
"Tapi kan aku gak tau kalau biayanya semahal ini, itu sudah menghabiskan tabungan untuk lamaran aku loh," ujar Bono yqng membuat Inces menoleh ke arahnya, entah mengapa Inces merasa tidak suka mendengar ucapan Bono itu.
"Emangnya lo udah punya calon gitu," tanya Inces
"Kagak sih," Inces lega mendengar ucapan Bono
"Kan Udah ada kamu, ngapain nyari yang lain lagi, mending kamu saja yang menikah dengan ku," ucap Bono
"iish najis...mending gue kawin sama kambing dari pada sama lo, Lagian gue sudah punya suami tau," ujar Inces bohong
"Mana coba..gak ada kan ?" tanya Bono
"Ya...ada...tapi dia lagi gak di sini,"
"Alasan aja kamu, bilang aja kamu itu Jomblo,"
"Enak bener bacot lo itu asal mangap, Ini buktinya gue hamil kan, Kalau gak punya suami gimana gue bisa hamil cobak," ujar inces
"Siapa tau kan sama kambing ha..ha..," inces memelototkan matanya marah, tapi Bono masih saja tertawa tanpa dosa.
"Mau pulang gak nih ," tanya Inces
"Iya..iya.., ayuk calon Istriku,"
Pletak...
Inces menjitak kepala Bono, Bono masih saja tertawa sehingga membuat Inces semakin kesal.
" Lo pulang duluan deh Bon, gue males pulang sama lo, pengen gue matiin lo rasanya,"ujar Inces.
"Jangan dong sayang, nanti kamu gak punya calon suami lagi..ha..ha..,"
"Bono...!
"Bono berlari menjauhi Inces agar tidak terkena amukannya.
"Jadi pulang gak sih ?" tanya Bono
"Gak.. gue pulang sendiri aja ," ujar Inces
"Oke...kamu mau pulang sendiri ya, aku turutin deh kemauan calon istriku ini, mungkin kamu lagi pengen pulang jalan kaki," ujar Bono lalu mulai melangkah.
Inces baru ngeh kalau dia tidak membawa dompetnya, alamat pulang jalan kaki nih.
__ADS_1
"Tunggu..gue mau kok pulang sama Lo, dari pada kaki gue gempor kalau pulang jalan kaki dari sini," ujar Inces, Bono menghentikan langkahnya dan berbalik sambil tersenyum.
"Aku gak akan tega kok membiarkan kamu pulang sendiri, lagian Dokter sudah menitipkan kamu ke aku, jadi aku harus memenuhi janjiku padanya," ujar Bono
"Emangnya Dokter itu siapanya gue asal main titipin gue aja ke Lo ?"
"Loh kok malah nanya aku sih, tanya dokternya dong," ujar Bono lalu melangkah pergi
"Tunggu..," Bono berhenti dan menoleh
"Ada apa lagi ?"
"Gue gimana ?
"Ya jalan dong, kok malah nanya sih,"
"Lo tega lihat gue yang lemah ini jalan sendiri,"
"Bilang aja lo mau di gendong sama gue lagi ?" Inces memutar bola matanya malas dengan tingkat kepedean Bono yang tingkat dewa itu, tapi entah kenapa dia merasa terhibur karenanya.
"Terpaksa..." Bono tertawa melihat wajah di tekuk Inces, dia kemudian kembali ke tempat Inces lalu mengendong di belakang punggungnya, senyum terbit di bibir Inces, dia merasa nyaman berdekatan dengan Bono, namun dia harus menepis perasaan itu karena dia masih mencintai dan belum bisa melupakan Arvan walaupun dia harus berpisah dengan ayah dari Debay nya itu.
Seandainya kamu di sini Ar, aku akan sangat merasa bahagia kalau kamu yang mengendong ku seperti ini,, Batin Inces meneteskan air matanya.
