
Zidan merasakan badannya bersentuhan dengan kulit hangat, samar terdengar kicauan burung dan deburan ombak yang saling menerjang. Dengan mata yang masih terpejam Zidan mencoba mengembalikan kewarasanya, namun yang terlintas dikepalanya justru semalam dia bersama dengan Misya, iya ingat, dia mencumbu Misya dengan begitu liarnya, kemudian dia tak tahan, sesuatu mendesak minta dipuaskan akhirnya dia pun mengungkung tubuh Misya dibawahnya, setelahnya dia tak ingat dengan apa yang terjadi.
Sontak Zidan membuka matanya, dia segera bergeser melihat siapa yang sedang memeluknya begitu erat. Dan Zidan dibuat terbelalak ketika melihat justru Marsha yang berada disampingnya tanpa mengenakan sehelai benangpun.
"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" Zidan dibuat bingung. "Bagaimana jika Marsha sadar dan tahu apa yang terjadi?" Kepala Zidan mendadak sakit, Marsha pasti akan sangat marah dan menyesal.
Zidan merasakan tubuh Marsha yang semakin panas, dahinya berpeluh, bukan mengambil kesempatan, Zidan menyibak selimut, memperhatikan tubuh polos Marsha. Dia menelan ludah kasar, tubuh putih mulus itu begitu menggoda, apalagi terdapat begitu banyaknya tanda cinta dari leher hingga dada wanita cantik itu.
"Apa aku yang membuatnya?"
Zidan meraba bekas tanda itu, sudut bibirnya terangkat, jika memang dia yang melakukannya, dia tak menyesal.
Zidan mencoba mengumpulkan ingatan tentang kejadian semalam, namun nihil yang dia ingat, dia justru terkejut dengan kehadiran Misya, Zidan tahu jika itu adalah kelakuan kakeknya yang membuat Misya berada ditempatnya, bukan suatu kebetulan semata.
Zidan menarik pelan tangan Marsha yang melingkar dipinggangnya, namun tak tega. Suhu tubuh Marsha semakin hangat. Kembali, bukan berarti mengambil kesempatan, Zidan mengeratkan pelukanya, menutup tubuh mereka dengan selimut, kulit mereka kini saling menempel tanpa penghalang apapun, Zidan berharap apa yang Marsha rasakan berpindah kepadanya. Kulit tubuh yang saling menempel itu membangkitkan adiknya dibawah sana.
"Sial."
Apa yang sebenarnya terjadi? Padahal semalam dia sama sekali tak bertemu Marsha, kenapa saat bangun mereka justru bersama? Zidan benar-benar tak dapat berpikir, kejadian ini begitu membuatnya terkejut.
"Eunghh," erang Marsha dengan suara seraknya, "haus," ucap bibir mungil itu.
"Marsha," bisik Zidan mencoba membangunkan Marsha.
"Panas, haus, aku mau minum." Marsha meracau tanpa membuka matanya. Zidan bangun, mencoba mencari air yang mungkin ada didekatnya untuk Marsha.
Zidan melihat betapa kacaunya kamar ini, sebrutal apa yang mereka lakukan? Dan Zidan melihat ini bukan dikamarnya ataupun kamar Marsha, pakaian yang tergeletak itu pakaian yang dikenakan Marsha, sepertinya itu pakaian pesta. Apa semalam Marsha datang keacara teman Matthew? Sendiri?
Sungguh sesuatu yang tak dapat dicerna olehnya saat ini. Zidan menangkap botol air mineral dinakas samping tempat tidurnya, Zidan membuka botolnya, kemudian dia mengangkat kepala Marsha untuk memberikannya minum.
Mata Marsha terbuka, dia segera minum dengan begitu dahaganya seperti orang yang berhari-hari tak menemukan air, satu botol itu habis tak bersisa.
"Panas ... " racau Marsha lagi semakin mengeratkan pelukanya pada Zidan, kakinya menggesek dibawah sana seperti mencari kepuasan.
__ADS_1
Zidan mengernyit, berarti ada yang menjebak Marsha dan dirinya, tapi siapa? Jika mereka semalam benar telah bergulat dalam keadaan tidak sadar, seharusnya obat itu sudah hilang, namun tidak dengan Marsha, berapa dosis yang diberikan pada Marsha, jahat sekali orang itu.
"Aku akan menyelidikinya."
Belum selesai Zidan mencerna apa yang terjadi, Marsha menarik kepalanya, menyatukan bibir keduanya, Marsha bergerak begitu aktif, hingga dia berada diatas perut Zidan, memimpin percintaan mereka.
"Marsha, jangan kamu pasti menyesal." Zidan menahan pinggang Marsha yang akan memasuki miliknya yang sudah sangat tegang.
"Kamu Zidan?" tanyanya dengan mata sayu, "bantu aku Zidan, aku tak tahu kenapa seperti ini."
