Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Bertemu Besan Lama


__ADS_3

"Zidan hanya dimanfaatkan keluarganya, dan yang menjebak mu waktu itu, Misya, tunangan Zidan pilihan kakeknya. Tadinya Misya ingin menjebak Zidan, tapi kakek Zidan dari almarhum papanya, Valent Xavier menggagalkan rencananya, dan membuat kamu dan Zidan tidur bersama."


"Tinggal menunggu waktu kehancuran mereka, Apo serahkan padamu untuk kembali pada Zidan atau tidak?"


Marsha menutup ponsel setelah membaca pesan dari sang kakek. Marsha mengerucutkan bibir, mengendikkan bahu acuh, kemudian menyesap jus orange segar.


"Apapun alasannya Zidan laki-laki lemah, aku benci laki-laki tidak punya pendirian. Kita tidak butuh ayah seperti itu sayang," gumamnya sendiri, menunduk, mengusap perutnya yang masih rata.


Dia menatap kedepan, pemandangan yang akan menjadi pemandanganya setiap hari kedepannya, sebuah peternakan sapi dengan luas ribuan hektar, berisi ribuan sapi sehat karena hidup dialam bebas, bukan didalam kandang.


Peternakan ini dulunya hadiah dari almarhumah neneknya Vivi untuk sang mama. Peternakan itu sudah berkembang sangat cepat berkat kepintaran mamanya.


Saat ini dia sedang selonjoran santai menggunakan kursi pantai, dengan style-nya seperti biasa, dari atas hingga bawah semua barang brandet. Sepatu boots, gaun pelangi khas pantai lengkap dengan topinya, memang agak aneh gayanya, mungkin bawaan orok.


Disamping kanan tak jauh dari tempatnya, ada dua orang koki yang sejak pagi sudah sibuk membuatkan mi instan pesananya, mereka terlihat tegang, dan sesekali mengusap peluh yang mengucur di kening mereka, sebab sejak tadi mi instan buatan mereka tak ada yang sesuai dengan lidah Marsha, dan ini entah sudah bungkus yang keberapa yang mereka buat.


"Lo tuh ngabisin anggaran doang tau nggak bisanya, mau berapa lama lo tinggal disini? Sampai bayi itu brojol? Bisa habis dana buat makan sapi, kalo lo sembilan bulan disini."


Marsha mendongak melihat wajah laki-laki muda berpakaian khas yang bertolak pinggang disampingnya dengan wajah sangat tak bersahabat.


Dia adalah Arvi Puma Pramudipta, putra pertama Marvin dan putri, yang sudah beberapa tahun ini mengurusi peternakan milik Mawar.


"Sekarang tuh emang karyawan lebih songong ya dari atasan," Marsha melepaskan kaca mata pink yang bertengger di hidungnya, "denger ya singa gunung, walau kamu sepupu ku, aku bisa memecat mu kalau kamu kurang ajar begini. Udah sana kerja yang benar, jangan mengurusi ku, hus-hus," usirnya seperti mengusir ayam.


Puma memalingkan wajah melihat kasihan pada dua koki yang seperti bekerja percuma.


"Hei kalian," kedua koki itu menoleh pada Puma, "istirahatlah. Kalian nggak akan bisa menuruti kemauannya, karena yang dia mau bukan rasa mie-nya, tapi rasa yang pernah ada."


Marsha melotot dengan mulut menganga, Puma mengusir kokinya.


"Singa gunung, aku belum makan dari pagi, aku akan menuntut mu kalau sampai anakku terkena gizi buruk karena kurang makan, dan semua ulah mu."


"Anak lo akan terkena gizi buruk lebih parah karena ibu gilanya memberi makanan tak sehat," sahut Puma yang membuat Marsha terdiam.


Karena memang setiap hari perut Marsha hanya bisa di isi mi insya, sebab jika diisi oleh makanan lain, Marsha akan mengeluarkan semua yang dia makan, itupun terpaksa, karena rasa mi yang Marsha mau, tak sama seperti yang dimasak oleh ayah anak yang dikandungnya.

__ADS_1


"Berhentilah mengsugesti keinginan mu, jangan bodoh karena cinta, katanya wanita cerdas, tapi otaknya nggak dipake buat mikir logika."


Marsha mendengus, turun dari singgasananya, berdiri berhadapan dengan Puma.


"Kamu bilang begitu karena belum merasakan yang aku rasain, ini bukan karena cinta, aku juga tidak tahu kenapa anak ini nggak mau makanan lain, aku sumpahin kamu bucin, sebucin-bucinya kalau sudah ketemu cewek yang kamu suka, sama seperti sapi itu, itu-tu," tunjuknya pada sapi yang dicucuk hidungnya.


"Nggak akan, gue nggak percaya yang namanya cinta."


"Halah dasar cowok, sekarang aja bilangnya nggak percaya cinta, nanti kalau sudah tahu rasanya jatuh cinta, kelakuannya sampai tidak bisa dibedain sama ODeGeJe, lagian mana mungkin kamu bisa jatuh cinta, orang yang di temuin setiap hari cuma, mooo," Marsha menirukan suara sapi, Marsha tertawa sangat puas, kemudian dia masuk ke kamarnya sambil mengibaskan rambutnya kebelakang.


