Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 42


__ADS_3

Inces melihat Amaira sudah cantik dengan bajunya yang sangat pas di badannya itu.


"Dek kamu makan aja dulu ya, kakak mau ngasih ini buat tetangga kita dulu," suruhnya


"Baik kak ,"


Inces berjalan keluar rumah, dan dia melihat kalau Bono masih stand bay di warungnya, Inces lalu menghampirinya.


"Nih buat lo, hitung-hitung menyambut tetangga baru, Yach walaupun tetangganya genit ," ucap Inces sewot


"Waah makasih banyak ya Mbak Gelap, kebetulan aku sangat lapar ," ucapnya


"Apa lo bilang tadi ?


"Aku sangat lapar," jawab Bono lalu memakan makanan itu


"Bukan itu, kamu panggil apa aku tadi ?


"Mbak Gelap ," sahutnya


"Gelap..? Gelap pala lo" ujar Inces marah lalu pergi dari sana


"Loh kok dia marah sih, padahal kan dia sendiri yang bilang tadi kalau namanya Gelap. Ujarnya lalu melanjutkan makannya.


"Mbak Gelap jangan marah-marah gitu deh, nanti wajahnya menjadi gelap seperti namanya loh," teriak Bono


"Apa lo Bilang...pergi gak lo dari sini," Inces kembali ke sana sambil bawa sapu.


"Ampun mbak Gelap, gak lagi deh..he..he.."


"Awas lo kalau lo manggil gue mbak gelap lagi, gue pites pala lo ," ujar Inces


"Iya..iya..mbak Cantik," Inces memelototkan matanya.


"Peace..." ucap Bono menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V


Inces kembali ke rumahnya, kemudian mengambil air putih lalu meneguknya sampai habis.


"Kakak kenapa, kok muka kakak merah gitu ?" tanya Amaira


"Kakak lagi pengen makan Orang," ujar Inces


"Wiih ngeri kali kakak ini, main makan-makan orang saja, jadi ngeri akunya," ujar Amaira

__ADS_1


"Kakak hanya Bercanda Maira, kakak mau makan nasi, ayo kita lanjutin lagi makannya," ujar Inces


"Maira udah kenyang kak, kaka aja yang makan, kalau Maira terusin nanti bisa meledak perut Maira," ujar Maira dengan tingkah lucunya, Inces tertawa mendengarnya. Amaira memang bisa meredam amarahnya, gak sia-sia dia mengajak Maira tinggal di rumah nya.


Hari sudah semakin Siang, Inces sudah selesai memasak untuk dagangan siang ini, Inces hanya jualan Siang saja karena dia sedang hamil jadi tidak terlalu di forsir untuk bekerja, dia juga harus memikirkan kandungannya dan harus Istirahat cukup juga.


"Waah...pelanggan warung kakak ternyata banyak juga ya," ujar Maira


"Iya Dek, memang banyak yang suka masakan kakak." ujar Inces sambil tersenyum ke arah Maira


"Neng gelis masak apa hari ini neng ?" tanya Seorang pelanggan setia warung itu.


"Hari ini aku masak Spaghetie Teriyaki, mau pesan berapa Box pak hari ini ?" tanya Inces


"Waah makanan mahal tuh," ujar Bapak itu


"Gak mahal kok pak, cuma dua puluh ribu per Box nya,"


"Waah...kalau di Restorant-restorant bisa ratusan ribu tuh, saya pesan lima Box ya neng," ujarnya


"Saya juga lima ,"


"Saya sepuluh.." ucap yang lainnya.


"Makanya bantuin kakak naruh makanan ini ke dalam Box nya biar cepat kelar dan kita bisa cepat istirahat," ujar Inces sambil terus menaruh makanan itu ke dalam Box.


Inces memang tidak melayani orang makan di warungnya, menurutnya akan lebih capek karena harus nyuci piringnya lagi awal-awalnya saja begitu tapi makin banyak pelanggan makin lelah pula tubuhnya, lagi pula Inces tidak sekuat dulu lagi sebelum bayi itu hadir di dalam Rahimnya.


Pelanggan pun sudah pada pergi, Inces duduk karena merasakan keram di perutnya, dia menarik nafas lalu membuangnya pelan untuk meredakan rasa nyeri itu.


