
"Halo Susan, bagaimana? Apa ada kemajuan?" tanya seorang wanita dari seberang sana.
"Tenang saja, aku pastikan rumah tangga mereka hancur."
"Bagus, tapi buktikan padaku ucapan mu, jangan bergerak lambat, aku ingin hasil yang cepat. Dan aku ingatkan juga, hati-hati, kamu tahu keluarga siapa yang kamu hadapi? Zidan itu laki-laki lemah, tapi orang-orang disekitarnya yang mengerikan, dia mudah dihasut, tapi banyak pelindung disekitarnya, termasuk Valent kakeknya sekarang. Aku heran sama situa itu, kenapa bukan dia saja yang mati duluan, kenapa harus Nasyat?" gerutu wanita itu.
"Oke, kamu tenang saja. Aku pastikan Zidan akan jatuh ketangan ku. Kamu tidak masalah jika Zidan jatuh ketangan ku kan?"
"Hem, aku tidak perduli lagi itu, yang aku mau wanita itu hancur. Rebut Zidan dari tangannya."
Panggilan berakhir, karena Susan harus segera berangkat ke kantor, dia tersenyum menyeringai didepan kaca cermin meja riasnya, dia mendapat dukungan penuh dari orang yang juga membenci Marsha. Dia akan membalas perlakuan Marsha padanya kemarin.
"Baik Susan, mulai aksimu hari ini, kita lihat, sejauh mana kesombongan wanita itu." Susan berdiri, melihat penampilannya yang sudah oke. Hari ini dia memakai pakaian sesuai keinginan Marsha, sopan, tak menunjukkan lekuk tubuh, dan dengan riasan wajah flowless sederhana.
"Kamu salah menyuruhku berpenampilan seperti ini, Marsha and the bear." Susan menyambar tasnya, meletakkan dibahu kiri lalu keluar kamar menuju ke kantor, tak lupa ia juga sudah menyediakan sarapan untuk Zidan.
* * *
"Selamat pagi, Pak." Susan mengetuk pintu ruang Zidan, membekap tablet didepan dadanya.
"Pagi," jawab Zidan tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas didepannya.
Susan kecewa, padahal dia berharap Zidan melihatnya sejenak, lalu memuji penampilannya.
"Pak, tadi pagi pak Robert menghubungi saya untuk bertemu, beliau ingin meminta maaf secara langsung pada kita, karena ternyata yang memegang kendali perusahaannya sekarang adiknya." Susan melaporkan pada Zidan.
Zidan mengangkat wajahnya. "Oh ya? Kenapa dia tidak mengkonfirmasi ini kepada kita? seharusnya dia memberi tahu jika yang memegang perusahaan sekarang adalah adiknya."
"Maka dari itu, pak Robert ingin meminta maaf secara langsung pada anda, Pak." Dalam hati Susan masih berharap Zidan memperhatikan penampilannya, dan menilainya.
"Jam berapa dia akan datang?"
"Jam makan siang, beliau meminta bertemu direstoran biasanya. " Zidan mengangguk, meminta Susan memberitahu Robert jika dia ingin bertemu dengannya, lalu mempersilahkan Susan keluar. Zidan takut kalau-kalau Marsha tiba-tiba datang dan memergoki dia sering berduaan bersama Susan.
Peringatan semalam cukup jelas jika Marsha tidak menyukai Susan, tapi Zidan harus memikirkan cara mengeluarkan Susan tanpa menyakiti perasaan Susan, karena sejauh ini kinerja Susan sangat baik, dan cukup berjasa untuknya, tidak mudah mencari sekretaris baru yang cukup kompeten seperti Susan.
Susan tidak mungkin keluar begitu saja dari ruang Zidan jika keinginannya belum terlaksana.
"Bapak sudah sarapan?" tanyanya sekaligus berharap Zidan memperhatikan penampilannya.
__ADS_1
Zidan mengulas senyum bahagia, yang membuat Susan heran.
"Sudah, istriku membawakan ku sarapan." Zidan menarik kotak bekalnya, mengangkatnya menunjukkan pada Susan.
Susan kembali harus merasakan kecewa dua kali. "Padahal saya sudah membawakan Bapak sarapan yang spesial." lirihnya penuh kecewa.
"Sarapan spesial?" Zidan mengerutkan keningnya.
"Maksud saya makanan spesial yang baru saya coba buat, saya kasihan jika Bapak sarapan pagi itu-itu saja."
"Maaf Susan," Zidan menunjukkan wajah tak enaknya.
"Tidak apa-apa Pak, nanti bisa saya kasih ke OB saja," jawab Susan menutupi rasa kecewan sekaligus kesal.
"Apa istri Bapak cemburu karena saya suka membawakan Bapak sarapan? makannya istri Bapak sekarang membawakan sarapan untuk Bapak? Maaf ya Pak, saya tidak ada niat apa-apa sebenarnya," Susan mencoba mencari tahu dengan memutar balikan fakta.
Hahaha. "Sedikit," jawab Zidan diikuti tawa bahagia yang semakin membuat dada Susan sesak. Susan mengerutkan keningnya dalam, mengetahui itu Zidan langsung mengklarifikasinya. "Tapi kamu tenang saja Susan, saya berterima kasih, berkat kamu saya jadi tahu jika Marsha sekarang sudah mulai mencintai saya, dia wanita terunik didunia, mendapatkannya harus penuh perjuangan. Jadi, bisa dicintainya itu anugerah untuk ku."
Sialàn.
