
Pulangnya Marsha lebih awal dari biasanya, tentu saja mengejutkan Mawar, namun Marsha coba menyembunyikan jika dia sedang tak enak badan, Mawar suka berlebihan jika tahu dia sakit. Sebisa mungkin Marsha menjaga kontak fisik dengan sang mama, bahkan Matthew yang memaksa ingin mampir pun dilarang oleh Marsha. Dan juga, Marsha memarahi Matthew yang mulai berani melakukan kontak fisik dengannya.
"Matt, jangan menyentuh ku lagi, atau lebih baik kamu jangan menemuiku kecuali urusan pekerjaan." Ancam Marsha pada Matthew.
Matthew yang memang sangat menyukai Marsha, ditambah dibuat terkagum oleh kepribadian Marsha yang sebenarnya, dia suka wanita bar-bar, apalagi sikap judes Marsha menambah kesan cantik Marsha dimatanya, dan dia baru tahu, jika kedekatan Marsha padanya selama ini hanya demi kontrak kerjasama mereka saja.
Untuk kali ini Matthew menurut, demi bisa bertemu Marsha lagi.
"Ok sweety, kamu istirahat yang cukup, jaga kesehatan, hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu." Matthew menahan diri untuk tidak mendekap gadis cantik didepanya.
"Matt, ini bukan hubungan relationship 'kan? Aku harap kamu tidak berharap lebih dari kedekatan kita." Marsha tidak bisa berbasa-basi atau memilih kalimat lembut untuk tak membuat orang lain sakit hati.
Matthew terkekeh "Oke, sweety, masuklah aku pulang." Ujar Matthew, padahal dia sangat ingin berlama-lama atau mendekatkan diri pada keluarga Marsha.
Marsha yang ingin beristirahat dia urungkan karena Rasya memanggilnya. Ketika Marsha masuk keruang kerja Apapnya, Marsha langsung mendapat semprotan dari Rasya.
"Apa ini Marsha? Kenapa sampai ada gosip kamu dekat dengan penyanyi ini?" Rasya menunjukkan deretan gosip atas kedekatannya dengan penyanyi itu.
"Apa masalahnya Pap, hanya sekedar gosip, kenapa Apap harus marah?"
"Hanya sekedar gosip katamu? Kenapa kamu tidak bisa menjaga nama baik keluarga? Apa seperti itu cara kamu menarik investor lebih banyak, dengan membuat skandal disana-sini? Iya?"
Marsha tertunduk, tak berani menatap wajah Apapnya "Apap dan Amam selalu mengajarkanmu untuk melakukan sesuatu hal yang baik. Jejak digital itu jahat Marsha, kamu ingin anakmu kelak mengenal ibunya yang banyak skandal? Untuk sekarang mungkin kamu bangga dengan apa yang kamu lakukan, tapi suatu saat, jika kamu sudah tua, kamu baru menyadari, jika tindakan kamu ini salah." Apa yang Rasya ucapkan merupakan pengalamannya dulu, sebab pernah melakukan tindakan yang membuat dia dan Mawar tak bisa bersama, dan dia menyesali tindakannya itu.
"Iya, Apap. Marsha minta maaf." ucap Marsha masih menunduk.
"Apap memang menargetkan agar kamu bisa membuat pemasukan perusahaan naik, tapi bukan dengan cara-cara licik."
Untuk kali ini Marsha tidak terima dengan ucapan Rasya, dia mendongak. "Cara licik apa yang Apap maksud? Marsha tidak menjual diri Pap, tidak mendekati suami orang, masih dalam kategori wajar, lagian laki-laki yang dekat dengan Marsha selama ini laki-laki single, tidak memiliki ikatan pada siapapun." Marsha membela diri.
"Iya, Apap tahu, sejauh ini kamu masih dalam jalur yang benar, Apap hanya takut jika kamu lama kelamaan menikmati peran kamu Marsha, itu berbahaya. Kurangi skandal-skandal dengan laki-laki, Apap hanya ingin melihat kinerja mu dengan cara yang baik."
__ADS_1
Marsha membuang nafas, selama beberapa bulan dia menjabat sebagai Presiden Direktur di Mahardika corp, mendekati para investor ataupun klien sangat sulit jika dilakukan dengan cara yang biasa-biasa saja.
Baiklah, Marsha suka tantangan baru, dia akan membuktikan pada Apapnya, jika dia bisa diandalkan, walau dia seorang wanita. Membantah Apapnya, sama saja dia akan kehilangan jabatan, dia tak mau jika harus menjadi karyawan biasa.
Setelah mendapat ceramah panjang dari Rasya, Marsha masuk kekamarnya, dia mencari obat yang biasa dia minum untuk membuat otaknya rileks, dan ketika bangun besok, badanya sudah kembali fit seperti biasa.
"Apa harus dengan cara marah-marah menegur Marsha?" Mawar masuk keruang kerja suaminya ketika Marsha sudah masuk kekamar. Seorang ibu tidak pernah rela jika suaminya memarahi anak mereka, terlebih anak perempuan.
"Kita harus tegas padanya Mawar, kalau bukan kita siapa lagi? Aku tidak mau anak gadisku mendapatkan citra buruk diluar sana. Entah mengapa papa bisa membebaskan cucu perempuannya malam itu."