Alhamdulillah sayang, hari ini rezeki kita berlimpah, kamu sekarang sudah punya kakak yang lucu,, batin Inces sambil mengelus-ngelus perutnya


"Kakak kenapa, apa perut kakak sakit ?" tanya Amaira lalu duduk di samping Inces


"Iya dek, Kakak lagi hamil, jadi Kakak lebih cepat lelah," ujar Inces jujur saja sama Maira


"Jadi dalam perut kakak ini ada dedeknya ya, Yeay...aku bakalan punya dedek dong Kak ," ucapnya senang, Inces tersenyum melihat tinggkah Maira.


"Kalau begitu mulai besok kakak jangan terlalu capek ya, aku gak mau kalau dedek juga kecapeaan, biar aku saja yang bungkusin semua makanan besok," ujarnya semangat


"Makasih ya Maira, kamu sudah membuat Hati kakak jadi senang," ucapnya sambil mengusap kepala Amaira, Amaira pun memeluknya dengan penuh cinta.


"Eh kok main peluk-pelukan gak ngajak-ngajak sih Mbak cantik ," Inces kaget melihat kedatangan Bono yang tiba-tiba itu

__ADS_1


"Dasar kampret lo Bon, kayak Jelangkung saja lo tiba-tiba nongol," ucap Inces lalu beranjak untuk membereskan semua wadah makanan yang masih berantakan di warungnya karena makanannya habis tak bersisa.


"Kampret itu keluar malam hari Mbak Cantik, aku mau dong makanannya, pesan satu ya ," ujar Bono


"Makanannya habis, lo beli saja di warung lain," suruh Inces


"Yach..kok habis sih Mbak cantik, padahal aku sangat suka loh masakan Mbak Cantik ini," ujar Bono


"Bon bisa gak sih lo gak manggil Gue seperti itu, gue risih tau gak," bentaknya


"Terus aku manggil apa dong, kemaren panggil mbak Gelap di marahin, aku panggil mbak Cantik juga gak boleh, terus aku harus gimana ?" tanya Bono memandang lekat ke arah Inces.


"Panggil Inces aja," ucap Inces lemah, tiba-tiba saja Inces kepalanya Pusing dan hampir terjatuh, untung saja Bono dengan sigap menangkapnya.


"Mbak gak apa-apa ?" tanya Bono, Inces tersadar di saat tangan kekar Bono menempel ti tubuhnya, ada rasa yang tidak bisa Inces ungkapkan di hatinya.


"Eh lepasin gue, ngapain lo peluk-peluk gue," bentaknya lalu segera bangun.


"Yeay malah sewot, aku tadi bantuin mbak loh, kalau tidak bokong mbak sudah nyium lantai loh tadi," ujar Bono


"Maira kamu beresin semuanya ya, kakak mau istirahat dulu," ujar Inces lalu melangkah menuju rumahnya.


"Baik kak ?


"Dek..kamu siapanya Mbak Inces sih ?" tanya Bono


"Aku tu adik angkatnya kak Inces, emang kenapa Om ? tanya Maira


"Loh kok panggil Om sih, kan kamu manggil dia kakak, kamu panggil aku kakak juga dong, kakak Bono gitu," ujar Bono, Maira memandang lekat wajah Bono.


"Tapi kayaknya lebih pantas di panggil Om deh dari pada kakak," ujar Maira


"Emang Aku kelihatan tua ya ?" Maira mengannguk lalu melangkah masuh ke rumahnya.


"Wah ini gak bisa di biarin, aku harus perawatan lagi nih, agar nanti kalau Inces tau siapa aku sebenarnya dia makin cinta sama Aku," guman Bono yang ternyata adalah Arvan yang menyamar agar bisa dekat-dekat dengan Istrinya itu dan selalu menjaganya.


Awalnya Arvan sangat kecewa karena tiba-tiba saja Inces meninggalkannya di hari pernikahannya, akan tetapi Ferdi sudah menyelidiki semuanya dan ternyata Inces pergi bukan karena kemauannya sendiri, namun karena terpaksa.


Arvan menyuruh Ferdi mencari informasi tentang keberadaan Inces mulai dari dalam negeri maupun luar negeri, setelah sebulan berlalu akhirnya Ferdi menemukannya juga dan di sinilah Arvan sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gimana lanjut lagi gak... ?

__ADS_1


kalau mau lanjut jangan lupa like dan coment yang banyak ya..kalau mau vote juga boleh 😁


__ADS_2