Jawaban Zidan justru memantik api semakin besar, rasa benci Susan terhadap Marsha semakin dalam.
Unik dari mananya wanita sombong dan arogant seperti dia?
* * *
Tepat jam makan siang, Zidan dan Susan sudah turun untuk pergi ke restoran yang dijanjikan Robert. Mobil kantor sudah terparkir didepan lobby, kepala Zidan sudah menunduk untuk masuk kedalam mobil, namun dia kembali menarik kepalanya saat ada mobil yang ia sangat kenal berhenti tepat dibelakang mobilnya.
Zidan langsung menghampiri mobil tersebut dan membukakan pintu bagian penumpang dengan senyum yang mengembang, tanganya langsung menarik handle pintu, membukanya.
Susan yang melihat itu mengepalkan tangannya geram. "Mengganggu saja." gerutunya dalam hati.
"Sayang," tangan Zidan terulur membantu istrinya keluar dari mobil, dan saat Marsha sudah keluar, tanpa malu dia mencium kening, pipi, dan berakhir mengecup bibir Marsha sekilas. Marsha bersemu malu, sampai wajahnya memerah, Zidan senang melihat itu.
"Tak tahu mallu." umpat Susan enek melihat kemesraan keduanya.
"Mau kemana?" Marsha bertanya, melirik Susan yang berdiri didepan pintu mobil.
"Bertemu pak Robert, pengembang hotel kita, dia mau meminta maaf sekaligus mengajak makan siang bersama."
__ADS_1
"Ikut, boleh?" tanyanya manja memggamit tangan Zidan, memyandarkan kepalanya dibahu sang suami, Marsha juga melirik Susan yang terlihat semakin tak suka.
"Tentu, kita sekaligus makan siang bersama, oke anak Daddy, ini pertama kalinya kamu ikut Daddy meeting." Zidan menunduk, mengelus perut Marsha, tangannya merasakan pergerakan didalam sana.
"Sayang, kamu merasakannya?" tanya Zidan specles, dia menatap Marsha, Marsha mengangguk menjawabnya.
"Dia senang, Daddy." jawab Marsha kembali melirik Susan, tersenyum penuh kemenangan saat Susan memutuskan masuk kedalam mobil, duduk disebelah supir dengan wajah yang ditekuk Tak ingin melihat kemesraan pasangan suami istri yang lebay menurutnya.
Padahal saat dalam mobil, dia harus semakin dibuat panas telinganya karena mendengarkan ocehan manja Marsha.
"Nanti bisa sambil belanja donk, kita belum sempat belikan perabotan baby loh, Dad." Marsha dan Zidan duduk di kursi belakang, dengan Marsha duduk menyender di pundak ternyaman suaminya.
'Ih, bikin lama aja.' Susan menggerutu dalam hati.
"Iya, maaf ya, aku belum sempat mengajak mu belanja, seharusnya kalian prioritas ku, bukan pekerjaan."
"It's okey, Daddy."
Zidan semakin mengharu atas jawaban singkat Marsha. "Maaf sekali lagi, seharusnya dari usia tujuh bulan, aku mengajak kamu belanja kebutuhan anak kita, kamu istri terbaik, Marsha. Jika istri lain, mungkin sudah marah-marah jika suaminya belum menyiapkan semua keperluan bayi-nya, malah mementingkan pekerjaannya."
"Dari dulu aku memang wanita terbaik, nayatanya banyak yang mengejar-ngejar aku, sampai aku tak memiliki teman wanita, karena mereka sirik dan benci padaku." jawab Marsha menekankan kalimat terakhirnya menyindir Susan yang duduk didepannya. Susan sadar itu hanya bisa menahan kesal.
Perjalanan yang sebenarnya hanya tiga puluh menit itu terasa sangat lama bagi Susan, dia bak dalam mobil neraka, hati dan kepalanya terasa mendidih mendengar ucapan-ucapan Marsha.
"Aku melihat ada yang aneh dari kamu Susan, apa ya?" tanya Marsha saat berjalan memasuki restoran, Susan berjalan didepan mereka, membukakan pintu untuk Marsha dan Zidan, dia terpaksa melakukan itu.
"Apa ya, Bu?" tanyanya pura-pura tak tahu maksud Marsha.
Marsha berhenti tepat didepan pintu masuk, memperhatikan Susan yang sedang memegang pintu untuk mereka masuk dari atas hingga bawah.
"Sayang, katanya pamali wanita hamil berdiri didepan pintu, nanti anaknya sulit lahir." tegur Zidan pada Marsha, mendorong lembut istrinya untuk sedikit maju masuk kedalam resto itu.
"Pakaian kamu ya, Susan?" tebaknya Marsha dengan raut berbinar, tahu jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Oh ya? Aku tidak memperhatikan kamu, Susan." Zidan ikut menimpali, "kamu jeli juga sayang," ucapnya pada Marsha .
"Terima kasih Susan, sudah mengikuti saran istri saya." berkata sambil mengapa Susan.
Susan hanya mengangguk.
__ADS_1
Pertemuan dengan Robert berlangsung cepat, itu karena Zidan tak suka melihat tatapan minat Robert pada Marsha, padahal laki-laki itu sudah beristri. Akhirnya dia menyerahkan semua ini pada Susan. Susan semakin kesal terhadap Marsha.
"Mengganggu saja, awas aku akan membuat kamu lahir tanpa Zidan disisi kamu." Ancam Susan dalam hati melihat keduanya berjalan menjauh.