
Beruntung Puma dapat mengalihkan perhatian Axcel saat tanpa sengaja Axcel melihat Marsha. Jika tidak, bisa dogor0k hidup-hidup dia oleh Mahardika, karena telah lengah membiarkan orang lain melihat keberadaan Marsha.
"Bisa nggak kalo gue lagi ada tamu lo jangan keluar, apalagi ini orang yang kayaknya kenal sama lo," Puma memarahi Marsha, tapi yang dimarahi seolah tak mendengar dan menganggap ocehan Puma hanyalah suara dengingan nyamuk yang lewat ke telinganya.
"Lo denger nggak sih? gue ngomong?" ujarnya sudah sangat kesal, semenjak keberadaan Marsha disini, Puma merasa tugasnya lebih berat ketimbang menjaga ribuan sapi.
Marsha yang sedang bersantai seperti di pantai menunggu makanan pesananya jadi, mendongak, menatap Puma yang terlihat sangat kesal.
Marsha membuka kaca mata berbentuk nanas yang harganya bisa untuk membeli sebuah sepeda motor, selalu ada saja yang aneh yang wanita itu kenakan, Puma menggeleng, entah seperti apa anak mereka nanti ketika lahir?
"Kamu ngajak aku ngomong?" tanyanya tanpa rasa berdosa, dan itu semakin membuat Puma mendesah kesal.
"Dari sekian banyak tempat di muka bumi ini, kenapa lo milih berhibernasi di sini sih? ngerepotin tau nggak? Kalo gue bisa milih, mending gue ngurusin seribu sapi dari pada harus jagain lo."
"Yaudah sana urusin sapi-sapi, memang tugas kamu itu kan? Ngapain ngurusin aku, siapa juga yang minta dijagain sama kamu? Jangan nggak tau diri ya, singa gunung, kamu kerja disini, dan aku anak perempuan satu-satunya pemilik peternakan ini." cibir Marsha.
"Terserah deh, kalo nanti ada yang tahu keberadaan lo, gue nggak tanggung jawab." Puma berlalu meninggalkan Marsha, terlalu lama bicara dengan wanita itu membuat kepalanya pusing.
"Yang pasti kamu yang akan dimarahi Apo, bukan aku." Sahut Marsha dan masih bisa di dengar Puma. Namun Puma mengabaikan itu, memilih melanjutkan langkahnya, lebih baik dia mengurusi sapi-sapinya yang tidak membuatnya naik darah.
Tak ada yang tahu, jika wanita yang terlihat kuat dan garang sejak tadi, ternyata sedang menahan gejolak diperutnya. Marsha yang sengaja keluar dari kamar untuk mendapatkan sinar matahari, nayatanya tak tahan mencium bau masakan yang ia pesan, akhirnya dia kembali dan tak bisa memakan apapun.
Sungguh Marsha sudah sangat merasa lelah dengan ngidamnya.
"Zidan sialan, gara-gara kamu aku menderita sendiri seperti ini." dumelnya, namun tetap saja, penghilang rasa pusingnya adalah dengan memeluk jaket Zidan yang masih menyisakan parfum milik Zidan itu.
Nyaman, Marsha merasa nyamannya, namun saat-saat seperti inilah dia baru merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu.
Dia selama ini abai terhadap perasaan Mawar, apalagi pilihannya untuk tinggal disini tanpa diketahui Mawar, itu sudah sangat melukai hati wanita yang telah melahirkannya kedunia ini. Hati seorang ibu yang ingin berada disamping anaknya disaat anaknya mengalami masa sulit seperti ini.
__ADS_1
"Maafin Marsha ya Amam," Marsha memejamkan matanya, membiarkan bulir mahal yang jarang sekali dia keluarkan membasahi bantalnya.
Tapi, untuk menghubungi Mawar saat ini bukanlah saat yang tepat, karena Mahardika mengatakan jika Zidan sedang menyadap semua telepon keluarganya.
Mahardika membiarkan itu, karena dia tahu Zidan tidak semembahayakan Nasyat ataupun Naima, dia ingin melihat sejauh mana perjuangan Zidan untuk mencari keberadaan Marsha.
Hingga tiga bulan berlalu. Marsha yang berjuang melawan ngidamnya, sama halnya dengan Zidan yang tak henti mencari keberadaan Marsha, seberapa sering dia mendapat penolakan dari Mahardika untuk bertemu, tapi dia tak pernah menyerah.
Zidan sedang fokus pada layar komputer didepanya dikejutkan dengan dering ponselnya.
"Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang Marsha?"
"Aku mencurigai suatu tempat Zidan, tapi aku tidak tahu itu benar atau salah, akan aku kirim alamatnya, silahkan kamu datang sendiri."
