Malam Kelam Princess Somplak

Malam Kelam Princess Somplak
MKPS 6


__ADS_3

"Bapak jangan khawatir, putri bapak baik-baik saja kok," ujar Dokter itu yang membuat kening Bian berkerut.


"Apa maksud Dokter ?" tanya Bian binggung


"Selamat ya pak, anda akan menjadi seorang kakek, putri bapak sekarang sedang mengandung dan usia kandungannya sudah mencapai dua minggu,"


Jedarrrr....


Bagai di hantam batu besar, Bian merasakan dunia berputar dan dia sontak memegang Dadanya yang sedikit nyeri


"Pa..papa kenapa ?" tanya Nora


"Papa gak apa-apa ma, mama urus semuanya papa tunggu di luar," ujar Bian


"Ibu..ini resep yang harus di tebus, usahakan agar Pasien jangan terlalu lelah karena usia kandungannya masih sangat rentan," ujar Dokter itu


"Baik Dok..Makasih ya Dok," ucap Nora, Nora tertawa dalam hatinya karena akan punya alasan untuk mengusir Inces dari rumah mereka.


Sementara di Ruangan lain Arvan sedang di periksa oleh Dante sahabat sekaligus Dokter pribadinya itu, setelah pemeriksaan usai, Dante mengerutkan keningnya dengan hasil pemeriksaaannya itu.


"Gimana Dan ? apa penyakit gue parah ?" tanya Arvan


"Justru itu gue binggung Ar, menurut pemeriksaan lo itu sehat, gak ada penyakit apapun di tubuh lo, lambung lo normal-normal saja," ujar Dante


"Gak mungkin Dan, beberapa hari ini gue merasakan Mual yang luar biasa, mulut gue rasanya hambar dan pengen makan yang seger-seger, dan gue gak suka mencium bau-bau yang menyengat juga seperti bau Farfum, bau bawang dan yang lainnya," jelas Arvan


"Gejalanya seperti orang hamil saja lo ," ujar Dante Asal, Arvan baru menyadarinya.


"Jangan-jangan..." ucapan Arvan Terputus


"Jangan-jangan apa ?" tanya Dante


"Dan..apakah ada orang kalau istrinya lagi hamil akan merasakan seperti yang di rasakan orang hamil ?" tanya Arvan, Dante mengerutkan keningnya


"Maksud lo apa ?


"Lo jawab saja dulu, jangan balik nanya,"


"Bisa jadi, sebahagian suami akan merasakan gejala-gejala seperti yang di rasakan wanita hamil itu yang di sebut kehamilan Simpatik," ujar Dante heran mengapa pertanyaan Arvan mengarah ke sana.


"Ferdi...!" panggil Arvan

__ADS_1


"Ya ada apa Ar ?" tanya Ferdi yang dari tadi asik dengan ponselnya


"Lo secepatnya harus menemukan gadis itu, gue gak mau kalau dia menderita karena kesalahan gue, lo kerahkan semua anak buah kita agar segera menemukannya." ujar Arvan Frustasi


"Lo kenapa Sih Ar ? Gue jadi binggung ," tanya Dante


"Dan..malam itu gue sudah merenggut keperawanan seorang gadis karena efek obat perangsang yang gue minum,dia sudah baik mau menolong gue dan gue yakin kalau dia sekarang sedang hamil anak gue," ujar Arvan


"Kok bisa ?"


"Gue di jebak malam itu, entas siapa pelakunya yang jelas gue sudah menghancurkan kehidupan gadis itu, gue gak mau dia menanggungnya sendiri akibat kesalahan gue ini," ujar Arvan


"Gue harus pergi Dan..lo rahasiakan tentang ini, kalau sampai ada yang tau lo tau sendiri akibatnya,"


Gleek..


Dante menelan salivanya, Dia tau kalau Arvan tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Arvan pun pergi dari sana, saat dia sampai di Lobby rumah sakit itu dia melihat seorang bapak-bapak sedang menarik tangan seorang gadis yang meronta-ronta meminta bapak itu melepaskan tangannya.


Entah mengapa Arvan iba melihat gadis itu, dia kemudian menghampiri mereka.


"Hey pak..lepasin tangannya..kasian dia kesakitan begitu," ujar Arvan


Inces menoleh ke Arah Arvan dan segera memalingkan wajahnya.


