
Abdi tak bisa tidur, dia melirik Indah yang sudah terlelap disampingnya, dia terus terpikirkan oleh racauan Mahesa saat dia meminta Mahesa menceritakan masalahnya.
Dan Mahesa mengakui dia menyukai Marsha sejak kecil. Abdi kemudian kembali teringat oleh kata-kata Mahesa yang mengatakan jika Zidan memilkki ibu bernama Naima, dan ibunya itu tinggal dirumah aman tempat neneknya juga berada, tapi setelahnya Mahesa tak mengatakan apa-apa lagi karena Mahesa telah tidur setelah diberinya obat penghilang rasa pusing.
"Apa ini sebuah kebetulan?" Abdi mengingat nama anak Naima dulu, dan mengingat logo mesin yang diberikan Mahesa tempo hari. Abdi segera ke ruang kerjanya, dia sepertinya membawa berkas yang diberikan Marsha pada Rasya waktu itu.
Benar, dia memang ingat logo mesin itu, "ini bukan cuma kebetulan, jika memang Zidan anak Naima, aku tidak akan merestui hubungan mereka." Namun kemudian Abdi terduduk lemas, dia tidak memiliki kekuatan apa-apa, karena yang berhak memberikan restu adalah Rasya.
Abdi begitu pusing memikirkan nasib Marsha, namun Marsha sedang menikmati kedekatannya dengan Zidan. Malam ini mereka keluar kantor jam sepuluh lewat, Zidan mengajaknya pulang menaiki motornya, Zidan telah menyiapkan pakaian ganti, sebuah setelan celana dan jaket denim untuknya.
"Kamu nyiapinnya cukup matang Zidan."
Zidan hanya tersenyum sambil memakaikan helm dikepala Marsha. "Kamu lupa aku siapa Nyonya Xavier? Aku bisa menyiapkan apapun hanya dengan menjentikkan jari," Zidan menatap Marsha, wanita itu begitu cantik, tak tahan, ia menarik kepala Marsha, mengecup bibir Marsha sekilas, membuat jantung Marsha berdesir.
"Bisa nggak kadar cantiknya dikurangi? Bikin gemes pengen langsung bawa kepelaminan, terus kurung kamu dikamar selama berbulan-bulan, dan kamu cukup dirumah habisin uang aku." Gombalnya dari dalam hati yang paling dalam.
"Dasar buaya." Marsha tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Dan malam ini mereka bak pasangan muda mudi yang sedang jatuh cinta, Marsha memeluk erat Zidan dari belakang, dengan tangan Zidan yang terkadang mengusap paha Marsha, menariknya agar lebih maju lagi, dan mengusap tangan Marsha yang melingkar dipinggangnya, kemudian mereka makan pecel lele dilesehan pinggir jalan.
"Sumpah ini pertama kali aku makan lele selain dari resto ayah." Marsha begitu antusias.
"Oh ya?"
"Aku ngerasa kayak berkhianat aja sama ayah kalau makan ditempat lain."
"Sekali-kali makan ditempat lain juga tidak masalah, kita akan tahu kesalahan dan kekurangan kita dimana, jika kita mencoba dari berbagai tempat."
"Hemm benar, tapi Zidan menurut mu, pecel lele di resto ayah enak nggak sih?"
Hahaha Zidan tertawa bahagianya, sangat tahu jika Marsha ingin dia memuji resto milik Abdi "Milik ayah yang terbaik," jujurnya.
"Kamu pembohong."
Zidan hanya menggeleng, tak akan jika dia berdebat, jika mengatakan kekurangannya juga pasti dia akan tetap salah.
Dan setelahnya mereka sampai dirumah, Marsha langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri, sedang Zidan berama tamah pada Rasya.
"Apa kau benar-benar menyukai putriku, Zidan?" Akhirnya Rasya menanyakan hal itu pada Zidan.
Zidan berdehem, tiba-tiba dia merasa gugup "Saya-, saya sangat mencintai Marsha Pak, bukan hanya mencintainya tapi saya juga ingin melindungi Marsha, menjaganya dari apapun."
Termasuk dari rencana kakek saya sendiri.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu menyukai putriku?"
"Semua yang ada di diri Marsha, dia unik dan berbeda dari yang lain." Sumpah demi apapun jantung Zidan rasanya ingin lepas dari tempatkan, dia seperti diinterogasi oleh petugas polisi.
