Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 49


__ADS_3

Inces sudah membaringkan tubuhnya di kasur, dadanya bergemuruh dasyat, seakan-akan seperti pengantin baru yang baru selesai Ijab Qabul saja, padahal mereka sudah melakukannya dua kali malah.


"Sayang...kamu tidur gih, besok perjalanan kita akan panjang, aku gak mau kalau kamu kelelahan besok," ucap Arvan yang membuat Inces merasa lega, dia pikir Arvan akan meminta jatahnya malam ini karena sudah lama sekali dia tidak berduaan dengan Inces.


Ternyata Arvan pengertian juga ya, aku makin deh cinta sama dia ,, Batin Inces


Inces mulai menutup matanya akan tetapi sebuah tangan memeluknya dari belakang sehingga membuatnya kaget.


"Tidur saja sayang, aku gak akan ngapa-ngapain kamu kok malam ini, tapi jangan gerak-gerak ya, takutnya si Otong malah bangun," ucap Arvan masih pada posisinya.


Apa-apaan si Arvan ini, gak mau si Otong bangun malah meluk-meluk gini, jadi aku kan yang gak bisa tidur,, Batin Inces


Tak lama Inces mendengar suara dengkuran halus dari arah belakangnya pertanda Arvan sudah tertidur Pulas, Inces Pun berusaha agar bisa tidur dan akhirnya dia pun tertidur di dalam pelukan Arvan.


*


*


Pagi sudah menjelang, suara Kokok Ayam membangunkan Arvan, sekarang posisi sudah berubah bukan Arvan lagi yang memeluk Inces tapi malah sebaliknya, malahan Inces yang memeluk Arvan seperti memeluk guling.


Sebuah senyum terbit di Bibir Arvan, dia memandangi wajah Cantik Inces yang tanpa polesan itu.Perlahan tangannya memindahkan anak rambut Inces yang menutupi wajahnya yang membuat Inces terbangun.


"Selamat pagi sayang.." ucap Arvan, Inces tersenyum, Arvan mengecup singkat bibir Inces.


"Kok gak bangun terus sih Ar ?" tanya Inces


"Loh kok masih mangil Ar sih, panggil mas dong ," ucap Arvan dengan tatapan mengodanya


"Iya Mas ..kok masih tidur aja ?" tanya Inces lagi.


"Bagaimana mau bangun kalau ada seseorang yang gek rela berpisah sedetik saja sama Mas," ucap Arvan, Inces belum menyadari kalau dia masih memeluk Arvan.


"Eh..maaf Mas, aku gak nyadar" uvap Inces dengan wajah meronanya


"Kok minta maaf sih sayang, aku malahan senang loh, jangan kan di peluk di apa-apain sama kamu juga aku gak nolak," ucap Arvan masih dengan nada menggodanya.


"Yeay..itu sih maunya Mas, udah ah aku mandi dulu," ujar Inces bangun lalu menyambar handuknya dan melangkah keluar kamarnya.


Di Luar terlihat Ferdi sedang duduk di kursi sambil mengurut-ngurut tangan dan kakinya. Inces berlalu saja dari sana ke kamar mandi.


Tak lama Arvan pun keluar dari kamar itu dan duduk di samping Ferdi.


"Kenapa lo Fer ?" tanya Arvan seakan tak berdosa.


"Pakek nanya kenapa lagi, gara-gara tidur di sini badan gue rasanya rontok semua," ujar Ferdi


"Udah..nanti gue bayarin lo pijat Refleksi," ucap Arvan

__ADS_1


"Serius Ar..di tempat yang mahal ya," ucap Ferdi antusias


"Di tempat Mang karno, ntar gue suruh dia datang ke Rumah Lo buat mijat lo," ujar Arvan datar


"Yach..gak jadi deh enaknya, gue pikir di tempat yang mahal itu yang tukang pijatnya wanita cantik-cantik itu loh," ucap Ferdi kecewa


"Ntar gue aduin sama Mila baru tau rasa lo," ujar Arvan


"Jangan Dong Ar, iya deh sama Mang Karno aja, " ucapnya


"Nah Gitu dong, yang penting kan kualitasnya ,soal harga itu nomor dua," ujar Arvan


"Iya..iya..dasar Bos pelit," ucap Ferdi, Arvan hanya tertawa saja.