"Itu kan pria yang sudah menghamili gue,kenapa dia berada di sini ? papa gak boleh tau kalau dia adalah orangnya, gue gak tau apa yang akan di lakukan papa padanya nanti kalau dia tau pemuda ini yang sudah membuat gue hamil, biarlah semua ini gue tanggung sendiri, dan nanti kalau sudah saatnya gue akan mencarinya," Batinnya


"Ayo..masuk ke mobil," ujar Bian pada Inces, Inces pun segera masuk ke sana tanpa menoleh sedikitpun ke arah Arvan.


Ada rasa sakit di dada Arvan melihat perlakuan Bian terhadap putriya itu, dia berjanji kalau nanti menemukan gadis itu dan mereka mempunyai seorang putri, dia tidak akan pernah menyakitinya apalagi seperti yang di lakukan bapak-bapak itu.


Setelah mobil itu pergi sebuah mobil berhenti tepat di depannya, Arvan segera naik ke mobil tersebut.


"Kenapa lo bengong begitu Ar ?" tanya Ferdi


"Gue kasian melihat gadis itu di tarik-rarik sama bokapnya dan gue seperti pernah bertemu dengan gadis itu tapi gue gak tau dimana pernah melihatnya," ujar Arvan


"Lo kan pengusaha Muda Ar, jadi lo sering bertemu dengan Ratusan Gadis-gadis yang mengidolakan lo, mungkin dia salah satu dari mereka," Ucap Ferdi mulai melajukan mobilnya


"Mungkin saja," ujar Arvan, akan tetapi Arvan masih saja mengingat wajah sedih gadis itu yang sekilas terlihat olehnya tadi.

__ADS_1


Bian memarkirkan mobilnya sembarangan di depan rumahnya, dia turun lalu menarik tangan Inces dan membawanya masuk ke rumahnya.


"Katakan siapa laki-laki yang sudah menghamili kamu hah ?" Wajah Bian merah padam pertanda dia sangat marah saat itu, Inces hanya tertunduk tak berani menatap ke arah papanya itu.


"Inces jawab papa ..!


"Kenapa kamu diam..ayo jawab.." Bian berteriak bagai orang kesetanan


"Papa gak mau tau, sebelum orang-orang tau kalau kamu hamil, kamu harus segera mengugurkan kandungan kamu itu,"


"Gak pa..Inces gak mau membunuh anak yang gak berdosa ini Pa ," ucap Inces sambil menangis


"Inces mohon Pa, biarkan Inces melahirkan dan membesarkannya pa, inces tidak mau menambah dosa lagi," ujar Inces makin tambah kencang tangisannya.


"Kamu..." Bian hendak menampar Inces tapi di urungkannya.


"Kalau itu pilihan kamu, berarti kamu harus pergi dari rumah ini, dan mulai sekarang kamu bukan keluarga prayoga lagi," ucap Bian sambil membuang mukanya ke arah lain sambil memejamkan matanya.


Nyeeeesss...


Rasa sakit tubuhnya tak sebanding rasa sakit hatinya ketika mendengar ucapan Papanya itu, Inces seakan di buang dari keluarga itu.


Kenapa papa malah menbuang gue, seharusnya dia yang menjadi sandaran gue disaat seperti ini, gue gak menyanka kalau papa memang tidak menganggap gue sebagai anaknya, kemana gue akan pergi setelah ini ? apaoun yang terjadi gue harus mempertahankan bayi ini, gue yakin suatu saat gue akan bahagia walaupun tanpa nama Prayoga di belakang nama gue,, Batin Inces


"Baik lah pa, Inces akan pergi dari rumah ini, dan Papa jangan pernah mencari keberadaan Inces lagi, dan mulai sekarang Inces prayoga sudah mati," ucapnya lalu menuju kamarnya dan mengambil beberapa pakaiannya kamudian turun dan hendak pergi.


"Inces...tinggalkan kunci mobil di meja, kamu tidak berhak memilikinya," ucap Bian


Inces memejamkan matanya menahan rasa sakit hatinya itu, dia berjalan dan meletakkan kunci mobil itu di atas meja lalu bergegas pergi dari sana.


Inces menyetop sebuah taksi yang sedang melaju ke arahnya, dia segera naik ke sana dan melihat sekilas ke arah rumahnya itu.


"Selamat tinggal Kediaman Prayoga, mulai sekarang nama panggilan gue bukan inces lagi akan tetapi nama gue sekarang adalah Sunny," guman Inces


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Likenya mana...


Coment ya kalau mau lanjut..


Favorite kalau suka...

__ADS_1


Vote kalau berkenan...


Makasih🙏🙏🙏


__ADS_2