak sadarkan diri.
*
__ADS_1
*
Perlahan mata Inces mengerjap-ngerjap dan akhirnya terbuka sempurna,Inces melihat ke sekelilingnya hanya terlihat seorang pemuda yang sedang tertidur di Sofa.
"Di mana ini ?" ucapnya Lirih
"Ferdi...Ferdi.." panggil Inces lemah
Ferdi kaget ketika mendengar ada suara yang memanggil namanya.
"Inces..kamu sudah sadar ?" Ucap Ferdi senang, dia segera berlari keluar ruangan itu dan kembali bersama seorang Dokter dan dua Orang perawat di belakangnya.
Dokter segera memeriksa keadaan Inces dan beberapa saat kemudian dia tersenyum.
"Ini sungguh suatu keajaiban kalau Nona Princes bisa kembali sadar, padahal kami para Dokter sudah menyerah dengan keadaanya yang sudah setahun terbaring Koma," ucap Dokter itu
Inces masih binggung dengan perkataan Dokter itu, Dia Reflek memegang perutnya.
"Ferdi kenapa perutku jadi kempes, mana mas Arvan ?" tanya Inces
Wajah Ferdi berubah sedih, lalu dia menghampiri Inces.
"Anak kamu sudah lahir Ces, dia ada bersama Istriku Tapi..." ucapan Ferdi terputus
"Istri ? kapan kamu menikah Fer, kenapa aku gak Ingat, padahal baru kemarin rasanya aku masih bersama Mas Arvan mau makan Ketoprak, sebenarnya aku kenapa sih Fer, Kemana Mas Arvan ?" tanya Inces masih binggung
Ferdi memalingkan wajahnya dari Inces, dia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada Inces.
"Ferdi..jawab aku..kenapa kamu berbalik," ucap Inces
Ceklek..
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat Cory masuk kesana mengendong seorang bayi perempuan yang cantik dan mungil.
"Mbak Inces sudah sadar ?" tanya Cory senang dan langsung menghampiri Inces.
"Cory..sejak kapan kamu punya anak secantik ini ?" tanya Inces, Cory menidurkan bayi mungil itu di samping Inces.
"Mbak Inces, ini Arin...Arin Sujono putri mbak bersama Almarhum pak Arvan," ucap Cory
"Apa kamu bilang ?? Gak..gak mungkin..Arvan belum meninggal kenapa kamu menyebutnya seperti itu, kamu jangan main-main sama aku ya Cory," ucap Inces
"Mbak yang sabar ya, memang seperti itu keadaannya mbak, Mbak Inces sudah setahun terbaring koma di rumah sakit ," ujar Cory
"Cory..kamu bercandanya jangan kelewatan, Mas Arvan gak mungkin meninggal, baru kemarin aku makan ketoprak bersamanya kamu jangan ngada- ngada, Ferdi ayo jelaskan sama Cory kalau Mas Arvan masih di kantor kan," ujar Inces
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...