Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 37


__ADS_3

Di Mansion Arvan...


Uugghhh...


Inces bangun dan merenggangkan ototnya, dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang bau acem karena keringatnya.


Dengan santainya dia keluar dari kamar mandi, senyum terbit di bibirnya ketika melihat sarapan sudah tertata di atas nakas, tanpa pikir panjang Inces segera menyambar sarapannya tanpa memakai pakaiannya dulu, tubuhnya hanya terbalut sehelai handuk saja.


"Laper banget gue, makan dulu aja kali ya," ucapnya melanjutkan makannya


Lagi asik makan suara ponsel mengagetkannya.


"Eh copot...copot..nih ponsel pengen gue banting apa, bersuara gak ngode dulu, bikin kaget aja," ucapnya menaruh piringnya lalu mengangkat telpon itu


"Hallo Siapa Ini ?" ucapnya sedikit meninggi karena kesal.


"Sayang...kok kamu bentak aku sih ?" tanya orang di seberang yang ternyata adalah Arvan.


"Eh maaf sayang, aku gak tau kalau ini kamu yang nelpon, lagian kamu kok gak pakai nomor kamu sih nelponnya, aku kan jadi gak tau..," ujar Inces


"Handphone ku ketinggalan di rumah, ini aku pakai telpon kantor,"


" Ooo...Oh ya, ada apa nih kamu telpon aku ?"


"Kamu siap-siap gih, aku akan jemput kamu kita akan Fitting baju,"


"Loh kok cepat sekali sih, emangnya persiapannya sudah sampai mana sayang ?" tanya Inces heran kenapa bisa secepat itu, baru saja semalam mereka membahas akan menikah udah Fitting baju aja.


"Kalau gak ada halangan Lusa kita akan menikah ,"


"Apa...! " kaget inces


"Kenapa sayang , apa kelamaan. Aku akan menyuruh Doni mempercepatnya jadi besok," ujar Arvan


"Gak..gak kelamaan kok, lusa saja gak apa-apa,"


"Ya sudah kalau begitu, aku akan sampai di rumah setengah jam dari sekarang ya..see U Calon Istriku, ummmah.."


Wajah Inces merona dengan perlakuan Arvan itu, buru-buru dia memakai pakaiannya dan merias wajahnya tipis-tipis untuk membuat penampilannya sempurna kemudian dia turun ke bawah dengan wajah berseri-seri menunggu pangerannya menjemputnya.


Tak lama Arvan pun tiba di Mansion, Inces langsung keluar dari sana dan menuju ke Mobilnya.


"Loh kok sudah siap saja sih Sayang, sudah gak sabar ya mau nikah sama aku ?" goda Arvan

__ADS_1


"Iiih apaan sih, mau pergi gak nih ?"


"Iya..iya..," Arvan melajukan mobilnya, setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh Arvan menghentikan mobilnya di sebuah rumah kecil yang berada di pinggiran Kota.


"Loh kok berhenti di sini sih sayang, kan tadi bilangnya mau Fitting baju," tanya Inces heran


"Kita mampir di sini dulu, ada yang mau menemui kamu sayang, ayo turun," ajaknya


Mereka pun Akhirnya turun, Arvan mengetuk pintu rumah itu.


Dari dalam terdengar ada suara orang melangkah mendekati Pintu itu dan saat pintu terbuka Inces kaget melihat pria paruh baya dengan baju yang lusuh berdiri di depan pintu itu.


"Papa....!


"Inces...!" Dengan Reflek Bian bersimpuh di hadapan Inces sambil memeluk kakinya.


"Inces maafin Papa, papa sudah salah sama kamu nak, papa memang orang tua yang paling kejam, seharusnya papa yang menjadi pengayom untuk kamu tapi papa malah mengusirmu dari rumah..Maafin papa Inces," Bian menangis tersedu-sedu, Dada Inces terasa sesak melihat papanya yang seperti itu.


Inces perlahan berjongkok dan memeluk papanya yang masih menangis.


"Pa..Inces juga minta maaf kalau selama ini Inces gak pernah dengerin apa kata Papa, inces selalu membantah Papa, maafin Inces ya Pa ," Inces pun menangis, Arvan memegang bahu Inces sehingga Inces menoleh. Arvan segera menghapus Air mata Inces.


"Sudah jangan menangis lagi, aku sudah berjanji padamu kalau aku tidak akan membiarkan Air mata mu jatuh setetes pun di pipi mu lagi," ucap Arvan yang membuat Bian mendongak.


"Ayo..masuk nak, maaf rumah bapak seperti ini," ujar Bian, Arvan hanya tersenyum. Bian tidak tau kalau Arvan yang membuat dia seperti itu sekarang.