Kamar Marsha terbuat dari coutainer tak terpakai, tapi jangan salah, isi dalamnya bak hotel berbintang.



Puma hanya tersenyum simpul melihat tingkah sepupunya yang sudah menghilang didalam kamarnya. Marsha tetap terlihat menggemaskan walau galaknya melebihi singa betina.


Puma bukan belum merasakan jatuh cinta, tapi cintanya jatuh pada wanita yang tidak tepat, karena harus bersaing dengan laki-laki yang juga menjadi bagian dari saudaranya, dan Puma tak ingin hubungan keluarga mereka jadi hancur jika tahu perasaannya, walau sebenarnya, perasaannya tak salah dan tak terlarang.


Puma sengaja menjauh karena harus menghapus rasa itu, dan saat rasa itu sudah menghilang, kini malah wanita itu datang dengan keadaan yang memprihatinkan.


Jika Marsha kini sudah mulai tenang, berbeda dengan Zidan. Kini dia harus melawan keluarganya terlebih dahulu.


Dan setelah kemarin kakek dan mamanya diambang kehancuran, hari ini justru sebuah kabar besar mengejutkan Nasyat dan Naima.


Seorang pengusaha yang belum mereka ketahui menghubungi penasihat hukum mereka ingin menanam saham dengan jumlah yang tinggi dalam kerja sama penambangan batu bara bersama Misya dan Burhan.


Dan pengusaha itu ingin Zidan ikut datang dalam rapat penting ini.


Zidan dan Misya hanya berdua didalam mobil atas permintaan Naima, sedang yang lainya satu mobil yang berbeda.


"Aku tahu kamu nggak suka sama aku Zidan, dan kamu sangat mencintai Marsha. Tapi bekerja samalah sampai kita menikah, aku tidak akan melarang kamu menemui dan menjalin asmara dengan Marsha atau siapapun setelah kita menikah, begitu juga sebaliknya." Misya memberi tawaran pada Zidan disebelahnya yang fokus pada jalanan.


Zidan hanya tersenyum mencibir "Demi kerja sama keluarga? Maaf aku nggak bisa."


"Terus kamu ingin melawan kakek mu?" Zidan hanya mengendikkan bahu "berarti kamu membuat Marsha dalam bahaya, kakek mu itu seperti mafia berdarah dingin, aku melakukan semua ini demi papa dan perusahaan. Jadi buatlah semua berjalan bagaimana semestinya."

__ADS_1


"Kamu wanita berbahaya, dab kamu wanita berdarah dingin, sikap mu yang membuat orang tidak mengerti manusia seperti apa kamu Misya. Kau menjelekkan kakek di depan cucunya, kamu sadar walau seburuk apapun dia tetap kakek ku. Jadi jaga bicara mu, kamu memanfaatkan kakek."


Misya menggigit bibir, dia salah bicara.


"Aku hanya seorang anak yang menginginkan kebahagiaan untuk orang tuanya Zidan, tak jauh berbeda dengan mu yang awalnya ingin membalas dendam pada Marsha dan keluarganya, itu yang aku lakukan."


Zidan tak lagi menanggapi, dia ingin semua cepat berakhir dan terlepas dari kakeknya, dia harus segera mencari keberadaan Marsha.


Dimobilnya, Naima menjadi tak tenang, seorang pengusaha ingin bertemu secara langsung dengan putranya.


"Ada apa?" bisik Nasyat menyadari Naima yang gelisah. Mereka berdua duduk dibelakang, sedang Burhan didepan.


"Aku merasa curiga Pa, siapa yang ingin menanam modal secara tiba-tiba disaat kita terguncang kebangkrutan, dan saat pengusaha lain mengundurkan diri."


"Jangan khawatir, mereka tidak tahu sedang bermain-main dengan siapa?"


"Apa dia orang-orang Mahardika? Mereka seperti menginginkan Zidan, apalagi mereka menyembunyikan identitasnya."


Nasyat nampak menghela nafas. "Kamu tenang saja, serahkan semua pada Papa."


Naima mengangguk, menarik diri duduk di sudut pintu menatap luar jendela, mencoba menenangkan pikiran, tapi dia tetap tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.


Langkah mereka memasuki gedung milik Nasyat. Para karyawan yang sedang bermalas-malasan sebab gonjang-ganjing kebangkrutan perusahaan itu langsung berlarian ke kubikel mereka masing-masing.


Sedang diruang rapat, sudah berkumpul penasihat hukum perusahaan dan jajarannya.


Dimeja panjang itu, Nasyat duduk di tengah antara yang lain, Zidan dan Naima duduk disisi kananya, Misya dan Burhan duduk disisi kirinya.


"Sudah sampai dimana mereka?" Nasyat berbisik pada asistennya.


"Mereka baru saja sampai Pak." Nasyat mengangguk.


Hingga lima menit berlalu, pintu rapat itu terbuka. Nasyat dan Naima berdiri saat melihat wajah laki-laki tua yang duduk dikursi roda dengan senyum seringainya.


"Apa kabar besan, menantu ku? Lama kita tidak berjumpa."

__ADS_1


__ADS_2