
"Jalan, Pak." pinta Zidan pada pak supir.
Mobil melaju tanpa menurunkan Dania. Dania bingung harus apa, atmosfer di dalam mobil terasa sangat mencekam, terjebak diantara suami istri yang sedang perang dingin itu ta enak, terlebih dia tak kenal. Tebaknya jika dua orang yang sedang bersihtegang itu suami istri, melihat perut si wanita yang sedang hamil.
Marsha diam, tak sedikitpun dia menoleh kearah Zidan, matanya sudah berembun, menahan rasa sakit hati.
"Sayang, lihat aku." Zidan coba menarik bahu Marsha agar Marsha menghadapnya. Tapi wanita itu menahannya.
Zidan menghela nafas, menggeser duduknya memepet Marsha, meletakkan dagunya dipundak Marsha. "Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau Susan datang, katanya dia tak tega membiarkan aku meeting sendiri, jadi dia maksain datang walaupun sedang sakit."
Nyesss
Marsha memejamkan matanya, membuat kubangangn yang ditahanya sejak tadi, jatuh tak tertahan, pengakuan Zidan malah membuat hatinya bertambah perih.
Tak tega? Marsha tertawa perih dalam hati, lelehan air asin itu terus mengalir dipipinya.
Kenapa aku jadi lemah begini? Inilah yang membuat aku benci jatuh cinta, pasti bersahabat dengan air mata.
Uhuk uhuk .
Dania terbatuk, dia seperti menahan nafas, ikut tegang.
"Loh, ada orang? Kamu siapa?" Zidan terkejut, mengabaikan Marsha yang sedang menangis, membiarkan Marsha menghapus sendiri air matanya.
"Eng- eng, anu, pak saya-"
"Nona ini tadi sama pak Mahesa, pak." Pak supir yang menjawab. "Miss Marsha tadi berencana mengajaknya makan." Lanjutnya memberi tahu.
"Maaf, aku mengganggu acara kalian. Kalau begitu, kamu telepon Mahesa saja, memintanya menjemput."
"Saya habis di jambret, Pak. Kalau begitu, saya turun disini saja." ujar Dania tak enak.
"Jangan," larang Zidan, "kamu habis dijambret kan? Nanti saya hubungi Zidan, kamu saya antarkan ke kedainya saja."
"Jangan Pak." Dania tak mungkin bertemu Mahesa lagi, bisa-bisa dia diminta suruh bayar kerugian lagi.
"Saya tidak apa-apa turun disini, pak Ma-ma" Dania lupa namanya.
"Mahesa!" potong Zidan.
"I-iya, pak Mahesa pasti sibuk."
"Tidak apa, kamu temanya kan? Mahesa pasti mau bantu temanya yang sedang kesusahan, tenang saja, Mahesa orangnya baik." Zidan langsung menghubungi Mahesa.
*Ya ampun, baik dari mananya? Motor lecet dikit aja minta ganti rugi.
Mba cantik, bumil cantik, ngomong donk sama suaminya, kalau ma-he-sa itu jahatin aku*.
Ratap Dania.
Zidan mengambil gadget dari kantong dalam jasnya. "Halo Hes, lagi dimana? ini teman kamu saya antar ke tempat kamu ya, maaf. Aku sedang ada urusan dengan Marsha."
Ya ampun beneran nelepon orang itu, mati aku. Dania mulai berpikir untuk kabur setelah sampai ditempat Mahesa nanti.
Mahesa sudah menunggu kedatangan mobil Zidan didepan kedainya seraya bertolak pinggang, dia tak sabar memeberi hukuman untuk orang yang lalai saat dijalan raya, yang bisa mencelakai banyak orang.
Aduh, dia nungguin depan pintu lagi.
Dania meringis, mengasihani nasibnya yang malang.
__ADS_1
Setelah mengantar Dania ke tempat Mahesa, mobil Zidan mengarah ke hotel miliknya, selama di perjalanan tak ada obrolan apapun dari Marsha dan Zidan.
Zidan sudah turun terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Marsha.
"Ayo kita turun, sayang." Mahesa mengulurkan tangannya.
Marsha bergeming, pandanganya lurus ke depan.
Zidan menelan ludah, menarik nafas dalam, tanpa aba-aba dia membopong tubuh Marsha.
"Lepas, aku nggak mau ikut kamu." Marsha memukul punggung Zidan dengan tasnya.
"Nggak, kita harus selesaikan masalah kita. Aku nggak bisa didiamin kamu begini."
