Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 40


__ADS_3

"Rita...di kamar mandi juga tidak ada, kemana Princes ?"


"Bagaimana ini pak Ferdi, kita pasti akan di marahi oleh Pak Arvan," ucap Rita takut


"Kamu sih, bukannya jagain Princes malah asik santai di sana, kalau sudah begini kan mau gimana lagi kita harus segera memberitahukannya ke Arvan."


Ferdi pun pergi menuju ke tempatnya Arvan berada sekarang, sedangkan Rita masih di sana untuk membereskan Gaun yang tergeletak di atas kasur.Tiba-tiba dari dalam gaun itu terjatuh selembar kertas, Rita memungutnya dan mulai membukanya , betapa kagetnya dia melihat tulisan itu, dia buru-buru menyembunyikan surat itu.


🍃Flash Back Of


Karena tergesa-gesa Rita hampir saja terjatuh, untung saja Dante dengan sigap menangkapnya, pandangan mereka bertemu.


Deg...


Jantung Dante berdetak lebih kencang dari biasanya.


Kenapa dengan Jantung Gue, apa gue punya gangguan Jantung juga, kenapa dada gue sesak banget gini ya,, Batin Dante


"Maaf Pak...tolong lepasin saya," ucap Rita sopan


"Eh..maaf ya..kalau jalan hati-hati dong, jadi jatuh kan," ucap Dante meninggi untuk menutupi rasa gugupnya.


"Maaf sekali lagi pak, ini pakaiannya ribet sekali, jadi saya susah jalannya," ucap Rita masih dengan nada lembut, Dante makin terpana menatapnya.


"Sudah tau ribet, ngapain di pakai," ujar Dante masih meninggi


"Sudah...jangan bertengkar, Rita ada apa kamu tergesa-gesa seperti itu," tanya Ferdi


Ooo ini yang Namanya Rita si Kepala pelayan itu, Cantik..eh apa-apaan sih gue, enggak..enggak gue gak suka sama dia, gak akan pernah suka..,, batin Dante yang lain di mulut lain di hati itu.


"Pak Ferdi, sepertinya Pak Arvan lagi gak bisa di ajak Bicara, apa kita bisa bicara berdua sebentar."


Rita menarik Ferdi menjauh dari mereka, dan mulai mengambil surat yang di temukannya tadi sebelum dia di paksa memakai baju pengantin itu.


"Apa ini ?" tanya Ferdi

__ADS_1


"Surat ini saya temukan ketika saya mau memindahkan baju ini tadi setelah pak Ferdi pergi," jelas Rita, Ferdi mulai membaca satu persatu kata yang di tuliskan Inces di dalam surat itu.


"Sepertinya ada yang aneh Rita," ujar Ferdi


"Iya Pak Ferdi, saya juga merasa begitu, di sana di tuliskan kalau Nona Princes pergi karena tidak mencintai pak Arvan, tapi dia juga menulis kalau kepergiannya itu demi kebaikan semuanya, pasti ada sesuatu yang terjadi ketika saya meninggalkannya di sini tadi," ujar Rita.


"Kamu cerdas Rita, saya akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mencari dimana keberadaan Princes sekarang, saya mau kamu menjaga Arvan karena saya yakin ini adalah pukulan terberat yang di rasakannya,"


"Baik Pak Ferdi, saya mohon cepat temukan Nona Princes, saya tidak tega melihat Pak Arvan seperti itu, lagi pula pasti saya yang kena imbas dari kemarahannya itu," ujar Rita


"Saya akan berusaha secepatnya menemukannya, kamu sabar saja menerima amukan dari Arvan," ujar Ferdi


"Loh kok pak Ferdi ngomong begitu sih, saya jadi ngeri kan,"


"Ha..ha..itu sih sudah jadi tugas kamu kan, jadi sabar saja ya ," ujar Ferdi lalu pergi dari sana.


Rita kemudian menghampiri Arvan.


"Pak Arvan..ayo kita pulang, ini sudah sore loh ?


"Ayo kita Pergi, biarkan dulu dia sendiri, mungkin dia butuh waktu untuk menerima kenyataan ini." Rita mengikuti apa yang di katakan oleh Dante


Dante membawa Rita ke sebuah kursi lalu mendudukkannya di sana kemudian pergi mengambilkan minuman buat Rita.


