Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 46


__ADS_3

"Si otong itu apa kak ? " tanya Amaira


"E..e..." Inces gugup tak tau mau jawab apa, dia memelototkan matanya ke arah Bono


"Buka Otong Maira, Kak Bono mau beli es potong nanti, Maira mau ?"


"Mau Om Bono, Maira mau dua ya om ," ucap Maira senang


"Iya nanti kak Bono belinya, mbak Inces mau gak ?" tanya Bono tersenyum genit pada Inces


"Gak ah...es Potongnya kecil ," jawab Inces ngasal


"Emang mbak Inces sudah lihat ?, ini besar dan panjang loh," ujar Bono masih dengan senyum genitnya


"Ogah...!" Bono tertawa melihat wajah Inces merona


"Kenapa kak Inces gak mau, kan enak kalau es Potongnya besar dan panjang, Maira aja mau," ujar Maira polos, Inces memelototkan matanya mendengar ucapan Maira


"Ha..ha..ha.." Bono tertawa melihat ekspresi Inces.


Aawww...


Bono meringis kesakitan karena di cubit oleh Inces.


"Om Bono kenapa ?" tanya Maira


"Gak apa-apa kok Maira, tadi ada kepiting gigit kak Bono,"


"Mana Om kepitingnya, Maira mau Nangkap,"


"Maira sayang, kamu sudah selesai kan makannya, Ayo cuci tangan terus tidur ya," suruh Inces.


"Yach kak Inces, padahal Maira masih Ingin Ngobrol sama Om Bono, soalnya Om Bono kan sudah Janji mau beli Es Potong buat Maira," ujar Maira sedih


"Maira sayang, mana Ada Tukang Es potong malam-malam gini, Om Bono itu suka ngada-ngada, lihat aja tuh giginya sampai maju gitu karena suka boong," ujar Inces


"Jadi Om Bono Bohong ?"


"Gak kok Kak Bono gak Bohong, tapi belinya Besok ya Maira, kalau malam Kan Tukang Es potongnya gak jualan nih, besok Kak Bono beli sepuluh buat Maira," ujar Bono


"Beneran Om.." Bono mengangguk


"Yeay...makasih ya Om ," ucap Maira tertawa Riang


"Sekarang Kamu bobok gih, jangan Lupa Doà ya," ujar Inces, Maira pun pergi ke dapur untuk mencuci tangannya lalu bergegas ke kamarnya.

__ADS_1


"Udah Cocok ," ucap Bono.


"Cocok Apa ?" tanya Inces


"Aku jadi ayahnya, kamu jadi Ibunya, Maira jadi anaknya, emang keluarga bahagia," ucap Bono


"Yeay..itu sih mau Lo, gue sih Ogah.." ucap Inces beranjak dari duduknya menuju ke dapur untuk mencuci piring.


Ha..ha..ha..


Suara Tawa Bono masih terdengar, Inces melanjutkan cuci piringnya dia tidak mau meladeni Bono.


"Sini aku aja yang cuciin, kamu istirahat aja," ujar Bono yang membuat Inces kaget dan hampir terjatuh, Bono dengan sigap menarik tubuh Inces sehingga Inces memeluk Bono.


Deg...


Jantung keduanya berpacu seperti arena pacuan kuda, Inces segera melepaskan tanganya yang memeluk Bono, lalu membalikkan badannya menyembunyikan rona di wajahnya, Bono pun gak kalah gugupnya kejadian tadi membuat Hastratnya tergugah.


"Aku Istirahat dulu ," ucap Inces lalu masuk ke kamarnya


Inces menutup pintu kamarnya dan bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya


"Rasa apa ini, ini seperti rasa yang pernah aku rasakan ketika bersama dengan Arvan, Inces..gak mungkin kalau Bono itu Arvan, tapi bisa jadi juga, siapa tau dia nyamar seperti yang pernah aku lakukan dulu," gumannya


Sementara Arvan masih mematung, dia juga memegang dadanya.


