
Di Perusahaan Arkana Corp...
"Uweek...uweek...
Arvan kembali memuntahkan isi perutnya, sudah tiga kali hari ini dia seperti itu, Ferdi pun semakin binggung, Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Dante.
Tak lama setelah Ferdi menelponnya Dante datang dengan segala peralatan medisnya. Arvan semakin lemas, dari tadi Ferdi memberinya makan, namun tidak ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Kenapa lagi sama Arvan Fer ?" tanya Dante yang baru saja datang.
"Gue gak tau Dan, sejak tadi pagi dia kembali muntah-muntah, padahal sudah seminggu dia tidak pernah lagi seperti itu.
"Ini aneh, kenapa seminggu belakangan ini dia tidak seperti ini, Apa ada yang beda hari ini dengan hari-hari sebelumnya ?" tanya Dante mulai memeriksa keadaan Arvan
"Gak ada yang aneh sih, Biasanya juga seperti ini, dia datang dan bekerja Di kantor, eh tapi.."
"Tapi apa ?" tanya Dante penasaran
"Tapi mungkin hari ini si culun gak masuk, jadi gak ada yang masakin dia,"
"Maksudnya apa ?
"Iya Si Sun Koki pribadinya Arvan gak masuk hari ini,"
"Sejak kapan Arvan punya koki Pribadi, Kok gue gak tau ," tanya Dante makin binggung
"Sudah seminggu dia bekerja di sini, anehnya lagi apapun yang dia masak Arvan pasti menyukainya dan selama itu dia tidak pernah muntah-muntah seperti ini lagi," jelas Ferdi
"Sebaiknya Lo jemput kokinya itu, kalau tidak Arvan gak akan bisa makan dan akan muntah-muntah terus seperti ini." Suruh Dante
"Tapi gue gak punya alamatnya Dan ,"
"Lo itu kan Punya Anak Buah, lo suruh cari tau saja di mana dia tinggal, beres kan ," ujar Dante
"Iya..ya..kenapa gue jadi pelupa gini," ujar Ferdi kemudian menelpon anak buahnya, tak lama kemudian sebuah chat masuk ke ponselnya.
"Dapat..gue akan segera ke sana ," ujar Ferdi lalu bergegas pergi menjemput Sun alias Inces.
Setelah dua puluh menit menempuh Perjalanan akhirnya dia Sampai juga di sebuah rumah yang tidak begitu besar, Ferdi memberanikan Diri untuk mengetuk Pintu rumah itu.
"Permisi...
Ceklek..
Ternyata yang membuka pintu itu adalah Tristan, Ferdi mengerutkan keningnya melihat kalau seorang pria berdiri di depan Pintu itu.
"Maaf Ada perlu apa ya mas ," tanya Tristan
"Apa ini benar tempat tinggalnya Sun ?" Tristan mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Siapa sayang ?" tanya Nindy
"Ini sayang, ada orang nanyain apa di sini ada yang namanya Sun ," ujar Tristan, Mendengar itu Nindy langsung menuju ke arah Pintu.
"Mas nanya apa tadi ?" tanya Nindy
"Apa di sini tempat tinggalnya Sun,"
"Ooo mas mau ketemu Sunny ya, kalau boleh tau nama mas siapa , biar saya bilang padanya, soalnya dia kalau gak jelas siapa yang mau bertemu dengannya dia gak akan mau keluar dari kamarnya," jelas Nindy, Tristan tambah Binggung mendengar ucapan istrinya itu.
"Bilang saja kalau atasannya menunggu di luar,"
Ooo jadi ini ayah dari calon Debay nya Inces, lumayan sih,, Batin Nindy
"Sebentar ya mas, saya panggil dia dulu, silahkan duduk dulu mas ," ujar Nindy lalu dia bergegas menuju ke kamarnya Inces
Tristan mengikuti langkah Istrinya itu, sebelum Nindy masuk kekamar Inces Tristan menarik tangan Istrinya.
"Ada apa sih mas, aku buru-buru nih," ujar Nindy
"Sayang, sebenarnya ada apa sih, siapa yang di maksud oleh pria itu?"