"Iya pak ," Arvan merangkul Inces lalu mereka pun masuk ke dalam Rumah itu, tapi saat Inces mau duduk, terdengar suara tangisan anak kecil yang berasal dari kamar , Inces kenal betul dengan suara itu dia kemudian langsung menuju kamar itu.


Di sana terlihat Baby Al sedang menangis seorang diri di kasurnya. Inces buru-buru mendekatinya lalu mengendongnya.


"Cup...cup...sayang..jangan nangis lagi ya, ini kak Inces pulang, kak Inces gak akan ninggalin kamu lagi kok sayang," seketika Tangis Baby Al terhenti seakan mengenal pelukan itu.


Inces membawa Baby Al Keluar dari kamar itu lalu mereka duduk si Sofa.


"Dia terus menangis, setelah saya bangkrut ibunya meninggalkan kami berdua, setiap Hari dia menangis seperti itu," ujar Bian dengan wajah sedih.


Arvan tersentuh dengan cerita calon mertuanya itu, dia menyesal sudah membuat Ayah dari calon istrinya bangkrut dan nasibnya seperti itu sekarang, tapi itu semua ada hikmahnya, Bian baru menyadari kalau cinta yang tulus itu tidak akan meninggalkan dia di kala susah seperti sekarang ini.


"Oh Ya..nak Arvan ada maksud apa datang kemari ?" tanya Bian Sopan


"Begini Pak, Saya kemari mau meminta Restu pada bapak untuk menikahi Princes anak Bapak, kalau bapak bersedia jadilah wali Nikah buat Princes Pak ," Arvan mengutarakan maksudnya, Bian kaget mendengarnya.


"Apa Anda yakin nak Arvan, apa anda tau kalau Inces sedang mengandung ?" tanya Bian

__ADS_1


"Iya Pak, saya tau, malah saya tau siapa ayah dari bayi yang dia kandung sekarang," ujarnya sambil melirik ke arah Inces, inces masih asik ercanda dengan Baby Al, Bian tambah kaget.


"Apa nak Arvan mau menerima bayi itu ?"


"Kenapa tidak, bayi itu adalah bayi saya sendiri,"


"Apa...!


"Bapak tenang dulu, saya tidak bermaksud menghamili anak bapak di luar Nikah, waktu itu saya di jebak oleh seseorang dengan menaruh obat perangsang di minuman saya, untung anak bapak menolong saya kalau tidak mungkin saya sekarang sudah Almarhum," jelas Arvan, Bian menjadi lega, akhirnya Putri semata wayangnya itu menemukan Jodoh yang tepat untuknya.


"Gimana pak apa bapak bersedia ?"


"Iya tentu nak Arvan, saya akan menjadi wali nikahnya Putri saya," ujarnya sambil merangkul Inces.


"Kalau begitu mulai sekarang bapak akan ikut kami ke rumah kami," ujar Arvan


"Tidak Nak, Biar bapak dan Al tinggal di sini saja, bapak gak mau merepotkan kalian,"


"Bapak, bapak jangan ngomong seperti itu, kita kan sebentar lagi akan jadi satu keluarga, jadi bapak jangan sungkan begitu ," ujar Arvan


"Iya Pa..Inces juga gak mau kalau Papa sama Al menderita seperti ini lagi, pokoknya Papa harus ikut kami, kalau enggak Inces gak mau menikah sama Arvan," ancam Inces


"Loh kok gitu sayang, ngancamnya malah ke Aku," ujar Arvan manja


"Habisnya kalau gak begitu papa pasti gak akan setuju pindah ke rumah kamu " ujar Inces, Bian tersenyum melihat tingkah putrinya itu, dia juga tidak menyangka kalau Seorang Arvan Sujono bisa Bucin akut pada Putrinya itu.


"Sudah...sudah ..Bapak mau ikut kalian, jadi jangan pernah berniat membatalkan pernikahan kalian," ujar Bian


"Nah gitu dong dari tadi, kita pindah kerumah kakak ya Al, Eh maksudnya calon rumah kakak ha..he..," ujar Inces sambil cengengesan.


"Kalau begitu ayo kita berangkat ," ajak Arvan


"Kemana ?" tanya Inces lupa kalau mereka mau Fitting baju.


"Ya Mau Fitting baju pernikahan kita lah sayang, Papa dan Al juga akan ikut kita, nanti mereka juga akan di buatkan baju di sana," ujar Arvan


"Kalau begitu Jum...kita berangkat.." ujar Inces yang mengundang tawa dari Bian, dia begitu bahagia melihat putrinya bahagia seperti itu bersama Arvan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf ya Readers kemarin miss N gak Up karena jaringan bermasalah, maklum miss N tinggalnya di pengunungan 😁😁😁


Karena kemarin miss N gak Up hari ini miss N akan Up dua episode sekaligus...seneng gak...😄

__ADS_1


__ADS_2