Inces sudah selesai mandi lalu hendak masuk ke kamarnya.


"Wiih..basah ni rambutnya ," goda Ferdi


Handuk melayang ke arah Ferdi, Arvan tertawa melihatnya.


"Istri lo itu wangi banget ya Ar ," ucap Ferdi


"Loh kok lo tau sih,"


"Ini wanginya nempel di Handuk," Arvan langsung merebut handuknya Inces lalu menciumnya.


"Gak ada yang boleh mencium wanginya Inces, walau hanya handuknya saja, semua milik Inces adalah punya gue," ucap Arvan lalu beranjak ke kamar mandi


"Om siapa ?" tanya Amaira yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Loh kok ada bocah di sini, lo siapa bocah ?" tanya Ferdi


"Loh kok malah balik nanya sih Om, kan Maira nanya duluan tadi," ujar Maira


"Om..om..emangnya gue setua itu ya," ucap Ferdi


"Ha..ha..Jawaban Om Ini sama seperti Om Bono deh, eh ngomong-ngomong Om Bono kemana ya ?" ujar Maira yang celingak-celinguk melihat keluar.


Ceklek..Pintu dapur di buka Oleh Arvan, netra Maira menoleh ke sana.


"Waaah...Kakak siapa..ganteng banget.." ucap Maira dengan mata berbinarnya


"Loh kok sama dia kamu panggil kakak, aku kok kamu panggil Om sih," protes Ferdi


"Abisnya kakak itu tampan banget.." ucap Maira masih belum memalingkan wajahnya dari Arvan


"Apa gue kurang tampan ya ?" tanya Ferdi

__ADS_1


"Tampan sih, tapi nampak tua ," ujar Maira sehingga membuat Ferdi mendengus kesal.


"Ha..ha..ha..," Arvan yang mendengar ucapan Maira tertawa terbahak-bahak.


"Jangan ketawa lo Ar..gue sambit pakai sepatu baru tau rasa lo ," ucap Ferdi kesal


"Emang lo berani ?" tantang Arvan


"Ya enggak sih, " ucap Ferdi cengengesan, Arvan pun masuk ke sana dan memegang kepala Maira.


"Maira ayo mandi sana," ujar Arvan


"Loh kakak kok tau nama Aku ?" tanya Maira


"Ya tau lah, masak Kak Bono gak tau nama adek Kak Inces sih," ujar Arvan


"Ja..jadi kakak ini Om Bono ?


"Ha..ha..ha..," kali ini tawa Ferdi yang pecah.


"Ternyata waktu lo nyamar jadi Bono dia juga memanggil lo Om , ha..ha.." Ferdi masih ngakak


"Tapi sekarang sudah berubah jadi kakak, soalnya Om Bono ganteng sih," ucap Maira yang membuat Ferdi tersedak.


"Tuh kan..anak kecil aja tau kalau gue tampan Fer, kalau di banding sama lo sih bagai awan dan langit," ucap Arvan


"Tega lo Ar sama Gue,"


"Masih mending gue umpamain Awan dan langit dari pada langit dan bumi pilih mana coba," ucap Arvan


"Ada apa nih ribut-ribut, Maira kamu sudah bangun, ayo cepat mandi sana," surih inces


"Iya kak ," ucqp Maira lalu bergegas ke kamar mandi.


"Kalian mau makan apa hari ini ?" tanya Inces


"Apa saja sayang asalkan masakan kamu ," ucap Arvan lalu bergegas keluar dari rumah itu.


"Loh kamu mau kemana Ar ?" tanya Ferdi


"Balik ke rumah depan lah, mau ambil baju gue," ucap Arvan


"Apa...kenapa semalam lo gak bilang kalau rumah lo dekat, kan gue gak usah tidur di kursi ini," ucapnya


"Lo gak nanya, gue pikir lo mau jadi satpam kita," ujar Arvan sekenanya lalu bergegas pergi ke rumahnya.


"Dasar Bos Luknut lo Ar, kok bisa ya dia jadi bos gue, kalau gue gak ingat gaji besar nih sudah lama gue tinggalin dia," ucap Ferdi

__ADS_1


"Lo bilang apa Fer ?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2