"Sun itu Inces kita sayang, dia menggunakan nama Sunny untuk bekerja di sana, mungkin mas itu menjemputnya karena ada pekerjaan mendadak kali ," ujar Nindy
"Ooo , Ya sudah kamu bangunin Inces sana, aku akan ke depan menemani dia dulu," ujar Tristan
Nindy membuka pintu kamar Inces yang tak pernah di kunci itu.
"Ndy..gue di sini," ucap Inces lemas
"Lo muntah lagi ?" Inces mengangguk
"Mungkin calon Debay lo kangen kali sama ayah nya, dan ayahnya pun sepertinya kangen juga sama dia ," ujar Nindy
"Apa maksud kamu Ndy ?
"Tu di luar ada atasan lo, mau jemput lo katanya," ujar Nindy, Entah dari mana tenaga Inces, dia langsung bisa bangun lalu menuju ke arah pintu kamar, tapi sesaat kemudian dia berbalik dan mengambil kacamata dan tompelnya, setelah memasang semua itu barulah dia keluar dari kamar, Nindy hanya bisa geleng-geleng kan kepalanya sambil mengikutinya dari belakang.
"Pak B..o..s " ucapan Inces melemah setelah melihat kalau yang berada di luar bukannya Arvan tapi Ferdi.
"Loh kenapa jadi lo sih ?" tanya Inces
"Emang kenapa ?, lo ngarepin Pak Bos yang datang ?"
"Inces kembali masuk,"
"Sun..tunggu !, Inces tidak memperdulikan panggilan Ferdi
"Arvan sedang lemah di kantor, dari pagi dia gak makan apapun, jadi Please datang ke kantor sebentar ," ucapan Ferdi menghentikan langkah Inces, dia kemudian berbalik.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, gue ganti baju dulu," ujar Inces lalu kembali ke kamarnya, saat masuk dia berpas-pasan dengan Nindy.
"Gimana Ces, lancar ketemu sama papanya Debay ?"
"Bukan dia orangnya Ndy ," ucap Inces menuju kamarnya, Nindy mengerutkan keningnya
"Terus dia siapa dong ?
"Dia itu Asistennya," jawab Inces datar
"Lo mau kemana ?
"Mau ke kantor ,"
"Ces..lo itu masih sakit, jangan di paksain kalau masih lemah ," ujar Nindy
"Gue sudah gak apa-apa ko Ndy, lagian cuma sebentar aja kok, nanti setelah urusan gue kelar , gue langsung pulang,"
"Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa lo hubungi gue ya,"
"Iya, bawel banget sih emak-emak satu ini," ucap Inces sambil mencubit pipi Nindy
"Gue pergi dulu ya Ndy ,"
"Hati-hati ya, jangan lupa kabarin gue kalau ada apa-apa ,"
"Iya...bye.."
"Pak Fedi ayo kita berangkat, Mas Tristan kita berangkat dulu ya," pamit Inces , Tristan menganggukan kepalanya . Mereka pun akhirnya naik ke mobil dan Ferdi mulai melajukan mobilnya.
Di perjalanan..
"Sun, sebenarnya apa sih yang lo masukin kedalam masakan lo sehingga Arvan sangat menyukai masakan lo ?" tanya Ferdi
"Gak ada, gue cuma masak saja ,"
"Masak sih Sun, gak mungkin lo gak masukin apa-apa ke dalam masakan lo, gue tau Arvan dan gue sudah kenal dia dari kecil, dia itu bukan pemilih makanan loh," ujar Ferdi
"Mungkin karena gue memasaknya dengan penuh perasaan kali sehingga masakan gue di sukai sama pak Bos," ujar Inces sekenanya.
"Maksud lo ?"
"Sudah jangan bawel deh, lo nyetir aja yang bener agar kita cepat sampai ," ujar Inces mengalihkan pembicaraan.
"Ni anak gak ada sopan-sopannya sama bos,"
"Lo itu bukan bos gue, Bos gue itu pak Arvan ,"
"Lo..." Ferdi pun akhirnya mengalah, walaupun dia masih penasaran sama Inces dan di benaknya masih banyak pertanyaan yang ingin di tanyakannya pada Inces namun dia menahan semua itu karena sudah keburu kesal dengan sikap Inces. Ferdi menambah kecepatan mobilnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...