Rasya menghela nafas "Apa dari sebelum ini terjadi?" Rasya memperlihatkan fotonya bersama Marsha saat di Batam.
Zidan terkejut "Pak? Ini bukan salah Marsha, kami dijebak, sungguh saya tidak tahu kenapa kami bisa bersama malam itu."
"Terus langkah apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Rasya memancing Zidan, ingin tahu jawaban apa yang akan Zidan ambil.
Takut, pasti Zidan sangat takut akan jawabanya sendiri, dia tahu Rasya pasti menjebaknya "Bismillah, jika anda bersedia? Saya akan melamar Marsha dan segera menikahinya Pak." Jawab Zidan mantap pada akhirnya setelah mengumpulkan banyak keberanian.
"Buktikan besok malam, saya tunggu niat baik itu, bawa keluarga datang kesini." Setelahnya Rasya langsung beranjak dari duduknya, meninggalkan Zidan yang mencoba menyadarkan diri atas permintaan Rasya.
"Ingat Zidan, aku tidak perduli siapa keluarga mu, jika berani menyakiti putriku dan kau ingkar, aku tidak akan segan-segan mengahancurkan usaha keluarga mu." Zidan terlonjak saat Rasya kembali.
"Baik Pak." Zidan memegangi dadanya, jantungnya seakan berhenti berdetak "Apa pak Rasya meminta aku melamar Marsha?" Dia masih merasa tak percaya, tanpa sadar Zidan mengembangkan senyumnya.
"Miss, saya pamit pulang dulu," pamit Zidan melalui sambungan teleponnya, membuat Marsha heran karena belum sempat dia menjawab Zidan sudah memutuskan panggilanya begitu saja.
"Kurang ajar sekali Zidan," Marsha meremas ponselnya kesal "apa Apap mengatakan sesuatu padanya?" Marsha jadi risau.
Marsha turun untuk menemui Rasya, laki-laki yang merupakan cinta pertamanya itu sedang membaca melalui tablet ditemani secangkir kopi dimejanya.
Rasya mengalihkan pandangannya dari tablet ke wajah cantik putrinya. "Memang dia aneh bagaimana?" Rasya kembali menatap tabletnya.
"Apap benar Apap mengatakan sesuatu pada Zidan?"
"Iya," jawab Rasya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Pap, look at me!"
"Kenapa kamu begitu takut sayang, Apap cuma mengundang keluarga besarnya kesini besok malam."
"What? Pap! Itu artinya Apap meminta Zidan melamar Marsha."
"Kamu tidak mau?" Marsha diam, matanya sudah berkaca-kaca "besok ambillah libur, lakukan perawatan bersama Amam dan Bunda."
Marsha memeluk Rasya, entah mengapa hatinya jadi mengharu, "Marsha tidak tahu harus senang atau sedih Pap, but, thank a lot for blesssing our relationship."
"Apap juga tidak tahu sayang, apa keputusan Apap benar atau salah? Apap harap Zidan adalah laki-laki yang tepat untuk kamu, tapi jika dia berani menyakiti kamu sedikitpun, Apap siap pasang badan." Rasya tak mengatakan jika dia sudah mengetahui bahwa dia dan Zidan telah tidur bersama.
Marsha mengeratkan pelukanya, tak ada kasih sayang melebihi kasih sayang ke empat orang tuanya. Dia begitu bersyukur
__ADS_1
*
*
*
Malam yang ditunggu pun tiba, Marsha sudah sangat cantik, sehari tak bertemu Zidan dia sudah merasakan rindu yang teramat. Tadi siang Zidan hanya mengirimkan pakaian untuk dikenakannya melalui kurir. Zidan telah memilihkan pakaian yang serasi untuk mereka.
"Cantiknya anak Amam." Mawar masuk untuk melihat putri cantiknya. Sejak kemarin dia tak menemui Marsha, karena dia begitu syok setelah mengetahui Marsha telah tidur bersama Zidan dan itu karena dijebak.
Marsha tidak menceritakan hal ini padanya, membuat Mawar merasa tidak diperlukan sebagai seorang ibu, padahal dia berjanji pada dirinya sendiri, jika dia menjadi ibu kelak, dia akan memberikan perhatian yang lebih, dan ingin menjadi tempat curhat terbaik untuk anaknya. Nyatanya Marsha memendam sendiri masalahnya dan Marsha tumbuh menjadi wanita yang mandiri. Mawar tak bisa berbuat apa-apa, karena dulu dia bahkan tak bisa melakukan apa-apa diusia itu.