"Ck, aku ingin kepastian, bukan disuruh datang sendiri."
"Aku tidak bisa," jawab suara dari sebrang telepon, "banyak penjagaan ketat disana."
"Sebuah peternakan sapi milik keluarga Mahardika, tempat yang cukup jauh. Tapi kamu bisa datang melihatnya sendiri secara langsung."
"Oke, kirim alamatnya, aku akan datang dan melihatnya sendiri." mendapat berita itu, ada secercah harapan untuk Zidan, kenapa kali ini dia begitu yakin bisa menemukan Marsha, tak perduli seberapa banyak penjaga, Zidan akan melawan itu.
Zidan benar-benar tak mempedulikan kasus kakek dan mamanya, Valent memenjarakan keduanya atas tindakan percobaan pembunvhan terhadapnya, karena saat Nasyat menodongkan senjata kearahnya, dengan sigap pengawal Valent menembak tangan Nasyat.
Sebenarnya Valent menawarkan bantuan kepada Zidan untuk mencari keberadaan Marsha, tapi Zidan menolak itu, Zidan ingin mencari Marsha dengan usahanya sendiri, lagi pula Zidan kini sulit mempercayai orang, semua atas penghianatan atas apa yang dilakukan Naima dan Nasyat terhadapnya.
Untuk kasus Misya, Zidan serahkan pada Mahesa karena Mahesalah yang memiliki kepentingan dengan Misya. Kini hubungan Mahesa dan Zidan begitu dekat, mereka bahkan sering nongkrong bersama, demi mendapatkan kabar keberadaan Marsha.
Kini keduanya bersama-sama menuju alamat yang dituju, sengaja Zidan mengajak Mahesa, karena Mahesa tahu tempat itu, Mahesa juga ingin bertemu dengan Puma.
__ADS_1
Saat diperjalanan, Zidan mengeluarkan selembar kertas, lengkap dengan materai dibawahnya.
"Apa ini?" tanya Mahesa mengerutkan keningnya, dia hanya menatap kertas itu sekilas karena dia sedang menyetir.
"Surat perjanjian, kamu harus tanda tangani. Aku ingin ada hitam diatas putih, memastikan kalau kamu sudah benar-benar tidak mencintai Marsha." jelas Zidan.
Hahaha, tawa Mahesa menggelegar, diantak percaya apa yang dilakukan Zidan. "Sampai segitunya? Kamu benar-benar sudah dibudakkan oleh cinta Zidan. Kalau begini aku yakin, bisa merebut Marsha dari mu."
"Aku rasa itu nggak mungkin, karena aku yakin, seyakin-yakinya, Marsha hanya menginginkan aku."
"Pede." Mahesa tersenyum meremehkan.
"Terserah, cepet tanda tangan." Zidan meletakkan kertas itu dipangkuan Mahesa.
"Kamu waras Zidan, aku lagi nyetir."
"Jangan banyak alasan, kedua tanganmu masih berfungsi sangat baik, kita bisa menepi jika memang perlu."
Mahesa menggeleng, cinta memang tak memakai logika, tanpa banyak kata lagi, Mahesa memilih menepikan mobilnya dari pada dia harus berdebat dengan Zidan yang tak bisa membuatnya konsentrasi ke jalanan. Dia sadar banyak dosa, jadi Mahesa belum mau mati dalam keadaan banyak dosa.
"Tuh, PUAS," ujar Mahesa setelah membubuhi tanda tangannya disana.
Zidan mengambil kertas yang Mahesa letakkan di dashboard dengan tersenyum puas, jika sudah seperti ini, dia yakin jika Mahesa sudah mengalah menjadi saingannya.
Mobil kembali melaju, Zidan memperhatikan jalan yang mereka lewati, dia kira peternakan itu tidak terlalu jauh, nyatanya tempat itu sangatlah jauh, mereka sudah diperjalanan selama empat jam, tapi belom juga sampai peternakan.
"Masih lama?" tanyanya pada Mahesa yang fokus ke jalan.
"Mungkin satu minggu lagi." Jawab Mahesa dengan kekehan, malas menaggapi, Zidan menyangga kepalanya malas di jendela mobil, dia tahu sampai sajalah, yang terpenting bisa bertemu Marsha.
__ADS_1
Dan ternyata,bukan hanya mereka yang sedang menuju peternakan, Axcel juga sama, dia begitu penasaran dengan sosok wanita yang ia lihat secara tak sengaja saat kunjungan pertama, namun beberapa kali dia datang, sosok wanita yang begitu mirip dengan Marsha itu tak terlihat.