"Lepas Zidan, aku akan teriak kalau kamu nggak lepasin aku."
"Sayang menurutlah, kasihan anak kita." Zidan sedikit kesusahan menekan tombol lift khusus menuju kamarnya. Wajahnya memerah, menahan bobot tubuh Marsha, meski tubuh Marsha tak mengalami perubahan, namun Zidan menahan agar istri dan anaknya baik-baik saja.
Lift berhenti tepat dilantai paling atas gedung. Zidan meletakkan jari telunjuk untuk membuka akses kamarnya. Pintu kamar terbuka bersamaan lampu kamar itu menyala, dan menampakkan kamar Zidan yang mewah. Zidan meletakkan Marsha diatas ranjang deluxe miliknya. Dia merendahkan dirinya, melepaskan hells berukuran 3cm yang Marsha kenakan.
Zidan mendongak, menatap Marsa, Marsha memalingkan wajah.
Zidan berdiri, mengurung tubuh Marsha dengan kedua tangannya.
"Sudah makan?"
Bukan jawaban yang Zidan dapatkan, lelehan air mata Marsha justru yang dia lihat. Pertanyaan bodòh itu semakin membuat Marsha sakit, sudah tahu tadi mau makan tapi tidak jadi, malah bertanya, sungguh tidak peka.
Jujur, hati Zidan ikut perih melihat itu, dia hendak menghapus air mata Marsha, namun kalah cepat dengan tangan Marsha, kembali Marsha menghapus air matanya sendiri.
Tangan Zidan jadi menggantung diudara. "Maaf kalau aku ada salah."
"Iya, aku tahu," jawab Zidan mengalah, "sayang, Marsha, tolong jangan yang berpikir yang macam-macam, tadi benar Susan libur, tapi tiba-tiba dia-"
"Datang karena kasihan sama kamu? Iya?"
"Sayang, jangan marah-marah, jaga emosi kamu, kamu sedang hamil. Itu bisa membahayakan kamu dan anak kita." Zidan hendak mengambil tangan Marsha, Marsha langsung menghentak tangan Zidan.
"Kamu sadar nggak sih, Zidan, kalau sekretaris kamu itu sedang menipu kamu? Dia pura-pura sakit, mencari perhatian kamu, dia suka sama kamu dan mau merebut kamu dari aku."
"Marsha, Susan tidak mungkin seperti itu," Zidan masih tak percaya, "menipu seperti apa? Dia sudah kerja sama aku bertahun-tahun lalu, tidak pernah dia melakukan kesalahan atau menipu, dan apa kata kamu? Suka? Kalau dia suka sama aku mungkin sejak aku masih sendiri, selama ini tak pernah terjadi yang aneh-aneh sama dia."
"Yasudah terserah kamu, kamu yang aneh, bela saja terus sekretaris kamu itu," Marsha tersenyum perih, "kalau kamu lebih percaya dia daripada aku, istri kamu. Buat apa kamu ajak aku kesini dan menyelesaikan masalah. Ini bukan menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah menjadi besar."
"Kamu yang membesar-besarkan masalah, untuk apa kamu cemburu sama dia? kamu diatas dia segalanya, dia bukan tandingan kamu untuk apa kamu cemburui. Fokus kamu cuma satu, jaga anak kita, diam-diam dirumah, dan percayakan semua sama suami kamu. Aku tidak akan berpaling dari kamu, apalagi memgkhianati pernikahan kita, kamu beri kepercayaan sama aku, biarkan aku tenang dalam bekerja, semua demi keluarga kita."
Marsha terdiam, dia menggeleng tak percaya Zidan berkata demikian dengan nada cukup keras, sakit sekali rasanya, bodohnya lagi, air matanya jatuh semakin deras. Dia jadi membenci dirinya yang sekarang, lemah dan cengeng.
Melihat istrinya menangis, Zidan merasa bersalah, dia keceplosan, sungguh tak ada niat dihatinya membentak Marsha, dia cukup lelah, tenaga dan pikirannya sudah habis oleh pekerjaanya.
"Sayang maaf, aku minta maaf." Zidan ingin memeluk Marsha, namun Marsha menolaknya.
"Jangan sentuh aku." Teriak Marsha dengan lelehan air mata yang terus berjatuhan, dia memejamkan mata, tak ingin melihat wajah Zidan. Dia cinta tapi juga benci datang bersamaan.