"Saya sudah lama tidak melihat pak Arvan seperti ini, bahkan saat Almarhumah tunangannya dulu meninggal dia tidak sesedih ini," ucap Rita masih sesugukan


"Kamu sudah lama kerja di rumahnya Arvan ?" tanya Dante, Rita mengangguk dan menghapus air matanya.


"Tapi saya tidak boleh begini ,saya harus kuat. Saya yakin saya bisa melewati semua ini, dan saya akan membantu pak Arvan agar kembali seperti dulu lagi," ujar Rita dengan senyum semangatnya, Dante makin kagum akan semangat Rita, tak terasa hatinya merasa sangat nyaman berbicara dengannya.


"Saya harus pergi, saya mau ganti pakaian dulu," ujar Rita yang membuat lamunan Dante buyar.


"Eh Iya..sebaiknya kamu menganti pakaianmu agar orang-orang tidak curiga.


"Terima kasih ya pak, untuk minumannya," ujar Rita

__ADS_1


"Jangan Panggil pak, saya berasa sangat tua," ujar Dante


"Terus saya panggil apa Pak..Eh..


" Panggil mas Saja,"


"Mas ?..."Dante mengangguk, Rita pun tersenyum, baru kali ini ada teman Bos nya menyuruhnya seperti itu.


"Baik Mas..saya pergi dulu ya," ujar Rita hendak pergi.


"Rita...! panggil Dante, Rita menoleh.


"Sampai jumpa lagi ya," ucap Dante dengan senyum manisnya, Rita pun tersenyum ke arahnya lalu pergi.


Dante mengusap-ucap dadanya, dia tak menyangka kalau jatuh cinta itu sangat indah...


Eh mikir apa sih gue, lebih baik gue juga pulang saja,, Batin Dante.


*


*


Sebulan sudah berlalu, di sini lah Inces sekarang. Di sebuah rumah kecil di sebuah kampung yang jauh dari ibu kota yang Inces rasa Arvan tidak akan pernah mengira kalau Inces tinggal di sini sekarang.


Dengan berbekalkan cek yang di berikan oleh gadis itu, Inces membeli sebuah rumah petak di kampung itu dan juga membuka sebuah warung makan kecil-kecilan di samping rumahnya untuk menyambung hidup, dan juga untuk biaya persalinannya nanti.


Sekarang Inces sudah hamil tiga bulan, perutnya sudah sedikit menonjol dari biasanya. seringkali dia merasakan sakit di bagian bawah perutnya ketika mengingat kenangan bersama Arvan tapi itu tidak berlangsung lama karena ketika Inces memasak sesuatu perutnya akan sembuh seperti sedia kala.


Karena masakan Inces sangat enak tak butuh waktu lama warung makannya pun menjadi ramai pengunjung, mereka menjuluki warung itu sebagai Warung makan bintang lima.


Emang ada-ada saja warga kampung ini, tapi itu yang membuat Inces semakin bersemangat untuk melayani mereka. Setiap hari dia lalui dengan bahagia, walaupun seringkali dia menangis ketika mengenang kenangan bersama Ayah dari bayi dalam kandungannya ini namun dia selalu bertekad agar bisa melupakan masa lalu untuk menyongsong masa depan.


Hari ini Inces bangun pagi-pagi sekali, Terlihat dia merentangkan tangannya dan menghirup udara segar di pagi hari. Inces sudah siap, seperti biasanya dia akan pergi berbelanja bahan makanan di pasar. Saat sedang berada di teras rumah dia melihat kalau rumah yang berada di depan rumahnya itu yang selama berada di sini tak pernah dilihat nya ada yang menempati itu,akan tetapi pagi ini lampunya depan rumah itu menyala.


"Apa sudah ada yang menempati rumah itu ya, wah aku jadi punya teman dong, gak sepi lagi di sini. Sebagai tetangga yang baik nanti aku akan memasak makanan buat tetangga baruku itu, lebih baik aku pergi ke pasar saja dulu," guman Inces lalu segera menuju ke pasar yang tak jauh dari rumahnya itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2