Zidan menggeleng keras "Tidak Marsha, kamu pasti akan menyesal."
"Bantu aku Zidan, please" mohonya.
Sungguh Zidan tak kuasa, dia memang ingin membalaskan dendam pada Marsha, tapi kini sudah tidak lagi, mengenal kepribadian wanita ini justru dia ingin melindungi Marsha sepenuhnya.
"Tidak Marsha, aku akan bantu dengan cara yang lain."
Marsha kembali menggeleng kuat "Tidak Zidan, bantu aku," rengek Marsha penuh permohonan.
Zidan mulai membelah tubuh Marsha, saat akan memasukinya, dia melihat ada cairan merah diantara kedua paha Marsha, benar berarti semalam telah terjadi sesuatu, namun sayang, saat pertama itu mereka melewatinya tanpa kesadaran.
Zidan memejamkan mata saat merasakan gelenyar nikmat ketika miliknya sudah menembus dinding milik Marsha, dia melihat wajah Marsha yang mengerang nikmat dibawahnya. Perlahan Zidan menggerakkan pinggulnya maju mundur, sesekali dia menunduk, membungkam bibir Marsha, dan menghisap dada dengan puncak berwarna pink muda itu. Zidan begitu menikmati pemandangan indah dibawahnya, Marsha merupakan sosok sempurna idaman para lelaki.
"Kini kamu milikku seutuhnya Marsha, tidak akan aku biarkan orang lain memilikinya."
Zidan terus memompa mengejar pelepasan keduanya secara bersamaan, hingga keduanya terkulai lemas ketika mereka telah sampai pada titik mereka.
Zidan menatap lirih wajah Marsha yang begitu kelelahan, kasihan sekali jika orang lain yang mengambil kesempatan ini. Apa ini ada hubungannya dengan kakek? Zidan mendengus, kakek secara tidak langsung membuatnya semakin terikat pada Marsha.
* * *
Sementara dikamar Zidan, Misya sekarang begitu kacau sebab tidak menemukan keberadaan Zidan, dia begitu panik saat mendapati kakek Zidan meneleponnya.
__ADS_1
"Iya Kek," Misya bersuara setenang mungkin.
"Apa semalam berhasil Misya?"
"Tentu Kek, kami menikmati malam kami."
"Selamat bersenang-senang Misya, aku tidak akan membiarkan Zidan terlalu lama bermain-main dengan Marsha, beraktinglah setelah ini kamu begitu menyesali yang terjadi dan marahlah pada Zidan, Kakek yakin Zidan tidak akan meninggalkan mu sedetikpun. Dia laki-laki yang bertanggung jawab, Kakek jamin itu."
"I-iya Kek," Misya menggigit ujung jarinnya,
"Apa Zidan sedang bersama mu?"
"Zidan masih tertidur, Kek, apa mau aku bangunan?"
"Tidak perlu, Kakek tahu kalian habis menghabiskan malam panjang kalian."
Misya tersenyum miris, papanya pasti akan sangat marah jika dia gagal menjebak Zidan, saat ini perusahaan mereka butuh suntikan dana yang besar karena mereka diambang kehancuran. Misya menyugar rambut panjangnya kebelakang, bingung akan mencari Zidan kemana.
"Brengsek, gara-gara semalam aku mencari pengamann itu, aku jadi kehilangan Zidan, dimana dia? Jangan sampai dia bertemu Marsha yang sedang dalam keadaan hangeover," Misya membanting dirinya diujung ranjang, hatinya benar-benar panik, tapi kemudian dia bangun untuk mencari keberadaan Matthew yang juga ia jebak agar bisa tidur bersama Marsha, walau ini hanya rencananya sendiri, dia berharap ini berhasil.
* * *
"Aku minta tolong cari tahu siapa yang menjebak Marsha, aku ingin kabar secepatnya."
" ...."
"Bawakan pakaian perempuan ke villa indah dekat pantai, ukurannya akan aku kirimkan nanti." Zidan mematikan panggilanya, dia menghubungi temannya yang juga bekerja dengannya tanpa sepengetahuan kakek.
Zidan berbalik, melihat Marsha yang masih terpejam, dia sudah rapi, semua kekacauan dikamar sudah ia bereskan, Zidan kembali berbaring disamping Marsha, membelai lembut pipi putih itu.
"Kamu sangat cantik kalau lagi tidur gini Marsha, nggak galak, tapi saat kamu marah-marah juga kamu sangat cantik."
Pergerakan tangan Zidan terhenti kala Marsha membuka matanya, mata mereka bertemu, Marsha tersenyum sebelum pada akhirnya dia tetsadar, Marsha bangkit, dia melihat pada tubuhnya yang kini polos. Pandangan Marsha berpindah pada Zidan. Kemudian,
__ADS_1
"Aaaaaaaa, Zidan apa yang kamu lakukan?"