"Terus kamu lebih percaya pada ocehan orang dari pada anakmu sendiri? Aku tahu selama ini Marsha lebih sering membantah kita, memakai pakaian seksi, membuat skandal, tapi itu masih dibatas normal dan dia tahu batasan, beri kepercayaan pada Marsha sepenuhnya. Dan apa yang dia lakukan semua karena kamu terlalu menargetkan dia. Seharusnya kamu bertanya padanya, kenapa dia pulang lebih awal, apa dia sehat? Atau ada masalah lain? Bukan hanya memarahinya."
Bruakk
Suara pintu dibanting dengan keras. Setelah mengatakan itu Mawar keluar dengan rasa dongkol dihatinya. Rasya mengusap wajahnya, dia harus segera meminta maaf pada Marsha, agar tidak terjadi salah paham antara dia dan anaknya, dan satu lagi, agar dia tidak tidur diluar.
Tangan yang akan mengetuk itu dibuat menggantung, ketika terdengar suara Mawar yang sedang meminta maaf atas nama dirinya, Rasya terenyuh, ternyata dia dikelilingi bidadari-bidadari cantik dalam hidupnya, Rasya memilih menunggu di balkon, tak ingin mencuri dengar obrolan para wanita didalam sana, biarlah itu menjadi privasi mereka.
"Sayang, Apap boleh masuk?" Tahan Rasya pintu yang akan ditutup oleh Marsha.
"Apap?"
Rasya dan Marsha duduk disofa pink yang terletak diujung tempat tidur Marsha. Keduanya sama-sama terdiam sebelum Rasya membuka obrolan.
"Katanya tadi kamu pulang cepat? Apa ada masalah."
"Tidak ada Pap."
Rasya menghela nafas, sebelum mengatakan tujuannya "Maaf, jika ucapan Apap menyakiti mu sayang. Apap hanya takut terjadi sesuatu padamu." Rasya membelai rambut panjang keriting anaknya.
"Iya Pap, Marsha juga minta maaf jika tindakan Marsha membuat Apap khawatir, tapi percaya pada Marsha, Marsha bisa jaga diri." Ujar Marsha coba menyakinkan.
__ADS_1
"Iya sayang, terima kasih. Ingat nama baik keluarga, bagaimana tindakan kamu diluar sana. Bukan Apap gila nama baik, tapi alangkah baiknya, jika kamu menjaga diri dengan baik, untuk kamu sendiri, bukan untuk Apap." Rasya membawa kepala Marsha untuk menyandar dibahunya, Marsha tidak menolak, beruntung suhu badanya susah kembali normal. "Amam bilang hari ini kamu pulang lebih awal, ada apa? Pantas hari ini menjadi mendung." Rasya coba mencairkan suasana.
Marsha tergelak "Tidak ada apa-apa Apap, kebetulan pekerjaan hari ini memang sedikit, Marsha ingin beristirahat."
Obrolan kecil itu berlanjut, sudah lama sekali Rasya tidak mengobrol dengan putri sulungnya karena kesibukan masing-masing, walau dia tidak terlalu dekat dengan Marsha, tapi Rasya mencoba untuk mendekatkan diri pada putrinya itu, sampai pada akhirnya, Rasya melihat sang putri susah terpejam, diapun memindahkan Marsha ketempat tidur.
* * *
Setelah obrolannya dengan kakek selesai, Zidan memilih pulang kekontrakanya, padahal mati-matian kakek meminta Zidan untuk tidur dirumah, tapi entah mengapa, Zidan ingin pulang saja. Saat diperjalanan, tiba-tiba saja sepeda motor yang dia kendarai sudah sampai didepan kediaman mewah bosnya.
Dari luar, rumah itu nampak sepi, Abian melihat kekiri kanan, dan belakang, kompleks rumah itu nampak sepi, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Zidan mentertawakan dirinya "Kenapa aku bisa sampai disini?" Namun bukannya pulang, dia justru mengambil gadged yang ada disaku jaket kulitnya.
"Telepon nggak ya?" Zidan tidak tahu kamar Marsha yang ada disebelah mana, semua kamar yang ada dilantai dua itu nampak sudah gelap.
Lama Zidan menimang, namun rasa penasaran atas kabar bosnya membuat Zidan tak dapat menahan diri untuk tidak menghubungi Marsha. Dering ketiga, panggilan itu baru diangkat oleh sang empunya. Darah Zidan berdesir hebat ketika mendengar suara lirih diseberang sana.
"Apa kamu sudah tidak betah kerja dengan ku Zidan, menghubungi bos kamu malam-malam seperti ini?" Zidan sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar suara melengking khas boss garangnya.
"Maaf Miss, saya hanya ingin bertanya, apa keadaan Miss sudah baik-baik saja?" Zidan sampai memegangi dadanya, siap jika harus menerima bentakan dari Marsha.
"Kenapa kamu sangat khawatir Zidan?"
Zidan merutuki dirinya, benar kata Marsha, kenapa dia harus khawatir, Zidan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, namun kini dia dibuat tak fokus saat melihat salah satu pintu balkon terbuka, memperlihatkan Marsha yang terlihat sangat lucu dengan piayama kartun yang dikenakannya, image galak Marsha hilang begitu saja.
"Kenapa anda keluar Miss, angin malam bahaya untuk kesehatan anda."
Mendengar ucapan Zidan, Marsha terkejut, dan dia langsung mencari keberatan Zidan dari atas sana.
"Zidan kamu dimana?" pekik Marsha, membuat Zidan tersadar atas ucapannya.
__ADS_1