"Jangan pernah sentuh aku lagi, aku benci kamu."
"Iya, nggak papa kamu benci aku, tapi aku mohon maafkan aku." Zidan benar-benar menyesal, dia tak berniat menyakiti Marsha, Zidan kembali menyentuh pundah Marsha, tapi Marsha menepisnya, hingga tanpa sadar menimbulkan pergerakan tubuhnya cukup kuat.
Marsha membuka mata sambil meringis sakit.
__ADS_1
"Sayang, kenapa?" Marsha tak menjawab, tapi tanganya bergerak memegangi perutnya. "Apa ini sakit?" Zidan memegang perut Marsha, Marsha ingin menolak tapi tenaganya tak cukup lagi. Perutnya melilit dan sakit.
"Ayo kita kerumah sakit." tak perduli Marsha yang akan menolaknya, tanpa persetujuan, Zidan membopong tubuh Marsha, membawanya keluar. Raut khawatir begitu terlihat diwajahnya.
"Sayang berbahanlah, kita akan kerumah sakit." Zidan semakin khawatir, dia begitu takut terjadi apa-apa dengan Marsha dan bayinya, dia menyesal, semua yang terjadi atas pertengkaran yang dia buat. Marsha semakin meringis tertahan, perutnya terasa semakin melilit.
"Maafkan aku, sayang. Tolong bertahanlah." ucap Zidan khawatir, air matanya nyaris jatuh tapi tertahan, dadanya berdebar takut, keringatpun muncul di pelipisnya.
Tuhan, tolong jaga anak dan istri ku, mereka satu-arah harta yang aku miliki.
Sampai di lobby, supir yang tadi membawa mereka sudah stand by di depan mobil dan membukakan pintu untuk Zidan. Zidan segera masuk, dan mobil berjalan menuju rumah sakit.
* * *
Di kedai Mahesa.
Dania menunduk berdiri didepan meja ruangan Mahesa, dia benar-benar takut sekarang. Mahesa duduk di kursi kebesarannya, mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, seakan ingin menerkamnya, padahal tadi dia sudah merasa aman saat Marsha datang, sayang sekali waktunya tidak tepat, wanita yang tadi dia anggap sebagai pahlawannya itu, malah dapat masalah dengan suaminya, Dania kasihan, sebagai sesama perempuan, melihat wanita disakiti.
Dania memainkan kakinya menghilangkan rasa gugup yang teramat.
Lucu juga.
"Angkat kepala kamu." perintah Mahesa, suaranya terdengar tegas.
Gleg
Dania membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering kerontang. Dia mengangkat wajahnya.
Heee, Dania nyengir menghilangkan rasa takut. Mahesa menggeleng, aneh perempuan ini, pikirnya.
"Mulai sekarang, kamu saya tugaskan sebagai pelayan disini tanpa digaji."
Mata Dania membola. "Apa?"
"Dua bulan, itu cukup untuk membayar kerugian yang kamu lakukan."
Oh my god .
"Pak, dua bulan untuk bayar motor lecet doang? Emang berapa sih biaya perbaiki motor Bapak? Saya cicil aja deh, Bapak pikir saya tidur dikolong jembatan kerja dua bulan tanpa di gaji. Saya manusia Pak, makan nasi, bukan kuda lumping yang makan arang sama beling." Ujar Dania, wajahnya terlihat begitu kesal.
Mahesa menaikkan alisnya mendengar jawaban Dania, pertama bertemu gadis didepannya ini terlihat berani, saat tadi Marsha mengantarnya, dia terlihat takut, sekarang dia terlihat berani lagi.
Senyum licikpun terbit di bibir Mahesa.
"Itu bukan urusan saya, itu masalah kamu." Mahesa berdiri mendekat kearah Dania. "Kalau kamu tidak mau, aku akan menjebloskan kamu ke penjara. Karena kamu sengaja membuat orang lain celaka, menyebabkan pengendara lain dalam bahaya, sesuai undang-undang pasal 311 UU LLAJ."
Mahesa membacakan pasal tersebut.
Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/ atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000,00 (empat juta rupiah).
"Bagaimana, masih mau menolak?"
Dania memejamkan matanya kuat demi meredam emosi.
"Oke, tapi saya datang setelah saya pulang kuliah."
"Good." Tanpa sengaja tangan Mahesa menepuk pucuk kepala Dania.
"Mulai sekarang kamu kerja disini, tapi ingat. Tanpa gaji."
__ADS_1