"Sabar Ar, semua akan segera berakhir, lo akan segera bersatu kembali dengan Inces ," gumannya Lalu melanjutkan cuci piringnya. Setelah selesai, Arvan keluar dari rumah itu dan duduk di teras, terlihat ada beberapa orang pria berlalu lalang di depan rumah Inces sambil memperhatikannya.


"Maaf bapak-bapak ada apa ya kalian di situ," tanya Arvan yang mulai curiga


Mereka kemudian pergi dari sana tanpa menjawab pertanyaan Arvan


"Ada yang mencurigakan," ucap Arvan lalu mengambil Ponselnya kemudian menghubungi Ferdi.


Drrrt...drrttt...


"Aaagh..siapa sih malam-malam gini nelpon gue, ganggu mimpi gue aja sama ayang Mila," ucap Ferdi, Ferdi mengangkat telponnya tanpa melihatnya.


"Hallo, siapa sih lo, ganggu gue tidur aja, kurang kerjaan banget," ujar Ferdi


"Gaji lo bulan depan Gue potong 50 % ," ucap Arvan, Ferdi melihat ponselnya dan dia kaget melihat kalau yang menelponnya itu adalah Arvan


"Eh sorry Ar, gue gak tau kalau lo yang nelpon, Btw ada apa nih udah larut gini nelpon gue ?" tanya Ferdi


"Besok lo kirim dua Body Guard buat jagain Rumah Princes," suruh Arvan

__ADS_1


"Ooo kalau itu siap Bos, jangan kan dua sepuluh saja besok langsung meluncur," ujar Ferdi


"Tapi Body Guardnya yang cewek ya, biar bisa bantu-bantu Inces jualan.


"Itu Body Guard apa pembantu Ar ?"


"Jangan banyak tanya, yang penting besok mereka sudah di sini."


"Siap Pak Bos tut...tu..."


"Yach main di putusin aja telponnya," ujar Ferdi mau melanjutkan tidurnya


Drrrtt..drrrtt...


Ponsel Ferdi kembali berbunyi.


"Ada apa lagi sih si Arvan nelpon, tadi sudah di tutup sekarang malah nelpon lagi, pasti ada yang kelupaan," guman Ferdi kemudian mengangkatnya.


"Kok lama sekali sih di angkatnya, mau gue potong gaji lo ?" marah Arvan


"Yach si Bos, itu mulu ancamannya, bukanya ngasih bonus biar gue bisa ngajak Mila nikah, malah ngancam di potong gaji mulu," ujar Ferdi


"Oh ya Ar pasti ada yang kelupaan ya ?ujar Ferdi


"Iya..gimana soal penyelidikan lo tentang penyebab perginya Inces waktu itu, apa sudah ada titik terangnya ?"


"Kalau soal itu sepertinya kita harus bertemu Ar, Gue akan memperlihatkan sesuatu sama Lo," ujar Ferdi


"Tapi gue gak bisa ninggalin Inces di sini sendirian," ujar Arvan


"Gimana kalau gue aja yang ke sana, itung-itung liburan, gue akan ajak Mila juga," ujar Ferdi


"Baiklah, besok Gue tunggu Lo di sini, soal tempatnya nanti gue Share lok," ujar Arvan lalu mematikan telponnya.


"Semoga Ferdi sudah menemukan dalangnya, Sabar Sayang, sebentar lagi kita akan kembali bersama," ucap Arvan.


Arvan kemudian berbaring di Bangku panjang yang ada di depan Rumah Inces sambil memainkan Game di ponselnya.


Lagi asik-asiknya dia di main Game, terlihat beberapa orang warga yang datang ke sana bersama Pak RT


Arvan langsung bangun dari tidurnya.


"Usir mereka dari sini .." ucap Warga di belakang Pak RT itu


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2