"Aku deg-degan Mam." Marsha menyentuh dadanya.
"Sudah pasti sayang." Mawar membelai rambut panjang Marsha yang dibiarkan tergerai dan sedikit bergelombang, "kamu sudah menemukan takdir mu, semoga Zidan laki-laki yang baik untuk mu, dan bisa membuat kamu selalu bahagia." Sekuat tenaga Mawar menyembunyikan rasa sedihnya, dia berharap tak ada kejadian tak menyenangkan malam ini, dia teringat kisah masa lalunya bersama Rasya.
"Amiin, apa Amam setuju dengan Zidan?"
"Kalau kamu suka, Amam sangat setuju," pandangannya jatuh pada gaun dan anting Marsha "apa ini pemberian Zidan tadi?" Marsha mengangguk "cantik," pujinya "semoga Zidan benar laki-laki yang tepat untuk kamu, dan dia laki-laki baik yang bertanggung jawab."
Dibawah, seluruh keluarga besar Mahardika telah berkumpul, Marvin bersama istri dan kedua anaknya, Chio dan Anggun dan kedua anak mereka. Dan tak tertinggal keluarga Prasasti, serta beberapa kolega Mahardika yang ingin ikut menyaksikan pertunangan cucu pertamanya, apalagi menurut cerita Rasya, jika Zidan merupakan cucu tunggal dari Xavier, pengusaha sukses yang sangat low profil, dia ingin bertemu secara langsung dengan pemimpin Xavier corporate itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Marsha memang sengaja tidak menghubungi Zidan, hati Marsha sudah sangat tak menentu menunggu kedatangan Zidan beserta keluarganya.
Hingga tak lama sosok gagah dan tampan yang ditunggunya itu muncul. Zidan datang dengan ekspresi datar dan dingin, Marsha yakin jika Zidan hanya akan memberinya surprise. Para keluarga Mahardika berdiri menyambut kedatangan keluarga Zidan. Mahardika begitu penasaran, yang mana tuan Xavier.
Zidan dan keluarganya duduk dimeja panjang yang telah disediakan, mereka duduk saling berhadapan, Marsha mengerutkan keningnya merasa ada perubahan dari Zidan, laki-laki itu tak melihatnya sama sekali, padahal Marsha ingin Zidan terpesona dengan penampilannya malam ini dan berharap Zidan sampai tak berkedip melihatnya, namun semua tak sesuai dengan yang diharapkannya, Marsha sampai nekat menendang kaki Zidan dibawah meja, namun sekretaris yang akan melamarnya itu tak bergeming membuat Marsha semakin kesal.
Dan acara pun segera dimulai, Zidan berdiri, untuk memperkenalkan keluarganya dan mengucapkan kata-kata lamarannya.
"Selamat malam semua," wajah Zidan masih dingin dan datar "malam ini saya datang bersama keluarga besar saya sesuai permintaan pak Rasya untuk melamar putrinya yang bernama Marsha."
Marsha menunduk mendengar ucapan Zidan yang sama sekali tak enak didengar.
"Yang kalian tahu sendiri, jika saya sebenarnya hanya sekretaris Marsha, Marsha sosok wanita berbeda dari yang lain, dia pemaksa, pemarah, dan egois."
Semua terdiam mendengar kata sambutan Zidan, mereka masih mengira jika ini hanya candaan semata, sedang Marsha masih menundukan kepalanya dalam, "Saya melamar Marsha bukan karena saya mencintanya," mendengar itu Rasya dan Abdi berdiri, namun tangan keduanya ditahan oleh istri mereka. Zidan melihat pada Rasya dan Abdi, namun tak sanggup menatap wajah Marsha.
"Melainkan permintaan pak Rasya," lanjut Zidan ucapannya yang sempat terhenti saya sudah memiliki kekasih dan kami akan menikah, kalian tahu kan? Jika Marsha ini pemaksa-"
"CUKUP HENTIKAN." Mahesa memotong ucapan Zidan "kenapa sejak tadi kata-kata mu sangat tidak pantas di dengar?"
"Memang itu kenyataannya, saya tidak mencintai Marsha, mana ada laki-laki yang terpikat dengan wanita pemaksa dan pemarah sepertinya."
__ADS_1