"Mbak cantik kok masih nangkring aja di punggung Bono yang tampan ini, lagi meresapi wangi tubuh aku ya harum ini ya," ujar Bono ketika mereka sudah sampai di Loby..
Pletak...
" Aduhh..kok malah ngejitak calon suami sih, nanti dosa loh ," ujar Bono semakin menjadi-jadi
"Siapa yang mau nyium bau badan lo yang bau kambing itu, dasar kambing ,"
"Bagus dong, kan kita bisa segera menikah..kan Mbak cantik seleranya sama kambing ha..ha..,"
"Serah deh..capek ngomong sama Lo ," ucap Inces masih nangkring saja di belakang Bono. Ucapan Bono memang benar, Inces sangat suka menghirup wangi tubuh Bono, menurutnya Wangi tubuhnya itu mirip dengan wanginya Arvan yang bisa membuatnya rasa rindunya kepada Arvan sedikit terobati.
"Tuh kan..katanya gak suka, tapi kok masih nangkring aja di punggungku," ujar Bono yang membuat Inces segera turun dari gendongannya.
"Ternyata mbak Inces berat juga ya, sampai pegal badan aku ini," ujar Bono sambil merengangkan otot-ototnya yang membuat mata Inces melotot tapi dia gak mau lagi meladeni Bono, dia terlalu lelah hari ini.
"Bon ayo kita pulang, gue ngantuk nih," ujar Inces
"Tidur di pelukanku mau gak Mbak ?
__ADS_1
"Bono...!
"Iya..iya..aku cari taksi dulu ya ?
"Emangnya lo punya uang lagi Bon ?
"Tenang mbak cantik, kalau buat bayar taksi mah masih cukup.." ujar Bono dengan gayanya. Inces tersenyum melihatnya.
Bono-bono bisa aja lo bikin gue ketawa, sepertinya gue akan lebih cepat melupakan Arvan kalau ada lo di sini,, Batin Inces.
Tak lama kemudian Bono sudah datang dengan sebuah taksi.
"Ayo mbak cantik silahkan naik ke kereta kencana, kita berangkat menuju istana Cinta ," ujar Bono membuka pintu taksi itu sambil bergaya ala-ala pengawal pribadi.
"Makasih pengawalku ,"
"Loh kok pengawal sih ? pangeran Dong ," ujarnya
"Gak cocok, lo cocoknya jadi pengawal gue,"
"Gak apa-deh jadi pengawal yang penting bisa dekat-dekat mbak Cantik ," ujar Bono
"Hei mas jadi gak nih, kalau gak jadi saya mau cari penumpang lain," ujar supir taksi tersebut yang membuat mereka kaget.
"Jadi pak, ayo tuan Putri silahkan masuk." ujar Bono
"Tuh kan , Lo sih ajak Ngobrol terus jadi ngambek kan supir taksinya ," ujar Inces
Mereka pun akhirnya naik ke Taksi dan supir taksi itu segera melajukan mobilnya.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah, Bono kembali membuka pintu taksi itu buat Inces.
"Udah gue bisa sendiri, lo bayar aja sana taksinya," suruh Inces berlalu menuju ke rumahnya.
Bono alias Arvan hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat Istrinya itu, dia sangat bahagia karena istrinya tidak mudah di rayu oleh pria lain, itu menandakan kalau dia itu setia. Setelah membayar taksi Bono langsung menuju ke Rumahnya karena tidak ingin mengganggu istrinya istirahat.
Di depan rumah terlihat Amaira sedang menunggu kedatangan Inces dengan wajah cemasnya.
"Kakak...gimana kakak gak apa-apa kan ?
"Kakak gak apa-apa kok sayang, kakak mau istirahat dulu ya dek, kamu juga istirahat sana ," suruhnya. Mereka lalu masuk ke rumah dan beristirahat dari rutinitas seharian yang melelahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mana nih Comentnya kok sepi amat...😁😁